Part 09. Pasangan Pengantin Baru

1324 Words
Langit dan Dhealova berjalan keluar dari butik yang ada di dalam mall. Kini Dhealova masih susah payah mengikuti langkah kaki Langit. Gadis itu membawa dua paper bag di tangannya, beberapa kali ia mengembuskan napas kasar. "Tuan, kalau jalan yang pelan dong, aku capek nih." protes gadis itu. "Kalau pelan, kapan kita akan selesai? Setelah ini kita belanja keperluan dapur, nih daftar belanjaan kita, kamu cari semua bahan ini." Langit menghentikan langkahnya, ia memberikan satu lembar kertas pada Dhealova. Dan gadis itu pun menerimanya. "Daftar belanjanya banyak sekali tuan? Yakin tuan ingin belanja seba..." Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya, karena Langit tiba-tiba saja memotong ucapan Dhealova. "Jangan banyak protes, kamu tinggal cari saja apa yang ada di dalam catatan itu." kemudian Langit melanjutkan langkah kakinya. Dhealova kembali mengekori Langit tanpa berani bicara lagi. 'Dasar. Tuan galak yang sombong.' batin Dhealova saat berjalan di belakang Langit. Langit terus berjalan dengan cepat. Ia tidak memperdulikan Dhealova yang susah payah mengikuti langkah kakinya. "Kita belanja di sini saja, ayok masuk," ajak Langit. "Iya tuan." jawab Dhealova dengan malas. Mereka berdua kini masuk dan memilih beberapa bahan belanjaan. Dhealova membawa kertas yang berisi catatan belanja dan mengambil bahan makanan. Sedangkan Langit yang mendorong trolli itu. Tanpa sadar mereka berdua menjadi pusat perhatian orang lain yang sedang berbelanja di sini. Semua orang menatap mereka sembari tersenyum. Saat Langit dan Dhealova sedang memilih buah- buahan mereka berdua nampak sangat akur, tidak seperti musuh ataupun tuan dan pembantunya, mereka berdua malah mirip seperti sepasang pengantin baru yang baru menikah kemarin. "Tuan, buahnya yang ini atau yang ini?" tanya Dhealova, ia menunjukkan dua buah semangka yang kecil berwarna kuning dan yang besar semangka berwarna merah. "Yang kecil saja," jawab Langit. Laki-laki itu sibuk dengan ponsel miliknya. "Kenapa tidak yang besar saja tuan, kan harganya sama? Cuma beda jenis saja sih," ujar Dhealova bingung dengan pilihan Langit. "Kamu protes?" Langit sedikit melotot saat melihat Dhealova, membuat gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangan matanya ke samping. "T-tidak. Siapa yang protes, cuma..." gadis itu berhenti bicara karena Langit segera menarik tangannya. Setelah beberapa langkah mereka berhenti. "Auw. Sakit, tolong..." ucap Dhealova minta tolong. Dan Langit segera menutup mulut Dhealova dengan tangan kanannya. "Diamlah, jangan berteriak," ucap Langit tepat di telinga Dhealova. Lalu melepaskan tangannya. "Kenapa tuan galak sekali, aku kan cuma bertanya tadi, kenapa tuan selalu marah- marah?" entah dari mana Dhealova mendapatkan keberanian itu, karena ia berani protes. "Kalian pengantin baru ya?" tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya berambut pendek menghampiri mereka berdua. Dhealova dan Langit segera menoleh ke arah sumber suara yang itu. "Wajar saja kalau kalian pengantin baru bertengkar karena hal sepele, nanti juga baikan lagi," tersenyum melihat kedua pasangan yang ia kira pengantin baru. "Eh. B-bukan seperti itu bu, kami bukan..." Langit dan Dhealova saling melotot saat itu pandangan mata mereka bertemu. "Sudahlah anak muda, ibu tahu kamu sangat mencintai istrimu, kalian jangan bertengkar lagi ya, lebih baik kalian berdua bergandengan tangan seperti ini biar kelihatan lebih romantis," Wanita paruh baya itu memegang tangan Dhealova dan Langit kemudian menyatukan tangan mereka berdua. "Nah, kalau begini kan kalian kelihatan lebih romantis." tersenyum kemudian berjalan pergi meninggalkan Dhealova dan Langit yang masih bingung karena wanita itu mengira mereka pasangan pengantin baru. Setelah wanita paruh baya itu pergi, Langit dengan cepat melepaskan tangannya. "Semua ini gara-gara kamu," Langit menunjuk ke wajah Dhealova. "Kenapa tuan menyalahkan aku? bukankah yang sering marah-marah itu tuan, bukan aku." memajukan bibirnya sebal. Gadis itu sangat benci dengan sifat Langit yang selalu menyalahkan dirinya. "Hutang kamu sekarang naik lima persen, karena kamu sering protes, nanti akan aku tulis di surat perjanjian yang baru." lalu berjalan meninggalkan Dhealova. "Hah." Dhealova mengembuskan napas kasar. Ia benar-benar terkejut mendengar ucapan Langit. "Ya Tuhan kenapa jadi rumit begini hidupku, bertemu dengan orang galak yang seenaknya menaikkan bunga hutang. Semoga aku bisa dengan cepat membayarnya, biar bisa bebas dari orang aneh itu." kemudian gadis itu berjalan keluar dari mall menyusul Langit. **** Di tempat lain tuan Indrawan datang ke cafe. Pria dewasa itu langsung berjalan masuk ke dalam ruang kerja Langit. Di dalam sana ia tidak melihat siapa pun di ruangan itu, matanya menatap sekeliling tetapi tidak ada Langit di dalam ruang kerjanya. "Lang!" tuan Indrawan memanggil Langit tapi tidak ada jawaban. "Kemana anak itu? Jam segini kenapa tidak ada di cafe." tuan Indrawan mengambil ponsel yang ada di saku celananya lalu menekan nomor Langit dan menghubungi anak laki-lakinya. Pria dewasa itu menempelkan ponsel di telinganya, menunggu jawaban dari seberang sana. "Lama sekali tidak di angkat," lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di sampingnya. Panggilan itu berakhir namun tidak juga di angkat oleh Langit. "Sedang apa kamu Lang? di hubungi kenapa tidak juga di angkat." lalu kembali menekan tombol angka yang ada di ponsel miliknya. [Halo, ada apa pa?] terdengar suara Langit dari seberang sana. "Lang, kamu kemana? Papa sekarang berada di cafe, kamu cepat kemari, ada hal penting yang akan papa bicarakan sama kamu," [Langit sedang ada urusan sebentar pa, Iya pa, iya nanti Langit ke sana, Papa tunggu Langit saja.] "Cepat ya Lang," [Iya pa,] Lalu Langit mematikan sambungan teleponnya. Tuan Indrawan masih duduk menunggu kedatangan anaknya di ruang kerja yang ada di cafe miliknya. Pria dewasa itu tersenyum mengingat sesuatu. Sepuluh menit kini berlalu. Tiba-tiba saja pintu itu terbuka, Langit sudah datang. Ia berjalan masuk menemui ayahnya yang sedari tadi menunggu. "Selamat siang pa, maaf kalau papa menunggu lama, Langit tadi ada urusan sebentar," laki-laki muda itu duduk di samping ayahnya. "Tidak apa-apa Lang, papa tadi kebetulan lewat, jadi mampir ke cafe ini," tersenyum melihat Langit. "Oh iya pa, tadi katanya ada hal penting yang mau di bicarakan sama Langit, hal penting apa itu pa?" tanya Langit penasaran. Karena tidak seperti biasanya tuan Indrawan mampir dan menyuruh Langit segera datang. "Iya. Jadi begini Lang, tadi pagi papa bertemu dengan kawan lama papa, kami sudah lama tidak pernah bertemu sejak kami sama-sama lulus kuliah dan menikah, dan baru tadi pagi kami bertemu kembali," tuan Indrawan terlihat bahagia saat bercerita pada Langit. "Oh ... Lalu apa hubungannya dengan Langit pa?" "Tentu ada hubungannya dengan kamu dong Lang, kawan lama papa itu mempunyai anak gadis yang juga lulusan kuliah di luar negeri seperti kamu, sepertinya kamu dan dia akan cocok, dan kami sepakat akan menjodohkan kamu dengan anak kawan papa itu." "Pa. Yang benar saja? Langit tidak mau." laki-laki muda itu menolak. "Jangan seperti anak kecil lah Lang, papa sudah terlanjur menerima tawaran dari kawan papa itu, lagian umur kamu juga sudah pantas untuk menikah, lihat sepupu kamu Bintang dan Senja mereka sudah menikah walau masih kuliah, sedangkan kamu sudah lulus kuliah tahun lalu kenapa belum mau menikah juga Lang?" "Itu lain cerita pa, Bintang dan Senja sudah lama saling mengenal dan mencintai jadi wajar saja kalau mereka menikah, sedangkan Langit tidak kenal dengan anak kawan papa itu, kita tidak pernah bertemu pa?" "Kamu tidak boleh menolaknya, Papa yakin kalau kamu akan menyukainya. Nanti biar papa yang akan mengatur acara pertemuan kamu dengan anak kawan papa itu, Papa yakin dia gadis yang cantik dan baik, karena dari keluarga yang terpandang dan terhormat." Tuan Indrawan meyakinkan Langit. Langit hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Ia tidak menyangka kalau cowok playboy yang mempunyai pacar banyak dan sering bergonta ganti pasangan saat kuliah itu, kini seperti kucing yang harus menurut pada majikannya saat akan di jodohkan. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. "Bagaimana Lang?" "Terserah papa." "Nah begitu dong, nanti akan papa atur pertemuan kalian. Papa pamit dulu, ada urusan penting." tuan Indrawan menepuk pundak Langit pelan sembari tersenyum. Lalu berjalan pergi meninggalkan ruang kerja Langit. Setelah tuan Indrawan pergi. Kini Langit masih pusing memikirkan perjodohan itu. Dirinya benar-benar sakit kepala karena Dhealova yang selalu protes dan sekarang di tambah lagi memikirkan anak gadis yang akan di jodohkan dengannya. Bagaimana dia dan seperti apa Langit sendiri tidak tahu. "Sial banget hidup gue harus di jodohin sama orang yang tidak gue kenal. Tuhan kirimkan jodoh gue sekarang juga agar perjodohan itu tidak terjadi." Langit mengacak rambutnya frustrasi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD