Sore hari ini Langit masih di berada di cafe. Bintang dan Senja mereka sudah pulang setelah makan siang.
Saat Langit sendiri di ruangan kerjanya, entah kenapa ia malah memikirkan gadis yang kini sedang di tangkapnya. Langit selalu memikirkan dia sekarang.
Langit segera bangkit dari duduknya dan ia mengambil kunci mobilnya. Laki-laki muda itu kini berjalan keluar dari cafe miliknya dan berjalan menuju mobil sport hitam yang terparkir di halaman cafe miliknya.
Mobil sport warna hitam miliknya kini berjalan keluar dari cafe menuju ke jalan raya. Langit melajukan mobilnya dengan sangat cepat, laki-laki itu terlihat sedang memikirkan sesuatu sekarang.
Di perjalanan Langit hanya diam. Pandangan matanya lurus ke depan.
Setelah hampir tiga puluh menit berlalu, kini Langit sudah sampai di tempat dimana ia dan anak buahnya menyekap Dhealova.
Langit segera memarkirkan mobilnya, lalu ia turun dari mobil itu dan segera masuk ke dalam.
"Bos," ucap kedua anak buahnya saat melihat Langit datang.
"Bagaimana, apa kalian sudah memberinya makan?" tanya Langit pada kedua anak buahnya.
"Sudah Bos," jawab anak buah Langit.
"Bagus, sekarang buka pintunya, gue mau masuk."
"Siap."
Kemudian anak buah Langit membuka pintu ruangan itu. Langit dengan cepat melangkah masuk ke dalam.
Di sudut ruangan sana seorang gadis menatap kedatangan Langit dengan penuh harapan. Harapan agar laki-laki muda itu mau melepaskan dirinya.
"T-tuan." ucap Dhealova lirih. Ia menatap Langit dengan sendu.
Sedangkan di dalam lubuk hati Langit yang paling dalam, ia tidak tega menyiksa orang seperti ini. Namun Langit butuh alasan yang jelas kenapa gadis itu mengambil isi dompet Langit
"Ehem!" Langit berdehem dan mulai menatap Dhealova yang masih berada di sudut ruangan.
"T-tuan. Jangan penjarakan aku Tuan, ku mohon." Dhealova memohon saat Langit melangkah pelan menuju ke arahnya.
Senjenak mata mereka berdua saling bertatap.
"Apa alasan kamu mengambil isi dompet itu?" tanya Langit tanpa ekspresi.
Dhealova semakin takut saat Langit bicara tepat di depan wajahnya. Semakin dekat. Dan dekat sekali, bahkan napas Langit bisa ia rasakan. Cahaya lampu temaram membuat Dhealova semakin takut.
"A-aku ... Maafkan aku Tuan, aku menyesal sekarang." jawab Dhealova dengan gugup.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Langit lirih.
"A-aku akan mengganti uang itu, maafkan aku T-Tuan." Dhealova menelan salivanya.
"Dengan cara apa kau akan mengganti uang itu?" Langit masih bicara dengan suara datarnya.
"A-aku akan bekerja keras, T-Tuan."
Hening.
Untuk sejenak mereka kini saling diam.
Tak lama kemudian Langit mulai memalingkan wajahnya kesamping. Lalu ia berdiri dan berjalan beberapa langkah lalu berhenti.
Saat melihat Langit menjauh Dhealova menghembuskan napas. Gadis itu merasa ada perasaan yang berbeda saat merasakan napas laki-laki muda itu.
Langit mengeluarkan selembar kertas dan sebuah bolpoin dari saku jaket hitamnya. Lalu ia berjalan kembali ke arah Dhealova. Ia mulai membuka ikatan yang ada di tangan dan kaki Dhealova. Sedangkan gadis itu bingung antara senang dan sedih.
"Bangun." Langit menunjukkan kertas itu pada Dhealova.
"Baca." ucap Langit datar.
Dhealova hanya diam dan mulai membaca selembar kertas yang diberikan oleh Langit.
'S-surat perjanjian?' ucap Dhealova dalam hati.
Dhealova mulai membaca isi surat itu satu persatu. Di situ tertulis tentang perjanjian yang telah dibuat oleh Langit untuk Dhealova.
Salah satunya tertulis kalau Dhealova harus menuruti semua permintaan Langit selama hutang itu belum lunas dan beberapa poin- poin penting yang sangat menguntungkan Langit.
"T-tuan, kenapa aku harus bekerja di rumah Tuan? A-aku bisa mencari pekerjaan di tempat lain Tuan?" Kata Dhealova protes.
"Kenapa? Kamu protes? Atau kamu akan melarikan diri saat bekerja di tempat lain?" ucap Langit. Kemudian ia menatap Dhealova.
Dhealova ingin bicara namun segera di dului oleh Langit. "Apa kamu belum baca semuanya? Di situ bahkan tertulis dilarang protes atau hutang kamu bertambah. Ingat itu." lanjut Langit.
"B-bukan itu maksudku," gadis itu hanya bisa mengalah, ia sebagai orang yang bersalah hanya bisa menurut.
Langit tak bicara, ia hanya menatap Dhealova dan menaikkan kedua alisnya.
"Kalau begitu, cepat tanda tangani." Kata Langit sambil sedikit tersenyum menang saat melihat ekspresi Dhealova.
"Iya, akan aku tanda tangani." kini Dhealova menandatangani surat perjanjian hutang dengan Langit.
Walaupun gadis itu tidak tahu berapa uang yang telah hutangnya, namun ia harus bertanggung jawab membayarnya. Karena memang dirinya yang bersalah.
"Ini Tuan, sudah aku tanda tangani." Dhealova memberikan kertas perjanjian yang sudah di tanda tangani itu pada Langit.
"Bagus, sekarang ayo ikut aku, kamu mulai bekerja sekarang." tanpa banyak bicara lagi Langit melangkah menuju ke arah pintu untuk keluar.
Dhealova hanya bisa mengekori laki-laki yang berjalan di depannya. Entah akan di ajak kemana ia saat ini, Dhealova hanya bisa mengikuti Langit tanpa bisa bertanya lagi.
Takut pasti. Gadis itu sangat takut sekali kalau ia akan di bawa ke kantor polisi. Entah kenapa Dhealova takut sekali di penjara, apalagi satu sel dengan orang-orang jahat disana.
Langit membuka pintu mobilnya untuk Dhealova, sejenak gadis itu menatap Langit, namun Langit mengisyaratkan untuk masuk.
Tanpa bicara Dhealova masuk ke dalam mobil sport hitam milik Langit. Setelah Dhealova masuk, Langit segera menutup pintu mobilnya, ia mulai berjalan cepat dan segera masuk ke dalam mobil miliknya.
Kini mobil Langit berjalan keluar dari gudang kosong itu. Langit dan Dhealova hanya diam tanpa bicara sepatah kata- pun.
Sesekali Dhealova menatap Langit yang sedang mengemudi, sedangkan Langit menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan gadis yang ada di sampingnya.
Beberapa saat kemudian. Mereka sudah sampai di depan gedung apartemen mewah yang ada di kota ini.
Setelah memarkirkan mobilnya, kini Langit segera turun dari mobilnya. Dhealova dengan cepat keluar dari mobil Langit sebelum laki-laki itu membukakan pintu mobil untuknya.
Entah kenapa saat laki-laki muda itu memberikan perhatian padanya membuat Dhealova semakin merasakan keanehan yang tidak bisa ia mengerti.
Saat melihat Dhealova turun sendiri dari mobilnya Langit hanya bisa diam dan menatap dengan tatapan tanpa ekspresi. Dhealova menundukkan wajahnya saat di tatap oleh Langit.
Langit mulai berjalan masuk ke dalam apartemen. Dhealova hanya bisa mengekori dirinya. Gadis itu nampak kewalahan saat mengikuti kemana langkah kaki laki-laki itu berjalan.
Setelah sampai di depan lift kini Langit masuk, begitupun dengan Dhealova, ia masuk dan menatap Langit, dan tetap saja laki-laki itu tak melihat kearah nya. 'Apa tuan ini marah lagi padaku?' gumam Dhealova dalam hati.
Beberapa detik kemudian kini pintu lift tiba-tiba saja terbuka. Dan Langit keluar dari lift. Gadis itu merasa lelah, benar-benar lelah.
"T-Tuan." ucap Dhealova lirih.
Bruk!
Dhealova pingsan saat mengikuti Langit. Laki-laki itu belum sadar kalau Dhealova pingsan, ia terus berjalan dengan cepat menuju ke unitnya.
Saat Langit akan masuk, barulah ia sadar kalau Dhealova tidak ada di belakangnya.
Langit menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari Dhealova, namun tak juga ia melihat sosok gadis itu.
"Dhealova?" Langit mulai memanggil gadis itu. Namun tak ada sahutan darinya. Apa mungkin Dhealova tersesat saat dirinya berjalan cepat, apa jangan- jangan gadis itu melarikan diri. 'Mungkin dia benar-benar melarikan diri.' batin Langit dalam hati. "Sial." ucap Langit marah. Kemudian ia kembali berjalan mencari Dhealova, siapa tahu mungkin gadis itu masih belum jauh dari apartemen ini.
Setelah beberapa langkah tiba-tiba saja Langit melihat seseorang tidur di atas lantai. Setelah di dekati, ternyata ia kenal dengan sosok itu.
"Dhealova!" seru Langit. Laki-laki itu berjalan cepat menuju kearah gadis yang tergeletak lemah.
Dengan cepat Langit mengangkat tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga. Dengan sedikit berlari Langit membawa Dhealova menuju ke unit miliknya. Langit membuka pintu itu dengan tangan kanannya dan sedikit kerepotan karena mengangkat kepala Dhealova.
Setelah berhasil, dengan tidak sabar Langit mendorong pintu itu kemudian menutupnya dengan keras menggunakan kakinya.
Dhealova masih belum sadarkan diri. Langit meletakkan Dhealova diatas tempat tidurnya dengan sangat hati-hati.
Segera ia menelepon dokter agar datang ke apartemen miliknya untuk memeriksa Dhealova yang masih belum sadarkan diri.
Langit berdiri disamping tempat tidur, tangan Langit berada di pinggang dan tangan satunya memijat kening.
Ting Tong Ting Tong!
Terdengar suara seseorang menekan bel yang ada di depan pintu apartemen milik Langit.
Dengan cepat laki-laki muda itu keluar kamar untuk membukakan pintu depan. "Dokter," ucap Langit setelah membuka pintu dan ternyata Dokter sudah datang.
"Mas Langit, siapa yang sakit?" tanya Dokter itu pada Langit. Karena yang Dokter itu tahu Langit tinggal sendirian di apartemennya.
"Em ... Mari ikut saya Dokter." Langit mengajak Dokter itu masuk ke dalam kamarnya, disana Dhealova masih belum sadar.
"Tolong di periksa Dok, tadi dia pingsan di depan lift." ucap Langit menjelaskan.
"Iya, Mas," jawab Dokter itu.
Kemudian Dokter mulai memeriksa Dhealova. "Dia kenapa Dokter?" tanya Langit ingin tahu.
"Dia lemas, karena kelelahan dan belum makan, jadi dia pingsan." jawab dokter itu menjelaskan pada Langit.
"Ini ada vitamin, tolong di berikan nanti setelah dia sadar, dan jangan lupa suruh makan yang banyak ya Mas,"
Mendengar penjelasan Dokter, Langit hanya bisa diam.
"Saya permisi dulu Mas Langit," Kata Dokter itu, kemudian ia berjalan keluar meninggalkan Langit.
"Oh, iya Dokter," kemudian Langit mengantar Dokter itu keluar dari apartemen miliknya.
Setelah Dokter itu pergi Langit menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lalu ia berjalan masuk ke dalam kamar melihat Dhealova yang masih belum sadar. "Merepotkan saja," Langit mengeluarkan napas kasar.
"Lebih baik gue mandi dulu, gerah," Langit mengambil handuk yang ada di dalam lemari dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Butiran air dingin yang keluar dari shower membasahi kepala Langit. Suara gemercik air yang keluar dari shower kini terdengar sampai di luar kamar. Dhealova masih belum sadar.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian kini Langit keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di lehernya. Laki-laki itu mengusap rambutnya yang basah dengan handuk itu.
Langit berjalan menuju ke sofa panjang yang ada di kamarnya. Mata Langit terus menatap Dhealova. "Ada- ada saja." laki-laki muda itu bicara sendiri.
Setelah rambut laki-laki muda itu kering, kini Langit mulai lelah dan harus segera beristirahat. Namun ia baru sadar kalau di atas tempat tidurnya ada seorang gadis yang terbaring disana.
"Ah, sial. Kenapa tadi gue bawa ke kamar ini sih, kenapa tidak gue bawa saja ke kamar sebelah tadi." Langit hanya bisa marah pada dirinya sendiri sekarang.
Akhirnya dengan terpaksa laki-laki itu tidur meringkuk di sofa panjang yang ada di kamarnya.
*****