Dewa menghembus pelan napasnya. Dia sudah meminta Jingga untuk memesan gaun pengantin di butik langganan keluarganya saja, namun perempuan itu kukuh ingin mendapatkan gaun pengantinnya dari seseorang bernama Aruna.
Entah apa yang Aruna lakukan hingga membuat Jingga begitu menyukainya. Dia sampai bosan mendengar cerita Jingga tentang Runa yang pintar ini itu. Ingin sekali dia berteriak jika perempuan yang dipuji-puji oleh Jingga itu adalah perempuan yang mematahkan hatinya sepuluh tahun lalu.
Dewa melirik Jingga dari kaca spion. Setelah tadi pagi sempat sebentar menumpahkan kerinduan, sore ini ia sengaja menjemput Jingga ke kantornya.
“Kenapa sih, kok kayaknya kamu nggak suka sama Runa. Apa salahnya coba?”
Dewa melirik sosok yang duduk di sebelahnya. Rencana membawa Jingga ke rumah untuk makan malam bersama orang tuanya tertunda karena ternyata Jingga sudah memiliki janji temu dengan sosok yang akhir-akhir ini sering dibicarakan.
“Kasihan loh, dia single parent. Kalau kita pakai jasanya kan dia bisa dapat tambahan uang untuk menghidupi anaknya. Kita dapat pahala,” kata Jingga membujuk calon suaminya. Bukan dia tidak menyadari wajah masam Dewa setiap kali ia membicarakan soal Runa.
“Itu bukan urusan kita. Dia punya keluarga.”
Jingga menganga beberapa saat mendengar celetukan Dewa yang menurutnya terlalu kejam. Seperti bukan Dewa saja yang baru saja bicara. Jingga mengatur tarikan dan hembusan napas perlahan.
“Alhamdulillah aku tidak harus merasakan berada di posisinya. Masih muda, harus berjuang sendiri menghidupi anak karena ditinggal mati suami.”
Kalimat panjang Jingga membuat Dewa menoleh. Menatap perempuan itu beberapa detik, sebelum meluruskan pandangan kembali ke depan. Apa dia sudah bersikap terlalu berlebihan? Karena rasa sakit itu ternyata belum benar-benar hilang?
Dewa tak lagi bersuara. Pria itu melajukan kendaraan roda empatnya sambil menekan katupan rahang. Sementara Jingga menatap pria tersebut seraya mendesah dalam hati. Wanita itu kemudian menyandarkan punggung. Membiarkan senyap menemani perjalanan mereka hingga tiba di tempat yang mereka tuju.
Dewa mendesah dalam hati. Pria yang baru saja menghentikan laju kendaraan roda empatnya itu menoleh, menatap sang calon istri. Jingga adalah sosok yang sangat baik. Hatinya seluas samudra. Itu sebabnya dia memutuskan untuk menikahi sosok ini.
Dewa tersenyum ketika Jingga menatapnya. “Aku tunggu di sini saja, ya?” pinta Dewa yang benar-benar tidak ingin bertemu dengan Aruna lagi. Soal balas dendamnya, dia akan memikirkan cara lain nanti.
Jingga mengangguk. “Oke. Aku masuk dulu.” Jingga tidak keberatan. Akan lebih tidak nyaman jika Dewa ikut masuk lalu bertingkah menyebalkan seperti sebelumnya. Ia akan merasa tidak enak hati pada Aruna.
Jingga mendorong daun pintu kemudian keluar. Dewa memperhatikan pergerakan Jingga dari dalam mobil. Sungguh, dia tidak ingin bertemu dengan Aruna lagi. Pria itu mendesah.
Kenapa takdir membawa wanita itu kembali setelah sekian lama menghilang bak ditelan bumi. Ah, sebenarnya tidak bisa dikatakan seperti itu juga, karena pada dasarnya dia sama sekali tidak pernah mencari.
Untuk apa mencari seseorang yang dengan entengnya mengatakan putus tanpa ada masalah sebelumnya. Dan sekarang dia baru tahu alasannya. Ternyata karena perempuan itu memiliki pria lain. Pria yang dinikahi di usia yang masih muda. Sebesar itu Runa mencintai laki-laki itu sampai mengorbankan masa depannya. Sungguh luar biasa.
Dewa baru akan menarik punggung ke belakang saat ujung matanya menangkap pergerakan sepeda motor yang membuat Jingga di depan sana berhenti berjalan, lalu wanita itu memutar tubuh. Dewa menoleh–memperhatikan sosok di atas sepeda motor tersebut.
Sepasang mata Dewa mengerjap. Orang yang sangat tidak ingin ditemuinya itu melepas helm di kepala sosok kecil yang duduk di depannya. Setelah itu, keduanya turun.
“Jadi, itu anaknya Runa?” gumam Dewa yang detik selanjutnya mendengkus. Dia memang belum punya anak. Bagaimana mau punya anak kalau menikah saja belum? Tapi, setidaknya dia punya Rain. Rain pasti jauh lebih tampan dari anak itu.
Hah ... dia tidak percaya anak itu tampan seperti yang dikatakan Jingga. Mungkin dia harus membawa Jingga ke dokter mata.
Dewa menekan-nekan katupan rahangnya. Ada perasaan marah karena perempuan itu tertawa di depan sana. Sebahagia itu hidupnya? Hah … mana mungkin. Perempuan itu pasti hanya sedang berpura-pura bahagia. Dia sedang menipu hidupnya sendiri.
Dewa menghentak napasnya keras.
Mengingat kembali kata-kata Kala, Dewa akan tunjukkan pada perempuan itu jika hidupnya jauh lebih bahagia. Ia akan pastikan perempuan itu mengingatnya dan meratapi kesalahannya karena sudah memutuskan seorang Hutama.
****
“Kamu ganteng banget sih, Lingga,” puji Jingga yang sudah membungkuk supaya bisa mengurangi perbedaan tingginya dengan Lingga. Juga agar bisa melihat wajah Lingga lebih dekat. Jingga tidak berbohong ketika memuji putra Runa.
Wanita itu mengusap pelan kepala Lingga. “Lingga lebih besar dari keponakan mas Dewa, tapi, mereka pasti bisa berteman kalau bertemu. Namanya Hujan.” Jingga memberitahu.
Wanita itu mengusap kembali kepala Lingga sebelum menegakkan posisi berdiri lalu tersenyum kala tatapannya bertemu dengan sepasang mata Aruna.
“Kamu benar-benar beruntung, Runa.” Jingga mendesah. “Aku jadi ingin segera punya anak,” katanya sebelum tersenyum lebar, membayangkan seorang anak dari pernikahannya nanti.
“Saya doakan, semoga setelah menikah bisa langsung mendapat momongan,” doa tulus Runa mendengar keinginan kliennya. “Tidak hanya satu, langsung dua sekalian,” tambahnya, berhasil membuat sepasang mata Jingga terbuka lebih lebar.
“Wah, benar. Aku bisa saja punya anak kembar. Kamu kok tahu, sih? Mas Dewa itu kembar loh, Runa. Jadi, ada kemungkinan aku bisa punya dua anak sekaligus.” Jingga tertawa senang.
“Pasti lucu-lucu kalau punya anak kembar. Apalagi kalau kembar perempuan, ya, kan? Bisa kita dandani mereka seperti barbie,” tambah Jingga kegirangan.
Senyum Jingga langsung menular pada Aruna. Aruna menggerakkan kepala turun naik. Ikut senang melihat wajah bahagia kliennya.
“Ya sudah, ayo kita masuk dulu. Aku sudah tidak sabar ingin melihat kain yang kamu pilih untuk gaun pengantinku.”
Runa tidak langsung menjawab. Wanita itu justru memutar kepala ke sekitar. “Calon suami Mbak Jingga tidak ikut?” tanya Runa memastikan. Informasi dari Jingga, perempuan itu akan datang bersama dengan calon suaminya.
Dan mengingat sesulit apa seorang Dewa, Runa pikir akan lebih baik pria itu datang, hingga bisa membuat keputusan final meskipun akan ada sedikit perdebatan nantinya. Seperti saat pertemuan mereka yang pertama.
Aruna ingin mendapatkan keputusan hari ini juga, karena pembuatan gaun pengantin itu membutuhkan waktu cukup lama. Apalagi Jingga ingin ia sendiri yang membuatnya. Runa menarik napas pelan seraya mengembalikan tatapan pada Jingga yang sedang tersenyum.
Runa mengernyit.
“Dia sedang banyak urusan. Ayo, kita lihat kain pilihanmu sekarang. Ayo Lingga, temani Onty melihat kain untuk gaun pengantin Onty.”
“Onty mau menikah?”
“Iya, Onty mau menikah.” Jingga meraih sebelah telapak tangan Lingga kemudian menggandeng anak tersebut. Mengajaknya berjalan menuju pintu keluar masuk sebuah toko kain yang cukup besar.
Runa pun akhirnya mengikuti Jingga yang sudah mendahului berjalan.
“Sayang.”
Bukan hanya Jingga yang refleks menoleh begitu suara rendah tersebut terdengar. Runa mengerjap, sementara Jingga menatap pria yang sedang berjalan dengan sebelah tangan tersembunyi di dalam saku celana. Kening wanita itu mengernyit bingung.
“Kok–”
“Aku tidak ingin ketinggalan perkembangan gaun pengantin untuk calon istriku.” Dewa tersenyum. Pria itu berjalan melewati Aruna, menghampiri Jingga. “Ayo, aku temani kamu memilih kain untuk gaun pengantinmu.”
Jingga tersenyum. Menyingkirkan kebingungannya sendiri lantaran Dewa merubah keputusannya.
“Om … Om Dewa, ya?”