“ Malam, Sakha… Maaf mengganggu kamu…” sapa Sonya yang kini nampak tegang. Wanita yang datang bersamanya pun kini hanya bisa menunduk.
“ Please, saya mohon. Saya sangat butuh bantuan kamu saat ini.” bisik Sakha lagi sebelum melepaskan pelukannya.
“ Kak Sonya… Hai…” ucap Sakha yang kini mencoba terlihat biasa saja.
“ Kelihatannya kamu sibuk banget.” sindir Sonya yang sama sekali tidak menoleh pada Ines.
“ Kenalkan, ini Jasmine. Anak teman aku. Sengaja aku bawa kesini untuk cobain makanan restoran kamu. Sekalian ketemu sama pemiliknya.”
“ Oh, hai… Selamat malam. Terima kasih sudah datang.” sapa Sakha dengan sopan masih dengan satu lengan yang merangkul pinggang Ines yang nampak tidak nyaman dan tangan lainnya ia ulurkan untuk menyalami gadis tersebut.
“ Sama- sama. Restoran kamu bagus sekali.” ucap Jasmine dengan sopan.
“ Lalu wanita cantik ini siapa? Hai…” sambung Jasmine yang paham akan aura canggung mereka berempat saat ini.
“ Oh, maaf… Ini Inessa. Pacar saya.” jawab Sakha yang membuat kedua mata Ines yang tadinya mencari keberadaan Melia, berubah membelalak kaget dengan tiba- tiba.
“ Tiga unit mobil. Please…” bisik Sakha lagi tepat di pelipis Ines dengan lembut. Saking begitu dekatnya, hingga ia bahkan bisa mencium aroma wangi rambut panjang berlayer tersebut.
“ Sayang, ini kak Sonya yang sering aku ceritakan. Dan ini Jasmine. Teman kak Sonya.” ucap Sakha yang kembali memasang senyum manis dan ramahnya.
“ Sakha, bisa tunjukin dimana restroom?” sela Sonya yang mulai kesal dengan sikap adiknya saat ini.
“ Ng… Nanti kak Sonya terus aja. Belok kiri sedikit dan—-“
“ Antarin aku, Sakha…” ucap Sonya yang masih mencoba terlihat tenang meski ia tahu Sakha sebenarnya sengaja untuk tidak memahami maksudnya.
Dari arah yang lainnya, nampak Arisa juga mendatangi meja mereka dan Sakha langsung memberinya bahasa isyarat dengan gerakan matanya.
“ Aku temanin aja, kak…” ucap Arisa yang kini sudah ada diantara mereka.
“ Aku juga sekalian mau ke restroom. Permisi ya…” imbuh Jasmine.
Arisa kemudian menarik lengan kakak tertuanya dan berjalan menjauhi Sakha dan Ines yang kini langsung ingin meraih tas miliknya karena hendak meninggalkan tempat tersebut.
“ Kamu mau kemana?” tanya Sakha heran sambil meraih lengan Ines dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari pemilik lengan tersebut.
“ Maaf… Tapi kamu mau kemana?”
“ Saya nggak tahu kenapa saya diam saja. Tapi saya nggak tertarik masuk dalam drama percintaan perjodohan keluarga kalian. Permisi.”
“ Please… Please… Aku minta maaf soal tadi. Tapi aku terpaksa melakukan ini karena aku nggak mau. Aku nggak setuju dan aku punya alasan. Tolong jangan pergi dulu.” ujar Sakha sambil mengikuti langkah Ines yang hendak keluar dari restorannya dan beberapa pasang mata kini sedang memperhatikan gerak gerik mereka berdua.
“ Aku janji aku akan tepatin yang aku bilang tadi. Aku akan beli 3 unit mobil kamu. Terserah kamu mau proses cash atau credit. Yang penting nyaman dan menguntungkan buat kamu. Dan aku akan lakuin apapun yang kamu mau dan berapapun yang kamu minta.” sambung Sakha lagi karena Ines seperti tidak menghiraukan ucapannya.
“ Inessa… Tolong…” ucap Sakha dengan lembut dan mencoba meraih pergelangan tangan Ines ketika mereka sudah sedikit lebih jauh dari arah restoran dan mendekati lift.
Ines menghentikan langkahnya dan kemudian memutar tubuhnya menghadap tubuh tinggi atletis tersebut yang ia yakini pasti memiliki kekasih lainnya.
“ Apa semua orang di mata kamu bisa kamu bayar dengan uang? Apa semua orang disekitar kamu hanya bisa kamu hargai dengan uang?”
“ Apa kamu sadar kalau tadi kamu sudah mempermalukan saya dan perempuan tadi? Kamu pikir kamu siapa? Dengar Tuan 3 mobil, saya nggak tertarik sama sekali dengan penawaran anda. Saya bisa menjual mobil 3 unit bahkan tanpa harus mengurusi drama percintaan anda. Permisi.”
“ Inessa… Tolonglah… Demi mama saya…” ucap Sakha yang kembali membuat Ines menghentikan langkahnya namun langsung berjalan di menit selanjutnya.
“ Mama saya pasti akan sangat kecewa dengan ini. Dan selama ini saya sudah banyak mengecewakan beliau. Andai ada satu hal yang akan bikin mama senang, itu hanyalah dengan tidak menikahi anak dari musuhnya. Tapi kamu memang nggak perlu bertanggung jawab soal ini. Saya nggak berniat untuk mempermalukan kamu atau siapapun, saya hanya berharap kita bisa saling membantu. Maafkan saya. Tapi saya akan tetap beli mobil dari kamu.” sambung Sakha tepat disaat Ines belum memasuki pintu lift yang kini telah terbuka untuknya.
Sakha kemudian hanya bisa menghela nafas dengan kecewa karena Ines tidak lagi terlihat di hadapannya. Ia bahkan berdiri selama beberapa menit untuk menatap ke arah main hall yang berada di lantai bawah dimana outlet Ines bekerja dan sedikit merasa bersalah pada wanita tersebut. Ia memang sudah bertindak terlalu jauh pada Ines yang sama sekali tidak dikenalnya.
Dan meski sedikit heran karena biasanya para wanita tidak pernah menolaknya, namun kali ini ia juga penasaran dan sedikit kecewa karena untuk pertama kalinya ia akhirnya mendapati seorang wanita yang menatapnya dengan tatapan sinis dan marah bukan karena ia tidak mengingat namanya atau karena kabur setelah malam panjang mereka. Biasanya para wanita yang berkenalan dengannya, akan selalu memberikan senyuman dan tampilan terbaik mereka hanya agar bisa mendapatkan ciuman dan pelukannya. Mereka bahkan dengan senang hati merangkak untuk bisa naik ke atas tempat tidurnya.
Dengan lesu Sakha kemudian kembali berjalan memasuki restorannya dan menyalami salah seorang rekan yang datang memenuhi undangan darinya bersama keluarga kecilnya.
“ Pak Sakha, terima kasih undangannya. Anak- anak senang sekali saat diajak ke restoran jepang.” ucap pria yang memiliki garis keturunan Tionghoa tersebut.
“ Sama- sama, pak. Mari… Silahkan masuk. Akan ada teman saya yang melayani kalian.” jawab Sakha sambil memberikan isyarat dengan tangannya kepada salah seorang pelayan restoran tersebut.
Keluarga kecil tersebut lalu masuk ke dalam restoran Sakha tepat disaat ponselnya berdering dan nama Adam ada disana.
“ Dimana sih loe? Lama banget.” tanya Sakha langsung mencecar sahabatnya tersebut.
“ Ini… Udah naik ke atas. Sabar pak sopir…” canda Adam.
“ Bercanda aja terus… Sampai disini loe bakalan nangis.”
“ Kenapa?”
“ Datang aja. Loe bakalan tahu sendiri.” jawab Sakha dengan cepat karena Sonya telah berjalan ke arahnya dengan tatapan kejamnya.
“ Mana pacar kamu? Udah pulang? Aku tahu ini semua hanya akal- akalan kamu aja. Dia bahkan kelihatan nggak nyaman dekat kamu. Kamu hanya mau menghindari Jasmine kan? Kamu pikir bisa membodohi aku lagi? Nggak bisa, Sakha. Nggak akan. Aku udah bilang sama kamu kalau ini kesempatan terakhir kamu. Dan kalau kamu tetap nggak punya pacar, aku yang akan cariin buat kamu. Jadi kamu nggak perlu terus banyak main sama perempuan- perempuan nggak jelas itu. Ingat, kalau sampai bulan depan saat kamu ulang tahun yang ke 30 dan kamu masih belum menikah, dewan direksi terpaksa mengganti kamu.” ujar Sonya dengan tegas.
“ Kak, please…”
“ Peraturan tetaplah peraturan, Sakha. Kamu tahu itu syarat dari wasiat mama dan papa.”
“ Tapi kak… Aku kan udah kerja yang baik selama ini. Aku udah membawa perusahaan kita lebih maju, prof—-“
“ Lalu? Apa dengan semua prestasi kamu itu bisa membuat wasiat papa berubah? Bisa kamu minta sama papa untuk mengubah itu? Bisa kamu membujuk mama? Sekarang mulai acaranya, dan umumkan Jasmine sebagai pacar kamu, baca ini!” ucap Sonya yang memberikan selembar kertas yang berisikan pidato sambutan singkat yang didalamnya menyebutkan nama Jasmine.
“ Dan ingat, bulan depan, yeah… Sekitar 40 hari lagi, kamu sudah harus berubah status menjadi seorang suami untuk tetap ada di posisi kamu sekarang, Sakha. Usia 30 tahun memang usia yang bagus untuk menikah. Papa memang sangat mengenal kamu.” sambung Sonya dengan puas.
“ Kak… Aku—-“
“ Maaf… Apa udah mulai?” tanya Ines yang kini berdiri tepat di belakang Sakha dan membuat pria tersebut menoleh.
Wajah Sonya yang tadinya merasa puas karena telah berhasil bisa memojokkan adiknya tersebut, kini kembali terlihat tegang dan menatap Ines dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
“ Kamu…”
“ Maaf, AKU dari toilet. Lama ya?” tanya Ines dengan wajah yang terlihat salah tingkah dan malu dan menekankan kata aku agar Sakha mengerti maksud kalimatnya.
“ Nggak… Nggak sama sekali.” jawab Sakha yang masih bingung dan terkejut akan kedatangan wanita yang telah berganti pakaian tersebut.
“ Acaranya baru akan aku mulai. Ayo masuk.” sambung Sakha yang entah apapun yang sedang coba Ines lakukan saat ini, yang jelas ini bisa membuat Sonya kembali kesal dan hendak meninggalkan mereka berdua.
“ Mulai saja sekarang acaranya, aku lapar.” ucap Sonya sambil melangkah dan kembali memasukkan selembar kertas tersebut ke dalam tas mahal miliknya.
“ Ada apa?” tanya Sakha ketika Sonya sudah pergi dan menjauh dari mereka.
“ 3 mobil. Dan ini demi mama kamu.” jawab Ines dengan jujur.
“ Oke. Tapi kenapa?”
“ Bukan urusan kamu. Kamu bilang kita bisa saling membantu. Dan terima kasih sama sahabat aku karena berhasil membujuk aku.”
“ Halo, selamat malam…” sapa Melia yang kini berjalan ke arah mereka sambil melambaikan tangannya.