DL-17

1053 Words
“Sayang sekali, salah satu rekan kalian harus gagal dan pulang,” lanjut Kolonel Horton, “Hustings, panggil Astrid.” Letkol Hustings kemudian memanggil Astrid. Sosok wanita dengan 2 rambut kuncir kuda ini muncul. Yang membuat Pustin, Shelby dan Morcant bergidik ngeri adalah Astrid melemparkan sebuah benda ke arah meja makan. Benda itu adalah kepala Brabham dengan mulut yang dibungkam dengan bagian pribadinya. Morcant langsung mengambil sebuah mangkuk dan muntah di dalamnya. Shelby hanya bisa menahan mulutnya. Pustin memalingkan mukanya. Dia berusaha untuk menahan rasa mual dan muntahnya. Kepala Brabham terhidang di atas meja makan. Bersebelahan dengan aneka sajian makanan lainnya. Darah dari kelapa Brabham masih segar, dan membanjiri meja di sekitar area kepala tersebut. “Ayo, makanlah sajian ini. Kami memasaknya untuk kalian yang sudah berhasil melangkah sejauh ini,” ajak Kolonel Horton. Letkol Hustings mengambil daging di sebuah piring dan menyantapnya dengan lezat. Dia tidak peduli bau anyir darah dan juga kepala Brabham yang matanya melotot memandang ke arah mereka. Begitupun dengan Letkol Herbert. Dia mengambil bagian ayam yang terbesar dan menyantapnya dengan lezat. Jangan ditanya mengenai Kolonel Horton. Dia beberapa kali mengambil makanan di meja dan dengan santap menikmatinya. Pustin ikut menyantap makanan. Dia mengambil daging sapi yang terhidang dan kentang yang ada di depannya. Morcant dan Shelby tidak menyentuh apapun. Mereka tidak berselera untuk menikmati hidangan dengan hiasan kepala Brabham di depan mereka. Pustin tampak menyantap dengan lezat makanan yang dia ambil. Tidak ada rasa mual dan jijik dengan adanya hiasan mayat kepala di depannya. Shelby serta Morcant heran kenapa Pustin tidak merasa tidak enak memandang tingkahnya. Kolonel Horton selesai menyantap makanan. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Shelby serta Morcant. Dengan cepat, Kolonel Horton mengambil sebuah pentungan kecil dari kayu dan menghantam kepala Shelby. Kemudian dia menarik kepala Shelby dan mencekiknya dengan kayu, “Kau menolak tawaranku untuk makan? Kau sudah berani melawanku, Huh?” Melihat Shelby mendapatkan perlakuan mengejutkan, Morcant langsung bergegas mengambil daging. Namun sebelum menyentuh daging, sebuah garpu sudah menancap di tangan kiri Morcant. “Waktu makan sudah selesai. Sekarang kau tidak boleh untuk makan apapun.” Letkol Herbert menancapkan garpu tersebut. Morcant hanya bisa berteriak kesakitan. Kolonel Horton menarik alat pentungannya dan mendorong kepala Shelby ke meja kayu dengan keras hingga menimbulkan suara yang memilukan. Shelby terjatuh dengan memegang kepala. Dia mengerang kesakitan. Cairan merah segar muncul dari dahinya. Morcant tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Saat ini Morcant hanya bisa menahan sakit dengan tangan kirinya yang tertancap garpu. Letkol Herbert tidak melepaskan garpu tersebut. Kolonel Horton bergerak ke arah kepala Brabham, “Jika kau ingin makan, makanlah ini.” Kolonel Horton memasukkan bagian penting Brabham ke mulut Morcant. Mau tidak mau Morcant harus membuka mulutnya dan menggigit alat pentingnya tersebut jika tidak ingin mendapatkan hukuman yang lebih mengerikan. Pustin hanya terdiam. Dia tetap menikmati santapan yang sudah dia ambil sampai habis. Pustin tidak ingin mendapatkan hukuman mengerikan seperti kedua rekannya itu. Pustin termenung di ranjangnya. Kali ini dia sendiri di ruangan tidur gedung sayap kanan Kirkham. Enam belas peserta tidak ada di kamar tidur ini. Bahkan 3 orang sudah pasti tidak akan kembali ke sini. Dua sahabat Pustin, Shelby