Petugas keamanan datang untuk mengamankan Elektra yang tengah menghabisi Clara. Sudah hal biasa jika Clara berseteru dengan pengacara lain tapi kali ini, akan menjadi masalah besar karena Clara yang menjadi korban.
“Dia menemukan lawan yang salah,” bisik seseorang.
Dan keduanya berakhir di kantor polisi. Wajah Clara yang babak belur dibuat Elektra sedangkan Elektra tidak memiliki luka serius hanya beberapa luka lebam dan sudut bibir berdarah.
Polisi yang bertugas tidak bisa kutik saat orang tua Clara berada di sana. Namun, Elektra tidak terpengaruh dengan apapun. Dia hanya diam tidak melakukan pembelaan sama sekali, bahkan saat orang tua Clara meminta agar dirinya dihukum dengan hukuman berat.
“Your parents definitely didn't teach you manners.”
Elektra menyeka darah di sudut bibirnya yang mulai kering terasa perih. Pakaian yang baru sekali dipakai sobek di beberapa bagian, dia benar-benar berantakan.
“Yes, you're right,” komentar Elektra membenarkan perkataan Ayah Clara. “Just like you too. They're so busy with business.”
Ayah Clara speechless dengan singgungan Elektra.
“Kau—“ Ayah Clara baru saja melayangkan tangan padad Elektra ditangkis oleh Jason yang baru saja datang ke kantor polisi, Jason melihat penampilan Elektra yang begitu buruk terkejut.
“Tangan Anda sangat kurang ajar, Sir.” Jason menghempaskan dengan kasar tangan yang baru akan menyentuh pipi Elektra.
“Aku tidak percaya kau berkelahi di kantor,” komentar Jason sambil melirik ke arah wanita yang jauh lebih kacau dari Elektra.
Ibu Clara beranjak saat melihat Jason. “Kau pasti kakaknya? Seharusnya kalian mengajarnya dengan benar—“ Jason yang sejak bicara dengan Elektra segera melirik ke arah Ibu Clara, membuat wanita itu tidak bisa melanjutkan perkataannya. Tatapan Jason begitu dingin.
Aura Jason membuat orang tua Clara tidak berkutik sama sekali. Bahkan mereka yang sejak tadi ingin Elektra mendapatkan hukuman berat mencium.
Seorang pria dari belakang Jason yang melihat penampilan Elektra terkejut, kemudian memberikan hormat.
“Nona Muda, Tuan mengutusku datang,” ucap pria paruh baya.
Clara yang duduk tidak jauh dari Elektra terkejut.
“N-nona? Tidak mungkin wanita itu jadi seorang putri keluarga kaya raya. Dia hanya anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.”
Jason menatap ke arah Clara dengan tajam. “Shut up! Berani sekali kau bicara seperti itu, pada Nona Muda kami,” bentak Jason dengan suara tegas membuat Clara terdiam. “Sebaiknya kau diam jika tidak ingin hidupmu berubah!” ancam Jason.
Elektra melirik Clara sambil tersenyum pelan, memperlihatkan siapa yang punya kuasa antara dia dan Clara.
Bertepatan dengan itu kepala polisi datang dengan terburu-buru.
“Mr. Jason, apa yang membuat Anda datang ke kantor polisi?” tanya kepala polisi sambil memberi hormat.
“Tolong urus mereka,” ucap Jason sambil melirik ke arah Clara dan orang tuanya, sambil memberikan sebuah isyarat agar pria itu mendekat. Jason membisikan sesuatu membuat kepala polisi melihat ke arah Elektra.
Kemudian memberikan hormat. Clara tercengang dengan tindakan yang dilakukan oleh Kepala Polisi. Semua orang memberikan hormat pada Elektra.
“Anda tidak apa-apa, Nona? Bagaimana jika kondisi Anda diperiksa dulu? Tuan Jason membawa dokter saat mendengar jika Anda mengalami luka.” Mendengar perkataan dari kuasa hukum keluarga Lysander, Elektra melihat ke arah Jason.
“Kau membawa dokter? Kupikir kau akan membiarkanku mati seperti saat latihan,” singgung Elektra membuat bibir Jason mencebik karena tersinggung. “Tidak perlu. Dia saja yang periksa, mungkin butuh catatan apa saja tubuhnya yang kubuat patah,” seru Elektra sambil melihat ke arah Clara.
“Selesaikan secepatnya, aku ingin pulang,” seru Elektra.
“A-anda sudah bisa pulang, Nona,” seru Kepala Polisi membuat Elektra beranjak dari tempat duduknya.
Ia mengangkat sebelah alis melihat Clara yang tengah duduk mengigit jari. Elektra melangkah mendekat kemudian mencondongkan tubuhnya, ia berbisik di telinga Clara. “Kau lihat siapa yang berkuasa di sini ‘kan, Clara? Ah. Aku lupa, aku ingin memperingatimu sesuatu, berhati-hatilah saat keluar, kau tidak akan tahu saat membuka sudah berada di mana, nanti,” bisik Elektra menakuti Clara kemudian tersenyum membuat Clara mematung.
“K-kau—”
Tangan Elektra memberikan isyarat diam dengan meletakkan telunjuknya di depan bibir. Clara yang melihatnya terkejut, bahkan tidak mampu bernapas sesaat. Wanita yang diceritakan oleh Vero berbeda dengan wanita yang berada di hadapannya saat ini. Lemah? Tidak ada tanda-tanda lemah sama sekali.
Dan-kini, Clara berada di sebuah ruangan yang tidak dia ketahui.
“Kau sudah bangun, Clara?” Suara Elektra terdengar membuat tubuh Clara bergetar.
“E-Elektra? K-kau kah itu?” Clara mencoba untuk meyakinkan dirinya jika suara yang didengarnya adalah suara milik Elektra.
“Ya. Ini aku.” Elektra mengambil kursi dan duduk tepat di hadapan Clara.
“K-kumohon, lepaskan aku,” pinta Clara dengan suara bergetar.
Elektra menaikan sebelah alisnya, sambil mengusap wajah wanita di hadapannya. Setelah keluar dari kantor polisi, Elektra menculik Clara dan menyekapnya.
“Terlambat, Clara. Aku sudah tidak punya pengampunan lagi untukmu,” seru Elektra membuat wanita itu ketakutan.
“Please. Apapun yang kau inginkan, aku akan berikan padamu.” Clara memohon agar dibebaskan oleh Elektra tetapi perbuatan wanita itu tidak layak untuk dimaafkan.
Elektra mengingat perkataan Ankara, agar orang lain tidak meremehkan dirinya maka dia harus bisa membuat orang tersebut bungkam. Tangan Elektra mengusap pipi Clara membuat wanita itu berteriak begitu histeris.
“Stt ….” Elektra meminta Clara diam.
Grep! Elektra menarik rambut Clara. “Bukankah kau sudah sering melakukan hal ini, Clara? Bagaimana? Sakit bukan?” Clara tidak menjawab pertanya Elektra, dia hanya merintih agar dibebaskan. “Shut up!” bentak Elektra membuat Clara terdiam. “Jika kau masih sayang dengan nyawamu, sebaiknya kau diam. Jangan membuatku marah,” tegas Elektra membuat tubuh Clara semakin bergetar.
Elektra kembali duduk di hadapan Clara. Beberapa ide Ankara dan Jason terlintas di kepalanya tetapi dia tidak mampu melakukannya. Membunuh Clara adalah hal bagus tetapi dia tidak ingin wanita itu damai dengan kematian.
“Kau pikir setelah apa yang terjadi di kantor berakhir di kantor polisi membuatku puas Clara? Kau salah. Kau berurusan dengan orang yang salah.”
“Apa yang kau inginkan?” tanya Clara dengan suara parau.
Deheman terdengar sesaat. “Tadi kau memanggilku dengan sebutan apa? Alika, ya? Alika Farhan, right? Haruskah aku memberimu sebuah rahasia jika wanita yang kalian panggil Alika Farhan adalah adikku? Kami saudara kembar.”
Jason mengeruttkan kening saat mendengar apa yang dikatakan Elektra.
“Melihat kau membully-ku sepertinya kau sudah sering melakukannya ‘kan?”
“S-saudara kembar? I-itu tidak mungkin. Dia hanya anak dari pan—“
“Shut up!” Sebuah tamparan di pipi Clara saat kalimatnya belum selesai. “Kalian menghancurkan mentalnya, membuatnya memutuskan bunuh diri tapi sama sekali tidak memiliki kesalahan. Katakan pada wanita yang menjadi temanmu itu, aku akan datang dan membuat perhitungan padanya.” Jempol dan telunjuk mengapit dagu Clara dengan keras membuat wanita itu meringis kesakitan.
“Biar aku membalaskan apa yang telah kalian lakukan padanya.”
“Nona, apa yang harus kami lakukan padanya?” tanya seorang pria berbisik di telinga Elektra.
“Buat dia enggan untuk hidup tapi matipun tidak ingin,” titah Elektra.