Part 05. Sebuah Tawaran

1174 Words
"Aku mohon Tuan. Jangan masukkan aku ke penjara Tuan, aku mohon." Dhealova memohon pada Langit. Gadis itu sungguh tak tahu kalau anak majikan Ibunya yang mengambil semua isi ATM laki-laki itu, yang Dhealova ingat ia memberikan semuanya pada Viona, karena memang itulah kesepakatan yang di minta oleh Viona. Ya Nona muda itu namanya Viona, ia sangat mencintai Langit dan selalu terobsesi oleh laki-laki itu. Dulu saat berada di Luar Negeri Viona dan Langit berada di Universitas yang sama. Viona mulai mendekati Langit karena memang laki-laki itu sangat tampan dan populer, banyak gadis cantik dan seksi yang selalu mendekati Langit, Viona pikir kalau ia bisa menjadi pacar Langit ia pasti akan ikut menjadi populer di kampus itu. "Tuan, aku akan melakukan apa saja, tapi jangan masukkan aku ke penjara." lanjut Dhealova, ia menatap Langit dengan penuh permohonan. Walaupun tangan dan kakinya masih di ikat namun ia terus berusaha dan memohon pada Langit. Sedangkan Langit hanya tersenyum sinis melihat gadis yang ada di depannya sedang mengiba padanya. "Apa jaminannya?" Langit mulai bicara setelah diam mendengarkan gadis itu. "Apa yang akan kau berikan padaku!" Langit sebenarnya tidak tega saat melihat Dhealova memohon, namun kesalahan gadis itu sudah membuat keluarganya hampir saja bangkrut dan Langit di hukum Ayahnya juga gara- gara kesalahan gadis itu, untuk apa Langit harus memaafkan-nya. "A-aku ... a-akan melakukan apa saja untukmu Tuan, dan aku akan mengganti semua uang itu Tuan." Dhealova mulai memohon lagi pada Langit. "Kau yakin akan melakukan apa saja yang aku inginkan?" Langit mulai menatap Dhealova dan sedikit tertarik dengan gadis itu. "I-iya Tuan, a-aku akan melakukan apa saja," jawab Dhealova dengan sedikit takut. "Baiklah, aku akan buat perjanjian hitam di atas putih, dan kau harus bersedia menandatanganinya kalau kau tidak mau di penjara." Langit kini mulai melangkah menuju pintu yang tertutup, laki-laki itu mulai keluar dari ruangan itu dan memberikan kunci pada dua anak buahnya yang berjaga di depan. "Ini kuncinya, lepaskan ikatan-nya dan berikan dia makan, tapi ingat jaga tempat ini jangan sampai dia kabur." ucap Langit pada kedua orang anak buahnya, kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu. "Siap Bos." ***** Langit sudah sampai di cafe. Ia langsung berjalan masuk ke dalam ruangan kerja miliknya yang berada di lantai dua. "Huh!" Langit menghembuskan napas kasar saat ia duduk di kursi kerja miliknya. Mata laki-laki itu terpejam memikirkan sesuatu, entahlah Langit sendiri juga tidak tahu. Senjenak Langit merasa rilex saat ia memejamkan matanya. Perlahan kini Langit mulai membuka matanya saat mendengar suara ponsel miliknya. Langit melihat di layar ponsel itu, ternyata Bintang saudara sepupunya yang sedang menghubungi dirinya. "Halo Bintang," suara Langit terdengar sedikit serak saat mulai bicara dengan Bintang yang ada di seberang sana. [Halo Lang, lo sekarang di mana?] tanya Bintang dari seberang sana. "Gue di cafe, ada apa?" Langit bicara dengan penuh tanda tanya, karena tiba-tiba saja Bintang meneleponnya. [Baiklah kalau begitu, gue mampir kesana oke.] setelah bicara kemudian Bintang mematikan sambungan teleponnya. Langit hanya menatap ponselnya yang sudah tidak ada sambung telepon lagi dari Bintang sepupunya, Langit meletakkan kembali ponselnya di meja yang ada di depannya. Setelah sekitar lima belas menit. Kini Bintang dan Senja datang ke cafe milik Langit. Mereka berdua kini masuk ke dalam cafe dengan bergandengan tangan dan mereka langsung saja berjalan menaiki anak tangga yang ada di cafe itu menuju ke ruang kerja milik Langit. Tok Tok Tok! Bintang mengetuk pintu ruangan Langit. "Masuk!" Terdengar suara Langit dari dalam, kemudian kini Bintang dan Senja masuk ke dalam ruangan kerja Langit. Ceklek! Suara pintu terbuka. "Selamat siang Lang," sapa Bintang saat ia masuk. Di sana Langit sedang duduk sendirian. "Selamat siang juga Bintang, silahkan duduk," ucap Langit saat melihat saudara sepupunya. Kini Bintang dan Senja duduk di depan Langit. "Kalian tidak kuliah?" tanya Langit. "Dosennya ada rapat jadi kita pulang cepat," jawab Bintang dengan santai. "Sayang, kita makan siang di sini yuk, aku sudah lapar nih," Bintang bicara pada istrinya yang kini duduk di sebelahnya. "Iya, aku juga lapar sayang," Senja dan Bintang kini bicara saling menatap dan saling menggenggam tangan. Sedangkan Langit yang sibuk dengan pekerjaannya sesekali ia melirik kearah sepasang pengantin baru itu. "Baiklah, aku akan ke bawah sebentar memesan makanan, kamu tunggu disini ya sayang," Bintang kini mulai mengusap pipi Senja dengan gemas. Justru itu malah membuat jiwa jomblo Langit menjadi meronta. "Ehem!" terdengar suara Langit berdehem cukup keras. Bintang dan Senja dengan cepat menoleh kearah Langit yang sedang sibuk memperhatikan laptopnya. "Lo kenapa sih Lang, gak suka kita di sini?" Bintang mulai menunaikan protes pada Langit sepupunya. "Gak gitu juga kali, masak romantisan di depan gue yang jomblo ini, kan gak asik." Langit tak mau kalah, ia juga protes pada Bintang. "Makanya ... Kalau punya cewek satu aja terus nikahin deh, nah elu cewek banyak gak ada yang di nikahin, sekalinya pengen nikah tidak ada yang di ajak nikah kan?" Bintang mulai ceramah panjang lebar pada Langit, sedangkan Langit menyetujui omongan Bintang, kedua sepupu itu memang tidak bisa di tebak, kadang marahan kadang baik kadang juga sependapat. Senja hanya diam saja saat melihat kedua saudara sepupu itu berdebat. "Aku ke bawah sebentar ya sayang," Bintang kini beranjak dari duduknya meninggalkan Senja dan Langit di ruangan itu. Bintang ke bawah memesan makanan untuk mereka makan siang di sini, sedangkan Langit dan Senja yang kini berada di ruangan itu, mereka saling diam, Senja hanya menunduk, sedangkan Langit melihat laptopnya, mereka berdua seperti masih canggung. "Ehem, Senja gue boleh tanya sesuatu gak?" Langit mulai mengajak Senja bicara. "Em, mas Langit mau tanya apa?" jawab Senja dengan sedikit ragu saat mendengar Langit ingin bertanya sesuatu padanya. "Hem ... Gini, kamu dulu saat pertama jatuh cinta sama Bintang gimana sih ... Maksudnya apa ada sesuatu gitu, seperti ada kupu-kupu atau apa gitu, dan apa kamu tahu kalau dia bakal jadi jodoh kamu?" Langit bertanya dengan serius pada Senja istri sepupunya itu, Langit benar-benar penasaran bagaimana cara mengetahui kalau orang itu adalah jodoh kita, sedangkan yang Langit rasakan selama ini hanya rasa yang biasa saja. "Em..." Senja bingung harus jawab apa karena pertanyaan Langit seperti anak TK yang baru saja sekolah, Senja merasa risih kalau ia tidak menjawab pertanyaan saudara sepupunya namun ia sendiri bingung mau jawab apa. Ceklek! Bintang membuka pintu itu dan berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Langit. seketika Senja dan Langit melihat Bintang yang sedang berjalan menuju kearah mereka. "Kalian kenapa sih, kok sepertinya canggung begitu?" tanya Bintang pada Senja dan Langit. Karena mereka berdua saat ini memang kelihatan sedikit canggung. Kini Bintang duduk di samping istrinya. "Em..." Senja bingung harus menjawab apa pertanyaan suaminya. "Gak usah berpikir macam- macam Bintang, kita tidak ada apa-apa kok, perasaan lo aja kali. Oh iya, tadi pesen makanan apa, dua porsi atau tiga porsi" Langit bertanya pada Bintang, Ia mulai membahas makanan. "Gue pesen tiga porsi lah ... secara gue kan baik sama lo Lang," Bintang tersenyum melihat Langit dengan memasang ekspresi wajah tampannya. Langit hanya bisa tersenyum melihat saudara sepupunya. ***** ------------------------------------------ Maaf ya kalau untuk saat ini aku update jarang- jarang, nanti kalau sudah saatnya aku pasti update setiap hari... Jangan lupa follow penulisnya dan tinggalkan jejak komentar kalian di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD