Surga Mana Yang Pantas Untukku?
SURGA MANA YANG PANTAS UNTUKKU?
"Siapa namamu gadis muda?" tanya Maria.
"Na- nama saya adalah Se- Seroja," jawab Seroja dengan tergagap dan terbata- bata.
Seroja benar- benar takut berhadapan dengan wanita di depannya ini. Entah mengapa, bagi Seroja wanita itu memiliki aura khas yang tak bisa di jelaskan. wibawa, kemarahan, kelembutan berpadu menjadi satu. Rasa takut itu mampu membuat Seroja tergagap saat berbicara, padahal wanita itu juga tidaklah berusia tua. Mungkin masih sebaya dengannya, hanya saja dandanan klasik jadul khas make up retro di tahun delapan puluhan.
Retro merupakan definisi untuk menunjukkan budaya yang sudah lama ada. Bisa juga menggambarkan tren yang dikenal dari masa lalu. Kata ini berasal dari bahasa latin yang merupakan sebuah awalan. Retro artinya "mundur" atau bisa juga diartikan pada "masa lalu". Maka retro pada dasarnya berarti gerakan untuk mengingat masa lalu alias nostalgia. Gaya tren busana retro terpengaruh dari gaya di tahun 40 sampai 80-an. Kemudian beberapa tahun lalu beberapa rumah mode ternama di dunia mulai mempopulerkan gaya retro ini.
"Seroja, nama yang cukup bagus. Arti nama itu bukankah sama seperti nama bunga kamboja? Bunga yang umumnya ada di pemakaman dan identik dengan lambang kematian kan?" tanya Maria sambil berjalan mendekati Seroja.
Dia melihat Seroja dari atas sampai bawah meneliti setiap inci bagian dari tubuhnya. Seroja ibarat barang dagangan wanita itu memegang bahu Seroja memutarnya ke kiri dan ke kanan. Seroja mencium aroma wangi menguar dari tubuh wanita itu, asap rokok yang di bencinya justru berbeda kali ini. Hembusan asap rokok dari cerutu milik wanita itu khas dan menenangkannya.
"Cukup menarik dari luar sekilas. Tapi aku dengar dari Cindy kau sudah pernah melahirkan ya? Lelaki itu hanya memberimu uang dan tak bertanggung jawab. Benarkah itu?" tanya Maria.
"I- iya," jawab Seroja.
"Jika bicara denganku pandang aku. Jangan menunduk begitu, kau harus berani menatap lawan bicaramu, namun jangan menantang!" tegur Maria.
Reflek Seroja langsung mendongakkan kepalanya. Dia melihat wanita itu dari dekat. Model bajunya berwarna sangat cerah dan gonjreng sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Seperti baju gaya disko yang manis dengan corak cerah, semua itu menggambarkan kesan retro yang kuat. Busana retro memiliki kesan lebih glamor, tampil wah dengan kesan bling-bling dan warna cerah, memang berkesan ceria dan ramai.
Wanita cantik ini juga memakai topi lebar model menyamping menutupi sebagian wajahnya menyiratkan kesan misterius. Di tambah make up bold, eyeliner model cat, bulu mata palsu yang lebar dan kuat dan sentuhan lipstik warna merah yang cerah dan berkesan berani, blush on pink mudah dan ulaskan tipis saja supaya tak berkesan norak.
"Bagus. Cindy kau wajib mengajarinya. Dia sangat polos sepertimu dulu! Ajari dia sedikit binal untuk meningkatkan harga jual," perintah Maria.
"Siap Mi," jawab Eci.
"Cindy?" tanya Seroja bingung menoleh ke arah Eci. Dia bingung sejak kapan temannya berganti nama Cindy.
"Teman di belakangmu," sahut Maria melihat wajah bingung Seroja.
"Ah aku lupa belum menjelaskan aturan mainnya di sini. Ada aturan khusus ketika kau bergabung di rumah bordil ku. Aku akan memberikan satu nama untukmu. Nama ini berhak kau gunakan saat kau mulai bekerja di sini, sehingga identitasmu terlindungi. Menarik bukan?" tanya Maria yang di balas anggukan oleh Seroja.
"Ya, meskipun aku adalah seorang germo tapi rasanya aku pantas di nobatkan sebagai seorang germo yang baik hati layaknya ibu peri. Aku akan melindungi nasibmu, menjamin semua keuanganmu, identitasmu, dan privasi hubunganmu. Kau berhak menentukan kriteria tamu-tamu yang akan kau layani. Berapapun uang yang kau inginkan aku bisa membantumu. Pendapatan sepuluh juta sebulan? Dua puluh juta sebulan? Semua bisa kau dapatkan di sini. Asal apa?" sambung Maria.
"Asal kau patuh pada perintahku. Kau pun tak banyak menuntut. Apakah kau sanggup?" cerca Maria sambil mencengkram dagu Seroja.
"I- ya," jawab Seroja.
"Tapi Ibu saya..."
"Ck! Ck! Jangan panggil aku Ibu, panggil aku Mami, Maria Maria binti Fatimah. Itu namaku," kata Maria memotong pembicaraan Seroja.
"Baik Mami Maria. Tapi saya belum punya baju untuk bekerja jika harus mulai malam ini? Saya pun terpaksa melakukan ini demi biaya anak saya di kampung," ucap Seroja.
Maria hanya tersenyum sinis, melepaskan cengkraman di dagu Aruna. Dia lalu duduk di atas meja sambil menyilangkan kakinya. Sejenak Maria terdiam, dia menghisap cerutunya kemudian menghembuskan kasar ke arah wajah Seroja. Tak lama kemudian dia menepuk tangannya sebanyak tiga kali.
'Plok' 'Plok' 'Plok' tak lama dua pelayan datang. Seroja hanya bisa diam mematung. Eci alias Cindy tadi sudah berpesan kepada Seroja saat dia ingin bertemu dengan mami Maria. Cindy sudah mengatakan Seroja tak boleh banyak bicara, Seroja harus banyak mendengarkan dan tak usah melawan apapun yang dikatakan oleh mami Maria.
"Aku dengar semua ceritamu. Aku cukup salut dengan perjuanganmu untuk anakmu. Ya memang hidup itu tak adil, kita sebagai wanita yang dipasrahi untuk mengurus anak sedangkan laki-laki yang membuahi pergi melalang buana dengan bebasnya di luaran sana bercocok tanam, membuahi wanita lainnya, semaunya," ucap Maria.
"Bajingann bukan? Ya, meskipun begitu hidupkan harus terus berjalan, roda kehidupan harus terus berputar. Tak masalah, aku akan membantumu," ujar Maria.
"Sekarang kau boleh pergi dari ruanganku. Kau ku terima di sini! Cindy kau bantu Seroja, aku akan memberikan nama untukmu nanti malam. Datang ke sini dengan pakaian yang sudah ditentukan oleh dua bencong ini! Dia akan melayanimu an membuatmu tampil cantik malam ini," perintah Maria lagi.
"Iyuhhh! Mami Maria jahara. Kok bisa memanggil bencong sih? Eike ini wanita tulen, cuma memiliki batang saja," sahut seorang lelaki yang bergaya kemayu itu.
"Bantu wanita ini menjadi orang yang sangat berbeda. Kau harus membawanya padaku nanti malam, dia merupakan barang baru yang cukup bagus sepertinya," ujar Maria yang dibalas anggukan.
"Keluar!" perintahnya lagi.
"Ayo Neiiik! Kita keluar, Mami sudah bersabda!" ajak lelaki kemayu itu.
"Neik? Nenek? Nama saya Seroja," kata Seroja.
"Alemong! Ck, polos. Memiliki anak asuh baru memang memerlukan kesabaran ekstra," keluh lelaki kemayu itu sambil menggeret lengan Seroja keluar.
Maria terdiam, dia menatap lukisan wajahnya di dinding ruang kerjanya itu. Wanita itu menghisap dalam-dalam cerutu tingwe khas racikannya sendiri. Racikan yang dia buat sepenuh hati dari tembakau pilihan ditambah dengan cengkeh, sedikit ludahnya untuk mengelem balutan kertas khusus yang bisa membuatnya terlena di alam lain. Kemudian dia melempar rokok itu ke samping dan meludah kasar.
"Sialan! Sepertinya Tuhan mengutukku untuk tetap ada di lembah Hitam dan nista Ini," gumam Maria sambil berdiri.
'Tok' 'Tok' 'Tok' suara pintu diketuk.
"Masuk!" perintah Maria.
"Ada yang ingin bertemu dengan Mami," ucap seorang lelaki bertubuh dempal.
"Siapa?" tanya Maria.
"Haji Faisal, Mami," jawab lelaki yang bertugas menjadi bodyguard di depan itu. Lelaki itu bernama Sumarno.
"Suruh dia masuk!" perintah Maria. Maria pun langsung duduk di balik meja kerjanya.
"Assalamualaikum," sapa haji Faisal masuk ke dalam ruangan Maria.
"Masuk! Masuk," perintah Maria sambil melambaikan tangannya memberi isyarat dan kode kepada haji Faisal untuk masuk.
"Ada apa lagi?" tanya Maria.
"Maaf Mami jika kedatangan saya menganggu, panjenengan. Sepertinya kami membutuhkan bantuan untuk pendirian masjid di pojok gang, Mami. Seperti yang Mami ketahui tiang penyangganya sudah mulai koyak dan sedikit mendoyong, kami takut jika roboh dan akan mengganggu ketenangan para jamaah," jelas haji Faisal langsung tanpa basa basi.
"Berapa yang kau butuhkan?" tanya Maria.
"Seikhlasnya Mami, insya Allah kami terima," jawab haji Faisal.
Tanpa banyak bicara lagi, Maria mengeluarkan segepok uang seratus ribuan berjumlah seratus lembar. Dia menyodorkan gepokan uang itu ke arah haji Faisal. Binar kegembiraan dan seulas senyum terlihat dari wajahnya.
"Apakah ini cukup?" selidiknya.
"Masya Allah! Alhamdulillah, cukup Mami, cukup. Terima kasih ya Allah, akhirnya ada orang baik menanggung semua biayanya. Alhamdulillah, terima kasih Mami Maria. Terima kasih, sudah bermurah hati membangun rumah ibadah kami. Semoga Gusti Allah membalasnya, semoga Allah melancarkan rezeki Mami Maria," kata haji Faisal mendoakan dengan tulus dan ikhlas.
"Baiklah! Kau sekarang boleh pergi," usir Maria.
Haji Faisal pun membungkukkan ke badannya tanda penghormatan dan membawa uang itu. Setelah memastikan haji Faisal pergi dan pintu ruangan tertutup, Maria tersenyum getir. Dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Entahlah surga mana yang dimaksud tua bangka itu! Apakah pantas orang sepertiku masuk surga?" gumam Maria.
APAKAH YANG TERJADI SELANJUTNYA? STAY TUNE YA.
BERSAMBUNG