“ Kok nyusul?” tanya Ines heran ketika Melia mengetuk pintu kamarnya.
“ Iya… Kayaknya Bibi kecapean. Mending di kamar aja.” jawab Melia sambil menurunkan Bibi dari gendongannya dan meletakkannya di atas tempat tidur.
“ Kok bisa ketiduran sih? Aku gantiin baju biasa aja deh kalau gitu.” ucap Ines yang kembali membuka koper miliknya dan mencari pakaian yang lebih nyaman untuk Bibi kenakan.
“ Maaf ya aku kelamaan turunnya. Aku tadi terima telepon dari neneknya Bibi. Katanya mumpung aku di Bali, ada saudara Mas Arya yang mau ketemu.” sambung Ines pada Melia yang membantunya untuk melepaskan pakaian yang Bibi kenakan saat ini.
“ Kok mereka bisa tahu kamu ada di Bali?”
“ Soalnya semalam mamanya mas Arya lagi- lagi nyuruh aku ke sana. Aku bilang ya belum bisa. Karena aku lagi di Bali. Aku juga udah bilang kalau pun mereka mau ngasih hak nya Bibi, ya mereka simpen aja dulu. Toh belum bakalan kepake juga. Sekarang aja, duitnya belum dikasih sama mereka, Nuha udah mencak- mencak duluan. Belum lagi kalau sampai keluarga Angga sampai tahu. Bakalan rame lagi pastinya.” jelas Ines.
“ Apa hubungannya lagi sama mereka? Toh mereka nggak ngasih kamu apa- apa.”
“ Ya udahlah, aku juga nggak butuh apa- apa dari mereka. Aku cuma menghindari drama baru aja. Aku udah capek mikirin omongan- omongan mereka yang bikin mental aku hancur bukan main. Mending mereka ngatain aku kepala batu ataupun sombong karena nggak mau terlibat apapun lagi sama mereka, daripada mereka lagi- lagi bilangin aku hanya cari harta mereka ataupun pembawa kutukan sial.”
“ Tapi iya sih, mulut mereka jahat banget. Padahal mereka tuh orang- orang berada, mapan, berpendidikan, tapi kok bisa ya punya pikiran kayak gitu?”
“ Ya kita nggak akan ngerti karena kita nggak berada dalam posisi mereka. Dan mungkin, saat keadaannya dibalik, kita bisa aja berpikiran yang sama. Ditinggal mati oleh orang yang sangat berarti untuk kita itu, sangat menyakitkan.”
“ Jadi… Apa rencana kamu selanjutnya?”
“ Ya nggak ada. Aku hanya akan kerja, hasilin duit yang banyak untuk Bibi, bikin Bibi bisa seperti anak- anak lainnya.” jawab Ines dengan santai namun Melia tahu keadaan hati sahabatnya tersebut seperti apa.
“ Kamu nggak berencana menikah lagi, Nes? Kamu masih muda, kamu juga butuh—-“
“ Nggak. Aku nggak butuh. Aku bisa semuanya sendirian. Kamu pengen aku menikah lagi untuk apa? Bikin anak orang meninggal lagi?” canda Ines yang seolah menyidir dirinya sendiri.
“ Ngomong apaan sih…” ujar Melia yang melempari wajah cantik Ines dengan pakaian kotor Bibi tadi.
“ Ya lalu apa? Aku emang nggak niat menikah lagi. Kamu kira gampang menikah lagi?”
“ Ya gampang lah… Orang kamu masih muda, cantik, pekerja keras, baik, sabar—-“
“ Dan selalu ditinggal mati pas lagi sayang- sayangnya.” sambung Ines yang hanya bisa tersenyum getir.
“ Aku juga nggak tahu kenapa, tapi kalau aku ingat- ingat… Angga dan aku menikah karena dijodohkan, aku sama sekali nggak kenal dia. Tapi karena dia baik, sopan, dan sayang sama aku, aku juga mulai membuka hati aku sama dia. Dan sebulan setelah kami menikah, Angga tiba- tiba sakit dan meninggal. Sama mas Arya juga gitu, kami menikah karena dia yang datang melamar aku yang saat itu dia kenalin aku karena dulu teman sekolah Nuha. Walaupun nggak kenal Nuha dengan baik, tapi akhirnya aku menerima karena dia baik banget dan berani langsung datang menemui ibu dan ayah untuk melamar. Dan ternyata ayah, ayah mas Arya, dan papa kamu adalah teman kecil kan?”
Melia lalu mengangguk mengiyakan.
“ Dan tiga bulan setelahnya, aku mulai membuka hati sama mas Arya. Aku menjadi istri yang cukup baik untuk dia. Aku mulai melayani semua kebutuhan dia karena selama ini dia nggak pernah memaksa aku. Dan dari pengalaman sebelumnya, aku emang takut untuk membuka hati aku lagi. Tapi… Sejak tahu aku hamil Bibi, mas Arya semakin baik sama aku. Dan aku juga menjadi sayang sama mas Arya. Lalu apa? Mas Arya kecelakaan pesawat. Hancur? Sangat…” tutur Ines yang membayangkan keadaan dirinya saat itu. Bagaimana stressnya ia saat mengetahui suaminya menghilang ditengah hutan belantara saat akan keluar negeri. Bagaimana semua orang menyalahkannya atas kejadiaan naas tersebut. Dan bagaimana hancurnya ia saat harus mengandung tanpa seorang suami dan berada diantara orang- orang yang menghujatnya.
“ Tapi kan itu semua bukan salah kamu, Nes. Angga kan ternyata memang punya riwayat penyakit yang selama ini dia sembunyikan. Dan kecelakaan mas Arya juga bukan salah kamu.”
“ Menurut kamu sih gitu… Tapi menurut mereka? Kan mereka semua cuma narik benang merahnya aja. Meninggal setelah tidak lama menikah sama aku.”
“ Jahat banget ya…”
“ Nggak bisa di salahkan juga sih, Mel… Kita hanya nggak ada di posisi mereka aja. Mungkin aku juga bakalan mikir gitu kok.”
“ Ya karena mereka emang jelek aja hatinya. Kayak Nuha, andai nggak ingat dia tuh adiknya mas Arya yang baik banget dan nggak kamu tahan, udah pengen aku jambak aja waktu dulu dia ngatain kamu.”
“ Trus yang ada dia malah bakalan semakin benci sama aku. Makanya sekarang aku mah udah kebal dia mau ngomong apa juga. Aku blokir pasti tetap bakalan hubungin aku dari nomer lainnya. Jadi ya sudahlah, sesuka hati mereka aja.”
“ Berarti ini tips buat aku, kalau besok- besok menikah, jangan cari calon yang punya saudara perempuan. Ribet!”
“ Eh tapi punya saudara cowok juga bisa creepy sih… Buktinya kakaknya Angga yang nawarin kamu untuk menikah sama dia kan? Siapa lagi namanya… Mas…”
“ Mas Chris.” sambung Ines.
“ Iya bener… Ganteng sih… Kaya pula. Tapi kan dia playboy ya…”
“ Bukan gitunya juga… Tapi kan gila aja kalau aku terima sarannya dia untuk naik ranjang.”
“ Padahal cakep loh, Nes. Lebih cakepan mas Chris malahan daripada Angga.”
“ Dan buktinya sekarang dia udah menikah dan bahagia. Nggak meninggal juga.” canda Ines.
“ Dia ngundang kamu kan waktu itu?”
“ Iya… Dan seminggu sebelum dia menikah, dia masih menawarkan hal yang sama ke aku. Dan katanya ini wanita pilihan mamanya.”
“ Ya semoga aja mereka bahagia. Kalau nggak, aku bersedia menghibur mas Chris. Sejak ABG, kita kan emang naksir dia ya… Aku ingat banget pas mau pindah ke Jakarta, aku tuh nangis bukan karena pisah sama kamu, tapi karena nggak bisa ketemu mas Chris lagi.”
“ Enak aja… Aku nggak pernah naksir Chris ya…” elak Ines sambil memukul lembut sahabatnya yang nampak gemas membayangkan masa remaja mereka dulu.
“ Mama…” gumam Bibi yang terganggu dengan gerasak gerusuk dua wanita dewasa tersebut.
“ Ssshhh… Bobo lagi ya sayang…” bisik Ines pada putrinya sambil menahan tawanya.
“ Aku laporin Dave loh ya…” ucapnya pada Melia.
“ Eh tapi kenapa Bibi bisa ketiduran? Kamu gendongin terus ya? Dia tuh kalau terus- terusan di gendongin di usep- usep punggung sama kepalanya, pasti bakalan tidur gini…”
“ Ah?… Ow… Iya iya…” jawab Melia dengan kikuk karena nyatanya, Sakha lah orang yang sejak tadi menggendong Bibi sambil menunggu kedatangannya.
“ Jadi, nanti malam kamu mau ketemu sama saudara mas Arya?” tanya Melia yang ingin mengubah topik pembicaraan.
“ Iya… Katanya mau ngasih titipan untuk Bibi. Udah aku tolak tapi katanya nanti belum tentu bisa ketemu lagi. Orangnya kerja di Australia dan hanya punya waktu nanti malam.” jelas Ines.
“ Aku temanin ya…”
“ Boleh. Kamu pasti suka tempatnya.”
“ Emangnya dimana?”
“ Beach club…” jawab Ines dengan senyuman smirk yang membuat Melia sangat bahagia. Ia selalu ingin mengajak Ines untuk bersenang- senang seperti ini namun selalu saja ditolaknya. Dan kali ini, ia berencana akan membuat Ines untuk sedikit santai.
***
“ Dimana loe?” tanya Sakha sambil memasuki beach club tempat ia meminta Adam menunggunya.
“ Sini sini… Nih tangan gue.” jawab Adam sambil melambaikan tangannya.
“ Oke…”
Sakha lalu berjalan menuju tempat duduk sahabatnya tersebut. Ia pun membalas senyuman- senyuman para wanita yang berpapasan dengannya dan tentu tidak bisa menampik keindahan ragawi mereka yang datang dari berbagai macam negara, ras dan suku tersebut. Dan jujur saja, Sakha hampir telah mengelilingi seluruh bagian bumi ini, dan telah menyempatkan diri untuk mencicipi wanita- wanita cantik tempat tersebut sembari memperluas wawasannya soal menu- menu makanan mereka.
“ Sakha?” seru seorang wanita berambut pirang yang berpapasan dengannya.
“ Well… Hai…” sapa Sakha yang tidak yakin pernah bertemu wanita tersebut.
“ Swiss Chalet… Remember?” tanya wanita tersebut yang kini sedang bersama seorang pria.
“ Ow… Swiss Chalet… Right…” ucap Sakha lalu menyambut ciuman singkat wanita tersebut pada pipinya.
“ Senang ketemu kamu lagi.” ujar wanita tersebut dengan dialek bahasa yang bercampuran.
“ Saya juga. Emma, right?” tanya Sakha yang sejak tadi memutar otaknya untuk mengingat nama salah satu karyawan restoran yang pernah menghabiskan malam dengannya tersebut.
“ It’s Eva…” jawab wanita tersebut membenarkan.
“ Sakha! Ayo sini…” panggil Adam yang langsung membuat Sakha merasa lega karena kekikukan yang terjadi saat ini.
“ Eva, i gotta go… I’m so sorry…” ucap Sakha dengan sopan.
“ Oke… Sampai jumpa lagi.”
Tanpa menunggu apapun lagi, Sakha mempercepat langkahnya untuk menaiki anak tangga menuju tempat Adam saat ini. Namun lagi- lagi langkah Sakha terhenti ketika ia sampai di penghujung tangga tersebut dan perhatian Sakha tertuju pada sosok seorang wanita yang kali ini terlihat sangat berbeda dimatanya.