Bab 7. Bertemu Kembaran Dewa

1072 Words
"Panggilnya Om Kala, ya? Bukan Om Dewa. Om Dewa itu kembaran Om Kala." Dewa tersenyum. Pria itu mengangkat pandangan mata. Kembali tersenyum ketika bertemu tatap dengan sepasang mata yang mengerjap pelan dengan mulut sedikit terbuka. Jujur saja Runa terkejut. Dia pikir, pria di depannya ini adalah Dewa. Ternyata bukan. Dia baru tahu jika Dewa punya kembaran. Runa buru-buru merapatkan sepasang bibirnya setelah tersadar dari rasa terkejut. “Karena kamu teman Dewa, tidak ada salahnya kita makan bersama.” Dewa kembali menurunkan pandangan pada sosok anak laki-laki kecil tampan yang kini menatapnya. “Siapa namamu, Sayang?” “Kalingga.” “Kalingga.” Dewa menggerakkan kepala turun naik. “Om akan mentraktir Kalingga. Bagaimana?” “Maaf … saya–” Aruna berdehem untuk mendapatkan perhatian dari sosok pria yang ternyata bukan calon suami klien potensialnya. “Sebenarnya, saya bukan teman pak Dewa.” Runa tersenyum tidak enak hati. Pria di depannya salah paham. Dia hanya sekedar kenal. Sebatas mengetahui nama. Tidak lebih dari itu, jadi tidak bisa dikatakan teman. Aruna menahan ringisan ketika melihat pria yang baru ia ketahui bernama Kala itu mengangkat tubuh putranya. “Ayo, kita makan bersama.” Kala memutar langkah lalu mengayun kedua kakinya. Pria itu berjalan mendahului Aruna. Di belakang Kala, seorang pria mengikuti. Runa dengan terpaksa ikut berjalan mengekori mereka. Sesekali bola mata wanita itu bergerak ke samping kanan dan kiri. “Lingga kelas berapa sekarang?” “Kelas tiga.” “Wah, sudah kelas tiga ternyata.” “Dapat ranking tidak di kelas?” “Hmm … dapat. Ranking satu.” “Oh ya? Hebat sekali dapat rangking satu,” puji Kala seraya tersenyum menatap sosok kecil dalam dekapannya. Tarikan napas samar pria itu lakukan. Ia sudah sangat menginginkan anak, namun Tuhan masih belum memberikan padanya. Sementara adiknya, Juna saat ini sedang menantikan anak pertamanya. Ah, rezeki orang memang berbeda-beda, batin Kala membesarkan hatinya sendiri. “Nah, Lingga duduk sini.” Kala mendudukkan Lingga di atas salah satu kursi di sisi panjang meja. Setelah itu ia melanjutkan ayunan kaki ke sisi lain meja. Kala sempat menggeser pandangan mata ketika melihat perempuan yang masih ia ingat wajahnya itu, hanya berdiri di samping putranya. “Duduklah, Mama Lingga.” Kala menarik kursi kemudian mendudukinya. Pria itu menatap Aruna yang masih bertahan berdiri. Mengedik kepala ketika bola mata Runa bertemu dengannya. Dengan setengah hati, akhirnya Runa menarik punggung kursi, kemudian mendudukinya. Bola mata wanita itu bergerak. “Ini asistenku. Namanya Rama.” Kala memperkenalkan sosok pria yang duduk di depan Runa terpisah meja. Runa menggerakkan kepala turun sebagai tanda sopan santun. “Ayo, silahkan. Kalian mau pesan apa?” Kala mendorong buku menu ke depan Runa. “Tidak perlu sungkan. Kamu muslim, kan?" Runa mengangguk dengan wajah bingung. Tidak paham kenapa tiba-tiba pria yang ternyata kembaran calon suami klien potensialnya itu mempertanyakan tentang keyakinannya. “Kalau begitu, kita saudara sesama muslim. Tidak ada yang salah dengan kita makan bersama. Kebetulan aku suka anak kecil. Aku sudah menikah, tapi Tuhan masih belum mempercayakan anak padaku.” Kala menjelaskan. Pria itu tersenyum menatap Lingga. “Kamu beruntung memiliki seorang anak, Mama Lingga.” Runa mengangguk. Wanita itu menghembus napas lega begitu mendengar jika pria bernama Kala tersebut sudah menikah. Suasana kemudian hening ketika empat orang di meja tersebut sedang memilih menu. Seorang pelayan berdiri menunggu, lalu mencatat pesanan mereka satu per satu. Setelah tugasnya selesai, pelayan tersebut undur diri. “Jadi, bagaimana kamu bisa mengenal saudara kembarku?” tanya Kala setelah pelayan berjalan menjauh. Tentu saja dia masih mengingat cerita Dewa. Saat pertama tadi melihat Runa, sebenarnya ia pun terkejut. “Calon istri pak Dewa klien saya, Pak. Kami bertemu saat meeting persiapan acara pernikahan mereka.” “Oh ….” Kala menggerakkan kepala turun naik. “Jadi, kamu baru bertemu Dewa saat meeting membahas acara pernikahannya besok?” Melihat anggukan kepala Runa, Kala kembali bertanya. “Sebelumnya belum pernah bertemu?” selidik pria itu. “Belum pernah, Pak. Sebelumnya saya tinggal di kampung.” “Oh, ya?” Alis Kala terangkat. "Seumur hidupmu?" tanya pria itu terdengar tidak percaya. Runa sekali lagi mengangguk. Kala sempat terdiam beberapa saat sebelum kembali bersuara. “Berarti Ayah Lingga sekarang di kampung juga?” tebak Kala ingin mengorek informasi tentang Lingga. “Bapak Lingga sudah meninggal, Om.” Kala menggeser fokus mata pada sosok kecil yang duduk tepat di seberangnya. “Bapak Lingga itu super hero, Om,” bangga Lingga menceritakan tentang sosok yang ia panggil bapak. “Bapak lawan orang jahat, iya, kan, Buma?” Lingga menoleh ke samping, meminta dukungan dari sang ibu. Melihat ibunya mengangguk membenarkan, dengan bersemangat Lingga melanjutkan ceritanya. “Bapak punya pistol buat tembak orang jahat. Bapak juga nangkap pencuri. Pokoknya bapak Lingga orang hebat,” katanya dengan wajah berseri. Akan tetapi, beberapa detik kemudian anak itu mendesah. “Tapi bapak sudah meninggal sekarang. Lingga tidak punya bapak lagi.” “Siapa bilang Lingga tidak punya bapak? Lingga tetap punya bapak. Hanya saja sekarang bapak Lingga sudah di surga. Bapak melihat Lingga dari sana. Jadi, jangan pernah bilang tidak punya bapak. Punya, kok.” Runa mengusap pelan kepala sang putra yang tampak bersedih ketika mengingat ayahnya sudah meninggal. “Tapi kan bapak sudah nggak di sini sama Lingga.” Kala diam menatap anak kecil yang tampak sedang bersedih. Pria itu mengamati dengan seksama setiap detail wajah Lingga yang menurutnya sangat tampan. Mengingatkan dirinya akan … Rain. Putra pertama kakaknya, Naka. Mereka memiliki kemiripin. “Bapaknya Lingga–” “Dia seorang prajurit. TNI. Dia ditugaskan di Aceh dan gugur di sana.” Kala menoleh, menatap sosok perempuan masa lalu saudara kembarnya. Kala masih ingat betul seperti apa hubungan Dewa dan Aruna dulu. Pria itu menghela panjang napasnya. Syukurlah kalau Lingga punya ayah. Dengan begitu, rencana pernikahan Dewa bisa tetap berlanjut. Jujur saja, dia sempat terkejut ketika melihat Aruna bersama seorang anak. Ada perasaan takut jika Lingga adalah anak saudara kembarnya. Syukurlah, ketakutannya tidak akan terjadi. Lingga punya ayah. “Bapak Lingga pasti prajurit hebat.” Kala tersenyum ketika Lingga mengangkat kepala dan menatapnya. “Lingga harus bangga pada bapak Lingga. Lingga pasti juga dapat ketampanan Lingga dari bapak Lingga. Benar, kan?” Lingga terdiam. Sepasang mata anak itu mengedip. “Benar. Lingga mewarisi sifat bapaknya. Lingga juga hebat. Sama seperti bapaknya,” ujar Runa seraya memutar kepala lalu menatap sang putra dengan penuh kebanggaan. Senyum wanita itu mengembang dengan sendirinya. “Tapi ….” Lingga menoleh, membalas tatapan sang ibu. “Kenapa bapak Lingga jelek, Buma?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD