“ Ines…” panggil Sakha pada Ines yang langsung melewatinya.
Dengan cepat Sakha melepaskan gandengan tangan wanita yang bersamanya dan hendak mengejar Ines yang nampak mempercepat langkahnya.
“ Papa… Papa…” ucap Bibi yang setiap kali melihat sosok pria dewasa ketika bersama Ines, selalu memanggil orang tersebut dengan sebutan papa. Entah itu adalah tukang listrik, penagih uang ronda dan kebersihan, ataupun tukang ojek online yang bersama Ines.
“ Ayo, sayang… Kita jalan yuk.” ujar Ines yang langsung menggendong tubuh putrinya agar bisa lebih cepat keluar dari tempat tersebut.
“ Ines, tunggu…” panggil Sakha dan tetap tidak dipedulikan oleh Ines.
“ Mau kemana?” tanya wanita yang bersamanya karena Sakha langsung ingin melepaskan tangan wanita yang bersamanya.
“ Maaf, saya harus ngejar mereka.”
“ Sakha, tapi kita sedang kencan. Apa kamu kenal mereka? Atau… Jangan bilang kalau itu adalah anak dan istri kamu.” ucap wanita berambut pendek dengan model bob tersebut sambil menarik lengan Sakha.
“ Ng… Maaf… Saya nggak akan lama.” ucap Sakha yang kembali melepaskan tangan wanita tersebut di lengannya dan berjalan lebih cepat untuk mengejar Ines.
Sesampainya di depan restoran miliknya tersebut, Sakha sama sekali tidak bisa menemukan sosok Ines dan putrinya lagi dan merasa sedikit frustasi dibuatnya.
“ Kamu kenapa sih? Aku benar- benar tersinggung dengan sikap kamu, Sakha. Kamu punya istri dan anak? Maaf, saya memang wanita bebas tapi saya nggak pernah mengganggu suami orang.” ucap wanita yang Sakha temui dalam rapatnya pagi tadi dan merupakan public relation dari kantor lain.
“ Maaf… Saya nggak bermaksud…”
“ Lupain aja. Kamu urusin anak dan istri kamu saja. Saya nggak mau jadi perusak rumah tangga orang lain.” ucap wanita tersebut lalu meninggalkan Sakha seoranh diri.
Sakha sendiri hanya bisa tersenyum mendengar ucapan wanita yang kini sedang menelepon seseorang sambil berjalan menjauhi restorannya tersebut. Tidak ada sama sekali niat untuk mengejarnya atau bahkan meluruskan kesalahpahaman diantara mereka agar bisa kembali melanjutkan kencan mereka malam ini.
“ Istri dan anak… Sounds great…” ucap Sakha sambil kembali menuju restorannya.
***
Sudah sejak semalam Sakha terus memikirkan Ines dan putrinya yang memanggilnya dengan sebutan papa. Apa yang mereka lakukan disini dan mengapa Ines menjauhinya padahal ia hanya ingin meminta maaf. Bukan ia tidak ingin menelepon Ines dan langsung berbicara dengannya, namun ia hanya tidak ingin jika teleponnya nanti akan membuat suami wanita tersebut salah paham.
Sakha menyeruput kopi yang ada di hadapannya sambil menngamati upacara pernikahan yang letaknya tak begitu jauh dari tempat ia sedang duduk saat ini dan menunggu rekan bisnisnya.
Bagi Sakha, pernikaha bukanlah suatu hal yang penting dalam hidupnya. Menurutnya, semua hal yang ia dapatkan dalam ikatan pernikahan, tetap bisa ia dapatkan meski tanpa menikah. Teman bicara, teman tidur, teman makan, teman berbagi, bahkan keturunan sekalipun. Semua bisa ia dapatkan tanpa harus repot- repot melibatkan emosi dan perasaan yang nanti akan membuatnya kewalahan. Ia tidak pernah percaya pernikahan akan membuat orang bahagia, karena nyatanya pernikahan hanya membuat sebagian orang menjadi tertekan. Dan baginya, menghabiskan sisa hidup sepanjang umurnya dengan orang yang sama setiap hari, pasti akan sangat membosankan. Karena itulah, Sakha sama sekali tidak tertarik untuk menikah atau terikat dengan satu orang wanita saja.
“ Ayo, Bibi… Kita udah telat… Ayo, sayang…” ucap Ines yang baru saja keluar dari toilet sambil mengejar putrinya yang berlari kecil.
Sakha yang tentu sudah tidak asing dengan suara lembut tersebut langsung menoleh dan benar saja itu adalah Ines yang kini sedang menggendong putrinya dan berjalan menjauh.
“ Permisi… Apa dia salah satu tamu di hotel ini?” tanya Sakha pda seorang pria yang mengenakan seragam hotel tersebut.
“ Sepertinya iya, pak. Mereka salah satu tamu di acara pernikahan itu.” jawab pemuda tersebut setelah melihat ke arah Ines yang mengenakan gelang bunga di pergelangan tangannya sebagai tanda jika ia adalah tamu pernikahan tersebut.
“ Oh begitu… Baik, terima kasih.” ucap Sakha dengan sopan bertepatan dengan para rekannya yang baru saja datang menghampirinya.
Dan sejak saat itu, pandangan mata Sakha tidak bisa lagi begitu fokus pada apa yang mereka bicarakan. Sesekali ia akan menoleh dan melirik pada prosesi pernikahan tersebut dan bisa melihat sosok Ines yang duduk sambil memangku putri kecilnya.
“ Kamu cantik sekali, Ines…” batin Sakha yang tidak sadar jika wanita berambut pendek semalam mengikuti arah pandangnya dan memutar kedua bola matanya dengan malas.
***
“ Halo, Melia…” sapa Sakha yang akhirnya memberanikan diri mendatangi acara tersebut yang sepertinya para tamunya hanya sedang tinggal menikmati makanan mereka saja dan juga berdansa.
“ Pak Sakha…” ucap Melia yang terkejut bercampur heran.
“ Sakha aja… Saya nggak sengaja melihat kalian dan hanya mau menyapa. Apa teman kamu masih marah?” tanya Sakha yang menatap ke arah Ines yang sedang menyuapi putrinya.
“ Sepertinya sih gitu… Ines memang agak sensi orangnya, pak… Maksud saya, Sakha. Tapi ya kamu salah juga sih… Tapi nggak salah- salah amat. Cuma salah paham aja kali ya…”
“ Mungkin… Tapi saya hanya mau minta maaf sama Ines.”
“ Ngobrol aja… Itu ada mamanya juga. Kali aja bisa langsung jadi pacar beneran. Hehehe.” canda Melia.
“ Tapi jangan deh… Ntar teman saya cuma mau di bikin sakit hati. Kamu berurusan sama saya lho kalau sampai bikin dia sedih.” sambung Melia.
“ Ng… Maaf, tapi bukannya Ines punya… Hmm…”
“ Anak?” tebak Melia.
“ Yup… Anak. Ines punya anak kan? Lalu—- Kamu bicara seperti ini apa suaminya nggak—-“
“ Ya kali orang meninggal bisa bicara.”
“ Maksud kamu… Ines nggak punya… Suami?” tanya Sakha dengan hati- hati.
“ Iya, saya nggak punya. Saya janda. Kenapa? Mau menghina saya? Suami saya meninggal. Dan kalau saja suami saya masih hidup, saya mungkin nggak perlu menjadi pacar pura- pura kamu demi bisa menjual mobil.” sambung Ines yang kini berdiri diantara mereka.
“ Titip ibu sama Bibi ya, Mel… Aku mau ke atas dulu ambil pakaian ganti Bibi. Bajunya ketumpahan minuman.” sambung Ines yang kembali tidak memperdulikan kehadiran Sakha.
“ Ya udah… Aku tunggu disini ya.” ucap Melia yang dijawab Ines dengan mengangguk dan berjalan menjauhi Sakha dan Melia yang sama- sama terlihat kikuk.
“ Buruan sana…” ujar Melia yang menyuruh Sakha untuk mengejar Ines jika ia memang hanya ingin meminta maaf.
“ Ines, sebentar… Aku mau ngomong.” panggil Sakha dengan lembut dan mencoba menyamai langkah wanita bergaun satin dengan warna biru muda tersebut.
“ Mau bicara apa? Saya rasa nggak ada yang perlu kita bicarakan.” ucap Ines yang sama sekali tidak melambatkan langkah kakinya.
“ Ada, Ines… Saya hanya mau kita bicara baik- baik. uajr Sakha sambil menghadang langkah Ines.
“ Kamu mau apa sih? Bukannya semua udah selesai?”
“ Iya… Tapi aku nggak mau kamu salah paham sama aku. Aku minta maaf kalau mungkin nggak sengaja berbohong sama kamu. Tapi aku benar- benar nggak berniat membohongi kamu.” jawab Sakha yang nampak sangat butuh agar Ines mau memaafkannya.
“ Oke. Saya maafkan. Lagian nggak penting juga kan… Urusan diantara kita sudah selesai dan saya nggak mau berurusan dengan kamu lagi.”
“ Tapi kenapa kamu menolak aku beli mobil dari kamu? Toh sejak awal aku emang mau beli mobil.”
“ Ya berarti nggak masalah kalau kamu beli dari orang lain. Saya hanya nggak mau merasa berhutang sama kamu.”
“ Kok berhutang sih… Kan aku emang udah janji mau beli.”
“ Saya buru- buru. Silahkan beli dari orang lain.” ucap Ines sambil kembali melangkah dan menabrak tubuh Sakha untuk bisa masuk ke dalam lift yang kini telah terbuka.
“ Saya akan tetap beli dari kamu.”
“ Terserah kamu.” jawab Ines sambil menutup pintu lift tersebut dengan cepat agar Sakha juga tidak ikut masuk ke dalamnya.
Sakha kemudian tersenyum dengan tipis karena Ines sudah nampak lebih lunak kepadanya meski tentu saja terdengar ketus. Perlakuan yang tidak biasa ia dapatkan dari wanita- wanita yang malah selalu ingin menarik simpatinya. Dan fakta bahwa Ines adalah seorang janda tentu membuat ia merasa bahagia.
Sakha lalu berjalan untuk kembali ke mejanya semula dan berencana akan menghabiskan waktu disana sambil menunggu Adam yang datang menyusulnya dan sudah berada dalam perjalanan dari bandara.
“ Sakha, mau gabung sama kami nggak?” tanya Melia yang tiba- tiba menghampirinya sambil menggandeng tangan Bibi.
“ Daripada kamu sendirian disini, gimana kalau gabung sama kami aja… Tapi kalau kamu keberatan juga nggak—-“
“ Nggak apa- apa? Saya sih sama sekali nggak keberatan.”
“ Papa… Papa…” panggil Bibi yang melepaskan tangannya dari Melia dan berjalan mendekati kaki Sakha dan mendongak menatapnya.
“ Apa kalian pernah ketemu?” tanya Melia saat Sakha membungkukkan tubuhnya untuk menatap betapa jernih dan indahnya kedua mata anak manis tersebut.
“ Semalam. Kami sempat papasan semalam. Memangnya kenapa?” tanya Sakha dengan heran.
“ Bibi itu istimewa… Dia nggak suka ketemu orang baru, nggak suka ada orang lain, nggak mau dekat sama orang lain kecuali orang yang pernah dia temui sebelumnya. Tapi maaf kalau dia manggil kamu papa. Soalnya dia emang gitu kalau dia lagi sama Ines dan ada laki- laki dewasa.”
“ Oh… “
“ Maaf ya kalau kamu nggak nyaman Bibi manggil kamu gitu.”
“ Nggak masalah. Sama sekali nggak masalah.” jawab Sakha sambil mengusap lembut jemari lentik milik Bibi yang kini menyentuh wajah tampannya.
“ Mau papa gendong?” tanya Sakha yang langsung membuat Bibi tersenyum girang.