dan Morcant harus masuk ruang perawatan. Shelby mengalami pendarahan di bagian kepala. Dan Morcant mengalami luka di bagian tangan kiri. Pustin masih teringat bagaimana Morcant harus menerima hukuman mengerikan. Bahkan Pustin hendak muntah jika mengingatnya. Dia berbaring di ranjang tempat dia biasa tidur. Sendiri di ruangan yang besar membuatnya merasa sepi. Pustin tidak takut dengan hantu. Dia hanya takut esok tidak bisa makan dan tidak bisa memberi makan untuk istri dan anaknya. Memikirkan hal tersebut, Pustin akhirnya tertidur pulas. Dia sempat berharap tidak ada kejadian apapun malam ini. Raga dan batinnya sudah cukup lelah seharian ini. Pagi hari menjelang. Pustin terbangun. Cuaca yang cukup dingin dan desiran angin di jendela ruang tidur ini membuat dirinya terbangun. Kemudian terdengar suara kaki diketuk-ketukkan ke lantai. Sontak membuat Pustin terbangun. “Letkol Hustings? Maafkan saya tidak mengetahui kehadiran, Anda.” Pustin bangkit dari tempat tidur dan langsung meminta maaf karena dia tidak mengetahui kehadiran Letkol Hustings. “Tidak perlu minta maaf, Pustin. Tidurmu cukup nyenyak hari ini. Sampai kau tidak mendengar suaraku,” jawab Letkol Hustings. “Maaf, Letkol,” jawab Pustin dengan suara pelan. “Segeralah kau mandi dan sarapan di aula. Setelah itu ikut saya ke ruang belajar milik Kolonel Horton,” perintah Letkol Hustings yang kemudian berjalan keluar. Pustin tidak perlu menunggu lama. Dia langsung mengambil handuk dan juga baju seragam miliknya. Pustin setengah berlari ke ruang mandi. Tidak berlama-lama Pustin membersihkan diri di sana. Setelah berpakaian, Pustin menuju ke aula makan tempat kemarin dia makan malam dengan hiasan kepala Brabham. Namun alangkah terkejutnya pintu ruangan tersebut tertutup. Pustin mencoba pintu lainnya. Namun juga tertutup. Pustin panik. Rasa takut hinggap jika dia terlambat untuk datang ke ruang makan. Pustin mencoba tenang dan tidak panik. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Letkol Hustings. Kolonel Horton memanggilnya sarapan di aula. Seketika Pustin ingat bahwa bukan ruangan ini yang dimaksud. Tapi aula tempat pertama kali dia bertemu dengan Kolonel. Pustin segera bergegas ke aula utama. Dan benar saja di ruangan tersebut sudah disajikan makanan yang berlimpah. Pustin berlari menuju ke meja makan. Namun dia tidak langsung duduk. Pustin berdiri di samping meja makan. Tidak berapa lama Kolonel Horton dan kedua wakilnya memasuki aula ini. Pustin tampak gugup melihat Kolonel Horton berjalan mendekatinya. “Selamat pagi, Pustin. Silahkan duduk.” Kolonel Horton kemudian duduk di salah satu kursi utama yang terletak di paling ujung. Letkol Hustings dan juga Herbert duduk di sebelahnya. Kemudian Pustin duduk di seberang kedua letkol tersebut. “Ayo kita santap sarapan ini,” ajak Kolonel Horton. Pustin mengambil beberapa makanan sarapan setelah Kolonel Horton, Letkol Hustings dan juga Herbert menyantap makanan. Tampak Pustin sangat lapar. Santapan itu dia habiskan dengan cepat. Tidak ada yang berbicara ketika mereka duduk menikmati sarapan pagi hari ini. “Kita tidak berlatih keras hari ini, Pustin. Jadi tenang saja. Kau bisa rileks untuk sekarang ini,” ujar Kolonel Horton setelah acara sarapan usai. “Hari ini kita akan belajar mengenai mental dan psikologis secara teori. Kalian bisa menuju ke ruang belajar. Aku akan menyusul nanti,” perintah Kolonel Horton lagi. Pustin mengikuti Letkol Hustings dan Herbert menuju ke ruang belajar. Suara riuh terdengar sayup-sayup dari ruang belajar tersebut. Pustin tampak mengenali beberapa suara itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD