Banyak mobil berjejer di parkiran cafe 'Bruno'. Pasti tamu undangannya adalah orang-orang berduit tebal. Ambar dan Arda berjalan berdampingan menuju pintu masuk cafe. Lalu masuk sampai ke belakang. Acaranya memang berada di belakang cafe. Benar-benar acara yang memukau. Halaman belakang di hias dengan semewah mungkin. Tidak terkesan norak, malah terkesan elegan. Belum lagi lampu-lampu bergantungan menambah kesan romantis bagi yang memiliki pasangan.
Dari beberapa orang yang hadir memang membawa pasangannya. Namun, yang Ambar herankan tidak ada yang membawa anak mereka. Dia rasa beberapa sudah ada yang telah menikah. Mungkin karena tahu ini acara tidak cocok untuk anak kecil, oleh karenanya mereka tak membawa anak-anaknya.
"Kamu mau minum apa?"
"Apapun, selama itu halal," jawab Ambar. Dia yakini di sini tidak sembarangan dalam menghidangkan makanan maupun minuman.
Arda mengangguk lalu berjalan menuju meja berisikan beberapa macam minuman. Sedangkan, Ambar yang merasa pegal pun memilih mencari tempat duduk. Pilihannya di bawah lampu-lampu, tepat di bawah pohon. Sambil menatap Arda dari jauh, mengawasinya dari jangkauan lelaki hidung belang.
Dia kembali mengedarkan pandangan ke arah beberapa wanita yang berpakain begitu terbuka. Dalam hati dia beristighfar sebanyak-banyaknya. Sungguh dia tak suka melihatnya, walaupun itu pilihan mereka.
"Hai," sapa seseorang lelaki berpotongan cepak. Hidung mancung dan wajah yang putih bersih yang menjadi incaran para wanita untuk dijadikan sebagai seorang suami. Namun, tidak dengan Ambar. Baru pertama kali melihatnya sudah tak tertarik pada lelaki itu.
"Boleh saya duduk di sampingmu?" Lelaki itu menunjuk kursi yang berada di sampingnya. Ambar dengan tegas menggelengkan kepala. Wajahnya yang datar kenapa tidak mampu membuat lelaki itu pergi dari hadapannya. Sungguh dia ingin sendiri menikmati pemandangan malam yang begitu indah. Bintang-bintang yang bersinar cerah menemani bulan supaya tak sendirian.
"Kenapa tidak boleh?" tanya lelaki itu. Walau ditolak masih bisa memasang senyuman tipis.
"Tempat duduk 'kan masih banyak. Silahkan cari tempat duduk yang lain, selain di sini. Saya ingin sendirian," ujar Ambar dengan tegas. Lelaki itu memasang wajah kecewa. Tanpa berkata lagi memilih pergi. Sudahlah, dia sudah ditolak oleh wanita secantik Ambar. Entah kenapa wajah tampannya tak mampu membuat wanita itu terpesona.
Dari kejauhan Arda melihat Ambar dengan lelaki yang tidak dia ketahui siapa. Dengan langkah pelan dia menghampiri Ambar dengan dua gelas minuman yang dia rasa aman. Karena ini minuman es jeruk.
"Ambar," panggilnya saat sudah di dekat Ambar.
"Terima kasih." Ambar langsung meminumnya sedikit.
"Siapa lelaki tadi?"
Ambar mengedikkan bahu.
"Ya sudah, nanti temenin kakak bertemu dengan pemilik acara ini ya."
Ambar mengangguk. Dia mengeluarkan ponsel dari sling bagnya. Membuka aplikasi berwarna ungu bercampur orange itu. Arda memilih duduk di samping Ambar sambil menatap sekeliling mencari pemilik acara ini. Hanya sekedar mengucapkan selamat.
"Kenapa sudah tua harus dirayakan ulang tahunnya? Bukannya malah bersedih karena umurnya berkurang," ujar Ambar membuat Arda kaget. Tumben sekali adik iparnya itu mengajaknya berbicara lebih dulu. Biasanya diajak berbicara cuek saja.
"Hush, jangan bicara begitu. Nanti ada yang dengar gimana?"
Ambar hanya mengedikkan bahu. Kemudian dia beralih membuka aplikasi hijau. Banyak sekali pesan yang dia terima. Kebanyakan juga para lelaki. Dia tak membacanya langsung memblokir nomor tersebut. Arda yang sempat melihatnya pun kaget setengah mati. Dia tak percaya akan tindakan Ambar yang terkesan berlebihan itu.
"Kenapa kamu blokir?"
"Sesuatu yang membuat mata tak nyaman memandangnya, sudah seharusnya dimusnahkan," jawabnya dengan santai.
Arda mengelus dadaanya pelan. Dia menghela nafas panjang. Adik iparnya benar-benar membuatnya spot jantung. Ponsel yang bergetar membuat Arda mengalihkan pandangan. Dia mengambil ponselnya dari sling bag. Ternyata ada panggilan vidio dari sang suami.
Suara Galih menyambut telinganya tatkala dia mengangkat panggilan tersebut. Wajah tampannya dengan rambut yang masih basah membuatnya bertambah tampan berkali-kali lipat. Galih menyapanya dengan salam yang dijawab salam juga oleh Arda.
"Bagaimana acaranya?"
"Mewah, Mas."
Galih mengangguk. "Kamu tidak digangguin lelaki lain 'kan?"
Arda menggelengkan kepala. "Enggak, Mas. Adikmu justru yang diganggu lelaki."
"Mana Ambar?" Arda menggeser ponselnya ke arah Ambar. Wajah datar Ambar menyambut Galih.
"Ambar, makin ke sini makin jutek," goda Galih. Namun, Ambar memilih diam menatap ponselnya.
"Kenapa dia?" tanya Galih saat ponselnya hanya tampak wajah Arda lagi.
"Badmood mungkin. Kapan Mas pulang?" Suara musik yang keras membuat Arda harus berteriak untuk sekedar menjawab perkataan suaminya.
"Besok, kamu mau dibawakan oleh-oleh apa?"
"Yang penting Mas pulang dengan selamat aja."
"Do'akan ya, Sayang. Ya udah, ditutup saja panggilan vidionya. Kayaknya suasana tak mendukung."
Arda terkekeh. Dia mengangguk lalu mengucapkan salam sebagai akhir sambungan vidio. Memasukkan kembali ponsel ke dalam sling bagnya. Melirik Ambar yang masih diam menatap ponsel. Dia jadi takut sendiri melihatnya. Apalagi di bawah pohon.
"Ambar, disapa Mas mu tumben diam saja," ujar Arda.
Ambar menjawab, "Lagi males. Dimana teman kakak itu?"
Arda bangkit dari duduknya. "Ya udah, kita cari yuk! Sekalian pamit."
Ambar mengangguk. "Nanti pulangnya turunkan Ambar di restoran saja."
"Loh?"
"Ambar mau mengecek keadaan restoran," jawab Ambar. Arda mengangguk lalu mengajak Ambar mencari pemilik acara ini.
Berkeliling ke sana-sini hingga menemukan pemilik acara yang baru masuk ke dalam cafe dengan wajah berbinar. Dengan kacamata hitam dan jas mahalnya yang berkilau membuat semua tamu memandangnya termasuk Arda. Ambar hanya cuek dengan mata yang masih memandang ponsel. Kini dia membuka aplikasi berwarna merah. Mencari berita-berita menarik yang setidaknya membuat tak bosan berada di sini.
"Hai, Arda. Akhirnya datang juga. Katanya tak jadi datang karena suamimu berada di luar kota," sapa pemilik acara bersuara serak itu.
Arda mengangguk dan tersenyum. "Ini, aku ajak adik iparku ke sini."
Lelaki pemilik acara itu menatap sebelah Arda. Wanita cantik yang sibuk menatap ponsel tanpa mau memandang ke arah lain.
"Kenalin dong, siapa?"
"Panggil saja Ambarwati." Bukan Ambar yang menjawab, tetapi Arda yang mewakili. Karena Ambar masih saja asyik menatap ponselnya.
"Dia juga memiliki restoran lho," ujar Arda lagi.
"Hei, gimana? Cari tempat duduk dulu. Lebih nyaman berbicara sambil duduk dan menikmati hidangan."
"Lihat para tamumu sepertinya tak sabar ingin memberimu ucapan selamat," ujar Arda sambil terkekeh.
"Nanti satu persatu bakal aku sapa. Sekarang menemui tamu istimewaku dulu," katanya sambil tertawa.
Arda hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. Dia mengajak Ambar duduk di sebelahnya.
"Hai, Ambar. Dimana restoranmu berada?" tanya lelaki itu. "Eh, tunggu, apa restoran 'Ambar' nama restoranmu itu?"
Ambar meletakkan ponselnya. Dia menjawab tanpa menatap wajah lelaki itu, "Ya, restoran 'Ambar'."
"Tak kusangka. Restoran itu pemiliknya masih muda. Restoran yang ramai dengan desain yang menarik."
"Terima kasih," jawab Ambar tanpa senyuman.
Arda membiarkan temannya mengajak Ambar berbicara. Dia rasa keduanya akan cocok nanti. Dilihat bagaimana Ambar selalu menanggapi perkataan temannya terkait bisnis yang sama-sama mereka kembangkan dalam bidang kuliner.
"Bagaimana awalnya kamu mendirikan restoran itu?"
Arda memilih diam dan mendengar interaksi keduanya. Dia membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu kepada sepupu jauhnya soal rencananya dan Galih untuk mendekatkan antara Ambar dan Haikal—sepupu jauhnya.
"Karena suka dalam berbisnis."
Lelaki itu mengangguk. "Kalau aku karena selagi masih muda, belum menikah, apalagi lelaki itu yang akan menafkahi keluarganya 'kan? Jadi, bener-bener memanfaatkan waktu dengan baik. Mengurangi acara yang tidak perlu, seperti nongkrong sana-sini sama temen bahas yang gak penting-penting banget. Mulai ikut beberapa komunitas untuk membangun relasi."
"Saya kira meneruskan usaha keluarga mungkin," kata Ambar membuat Arda langsung menoleh melihatnya.
Lelaki itu tertawa. Tawanya saja begitu kalem. Siapapun wanita pasti akan terpesona melihatnya, sangat berbeda dengan Ambar. Arda saja jika belum menikah pasti sudah terpesona melihatnya, hanya saja cinta dan hatinya hanya untuk Galih seorang.
"Ya, beberapa memang mengatakan begitu. Tetapi, saya pribadi berpikir jika bisa membangunnya sendiri kenapa harus meneruskan?" tanya lelaki itu. "Lagipula di zaman sekarang itu membutuhkan skill, pemikiran yang dewasa dalam artian bijak, teori-teori yang kita pelajari selama sekolah itu hanya jalan saja atau perantara istilahnya, tetapi tetap saja yang menentukan itu diri sendiri, mau usaha apa enggak atau justru rebahan terus sampai melihat teman-temannya udah sukses. Belajar juga gak hanya di sekolah saja, di tempat lain misalnya. Misalnya juga ada orang ini itu di sekolah ambil jurusan memasak, lalu bagaimana dia bisa mengelola usaha souvenir? Pasti dengan mempelajarinya bukan? Dengan mengasah skill yang ada."
Ambar mengangguk. Arda terpukau dengan penjelasannya. Dia yang memilih bekerja di rumah dengan menulis. Gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena dia sudah menikah ada yang menanggung kebutuhan hidupnya. Galih—sang suami yang bekerja dengan gaji yang turah-turah.
"Iya, definisi memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya," kata Ambar.
"Betul, kalau sudah sukses, tetap jadi orang yang rendah hati. Sejatinya kita dan karyawan itu saling membutuhkan. Mereka membutuhkan kerja supaya mendapatkan uang, dan saya membutuhkan mereka untuk mengurusi restoran saya. Kita juga bisa sisihkan uang untuk membantu sesama yang membutuhkan," jelas lelaki itu dengan bijak. Ambar terpana dengan perkataan dan pemikiran yang dewasa itu. Hanya saja raut datarnya tak akan dapat diprediksi siapapun jika dia sedang memikirkan perkataan tersebut yang dia jadikan sebuah motivasi.
Arda yang sedari tadi diam pun menyahut, "Tuh. Semua sedang menunggumu."
Lelaki itu melirik para tamunya. Dia terkekeh pelan. "Ya sudah, saya ke sana dulu. Nikmatin jamuannya. Semoga suka. Tidak boleh pulang dulu jika belum kenyang."
Arda menggelengkan kepala. "Kita sudah kenyang. Kita mau pulang lebih awal."
"Loh, kenapa?"
"Hadih khusus untukmu kutaruh di meja itu. Semua pada letakkan di situ," ujar Arda melirik sebuah meja panjang yang berisi tumpukan hadiah.
"Udah tua gini dikasih hadiah. Ya, udah terima kasih ya. Ngapain pulang cepet? Baru juga saya sampai."
"Ya biasalah, wanita bersuami gak bisa pulang terlalu larut. Ambar juga ada urusan," jawab Arda seadanya.
"Ya, hati-hati saja. Seneng bia mengobrol dengan adik iparmu yang cantik itu."
Arda tertawa mendengarnya. Dia melihat Ambar sudah jalan duluan tanpa pamit ke pemilik acara. Lelaki pemilik acara itu hanya terkekeh pelan. "Unik dan misterius. Tipe saya banget ini."
"Dia sulit didekati, tetapi kalau pembahasannya soal bisnis. Dia paling suka. Kalau bahas soal cinta, mending mundur dulu deh. Lagian kabarnya kamu mau dijodohin 'kan?"
"Tahu darimana sih?" Lelaki itu menggerutu.
"Ya udah, pulang dulu nih. Semoga acaranya lancar. Have fun guys." Lelaki itu mengangguk. Arda berjalan pelan menuju Ambar yang berdiri sambil menunduk menatap high heelsnya.
"Yuk, pulang!" ajak Arda. Ambar mengangguk. Mereka berjalan menuju mobil. Lagi-lagi Arda yang mengemudikan mobil. Sedangkan, Ambar memilih duduk di sebelahnya sambil memainkan ponsel. Seketika perjalanan kembali sepi. Hanya suara kendaraan lain yang menghibur kesunyian Arda.