“Berhenti minum.” Kala mendesah. Pria itu menarik kursi bar, kemudian ikut duduk di sebelah sang saudara kembar. Setengah jam yang lalu Dewa menghubungi, mengajaknya bertemu di tempat ini.
Kala mengedarkan pandangan mata. Beberapa meja terisi. Pria itu mendesah sekali lagi. Sebenarnya mereka tidak terbiasa datang ke tempat seperti ini. Dulu, saat masih muda mungkin, tapi, tidak setelah mereka mulai membantu bekerja di perusahaan keluarga.
Terlalu sibuk mengurus perusahaan hingga membuat mereka tidak punya banyak waktu bersenang-senang. Apalagi setelah menikah, praktis Kala pribadi tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini.
Kala mengembalikan perhatian pada sang kembaran yang ternyata masih belum berhenti minum. Kala geleng kepala.
“Kamu kenapa, sih? Perasaan dulu waktu mau nikah, aku nggak se-stres kamu sekarang. Justru aku hepi.”
“Ini.” Bukannya menjawab, Dewa justru mendorong gelas kosong ke depan sang saudara kembar, lalu menuang isi botol ke dalamnya. “Alkoholnya enol persen.”
“Apa? Mana ada bir alkohol enol persen,” keluh Kala. Pria itu menatap tak percaya sang saudara.
“Tulisannya begitu. Kalau ternyata ada alkoholnya, salah produsennya, bukan aku,” sahut enteng Dewa.
“Dasar sinting. Lo ada masalah apa sebenarnya? Ada masalah sama Jingga?” tebak Kala.
Dewa menenggak minuman dalam gelas kecil. Mendesah nikmat seraya meletakkan kasar gelas ke atas meja. Kala menoleh, menatap sang kembaran yang langsung mengangkat kedua alis. Kala menarik panjang napasnya.
“Ada apa? Jangan bilang lo mau mundur sekarang. Bisa gila nanti si Jingga,” ujar Kala ketika sang saudara hanya menatapnya dengan ekspresi menyebalkan. "Gue ngikutin elo, Wak. Lo bilang salah produsennya," tambah Kala bisa menebak arti tatapan sang saudara kembar.
Dewa terkekeh pelan. Meluruskan pandangan ke arah botol-botol yang tertata di rak bartender, pria itu menelan saliva. “Aku ketemu dia.”
“Hah? Memangnya kenapa? Jelas lo harus ketemu dia. Sudah sembuh vertigonya?” tanya Kala di ujung kalimat. Dia mendengar dari istrinya jika vertigo Jingga sedang kumat.
“Bukan Jingga.”
“Bukan Jingga? Trus siapa? Ngomong yang jelas, Wak.”
Dewa menekan-nekan katupan rahangnya. Mengambil kembali botol lalu menuang isinya ke dalam gelas yang sudah kosong. “Runa,” kata Dewa tanpa menoleh. Pria itu menatap isi dalam gelas, lalu kembali menenggak cairan bening tersebut.
Meskipun tampak berbeda, namun Dewa masih bisa mengenali wajah itu. Sepuluh tahun sudah terlewat dari terakhir kali ia melihatnya.
Suasana hening. Dua orang yang memiliki wajah serupa itu sama-sama diam. Pikiran dewa melayang, kembali ke masa lalu. Sementara Kala tertegun begitu mendengar satu nama yang sudah sangat lama tak pernah lagi disebut oleh saudara kembarnya.
Kala menatap sang kembaran seraya menarik napas panjang. Sedang mencoba menerka apa yang dipikirkan oleh kembarannya tersebut. Kini dia tahu apa yang membuat saudaranya sekacau ini. Ya, Runa—gadis itu selalu sukses merusak hidup Dewa.
Dulu, Runa memutuskan hubungannya dengan Dewa secara sepihak. Membuat Dewa cukup lama patah hati. Lalu, sekarang perempuan itu muncul lagi disaat Dewa sudah akan menikah? Apa maksudnya?
“Dimana lo ketemu dia?” tanya Kala yang langsung mengernyit begitu mendengar tawa Dewa. Pria itu masih memperhatikan sang kembaran yang tampak sedang stres.
“Dunia ini panggung sandiwara. Ternyata benar.” Dewa sudah menghentikan tawa. Dia baru saja menertawakan dirinya sendiri. Sungguh luar biasa takdir yang sedang menghampirinya. Masih menundukkan kepala menatap gelas yang ia putar-putar sendiri, Dewa menambahkan. “Dia yang mengurus acara pernikahanku besok.”
“Apa? Maksud lo?” Sepasang mata Kala terbelalak. Begitu terkejut mendengar informasi dari sang saudara kembar. Mulut pria itu bahkan sampai menganga.
“Dia WO yang disewa Jingga.”
“Hah?” Lagi, informasi dari Dewa membuat Kala melongo.
“Lucu, kan?”
Kala sempat terdiam sebelum akhirnya pria itu menepuk-nepuk punggung Dewa. “Justru bagus. Saatnya lo balas dendam sama dia. Perlihatkan sekarang lo sudah sukses dan bahagia. Dia pasti menyesal karena sudah ninggalin elo.”
“Balas dendam?”
“Iya lah. Perempuan seperti itu harus dikasih penyesalan seumur hidup,” ujar Kala penuh semangat.
“Gimana mau balas dendam? Dia saja sudah nggak ingat aku.”
“Apa?” Mulut Kala menganga sekali lagi.
Mantan mana yang bisa melupakan mereka? Maksudnya, sejauh yang Kala ingat—semua mantannya saja masih mengingat dirinya ketika mereka tak sengaja bertemu. Dan dia juga tahu, mantan Dewa yang entah ada berapa jumlahnya juga masih mengenal Dewa.
Dewa tertawa sumbang. “Aku mengenalinya meskipun wajahnya ada yang berubah. Mungkin dia operasi plastik," ujarnya dengan nada kesal.
"Hidungnya lebih mancung. Tapi, aku masih tetap bisa mengenalinya. Dan parahnya, dia justru tidak mengenaliku. Padahal aku nggak ada operasi plastik.”
Kala berdecak. “Mungkin karena sekarang wajah lo sudah nggak licin seperti dulu. Ya Tuhan, Wak. Sekarang kita sudah bukan anak-anak. Sudah dewasa. Struktur wajah kita jelas berubah. Rambut tumbuh dimana-mana.” Lalu Kala tertawa setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Sementara Dewa refleks mengusap rahang dan dagunya yang terasa kasar karena rambut yang tumbuh di tempat tersebut. Pria itu berdecak. Tidak percaya kalau hanya karena rambut-rambut ini dia terlupakan.
Dewa sungguh kesal, bagaimana bisa Runa melupakan dirinya, sementara dia masih bisa mengingat mengingat wanita itu dengan sejelas-jelasnya. Hal itulah yang membuat Dewa uring-uringan.
Suara ponsel mengalihkan perhatian Dewa. Pria itu menoleh. Bukan ponselnya yang bersuara, tapi milik Kala. Dewa memperhatikan sang kembaran.
“Iya, Sayang. Kamu makan saja dulu. Abang masih harus urus Dewa. Kasihan adikmu. Dia lagi stres.”
“Aduh.” Kala menoleh lalu melotot setelah Dewa memukul lengan atasnya. “Sayang, sudah dulu ya. Ini si Dewa lagi galau karena ketemu mantan sepuluh tahunnya. Trus mantannya lupa sama dia.” Kala tertawa menatap mengejek Dewa.
Kala menggumam sebelum kemudian menurunkan ponsel genggamnya. Pria itu memutar posisi duduk ke arah Dewa. Ekspresi wajahnya sudah berubah serius. Tidak ada lagi gurat senyum sedikitpun di wajah Nakula. Putra kembar keluarga pengusaha besar Malaka Hutama.
“Sekarang lupakan perempuan itu. Sebentar lagi lo akan menikah. Fokus pada Jihan. Gue nggak percaya perempuan itu beneran lupa. Gue curiga, dia hanya berpura-pura lupa. Gue yakin, saat ini perempuan itu sedang menyesali semuanya.”
Dewa menatap sang kembaran. Pria itu mengatur tarikan dan hembusan napasnya.
“Wak ... Lo hanya perlu bahagia bersama Jihan. Di depan lo mungkin Runa akan tersenyum, tapi percayalah. Di belakang, dia menangis menyesali kebodohannya sudah melepas seorang Hutama.