Entah berapa lama ia bersujud, ia tak menghitung jamnya. Tahu-tahu saat melepas mukena, azan subuh berkumandang. Tiara segera memakai mukenanya lagi dan akhirnya malah lanjut untuk solat subuh. Semalaman, ia merenungi banyak hal. Salah satunya tentang buku yang diberikan Izzan. Jujur saja, ia memang tersanjung dengan cara Izzan. Lelaki itu tidak pernah mendekatinya secara terang-terangan. Bahkan mencuri-curi kesempatan untuk melihatnya pun tidak. Selain itu, ia memang menyukai kepribadian Izzan yang kalem. Mungkin Izzan memang tak sempurna, pasti ada kekurangannya. Tapi kekurangan itu tak sebanding dengan kelebihan yang Izzan punya. Izzan menuliskan sosoknya di dalam buku itu sebagai bentuk manusiawinya seorang manusia. Karena Izzan tersadar saat itu bahwa tak ada yang sempurna. Tak ada

