"Sudah tiga kali Lingga berkelahi dengan Rafa," cerita wali kelas Lingga.
"Saya minta maaf, Bu. Saya akan bicara lagi dengan Lingga." Runa menoleh ke samping. Menatap sang putra yang duduk di sebelahnya dengan kepala menunduk. Tarikan napas dalam wanita itu lakukan.
"Iya, Bu. Teman-temannya merasa terganggu. Saya juga khawatir nantinya mereka akan membuat kubu masing-masing. Hasilnya tidak akan baik."
"Saya mengerti." Runa menggerakkan kepala turun naik. Wanita itu melirik sang putra.
"Rafa menghina Bapak, Buma. Rafa nakal." Lingga yang dari tadi hanya diam mendengarkan, akhirnya bersuara. Anak itu mengangkat kepala. Dia marah karena ayahnya dihina-hina.
"Buma, Lingga mau pindah sekolah saja." Lingga menoleh, menatap sang ibu dengan sorot mata redup.
"Jangan Lingga." Wali kelas Lingga mencegah. Lingga anak yang cerdas. Dia tidak mau kehilangan murid secerdas Lingga. "Bisa kok Lingga temenan sama Rafa, seperti Lingga temenan sama Dito," tambah sang wali kelas, berusaha membujuk anak didiknya.
"Dito baik. Rafa nakal." Lingga meluruskan pandangan ke depan hingga bertemu tatap dengan wali kelasnya. Dito dan Rafa dua orang yang berbeda. Dia bisa berteman dengan Dito karena Dito tidak pernah menghina dirinya, atau bapaknya.
"Lingga sayang, nanti kita ngobrol dulu. Kita cari solusinya. Kalau perlu Buma akan menemui Rafa, dan bicara dengannya." Runa pun berusaha untuk mencegah keinginan putranya untuk pindah sekolah.
"Rafa itu nakal, Buma. Dia bilang bapak Lingga jelek, seperti monster. Lingga anak monster."
Runi menelan saliva susah payah. Dia sudah sering mendengar ejekan tentang suaminya saat dia di kampung. Dia berharap, begitu tinggal di kota besar, Lingga tidak akan mendengar bulian tersebut. Namun nyatanya, bulian itu tidak berhenti.
Tama. Runi tahu suaminya tidak memiliki paras tampan. Suaminya seorang tentara. Kulitnya gelap. Ditambah wajahnya pernah terbakar hingga membuat wajah pria itu jadi menakutkan untuk mereka yang tidak mengenal kepribadian Tama.
"Sepertinya saya harus bicara dengan orang tua Rafa, Bu. Apa bisa tolong diatur? Saya tahu anak saya salah karena sudah berkelahi. Tapi, pembulian juga salah. Bapak Lingga seorang prajurit. Mungkin wajahnya menakutkan, tapi hatinya baik. Dia juga sudah meninggal. Saya tidak berharap mendengar penghinaan untuk orang yang sudah meninggal."
Sang guru terdiam. Setelah tampak tenang beberapa waktu sebelumnya, kali ini ibu Lingga tampak emosi.
"Bisa kan, Bu?" tanya Runa dengan ekspresi wajah yang sudah berubah. Amarah itu tergambar di raut wajah ayunya.
"Oh, iya ... Saya akan atur." Sang guru menggerakkan kepala turun naik.
"Terima kasih." Tarikan napas dalam Runa lakukan. Dadanya terasa panas. Wanita itu membelah sepasang bibirnya, lalu hembusan napas pelan lolos.
"Lingga mau pulang, Buma."
Runa hanya melirik sang putra tidak lebih dari dua detik. "Kami permisi, Bu. Tolong hubungi kapan saya bisa bertemu dengan orang tua Rafa." Setelah melihat anggukan kepala sang guru, Runa beranjak berdiri. Menoleh, wanita itu meraih sebelah tangan sang putra yang mengikutinya berdiri.
Runa berpamitan sekali lagi kepada sang pemilik ruangan, lalu berjalan keluar sambil bergandengan tangan dengan putranya. Keduanya terus mengayun kaki sampai keluar dari gedung sekolah.
"Buma sudah selesai kerja?" tanya berharap Lingga. Dia merindukan ibunya yang selalu sibuk bekerja.
Paham keinginan putranya, Runa yang sudah menurunkan pandangan ke samping itu tersenyum.
"Yey ...."
Kebahagiaan Lingga membuat senyum Runa semakin lebar.
"Mau kemana kita sekarang?" tanya Runa seraya menggerakkan genggaman tangan mereka.
"Makan." Lingga berjalan sambil meloncat-loncat kegirangan. Melupakan pipinya yang sakit karena ditonjok Rafa.
"Baiklah. Ayo kita cari makan yang Lingga suka," ujar Runa membuat sang putra semakin kegirangan.
"Sekarang Buma cari ojol dulu sebentar, oke?"
"Oke!"
****
Setelah perjalanan dengan menggunakan ojek online, mereka tiba di sebuah tempat makan yang cukup mewah. Runa ingin menyenangkan sang putra yang baru saja mengalami hal tidak menyenangkan di sekolahnya.
"Buma, di sini ada es krim?"
"Ada dong."
Lingga tersenyum senang. Dia akan makan es krim. Lingga melepaskan genggaman tangan sang ibu, lalu berlari.
Runa terkejut. Wanita itu dengan cepat memutar tubuh. "Lingga," panggil Runa yang detik berikutnya mengayun langkah cepat. Sang putra sudah semakin jauh berlari.
Lingga berlari mengejar balon yang terlepas. Anak itu meloncat, berusaha menggapai batu kecil yang menggantung di bawah balon berbentuk hello kitty warna pink. Karena balon itu semakin naik, Lingga kesulitan. Ia berusaha meloncat lebih tinggi. Hampir saja dia bisa meraihnya, namun balon itu kembali bergerak.
Tubuh Lingga limbung, hampir terjatuh jika tidak ada seseorang yang menahan tubuhnya.
"Ini balonmu, Nak?"
Lingga menoleh, mengambil alih gantungan balon dari tangan seseorang yang mengambil benda tersebut. Lingga memutar tubuh, lalu mendongak. Menatap sosok pria dewasa yang baru saja membantunya mengambil balon yang terbang.
"Terima kasih, Om. Balon ini bukan punya Lingga." Lingga memperlihatkan cengiran.
"Lingga."
Yang merasa dipanggil menoleh lalu berlari. "Bumaaa." Lingga menubruk tubuh sang ibu.
Pria itu berdiri menatap sosok perempuan yang langsung memeluk anak kecil bernama Lingga. Lipatan di kening langsung muncul.
"Lain kali jangan langsung lari. Oke,Sayang?"
"Itu balon Mila, Mama."
Runa menoleh mendengar suara anak perempuan. Wanita itu lalu melepas pelukan pada tubuh putranya.
"Ini. Lingga cuma mau bantu saja." Lingga berjalan menghampiri anak perempuan kecil berusia 7 tahun, lalu memberikan balon tersebut.
"Lain kali hati-hati pegangnya, ya. Tadi balonnya terbang tinggi. Untung ada om itu." Lingga menoleh, lalu menunjuk pria yang tadi membantunya.
Runa yang mendengar percakapan sang putra, refleks mengikuti arah jari telunjuk putranya. Sepasang mata wanita itu terbuka lebih lebar. Detik berikutnya, Runa langsung berjalan ke arah sosok pria dengan setelan jas yang sudah berganti warna.
Sesaat Runa mengerjap begitu berdiri berhadapan dengan pria tersebut. Sedikit ragu, namun akhirnya tetap membelah sepasang bibirnya.
"Terima kasih banyak, Pak Dewa. Maaf, kalau tadi putra saya merepotkan."
Orang yang diajak bicara oleh Runa mengangkat alis sebelum kemudian tersenyum kecil. Membuat Runa justru mengernyit.
"Tidak masalah. Namanya juga anak-anak. Santai saja."
"Terima kasih pengertiannya."
"Berapa usia putramu? Sepertinya dia sudah besar."
"Sembilan tahun, Pak."
"Sem-bi-lan?" Sepasang mata pria itu terbuka lebih lebar. Tatapan matanya bergeser ke arah anak laki-laki yang kini sudah berbincang akrab dengan anak perempuan pemilik balon. Sepasang alis pria itu berkerut.
"Umurnya sembilan tahun?" gumam pelan pria itu, bertanya pada dirinya sendiri. Namun, ternyata orang yang berdiri di depannya masih bisa mendengar gumaman tersebut.
"Iya. Sembilan tahun. Saya memang menikah muda."
"Kapan kamu nikah?"
Runa mengerjap. Kapan dia menikah?
"Maaf. Lupakan saja. Saya tidak bermaksud apa-apa." Pria itu mengembalikan perhatian pada Runa. "Putramu tampan sekali."
"Terima kasih." Runa tersenyum sambil mengangguk. Wànita itu memutar kepala. Tersenyum semakin lebar melihat putranya berjalan ke arahnya.
"Buma, ayo kita makan. Lingga sudah lapar." Lingga meraih tangan ibunya lalu menariknya.
"Lingga sudah terima kasih sama Om Dewa?"
"Om Dewa?" Lingga bertanya seraya menggeser fokus matanya. Kepala anak itu semakin mendongak.
"Terima kasih, Om Dewa."
"Anak pintar." Pria itu tersenyum lalu mengusap pelan kepala Lingga. "Panggilnya Om Kala, ya? Bukan Om Dewa. Om Dewa itu kembaran Om Kala."