Part 12. Bertemu Lean

1561 Words
Langit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman rumah keluarga Sanjaya. Sepanjang perjalanan, laki-laki muda itu terus saja berpikir. Siapa itu Viona anaknya tuan Sanjaya? "Viona ... Viona ... Vio... " gumam Langit bicara sendiri ketika mengingat siapa Viona itu. Kenapa sepertinya Langit sudah kenal dengan gadis itu. Tapi Langit sendiri lupa kapan dan di mana. "Astaga! Viona. Viona cewek yang dulu pernah gue tolak itu ternyata anaknya om Sanjaya?" Langit terkejut sendiri ketika mengingat sosok gadis yang bernama Viona itu. Gadis yang dulu selalu mengejar Langit saat kuliah di luar negeri itu adalah Viona anak dari tuan Sanjaya sahabat tuan Indrawan. Viona adik tingkat Langit dulu sewaktu kuliah. Gadis itu selalu mencari perhatian Langit, bahkan Viona sudah beberapa kali menyatakan kalau dirinya sangat mencintai laki-laki itu. Namun tetap saja Langit tolak dengan alasan laki-laki itu masih belum mau serius menjalin hubungan dengan gadis siapapun. Apalagi sosok Viona adalah gadis manja. Itu membuat Langit semakin tidak suka dengannya. "Gila! Ternyata dia itu Viona. Astaga! Mimpi buruk apa gue semalam, bisa ketemu lagi dengan dia." lagi-lagi Langit bicara sendiri. "Sial banget hidup gue! di jodohin sama cewek manja seperti Viona." Langit memukul stirnya. Tak terasa mobil milik Langit kini sudah sampai di depan sebuah klub malam. Lean menunggu dirinya di dalam sana. Langit sudah lama tidak datang ke tempat ini. Sejak insiden setahun lalu. Saat Langit sedang asik bersenang - senang, tiba-tiba saja tuan Indrawan datang dan menampar pipi Langit. Dan mengajak pulang laki-laki itu dengan paksa. Saat memasuki tempat itu, tiba-tiba saja Langit juga ingat dengan Dhealova, dulu awal bertemu mereka di tempat ini. Hingar bingar suara musik mengalun kencang. Cahaya temaram dan kerlap kerlip lampu warna warni menghiasi seluruh tempat itu. Langit melangkah pelan, ia mengabsen satu persatu orang - orang yang ada di tempat itu. Ia sedang mencari Lean. "Langit...!" Suara seseorang memanggil nama Langit. Seketika laki-laki muda itu menatap ke arah sumber suara yang memanggilnya. "Hai, Lean!" Langit berjalan mendekati Lean sahabatnya. "Halo, bro, apa kabar?" tanya Lean ketika melihat Langit mendekat. "Gue baik, gimana kabar lo?" tanya Langit balik. Seraya duduk di samping sahabatnya itu. "Kabar gue, gini- gini aja, haha." Lean tertawa sambil menganggukkan kepala menikmati alunan musik DJ yang memenuhi seluruh tempat itu. Langit manggut manggut tanda mengerti sahabatnya itu. "Halo, Lean, Langit." sapa Anjas yang baru saja datang. Kemudian ikuti bergabung dengan mereka. "Lo, Anjas?" tanya Langit. Laki-laki itu tidak mengenali sahabatnya itu karena sekarang tubuh laki-laki itu tampak berisi dan berorot. "Iya, gue Anjas. Masa lo lupa sama gue, Lang?" Anjas menonjok lengan Langit pelan sambil tersenyum. "Gue juga enggak ngenalin lo, Njas." Kata Lean. "Jahat banget kalian." protes Anjas. "Eh. Bagaimana kalau malam ini kita bersenang senang sampai pagi, oke!" Anjas memesan minuman untuk menemani mereka malam ini. "Lo kenapa sih, Lang? Sedih amat kelihatannya?" tanya Anjas. "Si Langit lagi galau, Njas. Doi mau di jodohin, haha..." Lean tertawa dan diikuti oleh Anjas. "Gila. Langit cowok keren yang selalu menolak banyak gadis cantik, kini mau aja di jodohin sama ortunya. Haha." Kata Anjas. "Sial banget kalian. Gue juga ogah kali di jodohin. Apalagi cewek yang mau di jodohin sama gue itu, cewek yang dulu sudah gue tolak lebih dari tiga kali, bro." "Sudah, lo enggak usah pusing lagi, Lang. Nanti gue kasih solusi terbaik buat, lo." Lean menepuk pundak Langit pelan. "Ayok kita minum..." ajak Lean. Anjas mengikuti Lean minum. Sedangkan Langit masih diam. Laki-laki muda itu tidak ikut minum bersama dengan kedua sahabatnya itu. "Lo kenapa tidak ikut minum, Lang? Sudah tobat, lo?" tanya Lean. Sambil tertawa. "Gue, sudah kenyang tadi, barusan di undang makan malam." jawab Langit seadanya. Karena memang laki-laki itu baru saja makan malam di rumah Viona. "Heleh. Sedikit saja tidak akan membuat lo mabuk kali, Lang. Ayok kita minum..." ucap Lean sambil menuangkan minuman ke gelas dan memberikannya untuk Langit. Kini Langit ikut minum bersama dengan kedua temannya. Lean dan Anjas. Ketika laki-laki muda itu kini minum dan bersulang untuk merayakan pertemuan mereka setelah lama tidak pernah berjumpa. "Bro. Gue ke toilet dulu, ya. Kepala gue agak pusing." Langit berdiri. "Halah, baru minum sedikit saja lo sudah pusing, Lang." ejek Anjas. "Iya, padahal baru habis sebotol bertiga, ini juga masih tiga botol lagi belum dibuka." Kata Lean. Langit tak mengubris omongan kedua sahabatnya itu. Alasan Langit pergi agar tidak diajak minum lagi oleh temannya. Di dalam toilet. Lagi- lagi Langit teringat Dhealova dulu saat mereka pertama kali bertemu di sini. "Astaga! Kenapa gue selalu ingat Dhealova mulu sih, dari tadi. Gadis merepotkan itu. Ah... Sial. Sial. Sial. Di jodohin sama Viona. Dan sekarang gue inget Dhealova terus." Langit menyiram wajahnya dengan air. Ia berharap bisa membuat pikirannya kembali normal. Tangan Langit meraih tisu yang ada di depannya untuk mengusap wajahnya. Setelah selesai. Ia kini keluar dari toilet dan bergabung kembali bersama dengan teman-temannya. "Sorry, bro. Gue pulang dulu ya. Sudah malam." Kata Langit. "Santai aja napa, Lang. Masih jam 1 ini. Kita pulang pagi, oke." Kata Lean. "Nih, minum dulu sebelum pulang. Biar lo kuat menghadapi kenyataan, Lang." lanjut Lean. Laki-laki itu memberikan gelas yang berisi minuman untuk Langit. "Gue, kenyang banget ini, bro." tolak Langit. "Heleh. Setelah ini lo boleh pulang, Lang. Hargai gue yang sudah ngundang lo dan Anjas ke tempat ini, oke." Langit menerima minuman itu dan meminumnya sampai habis. Setelah itu ia pamit pulang. Lean dan Anjas menatap punggung Langit yang perlahan menghilang karena cahaya lampu temaram dan juga lampu warna warni yang mengikuti alunan musik dari DJ. "Lo kasih apaan tadi di minuman si Langit?" tanya Anjas. Curiga dengan Lean sahabat lamanya itu. Karena tadi Anjas melihat Lean memasukkan sesuatu ke dalam minuman Langit. "Ah. Lo, tahu aja." Kata Lean santai. Padahal laki-laki itu baru saja ketahuan. "Gue lihat tadi." ucap Anjas. "Si Langit lagi galau, karena mau di jodohin sama anak dari sahabat bokapnya. Padahal kalau gue jadi Langit, ambil aja gadis yang mau di jodohin itu, sambil cari gadis lain di luar sana. Beres, kan?" ucap Lean. "Terus apa hubungannya dengan obat yang tadi lo kasih ke Langit?" tanya Anjas penasaran. "Lo beneran mau tahu?" tanya Lean. Anjas menganggukkan kepalanya. "Nih." Lean menunjukkan sesuatu yang baru saja ia ambil dari kantung celananya. "Gila, lo! Si Langit lo kasih obat itu?" ucap Anjas sembari menggelengkan kepalanya. "Iya, gue baik, kan? Dengan begini, Langit tidak akan galau lagi." Lean tertawa. "Bener-bener gila, lo Lean. Gue enggak mau ikut campur pokoknya." Anjas menggelengkan kepalanya. Lean tertawa melihat ekspresi wajah Anjas sahabatnya itu. ***** Di dalam apartemen milik Langit. Dhealova tiba-tiba saja merasa cemas. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba saja kepikiran Langit bosnya itu. "Kenapa aku kepikiran bos Langit terus, ya? Apa dia baik-baik saja?" gumam Dhealova di dalam kamar. Matanya menatap guling yang ada di depannya itu. "Kenapa tiba-tiba aku memikirkan bos galak itu. Sebentar aku, kamu. Sebentar lo gue. Apaan dia itu. Setiap hari sukanya marah - marah terus." " Dhealova...!" terdengar suara seseorang memanggil namanya. "Hah. Jam segini tiba-tiba saja ada yang memanggilku? Tuhan...tolong aku ... Aku takut." Gadis itu menutupi wajahnya dengan selimut yang ada di sampingnya. Dhealova takut. Kalau yang barusan memanggilnya tengah malam begini adalah hantu yang suaranya menyerupai suara Langit bosnya itu. "Dhealova...!" "Hah ... Hantu ... Takut..." Dhealova meringkuk di atas tempat tidurnya sambil menutupi telinganya dengan tangan. "Dhealova ... Kalau kamu tidak kemari. Gaji kamu aku potong!" Deg. "Ya Tuhan. Itu suara bos Langit beneran ternyata?" "Bagaimana ini?" "Eh. Iya, iya tuan!" Kemudian Dhealova bangkit dari tidurnya. Dan bergegas keluar dari kamar. "Loh, kok tuan ada di sini? Katanya menginap di sana." tanya Dhealova bingung. "Bikinin gue teh hangat. Bawa ke kamar secepatnya." perintah Langit. "Siap, tuan." jawab gadis itu. Langit hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah saat melihat Dhealova lova bicara dengannya. 'Ah ... Kenapa kamu terlihat sangat seksi sekali Dhea,?' batin Langit dalam hati ketika melihat gadis itu. "Tuan, tuan kenapa melamun begitu?" Tangan Dhealova melambai di depan wajah Langit yang sedang melamun. Seketika membuat laki-laki itu sadar dari lamunannya. "Cepat buatin teh hangat, bawa ke kamar secepatnya." tanpa menunggu jawaban dari Dhealova. Langit melangkah pergi menuju ke kamarnya. "Sial. Apa yang terjadi dengan tubuh gue?" Langit bicara sendiri di dalam kamarnya. Tubuh Langit terasa sangat panas. Laki-laki muda itu melepaskan semua pakaiannya. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Bahkan butiran air dingin tengah malam begini saja tidak mampu mendinginkan tubuhnya. "Ada apa ini sebenarnya? panas sekali." Langit menambah volume pendingin yang ada di dalam kamarnya. Namun tetap saja tidak bisa mendinginkan tubuhnya. Tok Tok! "Tuan." terdengar suara Dhealova mengetuk pintu kamar Langit. "Tuan, apa aku boleh masuk?" tanya Dhealova lova dari luar kamar. Laki-laki itu membuka pintu kamarnya. "Tuan, ini tehnya..." ucap Dhealova. "Loh, tuan kenapa wajahnya pucat sih? Tuan sakit?" Dhealova memegang pipi Langit. Sedikit sentuhan dari gadis itu mampu membuat Langit semakin tidak tahan lagi. "Pergilah, Dhea." perintah Langit. "Tapi, tuan sedang sakit, wajah tuan pucat. Aku ambilkan obat, ya? Atau mau aku pijit?" "Aku bilang pergi...!" teriak Langit dengan kencang. Seketika membuat Dhealova mematung. "Pergi, Dhea, please, pergilah dari sini, atau kalau perlu pergilah dari apartemen ini sekarang juga." Dhealova tetap mematung di tempat. Entah kenapa gadis itu sulit untuk bergerak setelah mendengar bentakan dari langit. "Baiklah kalau kamu tidak mau pergi. Jangan salahkan aku, karena ini maumu." Langit menarik lengan Dhealova dan dengan cepat laki-laki muda itu melu-mat bibir tipis Dhealova dengan sangat rakus. Gadis itu berusaha mendorong Langit namun tenaganya masih kalah dengan laki-laki itu. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD