Part 10. Rencana Pertemuan

1269 Words
Sebuah mobil berwarna hitam kini memasuki halaman perusahaan milik keluarga Indrawan. Seorang supir laki-laki keluar dari pintu depan, kemudian berjalan ke belakang membukakan pintu mobil untuk tuannya. Seorang pria dewasa dengan pakaian formalnya kini turun dari dalam mobil itu, saat sang tuan keluar supir itu membungkuk memberi hormat pada tuannya. Pria dewasa itu turun dari mobil. Matanya menatap sekeliling sambil tersenyum. Kemudian berjalan meninggalkan sang supir. "Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang satpam laki-laki yang bertugas di perusahaan milik keluarga Indrawan. "Saya mau bertemu dengan Indrawan, saya sudah ada janji dengannya." "Baik, kalau bapak sudah ada janji mari saya antar keruangan kerja, tuan Indrawan." ucap satpam itu lalu berjalan mengantarkan tamu itu. Mereka berdua berjalan beriringan menuju lift. Satpam mengisyaratkan tamu itu agar masuk ke dalam lift. Tak butuh waktu lama lift itu terbuka. Pria dewasa itu berjalan mengekori satpam. "Silakan, pak. Ini ruangan kerja pak Indrawan." satpam itu mengetuk pintu dan membukanya setelah mendapat persetujuan dari dalam. "Halo Indrawan, apa kabar kamu sekarang?" sapa pria dewasa itu dengan senyuman bahagia seraya berjalan mendekat. Tuan Indrawan yang sedang sibuk melihat layar laptop di tempat kerjanya, kini menatap ke arah sumber suara yang memanggilnya. "Halo, Sanjaya." tersenyum melihat tuan Sanjaya sahabatnya. "Apa kabar kamu Indrawan? Sudah lama kita tidak bertemu." menjabat tangan sahabatnya, kemudian berpelukan. "Duduklah, Sanjaya." tuan Indrawan menyuruh sahabatnya untuk duduk. "Wah, sekarang perusahaan kamu sukses ya." tersenyum sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kerja tuan Indrawan. "Ah, Biasa saja. Kamu itu yang sukses, sudah membuka cabang di luar negeri. Aku mana bisa seperti kamu," Kedua sahabat itu saling memuji satu sama lain. "Bagaimana dengan kesepakatan anak - anak kita, Indrawan? Apa anakmu setuju?" tanya pria dewasa itu pada sahabatnya yang sudah lama tidak saling bertemu itu. Dan kini mereka berdua sepakat untuk menjodohkan anak mereka. "Tentu. Siapa yang akan menolak mempunyai besan seperti kamu, Sanjaya. Aku malah senang." "Haha, kamu bisa saja, Indrawan. Pintar sekali kalau memuji." "Oh, iya. Kapan kita atur pertemuan makan malam untuk mereka? Aku sudah tidak sabar lagi untuk segera mempunyai besan seperti kamu," tuan Sanjaya tersenyum melihat sahabatnya itu. "Secepatnya. Nanti kita atur." jawab tuan Indrawan. Tok Tok! Terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruang kerja tuan Indrawan. "Masuk." jawab tuan Indrawan dari dalam. "Halo, Wijaya. Apa kabar?" tuan Sanjaya menyapa tuan Wijaya. Adik tuan Indrawan. "Halo, Sanjana. Apa kabar, kapan datang?" tuan Wijaya menjabat tangan sahabat lamanya itu. Kemudian duduk di kursi yang ada di samping tuan Sanjana. "Bahagia sekali kita semua bisa berkumpul lagi seperti ini, kira- kira kapan ya, terakhir kita bertemu?" Kata tuan Indrawan saat melihat tuan Wijaya dan tuan Sanjaya duduk di depannya. "Wah, lama sekali. Sudah berapa tahun ya?" ucap tuan Wijaya. Seraya tersenyum. "Yang pasti setelah kita lulus kuliah dan menikah." jawab tuan Sanjaya. "Ayoklah. Kapan kita berkumpul lagi seperti ini? Eh. Tiba-tiba aku ingat sama Sudiro, apa kabar dia sekarang?" ucap tuan Indrawan. Dulu saat duduk di bangku kuliah. Mereka bersahabat. Tuan Wijaya, tuan Indrawan, tuan Sanjaya dan tuan Sudiro. Mereka berempat dulu pernah punya rencana untuk menjodohkan anak-anak mereka kelak setelah dewasa. Tapi karena kesibukan bisnis, mereka tidak pernah bertemu, setelah sekian tahun kini mereka baru bertemu sekarang. Dan ingin mewujudkan keinginan mereka untuk menjodohkan anak-anaknya. ***** "Dhealova!" Langit baru saja pulang ke apartemennya. Laki-laki muda itu baru saja masuk dan tak melihat sosok yang di panggilnya. "Dhealova!" "I-iya tuan Langit?" jawab Dhealova. Gadis itu berlari kecil ke arah Langit. "Dari mana saja, kamu?" tanya laki-laki itu. Kemudian duduk di sofa. Dhealova masih berdiri di samping Langit. "Buatin, kopi. cepetan." "Iya, tuan." Dhealova berjalan menuju dapur. "Jangan pakai gula..." seru Langit dan terdengar dari dapur. "Iya, tuan..." jawab Dhealova. Gadis itu selesai membuat kopi dan membawanya ke hadapan Langit. "Silakan, tuan." ucap Dhealova. Kemudian kembali pergi ke dapur. Ponsel milik Langit kini berdering. Laki-laki muda itu mengambil ponselnya yang ada di dalam kantung jaket yang di pakainya. "Papa?" ucap laki-laki muda itu saat melihat nama tuan Indrawan ayahnya berada di layar depan. "Iya halo, pa." [Lang, besok pagi papa tunggu kamu di cafe. Ada yang ingin papa bicarakan penting dengan kamu.] terdengar suara tuan Indrawan dari seberang sana. "Iya, terserah papa." jawab Langit. Kemudian mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari ayahnya. Laki-laki muda itu sudah tahu, pasti papanya akan membahas tentang perjodohan dirinya dengan anak dari sahabat lamanya itu. Sejujurnya Langit masih belum ingin menikah. Walau dirinya sudah berumur dua puluh lima tahun. "Dhea! Kok kopinya pahit?" seru Langit setelah meminum kopi buatan Dhealova. "Kan, tuan Langit sendiri yang minta kopi tanpa gula," gadis itu berjalan mendekat. "Tapi tidak sepahit ini juga kali, Dhea. Ini kopinya berapa sendok tadi?" tanya Langit dengan suara yang bisa membuat telinga Dhealova sakit. "Kopinya tiga atau empat sendok tadi ya? Atau lima?" gadis itu nampak berpikir. "Banyak banget kopinya. Pantes pahit," gumam Langit. "Kan, tuan Langit sendiri tadi yang minta jangan pakai gula, tadi." jawab Dhealova dengan nada sedikit takut kalau Langit marah. karena gadis itu tahu bagaimana sifat bosnya itu. "Jangan banyak protes, cepat ambil gula." perintah Langit. "Iya, iya tuan." jawab Dhealova. "Dasar tuan plinplan. bisanya marah-marah saja," gumam Dhealova saat mengambilkan gula untuk Langit. Dertt... Drett... Ponsel milik Langit kembali berdering. Itu dari kawan lamanya yang sudah lama tidak berjumpa. "Halo, bro?" Kata Langit setelah menerima panggilan telepon itu. [Halo, Lang. Gimana kabar lo, baik kan?] terdengar suara dari seberang sana. "Kabar gue baik. Lo siapa?" tanya Langit karena ia tak kenal dengan suara itu. [Dasar lo, Lang, ini gue Lean. Ketemuan yuk, kapan? Sudah lama gue enggak nongkrong bareng sama lo.] Lean sahabat Langit dulu waktu duduk di bangku SMA. Mereka berdua sering sekali bolos sekolah bareng, entah itu bolos hanya untuk main game di warnet yang sepi atau sekedar untuk bersembunyi. Langit dan Lean dulu terkenal perfect di sekolah, hingga banyak sekali murid perempuan yang mau menjadi pacar mereka. Tapi Langit dan Lean hanya ingin bermain - main saja dengan mereka. Saat tuan Indrawan mengetahui kelakuan Langit yang sering bolos sekolah, akhirnya laki-laki muda itu di kirim ayahnya kuliah di luar negeri setelah lulus sekolah, agar tidak bisa lagi bolos bareng Lean. "Dari mana lo dapat nomor, gue?" tanya Langit penasaran. Karena mereka berdua sudah tidak pernah lagi bertemu dan berkomunikasi sejak lama. Dan sekarang tiba-tiba saja Lean menghubungi Langit. [Gue dapat dari cafe, lo. Kemarin gue ke cafe dan melihat lo di dekat dapur. Dan gue tanya sama orang yang bekerja di sana. Katanya memang itu cafe milik lo, Lang.] "Oh..." Langit menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah. Kapan - kapan kita bertemu, bro. Sekarang gue masih sibuk soalnya." mematikan sambungan teleponnya. Langit menghempaskan tubuhnya di atas sofa. tangannya memijat keningnya yang sedikit pusing kalau mengingat perjodohan. Laki-laki muda itu belum mau menikah apalagi dijodohkan dengan gadis anak dari sahabat ayahnya yang tidak dikenalnya itu. ***** °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°° Hai... Hai... Hai... Cerita Naughty love Dhealova and Langit mulai 1 juni update setiap hari ya... Jangan lupa tinggalkan komentar kalian dan follow penulisnya juga... Salam kenal dari aku : Isna Auliya Riyadi °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD