16. Ancaman Elektra Pada Clara

1128 Words
Sebelum menutup pintu kamar rumah sakit, Elektra masih bisa melihat reaksi Clara yang ketakutan karena kedatangannya. Namun, gadis itu masih terus melontarkan sumpah serapah. “Pergi kamu!” Clara masih berteriak-teriak mengusir Elektra. Dia bahkan mulai mengancam, kalau orang tua Clara bisa menghukum Elektra. “Tunggulah pembalasan dariku! Orang tuaku tidak akan tinggal diam, melihatmu memperlakukan aku seperti ini!” ucapnya ke segala arah. Elektra yang tadinya sudah mau beranjak keluar dari kamar, terpaksa kembali masuk ke dalam. Dia merasa urusannya dengan Clara belum tuntas. Elektra menutup pintunya dengan sangat hati-hati dan berjalan perlahan mendekati Clara. Kedua tangannya terlipat di depan d**a. “Clara, kau yakin bisa menyentuhku? Menyentuh Nona dari keluarga Lysander?” Suara Elektra terdengar mengintimidasi membuat tubuh Clara gemetar. Rambut Elektra yang tengah tergerai, dimainkan Elektra dengan pelan sambil menatap tajam kea rah wanita di hadapannya. “Clara! Sekali lagi kamu bilang, kalau orang tuamu mampu mencelakakan aku, maka kau justru akan celaka. Kalian tidak akan mendapatkan hasil, hanya sia-sia. Tidak mungkin orang tuamu memiliki koneksi yang kuat,” kata Elektra dengan senyum yang percaya diri. “Elektra, asal kau tau, orang tuaku mempunyai kekuasaan. Dengan semua pengaruhnya, kami bisa mencari kebenaran, kemudian menemukan bukti-bukti yang akan menyeretmu ke dalam penjara!” Clara masih bisa menekan balik, tetapi kali ini Elektra benar-benar tidak mau berkompromi. “Dengarkan aku baik-baik Clara, apakah kau tahu pepatah yang mengatakan, di atas langit masih ada langit. Selama ini kamu mengira, keluargamu berada di langit yang tertinggi, tetapi kau tidak benar-benar tahu, bahwa alam semesta ini lebih luas dari langit yang kamu ketahui,” ucap Elektra sambil menatap tajam ke arah Clara. Ucapan Elektra benar-benar membuat Carla tidak berkutik. Elektra terlihat menarik napas panjang, dia mengamati kondisi Clara yang kini tampak mengenaskan. Wajahnya diliputi oleh kain perban. Begitu pula dengan matanya yang tertutup, dirinya hampir tidak bisa diketahui jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Elektra berjalan mendekati Clara, dia berdiri di dekatnya tanpa Clara mengetahuinya. Elektra kemudian mendekat ke telinga Clara dan membisikkan sesuatu. “Aku pastikan seumur hidupmu, kau akan menderita dan mengingat namaku, tetapi sayangnya kau tidak akan bisa membalas dendam,” katanya pada Clara. Lirih, tegas dan sadis. Clara suara yang terkejut dengan perpindahan Elektra. Dia tidak menyangka Elektra tiba-tiba sudah berada di dekat tubuhnya. Clara ketakutan dan langsung menjauhkan dirinya. Dia tidak lagi memiliki benda-benda yang bisa dilemparkan ke arah Elektra. Kini hanya umpatan dan makian yang kembali keluar dari mulutnya. “Siapa sebenarnya kamu Elektra? Tidak mungkin ada orang yang bisa bebas dari segala tuduhan dan juga rekayasa kejahatan, kecuali dia adalah mafia!” Elektra tertawa kecil sambil bertepuk tangan mendengar hal itu. Dia tidak mengiyakan tapi juga tidak menolaknya. “Well aku akui, sebenarnya kamu ini memang cerdas. Selain kaya kau memiliki otak yang juga pintar. Namun sayang sekali semuanya itu sekarang tidak lagi berguna. Kau tahu dengan keadaanmu yang tidak bisa melihat lagi, maka masa depanmu seolah sudah tertutup selamanya.” Diingatkan oleh Elektra soal kebutaannya, Clara marah. Dia berteriak-teriak tidak karuan, selang infus tercabut dan berhamburan. “Aku tidak mau buta! Aku tidak mau seumur hidupku berada di dalam kegelapan, kau tahu betapa berkuasanya keluargaku. Aku akan melakukan segala cara untuk bisa melihat lagi. Setelah itu aku akan menyeret dan menghukummu!” “Silahkan lakukan, kalau kamu memang bisa.” Elektra justru merasa tertantang, dia mendongakkan wajahnya dan menatap musuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Dengan tatapan kejamnya, Elektra seolah seorang wanita sama sekali tidak ada rasa belas kasihan. Itu adalah salah satu pelajaran yang dia dapat dari Ankara. “Saat kau bertemu dengan musuhmu habisi dia tanpa ampun. Jika kau sedikit saja menaruh belas kasihan padanya, maka suatu saat dia bisa berbalik menyerangmu.” Hal itu pula yang dikatakan oleh Elektra kini. Dia tidak tanggung-tanggung membuat Clara celaka, karena sebelumnya dia merasa Clara sudah menjadi pengganjal terberatnya. “Kau ini benar-benar setan Elektra!” bentak Clara lagi. Dia tahu jika Elektra ada di sebelahnya. Ingin rasanya meludahi wajahnya, tetapi Elektra lebih pintar. Dia sudah mundur beberapa jengkal dan tinggal meraih gagang pintu untuk segera keluar dari ruangan itu. “Terserah kamu mau menyebutku apa saja, yang jelas aku pastikan tidak ada manusia yang boleh menghinaku. Barang siapa berani menginjak-injak aku, dia juga akan menemui kesialannya. Aku menjanjikan itu. Kau beruntung bisa mendengarnya langsung dariku. Jadi seumur hidupmu kau tidak akan penasaran lagi pada siapa yang membuatmu celaka,” kata Elektra. Bibirnya tersenyum miring, wajah cantik Elektra terlihat begitu dingin. Seorang suster tampak tergopoh-gopoh mendatangi kamar perawatan dan berjalan ke kamar Clara karena mendengar teriakan dari pasiennya itu. Elektra segera berubah sikapnya. Saat suster sudah berada di dalam kamar itu, Elektra mengatakan kalau Clara tiba-tiba kehilangan kendali. Dia mengamuk karena tidak bisa menerima kebutaannya. “Maafkan aku suster, aku tidak sengaja membuat pasien ini marah. Aku hanyalah teman kantor yang menjenguknya, tetapi rupanya dia sangat tidak terima dengan sakit yang dideritanya kini.” Suster itu hanya tersenyum dan memahami yang terjadi. “Bukan hanya Anda saja yang mengalami perilaku yang dilakukan oleh Clara, tetapi hampir semua orang yang mengunjunginya akan dimarahinya.” “Oh jadi dia begitu. Kasihan sekali ya, sus,” kata Elektra penuh nada simpati. “Iya benar setelah ini, dia harus menjalani terapi panjang. Dia harus membiasakan diri dalam keadaannya yang sudah seperti ini dan itu sama sekali tidak mudah.” Elektra mencoba bersikap manis di depan suster itu. “Baik suster, semoga temanku ini bisa cepat sembuh ya.” “Nona, kami akan merawat dia dengan sebaik-baiknya, terima kasih sudah mengunjungi dia. Saya rasa Anda teman baiknya.” Suster itu berkomentar sekaligus terus mencoba membuat kesimpulan sendiri. Elektra seketika tertawa terbahak-bahak. “Teman baik?” Elektra mengulang kalimat suster. “Tidak!” bantah Elektra dengan raut wajah dinginnya. Merasa urusannya dengan Clara sudah beres, Elektra segera pergi dari tempat itu. Sebelum berbalik pergi, Elektra menoleh lagi ke arah Clara lalu menayangkan senyuman yang aneh. Dia juga lalu melambaikan tangan. “Goodbye Clara! Jangan pernah kita bertemu lagi.” Elektra bergegas meninggalkan ruang perawatan itu. Segala sesuatu yang dilakukan oleh Elektra, tidak ada yang mencurigakan. Baik tim Dokter maupun polisi, sama sekali tidak menemukan alasan yang bisa menjadikan gadis itu sebagai tersangka atas musibah yang menimpa Clara. Saat sudah keluar dari rumah sakit dan berada di dalam mobilnya, Elektra mengenakan kacamata hitamnya. Dia Lalu melihat pantulan dirinya di atas spion, dilihatnya sosok perempuan yang begitu cantik. “Aku suka dengan diriku sekarang ini, benar-benar menakjubkan,” puji Elektra. Wanita didikan organisasi mafia itu lalu menyalakan mesin mobil dan menginjak gas. Elektra pergi dengan hati yang ringan, karena kini tidak punya lagi musuh yang berarti di kampus. Dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan cepat tanpa gangguan dan tidak ada orang yang mengenali siapa sesungguhnya seorang Elektra. Elektra, dunia yang luas seolah sudah menunggumu. Kau bisa menjadi seorang malaikat penolong sekaligus setan penghancur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD