" 3 unit mobil hanya untuk berpura- pura menjadi pacar kamu malam ini kan?" tanya Ines langsung.
" Tentu.... Hanya untuk malam ini." jawab Sakha yang merasa lega karena paling tidak malam ini ia tidak perlu membuat pengumuman hubungan yang sama sekali tidak ia inginkan tersebut. Ia bahkan tidak menyangka jika Sonya telah menyiapkan segalanya dan hampir membuat ia sama sekali tidak bisa berkutik.
" Deal..." ucap Ines sambil mengangguk dan mencoba terlihat tenang meski nyatanya, ia gugup setengah mati dan aura pria tersebut seperti selalu mengintimidasinya.
Tubuh tinggi atletis dengan wajah tampan blasteran yang membuatnya bahkan cocok untuk menjadi seorang aktor ataupun model. Rahangnya tegas dengan tatapan mata elang yang meneduhkan. Dan jangan lupakan senyuman yang Ines yakin bisa melelehkan gunung es sekalipun saking manis dan menawannya. Ya... Tak bisa Ines pungkiri jika wajah Sakha sangat tampan dengan senyum manisnya.
" Nes... Ditanyain." bisik Melia yang menyenggol sahabatnya yang sepertinya sedang menghayalkan sesuatu dan tidak menjawab pertanyaan Sakha barusan.
" Ah... Apa? Maaf aku lagi mikirin sesuatu" tanya Ines.
" Jangan- jangan kamu mikir yang oke- oke..." goda Melia masih dengan berbisik.
" Aku tadi nanya, kenapa kamu berubah pikiran. Soalnya tadi kamu seperti nggak tertarik dengan penawaran saya. Bahkan tadi saya udah hampir mengiyakan permintaan kak Sonya." ucap Sakha.
" Terima kasih pada Melia kalau soal itu. Dia yang memaksa saya dan dia juga yang sudah membawakan saya baju cantik ini. Tapi dia juga benar kalau saya nggak akan rugi apapun. Toh hanya untuk malam ini." jelas Ines.
" Tapi saya juga nggak akan mengambil kesempatan dan terkesan maruk, jadi saya hanya akan menjual 1 unit mobil saja ke kamu. Satu saja sudah cukup." sambung Ines yang membuat Sakha mengulum senyumannya.
" Kenapa sih, Nes? Ya kalau pak Sakha nawarin 3, ya 3 aja. Kamu bakalan dapat bonus yang lumayan loh..." ucap Melia.
" Nggak usah. Saya tahu itu mungkin hanya ucapan refleks. Lagian mana ada orang yang beli mobil langsung 3 unit. Saya yakin kamu juga sudah punya mobil yang banyak. Beli 3 secara bersamaan sepertinya terlalu mubazir." jawab Ines yang membuat Sakha semakin melebarkan senyumannya.
" Nes, bukan urusan kamu kali kalau dia mau mubazir atau gimana. Suka- suka dia lah... Biarin aja..." ucap Melia yang heran dengan ucapan sahabatnya tersebut yang entah kadang terlalu baik atau memang sedikit kurang pintar.
" Jadi saya beli mobil satu, dua, atau tiga aja?" tanya Sakha yang mendengarkan semua ucapan Ines dan merasa wanita tersebut benar- benar di luar prediksinya.
“ Satu aja. Kalaupun mau beli dua, mungkin satunya bisa beli sama Melia juga biar dia bisa—-“
“ Nggak usah, Nes… Kenapa malah mikirin aku sih?”
“ Ya sudah… Saya akan beli 2 aja.”
“ Karena Melia nggak mau, belinya satu aja. Satu udah cukup kok.” ucap Ines yang membuat Melia mengusap wajahnya dengan frustasi.
“ Oke, saya setuju.” sahut Sakha yang menatap wajah cantik Ines dengan senyuman manisnya. Dan harus Sakha akui jika wanita tersebut sangat cantik meski ia tidak menggunakan banyak riasan tebal di wajahnya seperti para gadis- gadis sales promotion pada umumnya.
“ Sakha… Sorry gue telat.” sapa Adam yang kini berlari kecil ke arah mereka bertiga.
“ Kenapa nggak besok aja datangnya?” sindir Sakha.
“ Woah… Santai bro… Eh siapa cewek- cewek cantik ini?” tanya Adam.
Sakha lalu melihat ke arah sekelilingnya dan sedikit mengecilkan suaranya untuk berbicara lebih dekat pada Adam.
“ Ini Ines dan ini Melia. Tadinya, mereka adalah tamu gue. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya Ines sekarang adalah cewek gue.”
“ What??!!”
“ Ssshhh… Nanti gue jelasin lagi. Tapi ini cuma untuk malam ini doang. Loe tahu kak Sonya kayak gimana. Dan lebih baik kita masuk dulu dan mulai acaranya.” ucap Sakha yang kini hendak berjalan memasuki restorannya lagi.
“ Oke oke… Eh tapi itu bukan Jasmine ya? Mirip banget ama Jazzy…” ujar Adam yang mendapati Sonya sedang berada di meja yang sama dengan sosok yang mirip dengan seseorang.
“ Itu Jasmine. Nanti aja gue certain. Kita masuk yuk.” ajak Sakha pada Ines dan Melia yang juga nampak sibuk berbisik- bisik satu sama lain.
“ Kenapa sih pake acara nolak gitu?!” bisik Melia.
“ Ya kasihan aja masa iya orang harus terpaksa beli mobil 3 biji cuma buat kita temenin malam ini aja. Nggak ngapa- ngapain juga.”
“ Ines… Masuk sekarang yuk…” panggil Sakha lagi sambil mengulurkan tangannya pada Ines dan membuat Melia menyikut sahabatnya dengan lembut.
“ Cepetan…” gumam Melia yang entah mengapa kali ini mendukung sahabatnya tersebut padahal ia selama ini selalu menjadi tameng untuk pria- pria iseng yang ingin mendekati Ines.
Dengan ragu Ines berjalan dan tidak memperdulikan uluran tangan Sakha yang membuat Adam cukup puas karena baru kali ini sahabatnya mendapatkan perlakuan seperti itu.
***
“ Selamat, pak Sakha… Restorannya bagus sekali dan makanannya luar biasa. Seperti biasa, pekerjaan anda selalu luar biasa.” ucap salah seorang rekan Sakha.
“ Terima kasih, pak. Jangan lupa untuk selalu membawa keluarga untuk mampir kesini. Saya akan dengan senang hati melayani kalian.”
“ Pilihan tempatnya juga sangat luar biasa strategis. Hebat…” puji salah satu pria lainnya yang membuat mereka berlima tertawa.
“ Sengaja, pak. Laki- laki biasanya akan bosan kalau tungguin anak- anak atau istrinya atau mungkin pacarnya. Dan begitu selesai, pasti udah malas untuk jalan nyari tempat makan lagi. Nah disitulah restoran ini akan menarik untuk mereka.” jelas Sakha tentang posisi restorannya yang berdekatan dengan playground dan salon kecantikan tersebut.
“ Hebat… Hebat… Jadi sebenarnya target pasar pak Sakha itu bukanlah anak- anak, tapi bapak- bapak kecapean.” canda salah satunya lagi.
“ Benar, pak. Untuk bapak- bapak yang lagi bosan.” ucap Sakha yang sejak tadi mencuri pandang pada Ines yang nampak sedang melakukan panggilan video dengan seseorang dan nampak tersenyum manis.
“ Kalau begitu kami permisi dulu, pak. Terima kasih atas jamuannya dan kami pastikan nanti akan sering mampir kesini. Anak- anak saya pasti akan sangat suka.
“ Terima kasih, pak. Saya tunggu kedatangan kalian.” ucap Sakha pada tamu terakhirnya tersebut lalu mengantarkan mereka sampai menuju depan lift.
“ Mau pulang, kak?” tanya Sakha pada Sonya dan Jasmine yang masih berjalan menyusulnya.
“ Aku malas melihat kamu masih main- main nggak jelas. Kita lihat aja sampai kapan hubungan kalian akan bertahan.” jawab Sonya.
“ Kok gitu sih ngomongnya. Kenapa nggak doain aku sama Ines bisa langgeng. Bisa serius. Dan bisa aja dia adalah jodoh aku.” ucap Sakha.
“ Kamu kenal dia? Keluarga dia? Asal usul dia? Masa lalu dia? Apa cukup pantas jadi istri kamu dan bagian dari keluarga kita?” cecar Sonya dengan sinis.
“ Kak… Kan yang penting aku bahagia. Dia cinta sama aku dan aku cinta sama dia. Itu aja kan yang paling penting….”
“ Kamu kira cinta aja cukup? Kamu kira kamu bisa bahagia dengan cinta aja? Kamu yakin kamu nggak akan kecewain mendiang mama dengan berhubungan sama dia?! Putuskan dia dan cari yang jauh lebih baik untuk kamu permainkan.” ucap Sonya yang langsung memutar tubuhnya saat melihat Ines berjalan ke arah mereka.
“ Kak…” panggil Sakha.
“ Aku duluan ya, Sakha… Salam sama Adam. Tadi nggak sempat ngobrol.” ucap Jasmine yang kini mengikuti Sonya masuk ke dalam lift dan melambaikan tangannya pada Sakha tepat sebelum pintu tersebut tertutup.
“ Ines… Mau kemana?” tanya Sakha yang mendapati Ines berdiri tepat di depan lift yang berada di sebelah lift yang Sonya tumpangi tadi.
“ Nungguin seseorang.” jawab Ines singkat.
“ Makasih ya untuk malam ini. Kamu udah mau bantuin dan —-“
“ Kak… Aku pulang ya…” sela Arisa yang juga sudah akan pulang.
“ Sama siapa? Kenapa nggak bareng kak Sonya tadi?”
“ Aku mau mampir ngambil barang aku dulu di lantai 7. Lagian aku sama teman.” jawab Arisa sambil menoleh pada kawan wanitanya.
“ Oh… Kalian hati- hati ya…” ucap Sakha sambil memeluk singkat adik perempuannya.
“ Kak Ines… Duluan ya…” sapa Arisa pada Ines yang tadi memang sempat berkenalan dengannya.
Ines hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Arisa yang sikapnya sangat berbeda dengan Sonya.
“ Kak, jangan lupa loh… Besok di rumah kak Sonya bikin acara makan malam untuk memperingati hari meninggalnya mama dan papa. Jangan nggak datang lagi.” ucap Arisa dengan sedikit lebih keras karena sudah berjalan menjauhi saudaranya tersebut.
“ Iyaaaa…” seru Sakha lalu kembali menoleh pada Ines.
“ Ines, kamu—-“
Plakkk!!!
Satu tamparan keras langsung Ines berikan pada wajah tampan tersebut dengan wajah yang terlihat marah dan membuat Sakha terkejut bukan main.
“ Bisa- bisanya kamu menjual nama mama kamu untuk meluruskan niat kamu. Bisa- bisanya kamu berbohong hanya untuk kepentingan kamu. Orang macam apa sih kamu? Kamu nggak perlu membawa nama mendiang mama kamu hanya untuk kebohongan.” ucap Ines yang kini membuat Sakha sadar jika tadi ia sempat mengatakan tentang ibunya.
“ Ines, saya bisa jelasin. Saya nggak—-“
Pintu lift di hadapan Ines kini telah terbuka dan Ines langsung tidak menghiraukan ucapan Sakha dan menyambut orang yang baru saja keluar dari lift tersebut dengan ekspresi wajah yang berubah bahagia.
“ Mama… Mama…” seru Bibi dengan antusias sambil menyambut pelukan Ines yang langsung menggendongnya.
“ Mama???!!!” batin Sakha yang terkejut mengetahui jika Ines ternyata sudah memiliki anak.
“ Kita langsung turun aja ya…” ucap Ines pada ibunya dan tidak lagi memperdulikan Sakha sama sekali.