On Fire

1507 Words
“ Hei hei… Tenang dulu, okey… Kita disini buat senang- senang dan please jangan bikin keributan.” ucap Sakha yang tidak suka jika ia menjadi pusat perhatian karena sikap kedua wanita tersebut. “ Kamu siapa sih? Kampungan banget.” tanya Christy. “ Kampungan? Kamu sendiri kenapa ke tempat gini udah kayak mau kondangan aja! Segala macam perhiasan dipakai. Mau kata berlian kek batu alam atau batu gunung, disini nggak ada yang mau lihat itu. Semakin minimalis itu semakin baik.” “ Wohoho… Apa minimalis itu kayak baju kamu yang kurang bahan itu?” “ Udah… Udah… Tenang dulu ya…” sela Sakha yang sebenarnya ingin tertawa mendengarkan perkatan kedua wanita di hadapannya yang saling menghina itu. “ Dam, bisa jelasin?” tanya Sakha yang mulai sadar akan kejanggalan kejadian ini. Karena nyatanya, ia juga tidak merasa mengenal mereka. “ Ya mana gue tahu… Loe yang punya temen kok gue yang ditanyain.” jawab Adam. “ Eh, Sakha… Sakha… Tuh lihat.” sambung Adam yang menyikut Sakha untuk memperlihatkan sesuatu. Sakha kemudian mengikuti arah pandang Adam dan melihat Ines sedang bercakap- cakap dengan beberpaa orang pria yang kini merangkul pinggangnya dan wanita itu sendiri nampak sedikit sempoyongan. “ Bentar…” ucap Sakha yang berjalan menjauhi ketiga orang yang bersamanya. “ Mau kemana loe?” tanya Adam dengan heran namun Sakha semakin mempercepat langkahnya. “ Apa loe!?” ucap Marsha dengan ketus. “ Apaan sih… Nggak jelas.” jawab Christy tak kalah sinisnya. *** “ Permisi. Ines, ayo…” ucap Sakha yang langsung menarik tangan Ines agar menjauh dari pria yang sedang merangkulnya. “ Kamu siapa?” tanya pria tersebut yang sepertinya adalah seorang pria asing. “ Dia pacar saya. Maaf… Ayo…” jawab Sakha lalu menarik Ines tanpa banyak bicara lagi dan menuntunnya untuk berjalan menuju tempat Adam tadi. “ Kamu kenal mereka?” tanya Sakha sesaat sebelum sampai di hadapan Adam. “ Nggak. Kamu…” ucap Ines yang kini mulai mengamati wajah tampan Sakha dengan sedikit mendongak karena tinggi badan pria tersebut melebihi tinggi badannya sendiri. “ Sakha… Kamu Sakha, kan?” tanya Ines yang Sakha angguko sambil terus menggandeng tangannya hingga sampai di sofa milik Adam. “ Sakha… Aku nggak tahu kenapa, tapi aku ngerasa sangat aneh.” bisik Ines yang kini bersandar sangat dekat dengan Sakha dan membuat pria tersebut cukup salah tingkah ketika tangannya menyentuh punggung mulus Ines. “ Ines kenapa?” tanya Adam khawatir. “ Nggak tahu. Kayaknya dia mabuk. Nggak tahu dia abis minum apa.” jawab Sakha sambil menahan tubuh Ines yang masih tidak stabil. “ Dia siapa?” tanya Christy yang tidak suka kedua pria tersebut terlihat peduli pada Ines dan malah tidak menghiraukan kehadirannya. “ Aku? Kamu tanya aku siapa? Aku… Sakha… Kami itu… Aku pacarnya Sakha.” jawab Ines sambil menepuk pipi Sakha dengan lembut dan membuat Adam hampir tersedak minumannya. “ Pacar? Dia beneran pacara kamu?” tanya Marsha pada Sakha dan kini Christy juga nampak penasaran. “ Ng… Ini—-“ “ Tentu aja aku pacar Sakha! Sakha yang sombong dan sangat suka bohong ini adalah pacar aku. Dan dia yang minta aku untuk jadi pacarnya. Benar kan?” ucap Ines sambil menunjuk- nunjuk d**a bidang Sakha dengan ujung jari telunjuknya masih dengan pinggangnya yang dirangkul pria tersebut agar bisa berdiri dengan baik. “ Ines… Kamu mabuk berat.” bisik Sakha yang sebenarnya tidak keberatan dengan pengakuan Ines barusan. “ Aku bukan hanya mabuk. Tapi aku juga ngerasa aneh…” ucap Ines yang juga mendekatkan bibirnya di telinga Sakha dan membuatnya sedikit bergidik. “ Kamu wangi sekali…” sambung Ines yang membuat Sakha mengulum senyumnya sambil melirik pada Adam, Marsha dan Christy yang sejak tadi memperhatikan mereka. “ Ekhemmm… Ines, kamu kenapa sih?” tanya Sakha masih heran karena kini Ines malah mengusap lengannya dengan lembut. “ Mata kamu bagus banget. Bulu mata kamu panjang dan kamu punya senyum yang sangat manis." ucap Ines dengan menatap Sakha dengan lekat. Sakha sendiri hanya bisa tersenyum dan semakin salah tingkah dibuatnya namun merasa senang di dalam hatinya meski ini bukanlah pujian pertama kali yang diucapkan seorang wanita kepadanya. " Dia siapa sih?" tanya Christy yang merasa sangat kesal melihat kedekatan calon kekasihnya tersebut bersama wanita lain. Terlebih ketika Sakha juga terlihat peduli padanya. " Sakha... Jangan pernah bohong lagi..." ucap Ines yang masih menatap Sakha dengan lekat. " Tentu..." Dan betapa terkejutnya Sakha, Adam dan kedua wanita yang sejak tadi memperebutkannya tersebut ketika dengan tiba- tiba Ines langsung mencium bibirnya sambil memegangi wajah tampannya. “ Kamu keterlaluan, Sakha!” ucap Christy dengan kesal lalu langsung meraih tas miliknya dan meninggalkan tempat tersebut dengan cepat. “ Sakha, bawa aku pergi dari sini. Aku mohon…” bisik Ines ketika ia perlahan melepaskan ciuman penuh hasratnya barusan dan hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Ines yang masih memegangi lehernya tersebut. “ Dam, gue cabut dulu…” ucap Sakha yang menarik tangan Ines sambil menuntunnya untuk berjalan bersamanya. “ Kalian… Mau kemana?” tanya Adam yang langsung teralihkan ketika Marsha terlihat sedih karena Sakha meninggalkannya dan memilih Ines. “ Marsha, maaf saya nggak tahu kalau Ines ada disini dan—-“ “ Kalau gitu, kamu boleh nggak temanin aku malam ini…?” potong Marsha yang tak ingin memikirkan Sakha lagi. “ Tentu aja boleh." jawab Adam yang tentu tidak ingin menyiakan kesempatan bersama wanita cantik tersebut. " Wanna dance?" " Okay... Mari..." ucap Adam dengan senang hati. *** " Hei... Hei... Kamu baik- baik aja?" tanya Sakha ketika melihat gelagat aneh Ines yang seperti selalu ingin mendekatkan dirinya. " Nggak tahu... Yang aku tahu aku ngerasa sangat... Sangat ingin... Hufft... Sesuatu yang... Yang lebih." jawab Ines yang kembali mengecup Sakha. " Ines... Kamu yakin mau ikut sama aku?" " Kemana aja, asalkan tidak disini. Musik disini bikin aku semakin gerah..." " Okay... Hotel aku nggak begitu jauh dari sini. Hanya sekitar 5 menit. Kamu bisa jalan?" " Bisa. Tapi kamu pegangin ya..." jawab Ines dengan manja dan lagi- lagi mengusap tengkuknya. Sepanjang perjalanan mereka menuju boutique hotel tersebut, Ines terus- menerus membuat Sakha salah tingkah dengan semua sikapnya yang tiba- tiba tersebut. Mulai dengan menggenggam tangannya dengan erat dan sesekali menciumi punggung tangannya, bergelayut manja pada lengannya dan memberikan ciuman- ciuman singkat di leher dan juga pipinya bahkan dengan cara sedikit berjinjit. " Ini hotelnya... Kita masuk ya..." ucap Sakha yang kemudian memasuki hotel tempat ia menginap saat ini. " Kamu kenapa?" tanya Sakha pada Ines yang terlihat oleng. " Kepala aku pusing..." jawab Ines yang kembali memeluk Sakha dengan manja dan bersandar di dadaa bidangnya. " Aku bantuin." ucap Sakha yang langsung menggendong tubuh Ines ala bridal dan membuat Ines melingkarkan kedua lengannya di leher Sakha. " Oh, Ines... Kamu udah membuat air yang tenang ini menjadi keruh." sambung Sakha ketika Ines mengecup rahang tegasnya. *** Dengan perlahan Sakha menurunkan Ines dari gendongannya ketika mereka telah sampai di dalam kamar penthouse yang Sakha tempati. Untuk sampai di dalam kamar ini tanpa melakukan apapun pada wanita yang bersamanya adalah hal yang sangat baru baginya dan itu luar biasa menyiksanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, ketika Ines hampir terjatuh dan dengan cepat Sakha langsung merangkulnya namun malah membuat Ines bergidik dan memberikan ciuman penuh hasrat padanya. " Ines..." " Sakha, aku... Ahhh." desah Ines sambil terus menggerayangi Sakha dan menciuminya dengan liar. " Ines... Ines... Kamu oke?" tanya Sakha yang heran dengan sikap Ines karena meskipun ia tidak mengenal wanita tersebut, namun ia tahu jika wanita yang nampak kegerahan tersebut bukanlah tipe wanita yang seagresif ini. " Aku mau... Mau sesuatu yang lebih." jawab Ines yang kembali menciumi Sakha sambil mulai melepaskan sepatu yang ia kenakan. " Kamu yakin?" tanya Sakha lagi yang sudah mulai paham jika Ines bukan hanya sedang mabuk minuman saja. " Aku mau kamu, Sakha. Aku mau kamu..." bisik Ines yang membuat Sakha menyambutnya dengan senang hati. " Sakha... Aku... Aku... Ngghhh..." lenguh Ines ketika Sakha mulai melepaskan tali kecil atasan Ines yang terikat pada bagian pinggangnya tersebut. " Aku... Aku... Aku takut tapi aku sangat menginginkan kamu. Sangat, Sakha." sambung Ines yang kembali bangun dari posisi berbaringnya dan kemudian menciumi Sakha lagi dan lagi. Sakha yang sejak tadi mencoba menahan godaan Ines meski ia juga sudah sangat terbakar gairah, kemudian mengangkat tubuh Ines dan menggendongnya menuju kolam renang yang berada hanya beberapa meter di depan tempat tidur besarnya. Tempat tidur yang kini sudah nampak berantakan karena sejak tadi mereka terus saling menggoda dan saling beradu ciuman. Dan setibanya mereka tepat di sisi kolam renang tersebut, dengan satu gerakan, ia langsung menurunkan Ines dan membuatnya terjatuh ke dalam kolam renang pribadi tersebut. " Sakha..!" seru Ines dengan kedua tangan yang nampak mencak- mencak dan mencoba mengangkat tubuhnya. " Sorry, Ines..." ucap Sakha yang entah kerasukan malaikat darimana dengan tidak mencoba mengambil kesempatan dari kondisi Ines saat ini. " Tolong, aku nggak bisa berenang. Sakha!" ucap Ines yang sudah mulai sesak nafas. " Jangan bercanda..." " Sakha, tolong!" seru Ines yang sudah terlihat semakin kesusahan dan raut wajah Sakha yang tadinya puas, kini berubah menjadi cemas. " Shittt!!!" ucap Sakha yang langsung menyusul Ines ke dalam kolam renang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD