Langit merasa terjebak kali ini. Padahal laki-laki muda itu sedang dalam mode tidak ingin diganggu. Tapi Viona malah datang ke ruang kerjanya. Di tambah lagi tuan Indrawan ayahnya yang selalu mengatur dirinya. Itu semakin membuat Langit pusing saja. Laki-laki itu masih pura -pura sibuk dengan layar laptop yang ada di depannya. Sesekali ia menoleh ke arah tuan Indrawan dan Viona yang sedang berbincang-bincang. Viona terlihat akrab dengan ayahnya Langit, padahal mereka baru beberapa kali saja bertemu. "Lang, papa pergi dulu. Ada meeting penting siang ini." tuan Indrawan berdiri dari duduknya. "Iya, pa." jawab Langit singkat. "Viona, om duluan ya. Kamu di sini saja temenin, Langit." ucap tuan Indrawan sambil tersenyum ramah. "Iya, om." gadis itu memasang senyuman yang sangat manis

