Bab 3. Kalingga

1241 Words
“Ya, Sayang. Kenapa menangis? Anak laki-laki harus kuat, dong. Kan Lingga besok yang jagain Buma kalau Buma sudah tua.” Runa menatap putranya dari layar ponsel. Mereka sedang melakukan video call. Hari ini ia memiliki banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan, sehingga ia tidak bisa pulang tepat waktu. Tidak. Putranya menangis bukan karena ia tinggal lembur. Runa tahu itu, karena hari ini bukan pertama kalinya ia meninggalkan Lingga bersama asisten rumah sampai malam. “Tadi ada yang bully Mas di sekolah, Mbak.” Wajah asisten rumah muncul pada layar ponsel Runa. Memberitahu penyebab Kalingga menangis saat menghubungi sang ibu. Runa terdiam dengan sepasang mata mengedip. Tarikan napas samar wanita itu lakukan. Lagi dan lagi. Pembulian. Tanpa sadar satu tangan yang bebas ibu satu anak itu mengepal, sementara bibirnya memaksakan senyuman terlihat oleh dua orang yang masih tersambung dengannya. “Lingga jangan sedih. Lingga punya ayah, kok. Kasih lihat saja foto ayah sama teman-teman.” Seolah yakin penyebab pembulian tersebut, Runa menenangkan sang putra. Menahan nyeri di dalam d*da melihat wajah basah putranya. "Runa, acara minggu depan semua sudah siap, kan?" Runa memutar kepala. "Sudah, Mbak." "Jangan lupa cek vendor satu-satu. Aku nggak mau ada miss sedikitpun." "Siap, Mbak. Saya akan cek ulang satu satu." Runa tersenyum. "Oke. Trus soal klien premium kita gimana?" tanya Indira lagi. "Lingga dengar, kan? Buma Lingga sedang kerja, Lingga sama bide dulu, ya?" Aruna mendengar suara asisten rumahnya. Namun, dia masih fokus dengan atasannya. "Mbak Jingga bilang, dua hari lagi mau ketemuan. Kemarin mbak Jingga ternyata kurang sehat." Runa menceritakan. "Oke. Oh ... Halo Lingga. Kenapa menangis? Lingga kangen Buma, ya? Maaf ya, Buma masih harus kerja dulu." Indira yang sudah menyadari jika layar ponsel yang berdiri di atas phone holder di depan Runa menyala, menunduk hingga ia bisa menatap sosok anak kecil pada layar. Runa pun mengembalikan perhatian pada layar ponsel di atas meja. Kembali menatap wajah dengan sepasang mata memerah. "Lingga sabar dulu, ya. Sebentar lagi buma Lingga pulang kok." Indira memberitahu Lingga. Di layar, tampak Lingga mengangguk. "Buma jangan lama-lama pulang ya, Lingga mau belajar dulu." Lingga berpamitan pada sang ibu. Dengan sepasang mata yang masih merah, Lingga melambaikan tangan sebelum berucap, "Assalamu'alaikum, Buma. Assalamu'alaikum bos Buma." Indira tertawa mendengar Lingga memanggilnya bos buma. "Anakmu itu menggemaskan sekali, Runa. Makin besar juga makin ganteng saja dia." Wanita tersebut menarik napas panjang. "Coba kalau Kalangga ada." Runa mengerjap. Wanita itu menatap sang atasan. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Apa kamu masih belum bisa mengingatnya?" tanya Indira yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Runa. "Semoga kamu bisa segera mengingatnya," doa Indira sembari tersenyum membalas tatapan Runa. Indira menepuk dua kali bahu Runa, sebagai tanda memberi dukungan pada bawahannya. Indira lalu melanjutkan ayunan kakinya menjauh dari meja yang ditempati oleh Runa. Runa terdiam. Lipatan halus di kening wanita itu tampak mulai lebih jelas, sebelum kemudian menghilang ketika sang pemilik memutuskan untuk tidak melanjutkan pencariannya. Satu kotak memori itu masih belum terbuka. Tarikan napas dalam Runa lakukan. Kepalanya menggeleng pelan. Membelah sepasang bibirnya, wanita itu memasukkan sebanyak mungkin oksigen untuk mengembangkan paru-paru yang menyempit. Ruma masih menatap punggung Indira. Sosok yang begitu berarti baginya. Seseorang yang selama ini banyak membantu dirinya. Ada dua orang lagi yang banyak berjasa, yang sayangnya sudah tak lagi bersama dirinya. Nenek tercintanya. Perempuan baik hati yang menggantikan peran ibu kandungnya. Dan seorang pria yang tak lain adalah suaminya. Laki-laki itu memang tak selalu ada di sampingnya. Sebagai abdi negara, Tama mengikuti perintah atasan. Bertahun-tahun bertugas di Aceh, sampai sebuah tragedi merenggut nyawanya. Setelah tak ada lagi Tama, Runa pun tidak bisa melanjutkan hidup di desa. Terlebih neneknya sudah lebih dulu meninggal. Indira yang kemudian menjadi penyelamatnya. Keponakan suaminya itu mengajak dirinya bekerja di Jakarta. Lamunan Runa buyar ketika ponselnya berbunyi. Buru-buru Runa mengambil ponsel yang masih berdiri di phone holder. Melihat nama klien premiumnya, Runa segera menekan tombol terima lalu membawa benda tersebut ke telinga kanan. "Selamat malam, Mbak Jingga." Runa menyapa orang yang kini terhubung dengannya. "Masih di kantor atau sudah pulang?" "Masih di kantor, Mbak. Bagaimana? Ada yang bisa saya bantu?" "Aku baru saja scroll Ig kalian. Kamu bisa design gaun pengantin juga, ya?" Sepasang mata Runa mengerjap. "Oh itu ... Tapi mungkin tidak sesuai dengan selera orang seperti Mbak Jingga." "Memangnya aku orang seperti apa? Buktinya aku suka design yang pernah kamu buat. Jadi, tolong bantu aku ya" "Maksud Mbak Jingga, bikin desain gaun pengantin buat mbak Jingga?" tanya Runa memastikan. "Iya. Aku mau kamu yang bikin. Aku suka banget desain kamu, Runa. Anggun, elegan, berkelas, meskipun sederhana. Aku tidak suka yang terlalu gemerlap." Runa terdiam di tempatnya. Apa dia tidak salah mendengar? Jingga itu klien premium loh. Dia bisa pakai desainer terkenal dengan harga gaun ratusan juta. Kenapa malah memilih dirinya yang tak punya nama di dunia fashion? "Runa, kamu mendengarku, kan?" "Oh ... I-i-iya, Mbak. Tapi, apa Mbak Jingga yakin? Maksud saya, saya kan--" "Yakin, Runa. Aku sudah kasih lihat contoh desain gaun pengantin yang kamu buat ke mas Dewa, dan dia juga suka. Apalagi mama Naya, katanya bagus banget. Cocok buat aku. Calon mertuaku itu orangnya simple, Runa." Runa menghembus napas pelan. "Begitu, ya?" "Iya. Jadi tolong sekalian buatkan aku gaun pengantin yang akan aku ingat seumur hidupku, ya." Mendengar permintaan Jingga, Runa menelan saliva susah payah. Jujur saja dia masih belum yakin orang kaya seperti Jingga memilih memakai gaun pengantin darinya. "Runa, please." Tarikan napas dalam Runa lakukan, sebelum akhirnya menjawab. "Baiklah kalau begitu. Saya akan usahakan." "Terima kasih, Runa. Acaranya juga masih 6 bulan lagi. Kamu pasti bisa menyelesaikannya." Jingga lega mendengar jawaban dari Runa. "InsyaAllah, Mbak." **** Setelah hari dimana Runa menyanggupi untuk membuat gaun pengantin tersebut, wanita itu mulai bekerja disela-sela waktu mengurus wedding klien-kliennya. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, membuat waktu untuk bersama Lingga tersita. Wanita itu mengusap pelan kepala sang putra yang sudah tidur. Hari ini dia lembur lagi. Saat sampai di rumah, sang putra sudah terlelap. Duduk di tepi ranjang, Runa membungkuk, mengecup kening putranya. "Buma." Dengan sepasang mata tertutup, anak berusia 9 tahun itu memanggil sang ibu. "Iya, Sayang. Buma di sini. Temenin Lingga." Runa tersenyum. Tangan kanannya bergerak lagi, membelai sayang kepala Lingga. Wanita itu mengedip. "Maafin Buma, Sayang." "Tadi mas Lingga berkelahi di sekolah, Mbak." Runa menoleh, menatap wanita paruh baya yang membantunya menjaga Lingga saat dia bekerja. "Berkelahi, Bude?" Runa memang memanggil asisten rumahnya dengan panggilan bude. Dia mengenal baik wanita yang berasal dari desa tempat tinggalnya. "Kenapa?" tanya Runa begitu melihat kepala sang asisten rumah mengangguk. "Kata mas Lingga, anak itu selalu mengejeknya. Katanya mas Lingga nggak punya ayah." Sang asisten mulai bercerita. "Waktu mas Lingga perlihatkan foto ayahnya, anak itu bilang ayah mas Lingga jelek." Sepasang mata Runa mengerjap. "Apa sebenarnya mau anak itu?" tanya Runa. "Kok Bude tidak menghubungiku tadi?" Sepasang alis Runa berkerut. Sang asisten menghela napas. "Tidak boleh sama mas Lingga, Mbak." "Ya Allah." Runa tidak habis pikir. "Apa salah Lingga? Memangnya kenapa kalau bapak Lingga jelek? Bapak Lingga pria baik." "Saya juga heran, Mbak. Makanya saya tidak bisa menyalahkan mas Lingga. Kasihan mas Lingga, Mbak." Runa menghentak napasnya. Sepasang matanya menatap wajah tenang sang putra. "Apa ada yang terluka?" tanya khawatir Runa. Wanita itu mulai mencari-cari. "Tangannya tadi memar, tapi sudah saya kompres es." "Tidak di kampung, tidak di sini ... kenapa selalu ada yang membuli Lingga hanya karena dia putra mas Tama?" keluh Runa dengan sepasang mata yang sudah berlapis kaca bening. "Siapapun yang melihat foto Pak Tama, akan sulit mempercayai hubungan ayah dan anak dengan Lingga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD