A Date???

1551 Words
Dengan diiringi lantunan musik dari DJ yang berjudul Gasolina, Ines, Melia, sepasang pengantin baru yang baru menikah pagi tadi, dan juga beberapa orang pria dan wanita yang merupakan sanak keluarga Melia, berjalan menuju tempat yang telah disiapkan untuk mereka. Sangat kebetulan sekali, Ines juga akan bertemu di tempat yang sama dengan saudara jauh mendiang suaminya tersebut. “ Aku lama banget nggak ke tempat seperti ini.” bisik Ines pada Melia yang nampak sangat menikmati suasana tempat tersebut. “ Ya kamu sih nggak pernah mau kalau aku ajakin. Kemarin acara ulang tahun pak Sinto kamu juga nggak mau ikut. Nih….” jawab Melia sambil mengulurkan segelas minuman berwarna kuning di tangannya yang Ines tahu jika itu pasti mengandung alkohol. “ Nggak deh, Mel…” tolak Ines yang enggan meminumnya. “ Dikit aja, Nes… Hanya untuk malam ini dan di tempat ini. Lagian ini nggak banyak kok, cuma dikit. Serius deh aku udah cobain.” “ Ayolah, Ines… Kapan lagi bisa senang- senang kayak gini. Nggak ngerugiin orang lain juga.” timpal salah satu sepupu Ines. “ Oke. Dikit aja.” ucap Ines akhirnya karena benar juga apa yang Melia ucapkan, hanya untuk malam ini dan di tempat ini mungkin ia bisa sedikit melupakan betapa melelahkannya hidup yang ia jalani selama ini. Dan dari kejauhan Sakha hanya ikut tersenyum melihat sikap Ines saat ini yang sejak tadi menyita perhatiannya. Ines yang nampak tidak nyaman dengan pakaian yang memamerkan punggungnya tersebut. “ Bro, gue mau ngenalin loe sama seseorang malam ini. Dan ini akan jadi calon ibu dari anak- anak loe nantinya.” “ Maksudnya?” “ Eh salah… Maksud gue, calon cewek loe. Ya kalau loe mau sih.” ralat Adam yang mendadak salah tingkah. “ Siapa sih?” “ Ada deh pokoknya. Malam ini dia bakalan nyamperin kita kesini.” “ Ya udah… Tapi loe tahu kan gue nggak mau yang aneh- aneh.” ucap Sakha yang memang selalu mencari wanita yang “bersih” untuk bersamanya. “ Beres… Ini anak teman kakak loe.” “ Siapa? Kakak loe apa kakak gue? Emang loe punya kakak?!” tanya Sakha lagi dengan heran karena Adam memang adalah anak tunggal. “ Maksudnya ya itu… Apa namanya… Ng… Kakak sepupu gue. Udahlah, tungguin aja. Dame mas gasolina…”jawab Adam dengan asal lalu kembali menikmati lantunan lagu yang sedang dimainkan tersebut agar Sakha tidak kembali banyak bertanya. “ Gue jawab telepon dulu ya…” sambung Adam yang kemudian mencari tempat yang sedikit senyap agar bisa menerima panggilan teleponnya. “ Halo, kak Sonya…” jawab Adam pada Sonya. “ Gimana, Dam? Udah ketemuan sama orangnya?” “ Belum, kak… Tapi yakin ini bakalan aman, kak? Saya takut Sakha bakalan marah.” “ Nggak akan. Kamu kenalin dulu sama teman yang aplikasi kencan kamu dulu, nanti abis itu anak teman saya bakalan datang dan ngaku jadi pacarnya Sakha. Jadi kalian akan buat keributan kecil aja biar Sakha nggak ada pilihan lain selain bawa anak teman saya itu. Kan Sakha paling nggak suka tuh kalau ada cewek berantem karena dia. Pokoknya kamu tenang aja. Cukup nahan Sakha untuk tetap disana. Dan nanti, mereka akan kesannya sedang kedapatan gitu. Saya akan berangkat dengan pesawat paling terakhir malam ini dan langsung menuju hotel kalian. Tenang aja, kali ini Sakha nggak akan bisa berkutik.” jelas Sonya yang sangat yakin kali ini bisa memaksa Sakha untuk menikah karena masih belum percaya jika Ines adalah kekasih adiknya. “ Tapi, kak… Hm… Saya kok takut Sakha bakalan ngamuk ya…” “ Dia nggak bakalan ngamuk lah… Orang anak teman saya ini cantik dan seksi kok… Orangnya berpendidikan pula. Lahir dan besar di Amerika sama seperti Sakha. Dan dia udah suka sama Sakha kok. Sakha juga pasti bakalan suka. Tenang saja, ini untuk kebaikan Sakha. Kita hanya membuka jalan mereka aja.” “ Kak Sonya yakin?” tanya Adam masih tidak yakin untuk membantu Sonya yang memaksanya sejak pagi tadi. “ Yakin, Adam… Kamu mau Sakha kehilangan apa yang sudah dia bangun selama ini? Kamu mau teman kamu jadi pengangguran?” “ Ya nggak sih, kak…” “ Nah makanya… Udah kamu pastiin aja Sakha nggak akan kemana- mana dan pastikan Sakha memilih Christy dan membawanya pergi.” “ Baik, kak… Aman… Aman…” “ Oke… Makasih ya, Adam. Sampai ketemu besok.” ucap Sonya dengan puas. *** “ Sakha, kan?” sapa seorang wanita berambut panjang sedikit ikal dengan pakaian merah menyala yang memamerkan lekuk tubuh indahnya. “ Yup. Kamu…” ucap Sakha yang sengaja menggantungkan kalimatnya. “ Aku Marsha... Emang beda banget ya sama yang di profil?” “ Ng… Profil? Mak—-“ “ Hai… Marsha… Apa kabar?” sapa Adam yang langsung bisa mengenali wanita yang ada dalam aplikasi kencan tersebut. “ Kamu…” “ Kenalin saya, Adam. Sahabatnya Sakha. Sakha udah banyak cerita soal kamu.” “ Ah? Gue?” tanya Sakha dengan suara yang seperti berbisik dan nampak heran sendiri. “ Ayo duduk dulu… Pesan minuman ya…” ucap Adam yang langsung menuntun Marsha agar duduk di samping Sakha yang nampak sedang teralihkan perhatiannya. Adam kemudian mengikuti arah pandang sahabatnya tersebut dan menemukan sosok Ines yang nampak sedang berbincang dengan seorang pria. “ Itu… Ines kan?” tanya Adam yang diangguki oleh Sakha. “ Kok bisa disini? Loe janjian?” “ Sakha, kamu sampai kapan disini?” tanya Marsha lagi yang juga ikut melirik ke arah Ines yang sedang berdiri sambil menerima sebuah paper bag dari pria yang bersamanya. “ Mungkin sampai besok atau mungkin lusa. Urusan saya udah selesai sih.” jawab Sakha dengan acuh tak acuh. “ Kamu lagi liburan kesini?” sambung Sakha. “ Lho, bukannya—-“ “ Naahhh… Ini dia minuman kita.” potong Adam yang tak ingin Sakha tahu jika dialah yang meminta Marsha untuk datang dan mengatas namakan sahabatnya tersebut. “ Cheerss… Malam ini adalah malam yang akan menjadi penentu masa depan kita.” sambung Adam yang membuat Sakha sedikit mengerutkan keningnya sambil menggeleng akan sikap sahabatnya tersebut. Dan dari ekor matanya, Sakha bisa melihat jika kini Ines nampak terus menikmati gelas cocktail selanjutnya sambil menghempaskan paper bag pemberian pria tadi. *** “ Yakin ini bisa bikin kak Winda semakin seksi malam ini?” tanya adik dari mempelai wanita pada saudarinya yang lain dan nampak sibuk melarutkan serbuk yang dibawanya dengan sembunyi- sembunyi. “ Yakin… Tenang aja. Mas Bram bakalan kewalahan sama kak Winda. Yakin deh ma gue.” jawab Rhea, gadis lainnya. “ Emang loe pernah nyoba?!” “ Ya temen gue lah… Dan ini nggak pakai downtime. Langsung bereaksi.” “ Seriusan?” “ Iya… Udah loe tenang aja. Ini kesempatan kita ngerjain kak Winda. Selama ini udah jahil banget. Gimana, Mel?” “ Iya, terserah kalian deh. Gue ke toilet dulu ya. Mules banget… Tolong liatin Ines ya… Kayaknya udah selesai ngobrol ama temennya.” ujar Melia. “ Beres, Mel…” “ Mas, ini minuman buat kakak saya ya… Yang sana tuh yang rambut panjang pakai baju ungu.” ucap Rhea sambil menunjuk ke arah sofa mereka. “ Baik, kak… Beres.” Rhea kemudian memasukkan tiga lembar uang kertas berwarna merah ke saku kemeja pelayan tersebut sesaat sebelum ia pergi ke arah meja yang dimaksud tersebut. “ Lagu kitaaaa!!!” seru ketiga gadis muda tersebut ketika mulai mendengarkan dentuman musik yang sangat akrab di telinga mereka dan langsung berjalan mendekati posisi DJ yang terletak tak jauh dari mereka dengan bersemangat. Melia sendiri sudah berjalan dengan cepat menuju arah toilet dan terpaksa harus mengantri karena malam ini cukup banyak pengunjung yang datang karena memang tempat tersebut sedang mendatangkan DJ luar negeri yang cukup terkenal dan memiliki banyak penggemar. Termasuk saudari- saudarinya yang sengaja memilih menikah di kota ini karena ingin bertepatan dengan jadwal DJ tersebut. “ Permisi, kak… Ini minumannya. Dari kakak- kakak yang disana.” ucap pelayan tersebut sambil menoleh ke arah para sepupu Melia yang Ines kenali. “ Buat saya? Oh, makasih.” jawab Ines yang menerima gelas tersebut dengan wajah yang terlihat dongkol. “ Nuha pikir dia siapa?! Sok banget! Bisa- bisanya dia nitip beli jimat kayak gini buat Bibi. Dia pikir aku bawa sial buat anak aku sendiri apa?! Dasar gila!” ucap Ines dengan kesal dan meneguk minuman yang diberikan oleh pelayan tadi. Ines lalu melirik pada pasangan pengantin baru tadi dan mendapati mereka berdua sedang berciuman dengan sangat mesra seolah tidak ada siapapun di sekitar mereka dan nampak tidak peduli sama sekali. Dan memang tidak ada yang akan peduli jika mereka sedang berciuman seperti itu. Ines yang merasa tidak nyaman mengganggu mereka, akhirnya bangkit dari sofanya dan hendak mencari Melia atau hanya sekedar berjalan- jalan di sekitar tempat indah tersebut. Dan meski ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari dalam dirinya, ia tetap saja melanjutkan langkah kakinya untuk sekedar berkeliling. *** “ Hai… Malam semuanya…” sapa seorang wanita cantik lainnya yang mendatangi sofa milik Sakha. “ Malam…” “ Aku Christy. Ingat kan kalau kita punya kencan malam ini?” tanya Christy ketika mendapati Marsha yang nampak sangat menonjolkan dadaanya untuk menggoda Sakha. “ Kencan? Kita?” tanya Sakha bingung karena ia sebenarnya hanya tahu jika Adam akan mengenalkannya pada seorang wanita yang memang sudah dikenalnya. Tapi kedua wanita yang ada bersamanya kini terlihat malah tidak mengenali Adam sama sekali. “ Maaf, tapi Sakha sudah punya teman kencan malam ini.” ucap Marsha yang langsung berdiri dengan tatapan mengintimidasi Christy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD