Tuan Indrawan menemui Langit di cafe miliknya. Pria dewasa itu langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Lang." Kata pria dewasa itu ketika membuka pintu dan melihat anak laki-lakinya sedang duduk menatap layar laptop yang ada di depannya.
Langit menoleh. "Iya, pa?"
Pria dewasa itu tersenyum. Kemudian duduk di depan Langit.
"Nanti malam, papa harap kamu mau datang ke acara makan malam di rumah om Sanjaya. Nanti sore kamu pulang ke rumah saja. Agar kita bisa berangkat ke sana bersama."
"Ini acara makan malam biasa kan, pa? Bukan acara perjodohan kan?" tanya Langit penuh selidik pada ayahnya. Karena Langit tahu, pasti ayahnya akan memaksa Langit untuk di jodohkan dengan anak sahabatnya itu.
"Iya, dan siapa tahu nanti kalian akan cocok." tuan Indrawan tersenyum melihat Langit.
Laki-laki muda itu menatap ayahnya dengan diam.
"Sudah lah, Lang. Jangan di pikirkan. Pokoknya nanti malam kamu harus datang ke sana sama papa." pria dewasa itu menepuk pundak Langit pelan, sambil tersenyum.
"Papa, pulang dulu. Nanti sore kamu papa tunggu di rumah."
Kemudian pria dewasa itu pergi meninggalkan Langit sendiri di dalam ruang kerjanya.
"Sial, sial, sial." Langit memukul meja dengan tangannya.
"Kenapa gue di jodohin? Dulu saja banyak cewek yang gue tolak, tapi sekarang gue di jodohin? Astaga." menutup wajah dengan kedua tangannya.
*****
Sore hari setelah pulang dari cafe. Langit pulang ke apartemen miliknya.
"Dhealova!" panggil laki-laki muda itu ketika masuk ke dalam unit apartemen miliknya.
Sepertinya Langit sudah terbiasa memanggil Dhealova saat masuk ke dalam apartemen. Entah laki-laki itu sadar atau tidak, yang jelas Langit selalu memanggil nama gadis itu.
"Iya, tuan. Ada apa?" ucap gadis itu seraya berjalan mendekat.
"Malam ini aku tidak pulang. Aku nginep di rumah papa. Awas kamu jangan mencoba kabur dari sini. Hutang kamu naik sepuluh kali lipat." ancam Langit pada gadis itu. Wajah Langit terlihat serius dan menakuti Dhealova.
Sedangkan Dhealova hanya bisa diam dan menunduk mendengarkan ucapan Langit.
"Kenapa diam?" tanya Langit dengan senyum mengejek Dhealova. Ingin rasanya Langit tertawa melihat wajah Dhealova yang ketakutan mendengar ancamannya.
"Ti-tidak tuan."
"Bagus, aku langsung pergi ke rumah papa."
Langit bergegas pergi keluar dari apartemen meninggalkan Dhealova sendirian. Sesampainya di luar apartemen Langit tertawa dengan keras.
"Astaga, lucu sekali wajahnya saat ketakutan dengan ancamanku tadi. Haha."
Laki-laki itu bicara dan tertawa sendiri di luar apartemen. Untung tidak ada orang lain di tempat itu. Kalau sampai ada orang lain yang melihat, pasti mereka akan mengira kalau Langit orang gila.
Mobil milik Langit kini membelah jalan raya yang padat merayap. Berkali-kali kali laki-laki itu membunyikan klakson mobilnya.
"Sial, macet banget sih!" umpat Langit sambil memukul stirnya. "Tahu, gini tadi gue lewat jalan lain aja."
Laki-laki muda itu terus saja bergumam sendiri di dalam mobil. Ia sudah pusing dengan ayahnya sekarang di tambah pusing lagi dengan jalanan yang macet.
Drett... Drett...
Semua dering ponsel milik Langit memenuhi mobilnya. Dari layar tertera nama Lean sahabat lama Langit.
"Halo." ucap Langit memulai percakapan dengan Lean sahabatnya.
[Halo, bro. Nongkrong yuk.] ajak Lean dari seberang sana.
"Gue ada acara nanti malam. Sama bokap." jawab Langit. Sambil sesekali melajukan mobilnya dengan pelan saat jalanan sedikit senggang.
[Ah, lo emang anak papa, Lang. Pokoknya nanti malam kita nongkrong di tempat biasa,]
"Iya, nanti gue usahakan."
[Emangnya lo ada acara apa sih Lang?] tanya Lean penasaran dengan sahabat lamanya itu.
"Gue juga bingung, bro. Gue mau di jodohin sama cewek yang enggak gue kenal. Anak temen papa." Langit sedikit bercerita pada Lean. Laki-laki muda itu berharap bisa menemukan solusi agar bisa menolak permintaan papanya itu.
[Haha. Lo cowok playboy, yang dulu suka nolak cewek, sekarang di jodohin? Ya ampun, Lang... Gue geli dengernya, haha." terdengar suara Lean mengejek Langit sahabatnya.
"Sialan, lo. Bantu kasih solusi kek, atau apa kek. Ini malah ditertawain." protes Langit.
[Pokoknya kita ketemu, nanti gue kasih solusi bagus buat lo.]
"Iya, deh. Nanti gue hubungi lagi."
Langit melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah melewati jalan raya yang macet. Obrolannya dengan Lean tadi, tanpa terasa sudah melewati jalanan yang macet. Langit mengembalikan napas lega karena ia sudah sampai di depan rumah ayahnya.
Mobil sport warna hitam milik Langit kini memasuki halaman rumah tuan Indrawan.
Laki-laki muda itu turun dari mobil dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
"Lama banget, Lang. Jam segini baru sampai?" tanya tuan Indrawan ketika melihat Langit baru saja masuk ke dalam rumah. Pria dewasa itu sedang duduk di ruang tengah sambil membaca koran.
"Jalanan macet, pa." Langit berjalan meninggalkan tuan Indrawan. Ia menaiki anak tangga dan berjalan menuju ke kamarnya.
Mata Langit menatap kamarnya sejenak. Saat laki-laki itu membuka pintu. Langit masih berdiri tegak di depan pintu. Kamar yang sudah beberapa bulan ini tak pernah ia huni, kini masih tertata rapi seperti dulu. Langit tidak betah berada di rumahnya. Ia lebih senang tinggal di apartemen atau tidur di cafe miliknya.
Setelah sejenak menatap kamarnya. Kini Langit berjalan masuk. Kemudian meraih handuk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di sudut kamarnya.
Butiran air dingin yang keluar dari shower kini membasahi seluruh tubuh Langit. Laki-laki muda itu berharap bisa mendinginkan kepalanya yang pusing sekarang ini.
"Gue mau di jodohin?" gumam Langit mengusap air yang membasahi wajahnya dengan kasar.
Terdengar sakit saat seseorang mau di jodohin sama orang yang tidak di kenal. Bah kan tidak pernah bertemu sama sekali.
Selesai mandi dan berganti pakaian. Kini Langit berdiri di depan cermin menyisir rambutnya.
"Dhealova! Ambilkan aku..." Langit tak melanjutkan ucapannya. Karena tiba-tiba saja ia sadar kalau sekarang ini ia berada di dalam kamarnya yang ada di rumah tuan Indrawan.
Kebiasaan Langit selalu memerintah Dhealova dan juga memarahinya. Entah kenapa melihat Dhealova ketakutan itu membuat Langit terkekeh sendiri.
"Astaga. Kenapa gue panggil Dhealova sih?" Langit dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Dengan cepat Langit membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Matanya menatap ke atas.
"Gue akan ikut papa makan malam, nanti gue akan bilang sama gadis itu, kalau gue tidak mau di jodohkan dengan dia. Oke. Gue harus bilang sama dia nanti setelah ketemu di sana."
Itulah alasan kenapa Langit mau pergi makan malam dengan keluarga Sanjaya sahabat papanya itu. Karena Langit tahu, kalau ia menolak permintaan papanya itu sama saja membangunkan macan yang sedang tidur. Dan kali ini Langit punya rencana sendiri.
*
Malam hari ini tuan Indrawan sudah siap. Pria dewasa itu terlihat sedikit lebih muda dengan pakaian yang santai. Kaos lengan pendek berkerah dan juga celana hitam panjang itu membuat pria dewasa itu terlihat santai.
"Kamu sudah siap, Lang?" tanya tuan Indrawan ketika melihat Langit menuruni anak tangga.
"Iya, pa." jawab Langit tanpa ekspresi. Karena memang laki-laki itu malas ikut pergi ke acara malam ini.
Mobil sport warna hitam milik Langit kini keluar dari halaman rumah menuju jalan raya. Karena tuan Indrawan ada acara lain setelah makan malam ini, jadi ayah dan anak itu pergi dengan membawa mobil sendiri.
Di sepanjang perjalanan Langit hanya diam. Ia tengah memikirkan sesuatu di dalam otaknya. Langit harus bilang sama gadis yang akan di jodohkan dengannya kalau ia tidak mau menerima perjodohan ini.
Tak lama kini mobil Langit memasuki halaman rumah keluarga Sanjaya. Di sana tuan Indrawan sudah menunggunya di samping mobil yang ada di halaman rumah itu.
"Ayok, Lang. Masuk." ajak pria dewasa itu.
Langit mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki ayahnya itu.
Di dalam sana. Keluarga Sanjaya sudah menyambutnya. Tuan dan nyonya Sanjaya duduk di ruang tamu untuk menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Selamat datang, Indrawan. Kami sudah menunggumu dari tadi." tuan Sanjaya tersenyum sambil menjabat tangan sahabatnya itu. Kemudian juga menjabat tangan Langit.
"Kamu, Langit ya?" tanya tuan Sanjaya sambil tersenyum ramah.
"Iya, om."jawab Langit membalas senyuman tuan Sanjaya.
"Kamu sudah besar, Langit. Tampan seperti papamu." puji pria dewasa itu. Membuat Langit sedikit sungkan saat di puji oleh sahabat ayahnya itu mungkin Langit takut kalau calon mertuanya itu menyukainya.
Tuan dan nyonya Sanjaya duduk. Dan diikuti oleh. Langit dan tuan Indrawan. Mereka berempat sedang mengobrol sambil tertawa lepas. Sedangkan Langit diam saja. Sesekali tersenyum melihat dua orang dewasa itu seperti remaja saat bercanda.
"Oh, iya. Anak gadis kamu mana?" tanya tuan Indrawan. Karena sedari tadi ia tak melihat sosok seorang gadis anak sahabatnya itu.
"Dia sedang di kamarnya. Sebentar lagi dia pasti kesini." jawab tuan Sanjaya.
"Selamat malam, pa. Om." ucap anak gadis tuan Sanjaya. Kemudian mencium punggung tangan sahabat ayahnya. Dan duduk di samping nyonya Sanjaya.
Sejenak Langit menatap sosok gadis yang sedang duduk di samping nyonya Sanjaya.
'Kayak pernah kenal? Tapi di mana?" batin Langit dalam hati.
" Oh, iya. Kenalkan, ini Viona, anak kami yang baru saja pulang dari luar negeri setelah lulus kuliah di sana." tuan Sanjaya memperkenalkan anaknya pada tuan Indrawan dan juga Langit.
"Cantik sekali anakmu, Sanjaya." puji tuan Indrawan saat melihat Viona anak tuan Sanjaya.
"Anak kamu juga tampan, jangan lupa itu."
Kedua sahabat lama itu kini saling memuji satu sama lain. Membuat Langit semakin tidak nyaman dengan segala pujian.
Sedangkan Viona tersenyum bahagia saat melihat Langit. Karena sudah lama sekali gadis itu baru bisa melihat Langit malam ini. Dulu Viona sangat mencintai Langit.
"Ayoklah, kita makan malam." ajak tuan Sanjaya.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam ruang makan.
"Silakan duduk, Indrawan, Langit. Semoga kalian menyukai hidangan malam ini." tersenyum melihat tuan Indrawan.
"Wah, rasanya aku sudah lama tidak makan makanan seenak ini." membalas dengan senyuman.
"Kalau begitu nikmatilah makan malam ini, Indrawan."
Mereka semua sekarang menikmati makan malam mereka. Di atas meja makan tersedia banyak sekali makanan. Ada ayam pop. Ayam goreng, juga ada beberapa jenis sayuran yang tersedia di atas meja itu.
Langit diam sambil menikmati makanannya. Sedangkan Viona berkali-kali mencuri pandangan dari Langit, laki-laki muda yang sejak dulu menjadi idolanya itu.
"Aku harap, kita bisa menjadi besan Indrawan." ucap tuan Sanjaya. Dengan penuh harapan kalau setelah acara makan malam hari ini bisa mewujudkan keinginan terbesar mereka soal perjodohan anaknya.
"Aku juga berharap begitu." menepuk punggung sahabatnya itu. Kemudian melepaskannya.
"Aku pamit pulang dulu, terima kasih atas undangan acara makan malamnya." tuan dan nyonya Sanjaya menjabat tangan tuan Indrawan.
"Jangan sungkan mengundang kami lagi." lanjut tuan Indrawan sambil tertawa. Dan diikuti tawa dari sahabatnya. "Pasti." jawab tuan Sanjaya.
Langit dan tuan Indrawan pamit pulang.
*****