“Buma … kenapa bapak Lingga jelek?”
Runa tidak langsung menjawab. Wanita itu menyelesaikan terlebih dahulu pekerjaannya. Merapikan seragam yang dipakai Lingga, baru kemudian mengangkat pandangan mata hingga bertemu tatap dengan sepasang manik mata sang putra.
Entah sudah berapa kali Lingga mempertanyakan hal yang sama. Seolah tidak puas dengan jawaban yang ia berikan, anak itu pagi ini mengulang pertanyaan yang sama.
“Buma tidak pernah menganggap bapak Lingga itu jelek. Kulitnya memang gelap karena dia tentara. Bekerja di luar gedung. Tidak ada tentara yang kulitnya putih,” ujar Runa panjang lebar. Lama-lama dia mulai emosi mendengar pertanyaan tersebut berulang-ulang.
“Bapak Lingga pernah terkena api di wajahnya. Itu sebabnya ada luka di wajah bapak Lingga saat menolong orang yang rumahnya terbakar. Apa sekarang Lingga malu punya bapak seorang prajurit TNI?” tanya Runa di ujung kalimat. Wanita itu memperhatikan sang putra yang sesaat kemudian mengerjap lalu menggeleng.
“Bapak Lingga itu pekerjaannya sangat mulia. Menolong orang, melindungi masyarakat, bahkan negara. Kalau ada penjajah datang, bapak Lingga dan teman-temannya yang pertama kali akan maju untuk melawan dan melindungi kita semua.”
“Wajah mereka mungkin tidak setampan artis. Kulit mereka gelap, tapi, hati mereka putih. Lingga tidak boleh melihat orang dari rupanya. Yang paling penting itu hatinya. Setampan apapun seseorang, kalau hatinya buruk–dia tetap buruk.”
Lingga menatap sang ibu dengan sepasang bibir tertutup rapat.
“Apa sekarang Lingga sudah paham?” tanya Runa melihat sang putra hanya terdiam.
Lingga menggangguk.
“Lingga minta maaf, Buma. Lingga sayang bapak. Lingga bangga sama bapak.” Lingga memeluk leher sang ibu yang berjongkok di depannya. “Teman-teman Lingga suka bilang bapak lingga jelek seperti monster.”
“Lebih baik jelek seperti monster tapi hatinya baik, daripada tampan tapi hatinya seperti monster,” ujar Runa.
Lingga tertawa. Kepala anak 9 tahun itu bergerak turun naik. “Nanti Lingga jawab begitu,” katanya dengan senyum lega.
Setiap kali teman-temannya menghina bapaknya, ia sangat marah karena ia menyayangi bapaknya begitu besar. Dia tidak suka mendengar mereka menghina bapaknya. Seperti kata buma nya, bapaknya itu seorang pahlawan.
Aruna tersenyum. Wanita itu mengusap pelan punggung kecil putranya. Aruna menarik kepala ke belakang hanya untuk mengecup kening sang putra. “Anak pintar,” pujinya sebelum melepas pelukan.
Aruna menatap wajah tampan putranya. Tarikan napas dalam wanita itu lakukan. Sesaat dia menyadari perbedaan wajah putra dan suaminya. Runa tersenyum, mengesampingkan perbedaan tersebut.
“Allah yang kasih Lingga wajah tampan. Jadi, Lingga harus bersyukur sama Allah. Tidak ada yang ingin dilahirkan dengan wajah jelek. Jadi, Lingga tidak boleh menghina wajah orang yang mungkin kurang beruntung.”
“Lingga tidak pernah menghina.”
Aruna menganggukkan kepala. Wanita itu kembali tersenyum. Tangan kanannya terangkat, bergerak mengusap rambut lurus Lingga. “Buma bangga sama Lingga. Bapak Lingga juga pasti bangga sama Lingga.”
“Bapak lihat Lingga dari surga?” tanya Lingga sebelum mengangkat wajah ke atas. Seolah dengan melakukan hal tersebut, ia bisa melihat bapaknya.
“Iya.”
Lingga langsung tersenyum mendengar jawaban dari sang ibu. “Halo, Bapak. Lihatin Lingga terus, ya?” Anak itu tersenyum semakin lebar menatap langit-langit kamarnya.
“Nah, sekarang sudah siap berangkat ke sekolah?” tanya Runa.
Lingga menurunkan wajahnya. Menatap sang ibu lalu mengangguk.
“Oke. Sekarang kita berangkat.” Runa berdiri. Sebelah tangannya meraih telapak kecil Lingga. Runa kemudian mengajak Lingga untuk berjalan. Mereka menghampiri meja belajar terlebih dahulu. Runa mengambil tas punggung berwarna hitam dengan gambar robot besar, sebelum melanjutkan ayunan kaki keluar dari dalam kamar.
“Sudah mau berangkat?”
“Iya, Bude.”
“Ini bekalnya mas Lingga.” Wanita yang bekerja membantu Runa itu bergegas membawa tas berisi bekal makanan untuk Lingga. Anak asuhnya itu tidak terbiasa jajan di luar. Ia selalu membawa bekal dari rumah.
“Terima kasih, Bude.”
“Hati-hati di jalan.” Wanita paruh bawa itu berjalan mengikuti Runa dan putranya keluar dari dalam rumah. Berdiri di teras, memperhatikan keduanya yang berjalan menuju sebuah motor matic berwarna biru.
Runa naik ke atas motor, diikuti Lingga yang naik ke boncengan dengan berpegangan pada tubuh ibunya. Tas ransel sudah menggantung di punggung anak 9 tahun tersebut. Dua tangan kecilnya melingkar di perut sang ibu. Helm kecil membungkus kepalanya.
“Pergi dulu, Bude. Assalamu’alaikum.” Aruna berpamitan sebelum memutar gas, dan membawa tunggangan roda duanya melaju keluar dari halaman rumah satu lantai yang ia kontrak selama dua tahun terakhir.
****
Di Tempat Lain ....
“Sudah mau berangkat? Ini masih pagi.” Naya mengikuti sang putra keluar dari rumah mewahnya. Putra yang sebentar lagi akan melepas masa lajang. Akhirnya tugas sebagai orang tua untuk membawa anak-anak ke jenjang pernikahan sebentar lagi akan selesai.
“Lagi banyak kerjaan, Ma.” Dewa menjawab. Pria itu menghentikan ayunan kaki lalu berbalik.
Dewa meraih tangan kanan sang mama, mencium punggung tangan perempuan yang melahirkannya ke dunia tersebut, sebelum kemudian mencium dua pipi mamanya bergantian.
“Pamitin papa ya, Ma,” pinta Dewa, lantaran sang papa masih belum kembali. Pria yang masih memiliki tubuh tegap meskipun usia sudah tidak lagi muda tersebut belum pulang dari rutinitas jogging di pagi hari.
Malaka Hutama sudah tidak lagi aktif mengurus perusahaan. Empat anak laki-lakinya sudah bisa menggantikan tugasnya menjalankan semua bisnis Hutama yang mengular.
Sekarang pekerjaan utama seorang Malaka Hutama adalah menemani sang istri kemanapun wanita itu ingin pergi. Jalan-jalan keliling Eropa sudah mereka lakukan. Disela kesibukan membahagiakan istrinya, hiburan lain bagi sang pengusaha tersebut adalah bermain dengan cucu-cucunya.
“Iya, nanti Mama pamitin. Jangan lupa sarapan.” Naya mengingatkan, karena putranya itu belum sarapan. “Ini kenapa mata jadi begini? Semalam ngobrol sama Jingga sampai jam berapa?” tanya ibu lima orang anak tersebut. Naya mengusap pelan kantung mata sang putra. “Jaga kesehatan. Sebentar lagi nikah, loh.”
“Iya, Baginda Ratu tercinta,” goda Dewa, membuat sang mama tergelak.
“Kamu itu.” Naya menampar pelan lengan atas putranya. “Ya sudah, sekarang berangkat. Hati-hati di jalan. Jangan lupa nanti sore ajak Jingga ke rumah. Kita makan malam bersama.”
Dewa tersenyum lalu mengangguk.
“Akhirnya sebentar lagi bujang terakhir Mama sold out.”
Dewa tertawa mendengar komentar mamanya. Memang benar, dia yang paling lama membujang. Adiknya bahkan sudah akan memiliki anak.
Pria itu berpamitan sekali lagi pada sang mama, sebelum berbalik kemudian melanjutkan ayunan kaki sembari menekan remot hingga lampu sebuah mobil mengedip dua kali.
Dewa segera masuk ke dalam mobil sedan berwarna silver. Mobil mewah merk bentley yang sudah menemaninya satu tahun terakhir. Masih cukup pagi, Dewa membuka atap mobilnya. Dia ingin menikmati angin Jakarta di pagi hari.
Mobil itu melesat keluar dari halaman luas rumah Malaka Hutama dan sang istri.
Dewa melarikan bola mata ke arah spion. Tangannya bergerak memutar kemudi, membawa tunggangannya bergabung dengan banyak kendaraan lain di jalan raya. Pria itu mendesah.
Ternyata tidak bisa lama menikmati berkendara dengan udara bebas. Banyaknya asap kendaraan yang mengganggu, membuat pengusaha muda tersebut akhirnya menutup atap mobilnya.
Dewa tersenyum ketika melihat ponsel yang berdiri di dashboard menyala, memperlihatkan nama calon istrinya. Masih sambil mengendalikan benda bundar di depannya dengan satu tangan, Dewa mengambil headset dengan satu tangan yang lain, lalu menerima panggilan tersebut.
“Ya, Sayang.”
"Aku merindukanmu."
Dewa tersenyum. "Apa perlu aku mampir ke rumahmu dulu? Aku tidak boleh membiarkan calon istriku tersiksa, bukan?"
Jingga tergelak mendengar kalimat terakhir Dewa. Sementara Dewa kembali tersenyum. Dewa melirik spion sambil tangannya bergerak menekan lampu sein.
"Mama papa di rumah."
Dewa memutar kemudi, membawa kendaraan roda empatnya berputar haluan. Rencananya berubah. "Tidak masalah. Mereka pasti paham kalau kita butuh waktu berdua." Pria itu menekan pedal gas lebih dalam.
"Dua puluh menit lagi aku sampai. Persiapkan dirimu, Love."