Bali

1652 Words
Sakha duduk termenung di dalam kamar hotelnya dan kembali mengingat kejadian semalam saat Ines menamparnya. Tidak pernah ada seorangpun yang berani melakukan hal seperti itu kepadanya terlebih lagi seorang wanita yang baru dikenalnya. Bahkan saat ia bersikap seperti seorang bajingann pun, wanita- wanita yang ia kencani sama sekali tidak pernah keberatan atau sampai berani menamparnya. “ Halo, pak Sakha.” sapa seseorang yang kini sedang meneleponnya. “ Iya, El. Gimana? Udah selesai?” tanya Sakha pada Elly, asisten pribadinya. “ Maaf, pak… Saya mau memberitahu kalau mbak Ines menolak untuk menjual mobil yang bapak mau.” jawab Elly. “ Menolak? Menolak bagimana? Kamu bilang kan kalau kamu asisten saya?” tanya Sakha lagi. “ Udah, pak. Katanya, kalau memang bapak sangat butuh mobil itu, bapak bisa beli melalui sales marketing yang lainnya. Atau mungkin ke dealer yang lainnya bila perlu. Seperti itu, pak.” jelas Elly. “ Inessa yang bilang begitu? Kamu yakin nggak salah orang?” “ Yakin, pak. Bahkan mbak Ines meminta temannya untuk membantu saya. Tapi saya bilang kalau harus bicara sama bapak dulu.” “ Apa… Dia menanyakan saya?” tanya Sakha. “ Tidak, pak. Mbak Ines malah berubah menjadi tidak begiu ramah saat tahu kalau saya asisten bapak.” sambung Elly. “ Kamu bilang kalau saya lagi keluar kota?” “ Iya, pak. Saya bilang kalau pak Sakha tiba- tiba harus keluar kota pagi dan minta saya untuk mewakili.” “ Seorang pria yang sepertinya atasan mereka juga menghampiri untuk membantu saya, tapi mbak Ines tetap tidak mau, pak. Mbak Ines tetap mengarahkan saya untuk dibantu oleh orang lain.” “ Baiklah… Saya akan mencoba menelepon dia.” ucap Sakha yang kemudian memutuskan panggilan dari Elly tersebut. *** Ines nampak sedang sibuk mengurus keperluan Bibi dan memasukkannya ke dalam koper. Ia harus memastikan sendiri jika tidak ada satupun barang yang akan tertinggal dan akan menyusahkan ibunya nanti. Sejak semalam, mereka memang menginap di apartemen milik Melia agar lebih mudah saat akan berangkat ke bandara nantinya. Supir dari orang tua Melia bersikeras untuk menjemput Septi dan Bibi di rumah kontrakan mereka agar mereka lebih leluasa mengurus keperluan mereka dan tak ingin jika Ines berubah pikiran lagi. “ Bibi main dulu ya…” ucap Ines sambil meminjamkan ponsel miliknya pada Bibi agar ia bisa duduk dengan tenang sambil menunggunya membereskan barang- barang yang akan mereka bawa nantinya. “ Bowe nonton?” tanya Bibi sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang kecil. “ Boleh, sayang… Tapi nontonnya bentar aja ya… Kalau mama bilang udah, Bibi kasih ke mama ya.” jawab Ines dengan lembut. “ Okedeh.” “ Pinter… Anak mama cantik sekali.” ucap Ines sambil mengecup pipi putrinya dengan gemas. “ Udah selesai?” tanya Melia yang masuk ke dalam kamar tidur Ines. “ Dikit lagi.” jawab Ines sambil membaca daftar barang yang harus putrinya bawa dari selembar kertas yang sudah ia tulis sejak siang tadi. “ Nes, kamu yakin bakalan resign aja? Sayang loh, Nes…” ucap Ines yang kini duduk di ujung tempat tidur berukuran queen size tersebut. “ Iya… Aku juga sebenarnya udah lama pengen berhenti. Aku kurang nyaman sama pakaiannya. Tapi nggak sekarang juga kok. Aku harus nyari kerjaan lain dulu sebelum resign.” “ Mama mama…” panggil Bibi yang hanya Ines jawab dengan senyuman. “ Main dulu ya sayang…” jawab Ines yang mengira jika Bibi hanya memanggilnya seperti biasa dan tidak begitu menghiraukan putrinya yang ternyata memanggilnya karena ponselnya bergetar. Dengan santai kemudian Bibi kembali bersandar dan menjawab panggilan Sakha dan meletakkan benda pipih tersebut di sampingnya sementara ia sendiri kembali memainkan permainan pop it miliknya. “ Halo, Ines…” panggil Sakha yang tentu saja tidak ada jawaban. “ Lagian kenapa sih nggak ambil pembelian mobil pak Sakha? Kan kamu udah bantuin dia semalam. Kamu nggak bakalan dapat teguran gini.” ucap Melia yang membuat Sakha kembali menyimak suara yang muncul dari seberang sana. “ Nggak usah. Aku nggak mau berurusan sama dia. Kalau dia emang mau beli mobil aja, ya berarti nggak masalah kalau dia dibantu oleh orang lain atau beli di dealer lain. Aku nggak mau merasa berhutang budi sama siapapun.” “ Tapi… Kan dia yang nawarin, berarti bukan hutang budi dong… Mana orangnya cakep lagi…” ujar Melia yang membuat Sakha sedikit tersenyum. “ Dia cakep kan, Nes? Udahlah tinggi, ganteng, keren, tajir, wangi pula…” “ Tapi tukang bohong, gimana dong…” sambung Ines yang membuat senyuman di wajah Sakha hilang seketika. “ Aku nggak suka orang yang berbohong untuk memuluskan keinginannya. Apalagi mempermainkan kematian seseorang. Entahlah… Tapi aku nggak suka aja. Mungkin bagi orang lain itu hanya sekedar bercanda, tapi ucapan dia kemarin seperti ngasih beban ke aku kalau, hidup mamanya bergantung sama keputusan aku mau membantu atau nggak. Dan aku nggak suka perasaan seperti itu. Aku nggak mau—-“ “ Mama… Mama pewuk.” ucap Bibi yang tiba- tiba menghampiri Ines dan ingin memeluknya dan membuat Ines dan Melia tersenyum. “ Kalau nggak ada Bibi, mungkin aku juga udah lama menyerah, Mel.” “ Eh jangan… Kamu masih muda dan kamu punya sahabat yang cantik kayak aku. Nggak ada alasan untuk menyerah.” ucap Melia yang ikut berpelukan bersama ibu dan anak tersebut dan saling tertawa. “ Udah, mama.” ucap Bibi yang ingin melepaskan diri. “ Oh udah ya? Mama kirain mau lama dipeluknya.” canda Ines pada Bibi yang langsung pergi meninggalkannya dan kembali duduk pada sofanya semula. “ Tapi kenapa ya Nes, pak Sakha nggak datang minta maaf sama kamu gitu… Atau jelasin atau apa kek…” “ Kata asistennya dia keluar kota pagi tadi. Dan lagian dia nggak perlu kok jelasin apa- apa. Toh kami nggak saling kenal.” “ Tapi seriusan kalian semalam serasi loh, Nes. Kalian tuh—-“ “ Barang kamu udah selesai? Kamu tuh ya bisa- bisanya ikut minta cuti. Aku minta cuti karena emang nggak pernah ngambil cuti dan cuma pengen beres- beres rumah. Kenapa mama kamu malah ikut beliin aku tiket?” “ Ya katanya biar kamu nggak kepikiran. Dan masa iya kalian semua pergi dan aku nggak!” ucap Melia. “ Iya juga sih… Makasih banyak ya, Mel. Semoga nanti suatu hari aku bisa membalas kebaikan kalian.” “ Aamiin… Sekarang cukup bikinin aku mie goreng instant buatan kamu yang enak banget itu. Jangan terlalu pedes tapinya.” “ Siap, nyonya. Tapi abis ini ya…” “ Oke, citakuuu… Tuh si citaku yang asik sendiri.” ucap Melia yang menirukan gaya bicara Bibi yang kadang memanggil Ines dengan panggilan cintaku sama seperti cara Ines biasa memanggilnya. *** Ines dan Melia yang sedang menggendong Bibi nampak memasuki sebuah rumah makan di Bali dan meninggalkan para orang tua mereka yang lebih memilih intuk istirahat dan makan malam di hotel. Meski awalnya Ines juga menolak, namun karena Melia bersikeras untuk ke tempat tersebut dan Bibi juga baru terbangun dari tidurnya, maka akhirnya ia memutuskan untuk ikut gara Bibi tidak mengganggu ibunya untuk beristirahat. Mereka lalu duduk di salah satu meja dan mulai membaca menu makanan yang disarankan oleh seorang pramusaji yang melayani mereka saat ini. Setelah menyebutkan pesanan mereka, sang pramusaji kemudian meninggalkan mereka dengan menyajikan dua gelas minuman yang tentu saja gratis sambil menunggu pesanan mereka dibuat. “ Bagus ya tempatnya…” ucap Ines yang taljub melihat dekorasi restoran bergaya western tersebut. “ Yup… Ini baru buka sekitar sebulan lalu. Udah viral aja karena menu makakannya unik. Ada machiato yang bisa di makan dengan cangkirnya. Eh gimana sih kata- katanya? Pokoknya cangkirnya tuh bisa di makan gitu loh…” jelas Melia. “ Oh ya? Kok bisa…” “ Ya karena cangkirnya dari waffle gitu.” “ Ow… Kirain emang cangkir dari kaca yang bisa di makan.” “ Emang lagi debus… Dan semua makanan disini, akan tersaji dalam 15 menit. Nggak akan lama. Nggak ngerti juga gimana cara mereka masaknya. Kita coba aja ya semoga enak.” ucap Melia. Dan benar saja, tak lebih dari 15 menit menunggu, pramusaji yang tadi melayani mereka, kini sudah kembali lagi dan membawakan makanan pesanan mereka. “ Ada lagi yang bisa saya bantu, kak?” tanyanya dengan sopan. “ Nggak ada, bli… Makasih ya…” jawab Melia yang nampak sudah tak sabar dengan makanannya yang sangat estetik meski porsinya sedikit. “ Baik. Kalau begitu saya tinggal ya, kak. Kalau masih butuh sesuatu, cukup tekan bel yang ada di samping meja kalian. Selamat malam, selamat menikmati.” ucap pramusaji tersebut lalu meninggalkan meja mereka. “ Wow… Enak banget… Bener- bener enak…” puji Melia pada beef wellington yang dipesannya. “ Apaan sih… Lebay banget.” ucap Ines yang sebenarnya juga setuju dengan ucapan Ines karena pasta yang dimakannya juga sangat enak di lidahnya. *** “ Aku cuci tangan Bibi dulu ya…” ucap Ines. “ Kamu nggak apa- apa jalan sendirian ke hotel? Soalnya aku kebelet nih. Malu banget kalau mau buang hajat di restoran.” “ Iya… Duluan aja. Lagian aku pengen mampir di mini market. Nggak apa- apa kali aku jalan sama Bibi. Deket ini kok…” “ Ya udah… Aku duluan ya… Udah aku bayar kalian langsung keluar aja. Bye, Nes…” ucap Melia sambil melambai dan berjalan dengan cepat. Ines sendiri kemudian mengambil tas miliknya dan memegang tangan Bibi yang berjalan di sampingnya dengan memegangi sebuah lolipop yang tentu tidak akan ia makan sama sekali. “ Kita cuci tangan dulu… Abis itu kita beli apa?” “ Keyipik… Yeay keyipik…” jawab Bibi dengan girang. Dengan telaten Ines kemudia mencuci kedua tangan kecil putrinya di dalam kamar mandi yang tak kalah estetik tersebut dan lagi- lagi terkagum akan interior restoran tersebut yang semua sisinya seolah layak menjadi spot foto para anak- anak remaja. Setelah mengeringkan kedua tangan putrinya, Ines kemudian kembali memegangi tangan Bibi untuk segera keluar dari rumah makan tersebut. “ Kita jalan lagi ya…” ucap Ines dengan lembut. “ Nanti kita—-“ “ Ines?” panggil seorang pria yang sama terkejutnya dengan Ines yang kini saling berhadapan dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD