Tangis di Balik Dia Garis Merah.
"Mas! Mas Abyan!"
Teriakan melengking dari balik pintu kamar mandi merobek keheningan fajar. Abyan yang masih terbungkus selimut tebal langsung terlonjak, nyaris terjatuh dari pinggiran ranjang. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang seketika mengusir sisa kantuk di kepalanya. Pikirannya langsung melayang pada kemungkinan terburuk; lantai kamar mandi yang licin atau Aisha yang mendadak pingsan karena kelelahan.
Tanpa sempat memakai alas kaki, Abyan berlari kencang mendekati pintu kayu yang tertutup rapat itu. Tangannya bergerak cepat, menggedor permukaan pintu dengan tidak sabar hingga menimbulkan suara gaduh yang menggema di seluruh sudut rumah petak mereka.
"Aisha! Kamu kenapa di dalam? Buka pintunya, Sayang!" Suara Abyan bergetar hebat, dipenuhi kecemasan yang mendalam.
Kunci pintu berputar dari dalam dengan bunyi klik yang terasa lambat. Begitu celah pintu terbuka, sosok Aisha langsung menghambur keluar dengan napas yang memburu. Wanita itu tidak mengatakan sepatah kata pun, melainkan langsung menubruk d**a bidang Abyan, memeluk leher suaminya dengan kekuatan yang tidak biasa. Tubuhnya bergetar hebat, diiringi suara isak tangis yang pecah begitu saja di pundak Abyan.
"Hei, kenapa menangis? Ada yang sakit? Katakan sama Mas, jangan buat panik begini," bisik Abyan, mencoba melonggarkan pelukan untuk menatap wajah istrinya.
Aisha menggelengkan kepala berulang kali dalam dekapan itu. Air matanya membasahi kaos oblong yang dikenakan Abyan, menyisakan rasa hangat yang menjalar ke d**a sang suami. Perlahan, wanita itu menarik tangan kanannya yang sejak tadi menyembunyikan sesuatu di balik punggung. Dia menyodorkan sebuah benda pipih berbahan plastik putih ke hadapan mata Abyan.
"Lihat ini, Mas. Lihat sendiri," lirih Aisha di sela isakannya, suaranya nyaris habis karena terlalu banyak menangis.
Abyan mematung, matanya melebar menatap alat tes kehamilan mini di ujung jemari Aisha. Di sana, pada jendela indikator yang biasanya hanya menampilkan satu garis tunggal yang dingin, kini terpampang jelas dua buah garis merah pekat yang berdiri sejajar dengan tegas. Warna merahnya begitu berani, seolah sedang menertawakan segala keraguan yang sempat singgah di hati mereka selama ini.
"Ini... ini beneran, Aisha? Kamu tidak sedang bercanda dengan Mas, kan?" Abyan berbisik, jemarinya yang gemetar perlahan mengambil alih benda plastik itu, memastikannya di bawah sorotan lampu koridor.
"Aku sudah coba tiga kali dengan merek berbeda sejak subuh tadi, Mas. Semuanya sama. Hasilnya tetap dua garis," sahut Aisha, menyeka air mata yang membasahi pipinya yang mulai merona kemerahan.
Tawa kecil tiba-tiba lolos dari bibir Abyan, berubah menjadi tawa lepas yang menggema di ruang tengah yang sepi. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini tumpah tanpa bisa dibendung lagi. Dia menjatuhkan alat tes itu ke atas meja kerja, lalu kembali merengkuh tubuh Aisha ke dalam pelukannya, kali ini jauh lebih erat, seolah ingin menyatukan seluruh jiwa mereka yang sempat patah.
"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih," rapalan doa itu terus keluar dari bibir Abyan yang bergetar hebat di atas puncak kepala Aisha.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sepasang suami istri yang merindukan suara tangis bayi di dalam rumah mereka. Lima tahun itu dipenuhi oleh sindiran halus dari kerabat, pandangan iba dari tetangga kanan-kiri, hingga tumpukan resep obat program hamil yang harganya menguras tabungan bulanan. Setiap sepertiga malam, sejadah mereka selalu basah oleh air mata yang sama, menagih janji Tuhan tentang sebuah keturunan.
Aisha menatap wajah suaminya, menemukan binar kebahagiaan yang sudah lama hilang dari netra pria itu. "Tuhan mendengar doa kita, Mas. Perjuangan kita menelan obat-obatan pahit itu akhirnya selesai."
"Bukan cuma selesai, Sayang, tapi dibayar tunai dengan kebahagiaan paling tinggi," balas Abyan, menangkup kedua pipi Aisha dan menghujani seluruh wajah istrinya dengan kecupan hangat penuh rasa syukur.
Ego lelaki Abyan yang sempat goyah karena merasa belum bisa menjadi suami sempurna kini kembali tegak seutuhnya. Rasa lelah akibat lembur di kantor setiap hari seolah menguap begitu saja, digantikan oleh energi baru yang meletup-letup di dalam dadanya. Dia memandangi perut rata Aisha dengan pandangan takjub, seolah di balik kain daster itu sedang tersimpan harta paling berharga di seluruh alam semesta.
"Mulai hari ini, kamu tidak boleh kelelahan lagi. Biar Mas yang urus semua pekerjaan rumah," ucap Abyan dengan nada protektif yang tegas.
Aisha tertawa kecil di balik sisa tangisnya, merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita. "Jangan berlebihan, Mas. Kandunganku baru beberapa minggu, aku masih kuat kalau cuma memasak nasi dan menyapu lantai."
"Tidak ada bantahan untuk urusan ini, Aisha. Kamu itu sedang membawa penerusku, calon anak kita," potong Abyan, tidak memberikan celah bagi istrinya untuk mendebat keputusannya.
Kebahagiaan yang meledak-ledak itu membuat Abyan tidak bisa menahan diri lagi untuk mengekspresikannya. Dia menyusupkan kedua lengannya ke bawah ketiak dan lipatan lutut Aisha, lalu mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah ke dalam gendongannya. Aisha memekik kaget, refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Abyan agar tidak terjatuh.
Abyan membawa tubuh Aisha berputar di tengah ruang tamu, mengabaikan rasa pusing yang sempat menyerang kepalanya akibat gerakan mendadak itu. Suara tawa mereka beradu dengan deru angin subuh yang masuk melalui celah jendela, menciptakan simfoni kebahagiaan yang begitu pekat di dalam rumah sederhana itu.
"Mas, turunkan! Kepala aku pusing kalau berputar begini!" seru Aisha, meski bibirnya tidak bisa berhenti menyunggingkan senyum lebar.
"Mas terlalu bahagia, Aisha! Rasanya aku ingin berteriak ke seluruh dunia kalau aku akan menjadi seorang ayah!" Abyan menurunkan tubuh istrinya perlahan, namun tetap membiarkan kedua tangannya mendekap pinggang Aisha dengan posesif.
"Mas sudah berjanji dulu, kalau hari ini tiba, Mas akan melakukan apa saja untukku," goda Aisha, merapikan rambut Abyan yang berantakan karena bangun tidur.
Abyan mengecup ujung hidung Aisha dengan gemas. "Mas tepati sekarang. Jangankan cuma fasilitas terbaik, seluruh dunia pun akan Mas usahakan untuk anak pertama kita ini. Dia akan tumbuh dengan kemewahan, mendapatkan semua yang tidak pernah kita rasakan dulu."
Aisha menyandarkan kepalanya di d**a bidang Abyan, menikmati detak jantung suaminya yang berdegup konstan memancarkan rasa aman. Kehangatan pelukan itu seolah mengunci semua keraguan yang sempat membayangi langkah kaki mereka selama bertahun-tahun menjalani biduk rumah tangga yang sepi.
Tatapan mata Abyan perlahan bergulir, melewati pundak Aisha yang masih bersandar nyaman di dadanya. Netranya tidak sengaja terpaku pada sebuah kalender dinding yang tergantung kaku di dekat pintu dapur. Angka-angka di sana tercetak tebal, dengan lingkaran spidol merah pada tanggal akhir bulan yang dilingkari sendiri oleh ibunya, Nirmala, saat berkunjung dua bulan lalu.
Seketika, tawa bahagia di wajah Abyan menyusut perlahan, menyisakan guratan ketegangan yang tipis di pelipisnya. Ingatannya mendadak mundur pada malam mencekam di mana sang ibu berdiri di ruang tamu ini, melontarkan kalimat dingin yang sanggup membekukan darah di dalam tubuh mereka berdua.
“Kalau sampai akhir tahun ini rahim Aisha masih mandul, Ibu sendiri yang akan membawa wanita lain untuk bersanding denganmu, Abyan. Keluarga Arfan tidak boleh punah hanya karena kamu mempertahankan wanita yang tidak bisa memberikan keturunan.”
Suara ketus Nirmala seolah kembali berdengung di telinga Abyan, kontras dengan kehangatan tubuh Aisha yang sedang didekapnya saat ini. Detak jantung Abyan yang tadinya berirama penuh suka cita, kini berubah menjadi ketukan tak menentu yang dipenuhi oleh rasa waswas yang perlahan merayap naik ke permukaan tangannya yang mendadak dingin.