Matahari bersinar cerah. Cahaya-nya menembus jendela kaca apartemen milik Langit.
Di dalam kamar seorang gadis mulai membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa sedikit pusing setelah pingsan kemarin. "Di mana aku sekarang?" ucap Dhealova lirih. Pandangan matanya menyapu ke segala penjuru kamar ini. Gadis itu masih belum ingat kejadian kemarin saat ia di ajak Langit pergi ke apartemennya dan pingsan di depan pintu lift.
"Auw." Dhealova menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu ia bangun dari tidurnya, badannya terasa sangat pegal dan sakit semua. Dhealova berdiri dan menatap seluruh penjuru kamar.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tidur di sini, di mana tuan galak itu?" Dhealova bicara sendiri. Tangannya kembali memegang kepalanya yang sakit. Setelah berjalan beberapa langkah akhirnya gadis itu melihat sosok laki-laki muda yang sedang meringkuk di sebuah sofa panjang, ia melihat kalau laki-laki itu sedang kedinginan karena tidak ada selimut yang menutupi tubuhnya. Dhealova akhirnya berbalik dan mengambil selimut yang ada di atas tempat tidur, sejenak ia ragu mau menyelimuti tubuh laki-laki itu atau tidak, setelah berpikir beberapa saat akhirnya ia mengangguk dan menutupi tubuh Langit dengan selimut.
Gadis itu tersenyum melihat langit.
Mata Langit tiba-tiba saja terbuka saat Dhealova menutupi tubuhnya dengan selimut, Langit terkejut mata membulat saat melihat Dhealova berjongkok di sampingnya.
"Kau mau apa?" seru Langit saat melihat Dhealova ada di sampingnya.
"Em. I-itu, t-tidak tuan, maaf." menundukkan wajahnya karena takut kalau Langit marah padanya, padahal Dhealova hanya berniat menyelimuti tubuh Langit yang meringkuk kedinginan.
Langit segera duduk. "Kau sudah bangun, bagaimana apa kau sudah sembuh?" Langit bertanya pada Dhealova, laki-laki itu seakan hawatir pada gadis yang baru saja di kenalnya.
"I-iya tuan," jawab Dhealova dengan lirih.
"Kalau kau sudah sembuh, nanti akan ada jadwal pekerjaan untukmu, kau harus bekerja keras untuk membayar semua hutang mu," lalu Langit berdiri, berjalan beberapa langkah kemudian ia balik lagi, "Kamar kamu di sebelah sana, sekarang keluarlah sebelum aku marah." berjalan ke lemari yang ada di samping tempat tidur, lalu mengambil handuk di dalam lemari dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Dhealova dengan cepat keluar dari kamar Langit karena takut kalau laki-laki itu marah padanya, karena kemarin Langit nampak menakutkan saat sedang marah, ia bahkan berkata kasar, tapi pagi ini kenapa bicara kamu bukan lagi lo gue. Dhealova tidak bisa berpikir lagi karena kepalanya masih sakit.
"Sebaiknya aku mandi saja dengan air hangat, semoga saja bisa meringankan rasa sakit yang ada di kepalaku ini," ucap Dhealova saat keluar dari kamar Langit, gadis itu masih mencari di mana kamar untuknya, setelah berjalan beberapa langkah akhirnya ia melihat sebuah pintu kamar, mungkin kamar ini yang di maksud oleh Langit, karena di apartemen ini hanya ada dua kamar saja.
Ceklek!
Gadis itu membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar. Ia melihat kamar ini tidak kalah luas dengan kamar Langit, tapi hanya berbeda isinya saja, kamarnya bersih, tetap di d******i dengan warna hitam dan putih khas laki-laki, karena memang unit ini milik Langit yang masih single.
Dhealova berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tapi saat ia akan melepaskan pakaiannya, tiba-tiba saja gadis itu ingat kalau dia tidak punya pakaian ganti, Dhealova nampak berpikir. "Bagaimana ini? Aku tidak punya baju ganti, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Setelah berpikir, tiba-tiba saja gadis itu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari yang ada di dalam kamar.
Tangan Dhealova meraih pintu lemari lalu membukanya, di dalam lemari itu kosong, tidak ada pakaian apapun. "Hah. Bagaimana ini, kenapa di sini tidak ada pakaian sama sekali? Masak iya aku mandi pakai baju ini lagi?" Dhealova ingat saat pertama kali di tangkap oleh anak buah Langit ia berada di jalan pulang dari suatu tempat. Gadis itu sedang berjalan sendirian lalu tiba-tiba saja ada tiga orang yang menangkapnya dari belakang, satu orang menutup mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang sudah di olesi obat bius dan dua orang lainnya memegang tangannya dari belakang, dan gadis itu pingsan seketika tidak sadarkan diri, dan saat terbangun ia sudah berada di suatu tempat dengan tangan dan kaki yang sudah di ikat.
"Huh. Terpaksa aku ambil bajunya tuan galak itu." menutup kembali pintu lemari, lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Gadis itu berjalan dengan pelan menuju kamar Langit, ia membuka pintu kamar sedikit dan mengintipnya dari luar, saat tidak ada orang, gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar Langit, "Huh." ia mengembuskan napas kasar saat merasa aman. Dari luar masih terdengar suara gemercik air yang keluar dari shower, itu tandanya Langit masih berada di dalam kamar mandi.
Dengan cepat Dhealova membuka pintu lemari Langit dan mengambil satu kemeja warna putih, Dhealova tersenyum saat mendapatkan apa yang di carinya.
Setelah selesai mengambil kemeja Langit, gadis itu kembali ke dalam kamarnya dan mandi di dalam sana, butiran air shower kini membasahi kepala Dhealova, tubuhnya terasa sangat segar setelah tersiram air dingin, kepalanya yang sakit kini sudah sedikit lebih baik. Gadis itu mengambil shampoo lalu mengusapkannya pada rambut panjangnya yang kini di penuhi oleh busa. Tak lupa ia juga mengambil body shower dan mengoleskannya ke seluruh tubuhnya, gadis itu senang karena tubuhnya wangi.
"Kapan lagi aku bisa memanjakan tubuhku dengan mandi seperti ini." mengambil busa di tubuhnya dan meniupnya.
Selesai mandi dan berganti pakaian Dhealova duduk di depan cermin. "Semoga tuan galak itu tidak marah kalau tahu aku mengambil kemejanya, mau bagaimana lagi, dari pada aku tidak punya baju ganti, salah siapa menculikku di tengah jalan, kan aku tidak bawa baju ganti." ujar Dhealova, gadis itu bicara sendiri saat melihat wajahnya di depan cermin. Setelah menyisir rambut panjangnya, ia belum berani keluar dari kamarnya, gadis itu duduk di tepi tempat tidur.
"Apartemen sebagus ini hanya ada satu orang yang menempati, jadi orang kaya memang enak ya, bisa membeli apartemen sebagus ini, kamarnya saja seluas ini, beda kalau orang miskin, satu kamar ini saja bisa jadi satu rumah." Matanya melihat sekeliling kamar yang sangat luas.
Tok Tok Tok!
Suara seorang mengetuk pintu kamar yang di tempati Dhealova.
Tok Tok Tok!
"Siapa ya? Ah mungkin tuan galak itu," Dhealova berjalan menuju pintu dan membukanya dengan pelan, gadis itu masih takut kalau ia ketahuan memakai kemeja Langit, jadi gadis itu bersembunyi di belakang pintu, hanya kepalanya saja yang keluar. "Ada apa Tuan?" tanya Dhealova.
"Ini sudah siang, kenapa masih di kamar saja sih, cepat keluar, kerja! malah enak- enakan di dalam kamar saja, kamu di sini kerja bukan liburan!" Langit marah bahkan wajahnya kelihatan sangat marah sekarang. "Cepat keluar, gue tunggu di ruang tv," lanjut Langit. Kemudian ia pergi meninggalkan Dhealova.
"Aduh bagaimana ini? Tuan galak itu pasti marah lagi karena sekarang memanggil dengan lo gue lagi, bukan aku kamu, gimana kalau tahu kalau aku pakai kemeja miliknya ya? Pasti akan lebih marah, hi takut." gadis itu bicara sendiri, ia menutup wajahnya dengan tangan karena takut kalau Langit marah lagi.
"Dhealova!!!" seru Langit memanggil gadis itu dari ruang tengah.
"Aduh, bagaimana ini. Ya Tuhan tolong aku," gadis mendongakkan wajahnya ke atas, ia berdoa agar Langit tidak marah padanya.
Setelah mengembuskan napas berkali-kali akhirnya ia keluar juga dari kamarnya, gadis itu berjalan pelan menuju ruang tengah. Langit sudah menunggunya di sana, laki-laki itu sibuk dengan ponselnya jadi belum melihat Dhealova yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ada apa tuan?" ucap Dhealova lirih.
"Hem. Iya, iya pak nanti siang saya ke sana, oh iya." Langit mematikan sambungan teleponnya.
Dhealova masih takut kalau Langit akan marah. Gadis itu meremas ujung kemeja dengan kedua tangannya ia juga menggigit bibir bawahnya.
"Itu jadwal kerja kamu selama berada di sini. Jangan lupa jadwal bisa berubah sewaktu- waktu kamu mengerti kan?" ucap Langit sembari sibuk memainkan ponselnya.
Dhealova belum berani mengambil selembar kertas putih yang ada di atas meja depan Langit. Gadis itu masih takut.
Saat menyadari kalau Dhealova hanya diam berdiri saja dan tidak mau mengambil jadwal kerjanya Langit sedikit marah. "Dhealova. Kenapa kamu tidak amb..." Langit menatap kesamping, ia terkejut saat melihat kemeja putih kesayangannya. "Hei, kau?!" Langit menunjuk ke gadis yang ada di depannya. Dhealova hanya menundukkan wajahnya, ia sangat takut kalau Langit marah. "Dhealova. Beraninya kamu memakai kemeja putih kesayanganku? Cepat lepas, sekarang!" bentak Langit marah, wajah laki-laki itu merah padam karena marah.
Gadis itu hanya diam dan memejamkan matanya ketakutan.
"Dhealova, lepas kemeja ini sekarang juga!" Langit berdiri dan menarik kemeja miliknya yang di pakai Dhealova.
"Jangan tuan. Aku tidak punya baju lagi." ucap Dhealova, entah dari mana gadis itu tiba-tiba saja berani bicara.
"Tapi itu kemeja kesayanganku, tidak ada seorang pun yang boleh memakainya,"
"Salah siapa tuan menculikku di jalan, jadi aku tidak punya baju ganti, apakah aku harus pakai baju yang kemarin lagi? Karena selama di ikat berhari- hari aku tidak di beri kesempatan untuk mandi apalagi berganti pakaian!" entah dari mana gadis itu mendapatkan keberanian bicara seperti itu. Langit diam saja menatap gadis yang sedang marah di depannya. Lalu pergi keluar dari apartemen meninggalkan Dhealova sendirian.
Setelah melihat Langit keluar, gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, ia mengembuskan napas berkali-kali untuk menenangkan hati dan pikirannya. 'Ya Tuhan. Semoga saja tuan galak tidak marah karena tadi aku membentaknya," Dhealova mengembuskan napas kasar.
*****