Bab 4. Bertekad Balas Dendam

866 Words
"Ini tiga desain yang sudah saya kerjakan." Aruna meletakkan tiga kertas ke depan Jingga. Sang klien premium. Sebutan yang dipilih oleh atasannya. Dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk membuat tiga desain yang menurutnya akan sesuai dengan karakter Jingga dan cocok dipakai perempuan secantik Jingga. Tidak hanya berparas cantik, tubuh Jingga juga bagus. Proporsional dengan tinggi badannya. Aruna memperhatikan ketika Jingga melihat hasil gambarnya. Melihat kening Jingga mengernyit, Aruna menelan saliva. Mungkin Jingga tidak menyukai desain yang ia buat, batin ibu dua anak tersebut. Aruna menarik pelan napasnya. Ia sendiri tidak yakin desain miliknya akan disukai orang lain, meskipun menurutnya ketiga desain itu semuanya bagus. Ya, bagus sesuai seleranya. "Kalau Mbak Jingga tidak suka--" "Siapa bilang aku tidak suka?" Kepala Jingga terangkat. Wanita itu menatap perempuan yang duduk di depannya terpisah meja dengan alis terangkat. Sementara yang ditatap oleh Jingga mengerjap dengan sepasang bibir terbuka. Tampak kebingungan. Jingga tertawa kecil melihat ekspresi wajah Aruna. "Aku suka, kok. Aku justru sedang bingung harus memilih yang mana karena tiga-tiganya bagus." Jingga menambahkan. Wanita yang tak lama lagi akan segera melepas masa lajang tersebut tersenyum melihat Runa menghembus napas lega "Kamu kemana saja selama ini?" "Maksudnya? Tempat tinggal saya?" Runa tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat Jingga menggeleng. Runa menunggu. "Maksudku, desainer dengan ketrampilan luar biasa seperti kamu, selama ini sembunyi dimana? Kenapa tidak banyak orang tahu tentang kamu? Kenapa kamu malah kerja di wedding organizer? Kenapa tidak bekerja di butik atau buka butik sendiri? Sayang loh, keahlian kamu tidak bisa dinikmati banyak orang." Aruna berdehem. "Mbak Jingga terlalu memuji. Saya tidak sehebat itu. Saya masih amatiran." Jingga menggeleng tidak setuju. "Kamu yang terlalu merendah. Ya ampun, aku beruntung menemukan keahlianmu." Runa tersenyum tidak enak hati. Merasa tidak layak mendapat pujian setinggi itu dari Jingga. Runa menarik pelan namun panjang napasnya. "Tunggu sebentar, ya? Aku beneran bingung harus memilih yang mana. Kalau saja akad boleh pakai gaun pengantin, aku akan pilih dua. Tapi, itu tidak mungkin. Mama mertuaku orang Jawa. Semua anak-anaknya pakai kebaya waktu akad. Aku juga sama. Dan mama sudah memesan kebaya untuk acara itu." "Begitu, ya?" "Eh, apa kamu sudah menikah? Sepertinya kita seumuran." Jingga memperhatikan perempuan di depannya yang ternyata tidak hanya handal mengurus pesta pernikahan, tapi juga pandai membuat desain gaun pengantin. Runa mengangguk. "Anak saya dua, Mbak. Kembar laki-laki, tapi, yang satu meninggal waktu lahiran." Runa berusaha untuk menarik garis bibir ketika melihat ekspresi wajah Jingga berubah. "Oh, ya ampun. Maaf, aku jadi mengingatkanmu." "Tidak masalah. Sudah lama kok kejadiannya. Sudah 9 tahun lalu." Tarikan napas pelan Runa lakukan. Kalangga. Hanya itu yang dia ingat dari putranya yang sudah berpulang terlebih dahulu, bahkan sebelum ia melihatnya. "Apa? Sembilan tahun lalu? Jadi ... Kamu nikah muda?" tanya terkejut Jingga mendengar cerita Runa. "Ya ampun. Umur berapa itu?" "Delapan belas." Runa tersenyum melihat ekspresi terkejut Jingga. "Lulus SMA?" "Iya." "Wah ... Hebat juga kamu berani nikah muda. Jadi, sekarang putramu sudah berumur 9 tahun ya?" Melihat anggukan kepala Runa, Jingga menggumam. "Sudah SD." "Kelas tiga," sahut Runa berhasil membuat Jingga menganga. Tidak menyangka jaman sekarang masih ada yang berani nikah muda, disaat banyak orang takut menikah karena banyaknya perceraian. "Aku benar-benar tidak menyangka kamu sudah punya anak umur 9 tahun." Jingga berdecak seraya menggelengkan kepala. "Wah, aku jadi ingin bertemu putramu. Mas Dewa punya banyak saudara. Mereka sudah menikah semua." Jingga terkekeh. "Calon suamiku itu menyukai anak kecil. Kalau kumpul, ya ampun ... ramai banget. Kapan-kapan bawa putramu bertemu keponakan-keponakan mas Dewa. Pasti mereka suka." Runa hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Tidak benar-benar menanggapi serius perkataan Jingga. Mana mungkin dia dan Lingga datang menemui keluarga calon suami Jingga. Itu jelas tidak mungkin. Lagi pula siapa mereka dan apa hubungan mereka? Suara ketukan pada daun pintu mengalihkan perhatian dua orang perempuan yang berada di dalam sebuah ruang privat. Mereka bertemu sekalian makan siang. "Itu sepertinya mas Dewa," ujar Jingga tanpa mengalihkan pandangan mata dari benda yang masih tertutup. Dan begitu pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan sosok yang kini berjalan masuk, Jingga tersenyum lebar. Dewa melirik sosok perempuan yang duduk di depan Jingga. Tidak lama. Pria itu tersenyum ketika tatapan matanya terpaut netra calon istrinya Sebenarnya Dewa tidak ingin bertemu lagi dengan Aruna. Namun, apa yang Kala katakan membuatnya memaksakan diri. Demi untuk membalas dendam dengan memperlihatkan keberhasilan dan kebahagiaannya. "Maaf aku terlambat, Sayang. Ada meeting penting. Nilai proyeknya ratusan miliar, jadi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Jingga menatap mengernyit sang calon suami. Merasa aneh mendengar apa yang dikatakan oleh Dewa, yang terdengar begitu sombong. Sejak kapan Dewa suka membicarakan nilai proyek di depan orang asing? "Aku juga baru saja tanda tangan kontrak--" Dewa menghentikan kalimatnya begitu melihat gelengan kepala Jingga. Pria itu menghampiri calon istrinya. "Lihat hasil desain Runa. Dia ini ternyata sangat berbakat. Aku sampai bingung harus memilih yang mana. Dia buat tiga desain dan aku suka tiga-tiganya. Makanya aku butuh pendapat kamu, Mas." "Kenapa bingung? Ambil saja tiga-tiganya. Uang bukan masalah untuk keluarga kita." Dewa kemudian menoleh ke arah perempuan yang masih diam. Menatap wanita itu dengan alis terangkat, lalu bertanya. "Berapa semuanya? Lima ratus juta ... atau satu miliar? Biar aku transfer uangnya sekarang," kata Dewa seraya menarik keluar ponsel dari saku jas bagian dalam. Bersiap untuk memindahkan uang dari rekeningnya ke rekening Aruna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD