31-Bab 31

1402 Words
Keenan bukan lelaki yang mudah menyerah ketika ditolak oleh wanita yang dicintainya. Walau Ambar sudah mengatakan beberapa kali lebih baik mencari wanita lain. Namun, dia yakin bahwa jodohnya adalah Ambarwati Setyoningsih. Hampir setiap hari ketika pulang kerja dia menyempatkan bertamu ke rumah Ambar. Entah sekedar menemui Ambar atau ibu kandung Ambar. Wanita paruh baya itu sudah lebih baik dari sebelumnya. "Pulang sana!" Sudah biasa kalimat itu melucur dari bibir manis Ambar. Namun, Keenan hanya diam saja. Lagipula dia tidak berduaan di sini dengan Ambar, ada pembantu Ambar juga, ada ibu kandung Ambar. Dia rindu masa dulu dimana menghabiskan waktu bersama Ambar. Ah, hal yang tak pernah dia lupakan. Saat Ambar memberinya hadiah yang istimewa di hari ulang tahunnya. Sepatu dan baju couple yang sekarang dipakainya. Mulutnya tak berhenti mengunyah makanan ringan yang disediakan oleh pembantu Ambar. Dia menganggap rumah ini layaknya rumah sendiri. "Keenan, pulang sana," rengek Ambar membuat Keenan tersenyum. "Enggak." "Mau sampai kapan sih? Ini udah sore." "Besok Ambar," gurau Keenan. Dia suka membuat Ambar kesal padanya. "Keenan, besok pintu rumahku bakal tertutup buat kamu kalau sekarang gak pulang juga!" ancam Ambar sambil bersedekap daada. Keenan terkekeh pelan. "Ambar, jangan begitu," ujar Keenan. Dia akhirnya memilih berdiri. "Aku pulang, jangan kangen!" Ambar hanya menggelengkan kepala saja saat punggung badan Keenan sudah pergi dari hadapannya. Dia memutuskan masuk ke dalam kamarnya. Kebetulan ponselnya berbunyi. Rupanya panggilan dari Haikal. Dia telah mengabaikannya beberapa kali, mungkin tak apa dia mengangkatnya sesekali. "Assalamu'alaikum," sapa Ambar. Haikal menjawab salamnya di seberang sana. Tampak lega sekali karena Ambar mau mengangkat telfonnya. Sudah lama tak berkomunikasi dengan Ambar karena Santi. "Ada apa?" tanya Ambar. Dia memilih duduk di sofa yang ada di kamarnya. "Aku senang kamu mau mengangkat telfonku. Ambar, kapan kamu kembali ke restoran?" Ambar menghela nafas panjang. Sebenarnya dia juga akan ke sana. Namun, dalam waktu dekat rupanya belum bisa. "Ayahmu sakit," ujar Haikal lagi membuat Ambar terdiam. "Lalu aku harus apa?" tanya Ambar dengan wajah lelah. Dia masih kecewa, walau hatinya merasa sedih saat mendengar pria paruh baya yang merawatnya dengan penuh kasih sayang itu sedang sakit. "Kak Arda selalu bertanya padaku mengenai alamat rumahmu. Namun, aku tak mengatakannya." "Katakan saja," ucap Ambar. Haikal merasa telinganya banyak kotoran. Perkataan Ambar kali ini sunggug mengejutkan. "Ka—mu, kamu serius membiarkanku memberi tahu mereka tentang alamat rumahmu?" "Iya," jawab Ambar singkat. Haikal mengangguk. "Oke, aku akan katakan. Sepertinya ayahmu sakit keras. Mungkin benar, dengan memaafkan dan menerimanya dengan ikhlas adalah jalan terbaik untuk saat ini." Ambar terdiam mendengarnya. Kemudian dia mematikan ponselnya. Dia tak mau terlalu lama bertelfon dengan Haikal. Dia tahu perjuangan Santi, cinta Santi. Apalagi yang dia dengar Santi memilih pergi dari hidup Haikal. Hal itu yang membuatnya merasa bersalah. Dia tahu Haikal sangat menyayangi Santi sebagai sahabat, dia tahu Haikal menyukainya. Dia juga merasakan apa yang dirasa Haikal dulu, sekarang dia hanya menganggap sebagai teman atau sahabat. Bagaimanapun kebaikan Haikal tak akan pernah dia lupakan. Hanya saja untuk menjalin hubungan yang serius dengan lelaki itu, dia tak akan bisa. Terlebih ada orang yang jelas-jelas tahu kebiasaan Haikal, seluk-beluk keluarganya, dan sangat mencintai Haikal. Mungkinkah dia akan membuat Santi terluka? Tidak, dia lebih baik fokus akan kesehatan ibunya yang kini jauh lebih baik dari sebelumnya. Apalagi kegigihan Keenan padanya membuat dirinya mencoba menerima lelaki itu. Bagaimanapun Keenan tak bersalah. Walaupun dia berusaha menyangkalnya, dia masih memiliki setitik rasa terhadap lelaki itu. Andai dua tahun lalu tak mengecewakan, mungkin kini dia telah bahagia bersama Keenan dan bayinya. Ah, dia terlalu lama bermimpi. Kini, dia sudah bangun dari mimpi pahitnya untuk meraih harapan dan kebahagiaannya. Rasanya sudah lama tak meninjau restoran secara langsung, besok dia akan memutuskan datang ke sana. Menitipkan ibu kepada pembantunya. Andai ibu sudah sehat, dia akan memperkenalkan ibu kepada karyawannya. Walau nanti akan ada kebingungan di mata mereka. Keesokan harinya, Ambar yang hendak berangkat kerja pun memutuskan tidak jadi. Mengingat kebutuhan untuk makan tinggal sedikit, dia memutuskan untuk belanja sendiri sekaligus menikmati udara segar di luar sana. Dengan mengemudikan mobil, dia menuju mall. Saat di parkiran, tak dia sangka bertemu dengan ibu Keenan. Ingatannya berputar saat dia mengatakan hal yang mungkin membuat wanita itu kecewa padanya. Ambar merasa bersalah. Dia memilih tidak menyapa saja. "Ambar." Rupanya wanita paruh baya itu memanggil dirinya. Dia menarik nafas sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya. Ambar memutuskan untuk menghampiri wanita itu, mencium tangannya. Tidak ada penolakan, dia cukup senang. "Saya tahu kamu kembali dekat dengan anak saya." Tidak ada basa-basi, langsung pada intinya. Ambar mengerti, dia akan mencoba memahami semuanya. "Seharusnya kamu sadar, kamu itu siapa Ambar." Ambar terdiam mendengarnya. "Saya merasa sakit hati saat mendengar kenyataan bahwa anak saya diasingkan. Selama dua tahun, kamu bisa bayangkan sendiri bagaimana rasanya seorang ibu ketika melihat anaknya tak ada disisinya. Tak ada kabar, mengira bahwa anaknya memang telah kabur dengan wanita lain dan melakukan hal yang tidak-tidak. Saya merasa tak terima atas perbuatan ayahmu. Ah, pamanmu ya. Saya tahu kamu juga merasa kecewa saat tahu kebenarannya." Ambar masih diam menundukkan kepala. Dia menahan air mata yang jatuh. Hal ini kembali mengingatkannya pada masa lalu yang buruk. Bersusah payah dia bangkit, ternyata hanya dipermainkan saja. Dia sampai hampir melakukan hal yang nekat, mengakhiri nyawanya karena tak kuasa menanggung malu. "Ambar, saya tahu bagaimana rasanya jadi kamu. Saya berniat menjodohkan Keenan dengan wanita pilihan saya. Namun, dengan lantangnya Keenan menolak." Ambar terkejut mendengarnya. Keenan dijodohkan tetapi menolak. Dia tahu, ibu dari Keenan tak merestui hubungannya dengan Keenan lagi. "Keenan sampai memohon-mohon pada saya. Hati ibu mana yang tak sakit melihatnya. Keenan begitu mencintaimu, walaupun pamanmu telah menyakitinya, memisahkannya dari keluarganya juga dirimu." Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. "Mungkin, memang benar kalian tidak berjodoh. Namun, saya hanya ingin mendengar maaf dari pamanmu. Saya tidak bisa merestui hubungan kalian lagi, walaupun anak saya mencintai kamu." Ambar terdiam mendengarnya. Dia sudah mulai membuka hatinya lagi untuk Keenan, tetapi mendengar kenyataan bahwa tidak ada restu lagi membuat Ambar menyerah. "Iya, Bu. Saya tahu kesalahan ayah saya begitu besar. Saya meminta maaf atas itu. Tetapi, bukan hanya ibu yang tersakiti atas kejadian dua tahun yang lalu. Saya pun juga begitu. Mungkin memang benar jika saya dan Keenan tidak berjodoh. Saya permisi dulu, Bu." Dia memutuskan lanjut belanja walaupun hatinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Rasa sakit yang dia alami begitu besar, dia tak bisa mengatakan apapun lagi. Hatinya hancur untuk kedua kalinya. Dia mendongakkan kepala, menahan air mata yang ingin menetes. Rasanya sungguh menyakitkan. Sepanjang jalan mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan, Ambar masih saja menggigit bibirnya menahan tangis. Kedua matanya memerah. Orang lain yang menatapnya dengan intens pasti merasakan kesedihannya. Hingga dia merasa tak kuat, belum selesai belanja dia memutuskan ke kamar mandi. Menangis di sana. Hidungnya langsung memerah. Dia yang tak membawa kacamata pun memutuskan untuk berdiam lama di kamar mandi. Mencoba meredakan kesedihannya. Dia tak mau menjadi perhatian publik. Kali ini dia memutuskan untuk menghubungi Haikal. Ah, tidak. Dia tak bisa lagi meminta bantuan lelaki itu. Dia tak mau menjadi orang ketiga diantara Haikal dan Santi. Walaupun kenyataannya Santi memilih pergi. Dengan helaan nafas panjang, Ambar mencuci mukanya. Namun, tak sisa air mata dan hidung memerah tak bisa dihilangkan. Dia tak bisa ke luar dari sini. Merasa bingung, Ambar memutuskan berdiam lagi. Ini bukan dirinya yang lemah, Ambar yang sekarang bisa menahan sakit dan air mata. Namun, perasaannya tak bisa dibohongi. Dia sungguh bersedih atas kebenaran yang ada. Berusaha menguatkan diri, Ambar memutuskan ke luar kamar mandi. Dia terkejut saat melihat Santi menatapnya dan mengulurkan sebuah masker untuknya. "Aku tahu kamu sangat membutuhkannya," ucap Santi tanpa senyuman. Ambar mengeryitkan dahi heran. Bagaimana bisa Santi ada di sini? "Aku bekerja di sini, setelah memutuskan pergi dari hidup Haikal." Santi seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Ambar. "Ambil saja, tidak aku kasih obat bius," ucap Santi lagi. Ambar mengambilnya. Lagipula dia juga membutuhkan masker untuk menutupi hidungnya yang memerah dan kedua matanya yang sembab. "Terima kasih," kata Ambar. Santi mengangguk saja lalu melenggang pergi. Ambar menatap kasihan kepada wanita itu. "Suatu saat akan kubalas kebaikanmu," ucap Ambar dengan senyuman tipis. Wanita yang galak, suka memarahinya dulu, rupanya adalah wanita yang baik. Hal itu terjadi karena rasa cemburu saja. Ambar memutuskan melanjutkan belanja. Dia sudah merasa tak sedih lagi. Tarik nafas, lalu hembuskan. Hal yang dia lakukan untuk meredakan sedihnya. Dia akan mencoba menerima semuanya dengan ikhlas. Karena bagaimanapun, jika dia selalu memaksa, tak akan ada artinya. Dia kuat, dia harus bisa membentengi dirinya lagi dengan baik. Supaya tidak sedih lagi, supaya dia tak mudah menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD