Part 04. Tertangkap

1289 Words
Cahaya lampu temaram menyinari sebuah ruangan yang berukuran tiga kali empat. Seorang gadis duduk sendiri di dalam sudut ruangan itu, gadis itu tidak berdaya karena kedua kaki dan diikat ke belakang dan mulutnya di tutup dengan lakban hitam. Ia berusaha berteriak meminta tolong namun tak ada seorangpun yang kini menolong dirinya. "Hmm! Hmm!" Dhealova terus berusaha berteriak namun tak ada yang pernah mendengar dirinya. Ya gadis yang kini sedang di ikat itu adalah Dhealova, gadis itu tertangkap oleh anak buah Langit yang terus mencari dirinya sejak insiden yang lalu saat ia mengambil dompet Langit dan mengambil semua isinya. Gadis itu terus berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan yang ada di kaki dan rakyat namun masih saja tidak bisa. Dhealova hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti, dirinya masih tidak mengerti kenapa ia di tangkap dan di ikat seperti ini. Sunyi sendiri di tempat yang sangat asing bagi dirinya, Dhealova tidak bisa memejamkan matanya sekejap karena ia ketakutan. Malam semakin larut menambah kesunyian di ruangan itu, Dhealova hanya bisa menundukkan kepalanya di atas kedua lututnya. ***** Mentari pagi bersinar cerah menembus celah kaca kecil yang ada di ruangan itu. Ceklek! Suara pintu terbuka. Suara langkah kaki seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Dhealova masih menundukkan kepalanya di atas kedua dengkulnya, unit-unit gadis itu mendongakkan wajah menatap seseorang yang kini masuk ke dalam ruangan di mana dirinya sendirian semalam, namun gadis itu tidak ada orang yang kini ada di dalam ruangan. "Hmm! Hmm!" Dhealova berusaha bicara namun ia tidak bisa karena mulutnya masih tutup dengan lakban. Laki-laki itu hanya tersenyum sinis melihat Dhealova. "Apa kabar Dhealova?" Langit menyapa gadis yang ada di ruangan itu. Ya laki-laki itu adalah Langit Alvian Indrawan. "Apa kamu ingin mengatakan sesuatu hem?" Langit melangkahkan kaki. Mendekati Dhealova yang masih duduk di sudut ruangan. Langit kini berjongkok tepat berada di depan Dhealova, kemudian Langit membuka lakban yang menempel di mulut gadis itu. "Hah..." Dhealova membuka mulutnya dan menghembuskan napas lega. Ia kini merasa sedikit bisa bebas setelah semalaman mulutnya di tutup dengan lakban. Langit tersenyum sinis saat melihat gadis yang ada di hadapannya sedang mengatur pernapasannya. "Bernapaslah sekarang, karena sebentar lagi kamu pasti akan mendekam di penjara!" Langit kini mengancam Dhealova yang ada di depannya. "P-penjara?" tanya Dhealova dengan sedikit bingung, karena gadis itu tidak tahu kenapa ia di tangkap dan sekarang mau di penjara? Apa salah gadis itu hingga ia akan di penjara. "Iya, lo akan di penjara." ucap Langit dengan suara penuh penekanan. "A-apa salahku hingga aku di penjara?" protes Dhealova tak terima. "Hahaha ... Sudah lupa ternyata. Setahun memang waktu yang cukup lama untuk melarikan diri, karena seorang wanita seperti dirimu pasti sudah bersenang- senang dengan uang sebanyak itu." Kata Langit sambil berdiri. "Uang. Uang apa maksudmu?" Dhealova semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan laki-laki yang ada di depannya. "Jangan pura-pura lupa Dhealova. Kamu sudah mengambil semua kartu di dompetku dan kamu mengambil semua isinya, bahkan kamu menggunakan kartu kredit untuk kamu belanja dan bersenang- senang dengan barang- barang mahal dan sekarang kamu lupa!" Langit mulai sedikit emosi dengan gadis yang kini ada di depannya. Bagaimana mungkin ia lupa dengan apa yang sudah dilakukannya, ia bahkan mengambil dan menggunakan semua uang yang ada di kartu ATM dan kartu Kredit milik Langit, sehingga membuat laki-laki muda itu di hukum Ayahnya. "Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan." Dhealova masih saja tak mengerti. Namun tiba- tiba saja ia teringat dengan kejadian setahun yang lalu. Dulu setahun yang lalu saat ibunya bekerja di rumah keluarga yang sangat kaya, tiba-tiba saja ibunya sakit dan tidak bisa bekerja di rumah itu, ibunya meminta Dhealova yang berangkat menggantikan pekerjaan ibunya, karena memang ibunya sudah lama bekerja di rumah itu dan di percaya oleh keluarga majikannya. Dhealova bekerja menggantikan ibunya yang sedang sakit, gadis itu membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Rumah sebesar itu selalu sepi, semua orang yang ada di rumah itu selalu pergi pagi pulang malam, sedangkan Dhealova hanya bekerja mencuci pakaian dan membersihkan rumah setiap hari, setelah pekerjaan selesai lalu pulang. Hingga suatu hari anak dari majikan ibunya pulang dari Luar Negeri dan meminta bantuan pada Dhealova untuk melakukan sesuatu, awalnya Dhealova menolak namun demi mengobati ibunya yang sakit ia lalu menyutujui tawaran itu. "Aku akan membantu kamu membiayai operasi ibumu, tapi dengan satu syarat, kamu harus bisa membuat seseorang jatuh cinta padamu lalu kamu ambil semua miliknya, bagaimana?" mendengar tawaran seperti itu Dhealova hanya diam, ia belum bisa memutuskan untuk bilang iya atau tidak, namun kesehatan ibunya sangatlah penting. "A-aku tidak bisa melakukannya, maaf Non," jawab Dhealova, gadis itu terus saja menundukkan kepalanya. "Kamu cantik, aku yakin kamu pasti bisa melakukannya, demi ibumu, lagi pula ini pekerjaan yang mudah." ucap gadis cantik yang terlihat sangat modis itu dengan penuh penekanan. "A-aku pikir dulu Non," jawab Dhealova singkat, lalu ia melangkahkan kakinya. "Hei ... Kalau kamu tidak mau, kamu aku pecat sekarang!" Deg! Dhealova mematung. Kalau ia menolak dan di pecat bagaimana dengan biaya ibunya nanti, ibunya sekarang sedang sakit parah dan kata dokter memang harus di operasi secepatnya karena Dhealova tidak mempunyai uang jadi mereka bertahan dengan keadaan seadanya, setiap hari setelah pulang bekerja Dhealova harus pergi ke apotik membelikan obat untuk ibunya. Ibu Dhealova sakit jantung dan harus segera di operasi karena ada penyumbatan di jantungnya. Dhealova hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi saat ini, ibu satu- satunya yang ia miliki kini sedang sakit di rumah, bagaimana kalau Dhealova di pecat dari pekerjaannya? apa yang akan di katakannya nanti pada Ibunya lagi pula ia sendiri memang butuh banyak uang saat ini. "Baiklah, aku menyetujuinya," Akhirnya dengan berat hati Dhealova menyetujui perjanjian ini, semua Dhea lakukan untuk Ibunya, hanya demi Ibunya ia rela merayu seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Hari berlalu dengan sangat cepat, hingga saat yang di tunggu oleh Dhealova tiba. Malam hari ini dengan berat hati Dhealova berpamitan pada Ibunya kalau ia mau membelikan obat untuk Ibunya dan ada urusan sebentar di luar. Malam hari ini Dhealova datang kerumah majikan Ibunya, saat ia masuk ke dalam rumah itu ternyata Nona muda itu sudah menunggu dirinya di dalam mobil yang ada di depan rumah mewah majikan Ibunya. Dhealova segera masuk ke dalam mobil itu, ia hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh Nona muda itu. Mobil terus melaju di tengah jalan raya Ibu Kota, namun Dhealova hanya bisa pasrah kemanapun Nona muda itu akan membawanya. Setelah beberapa saat, kemudian mobil itu berhenti tepat di depan salon kecantikan. Nona muda itu segera turun dari mobilnya dan di ikuti oleh Dhealova. Di dalam salon rambut Dhealova di cuci bersih oleh orang-orang yang bekerja di salon itu, kemudian di keringkan dengan hair dryer. Setelah itu mereka mulai memoleskan make up di wajah Dhealova. "Berikan Baju yang seksi untuknya," perintah Nona muda itu pada orang yang bekerja di salon itu, karena memang ia mempunyai banyak uang dan semua orang mengikuti perintahnya. Setelah selesai make up dan memakai baju, Dhealova terlihat sangat cantik dengan dres pendek warna merah maroon yang di kenakannya. Kini Nona muda dan Dhealova masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman salon itu. Di dalam mobil itu Nona muda memberikan foto Langit untuk Dhealova. "Ini, kamu melaporkan baik-baik, namanya Langit, kamu harus bisa membuat dia jatuh cinta padamu lalu kamu ambil semua." Tanpa menjawab Dhealova mengambil foto itu dan melihatnya. Lalu mobil itu berjalan membelah jalan raya Ibu Kota. Di hanya ada keheningan, Dhealova terus saja dalam pencarian foto Langit dan berusaha mengenalinya. "Hei ...!" suara Langit menyadarkan Dhealova dari lamunan. Gadis yang masih berada di sudut ruangan itu hanya bisa diam dan pasrah meskipun ia harus di penjara, karena memang kesalahannya sudah sangat keterlaluan, Dhealova masih ingat perlakuan Langit sangat baik walaupun mereka baru bertemu. Dhealova hanya udah melakukannya demi semuanya, karena ibunya hanya harta yang di miliki Dhealova. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD