28-Bab 28

1006 Words
"Ambar," lirih pria paruh baya yang sering dipanggil ayah oleh Ambar dulu. Namun, kini tidak ada putrinya di rumah ini. Suaranya saja tidak terdengar. Arda sangat khawatir akan kedaan ayah mertuanya. Tubuhnya jadi kurus semenjak ditinggal Ambar sudah seminggu. Tidak suka makan, dan suka melamun. Belum lagi umur ayah mertuanya yang sudah tua ini tentu akan membahayakan bagi dirinya sendiri jika tidak menjaga kesehatan. "Ayah, makan bubur dulu ya." Ayah mertuanya itu hanya duduk melamun sambil memanggil Ambar. Mengusap sebuah foto Ambar yang sudah beranjak dewasa. Arda yakin ayah mertuanya sangat menyayangi Ambar, walaupun bukan darah dagingnya sendiri. Hanya saja mungkin permasalahannya ada pada ibu kandung Ambar, dimana ayah mertuanya sangat membenci wanita paruh baya itu. "Ayah," panggil Arda dengan suara lembut. "Arda suapin ya!" Ayah menggelengkan kepala. Dia menunjuk foto Ambar seakan meminta Ambar. Semenjak Ambar meninggalkan rumah, ayah langsung jatuh sakit. Jika biasanya serin ke luar bersama teman-temannya yang sudah tua untuk sekedar memancing, ayah lebih menghabiskan waktunya di rumah dengan melamun. Suara pintu yang dibuka lebih lebar mengalihkan perhatian Arda. Rupanya Galih yang menatap ayahnya dengan tatapan sedih. "Ayah, makan dulu!" "Ambar, ayah hanya ingin Ambar." Galih mengangguk. Dia duduk bersimpuh dihadapan ayahnya. Memegang tangan ayahnya. "Galih sedang mencari Ambar." "Ambar pasti membenci ayah. Kenapa Galih?" Air mata jatuh di kedua pipi Ayah. Arda mengedarkan pandangannya ke arah lain. Dia tak mau ikut menangis. Walau hatinya juga turut bersedih. Keluarganya sedang dirindung masalah besar. "Ambar tidak membenci ayah, Ambar hanya ingin menenangkan diri," ujar Galih mencoba meyakinkan walau kenyataannya tidak mungkin benar. Ayah hanya menunduk. Dia mengingat bagaimana dulu mengajak Ambar bermain, bahkan Galih yang putranya sendiri jarang sekali dia ajak ke luar. Sesayang itu dia dengan Ambar, tetapi kini dia kehilangan putri cantiknya. Kehilangan senyumannya dan entah dimana Ambar tinggal. Galih memberi kode Arda untuk ke luar dari kamar Ayah. Membiarkan ayah tenang dulu. Galih menutup pintunya pelan. "Mas." Galih mengangguk paham. "Nanti mas akan kembali ke rumah Haikal. Siapa tahu Haikal berubah pikiran." Arda menggelengkan kepala. "Kita temui Santi saja. Siapa tahu wanita itu tahu dimana alamat rumah Ambar." Galih mengerutkan dahinya bingung, tak lama dia mengangguk paham. Santi yang sangat otoriter dan selalu menatap sinis Ambar, menganggap Ambar adalah saingannya dalam memperebutkan Haikal. Galih harus mencari keberadaan Santi. Dia berharap segera bertemu karena ini sangat urgent sekali. Arda membuka pintu kamar ayah lagi. Dia terkejut saat ayah sudah berbaring, lebih tepatnya jatuh. Kenapa dia tidak mendengarnya? "Mas," panggil Arda dengan teriak. Galih sama-sama terkejut saat menoleh ke belakang. Namun, dia lebih terkejut mendengar teriakan istrinya. "Ayah," ucap Galih menggelengkan kepala tak percaya. Dia mengangkat ayahnya dan membaringkannya di kasur. "Ayah demam," ucap Arda. Dia segera ke luar untuk mencari baskom. Pagi ini Galih memutuskan untuk libur kerja dan membantu sang istri mengurus ayahnya yang sedang sakit. Bahkan, Arda belum sempat memasak untuk Galih. Tak lama Arda kembali dengan baskom dan lap ditangannya. Galih mengusap tangan kanan ayahnya. Dia sangat sedih dengan keadaan ayahnya yang sekarang seperti kurang semangat menjalani kehidupan. Dia berharap Ambar sudah memaafkan kesalahan ayah dan mau kembali tinggal di sini. "Ayah, semoga lekas sembuh," ucap Arda dengan lirih. Tidak ada yang tidak pernah berbuat salah. Mencoba untuk memaafkan kesalahan itu hal yang baik, karena tidak semua orang bisa melakukannya. Ayah berhak mendapatkan kesempatan kedua dari Ambar. Bagaimanapun yang merawat Ambar dengan baik sampai sukses sekarang adalah ayah. ********* Ambar menatap ibu kandungnya yang tampak diam melamun. Tubuhnya yang kurus dan tidak suka makan membuat Ambar menangis. Dia begitu jahat telah membiarkan ibunya terluka, sedangkan dia tak bisa melaporkan kejahatan ayahnya. Ah, bisakah dia memanggilnya ayah setelah tahu kebenarannta bahwa pria paruh baya itu bukanlah ayah kandungnya. Ayah kandungnya telah tiada. Ibu yang mengandungnya selama 9 bulan, merawatnya dengan penuh bahagia. Namun, diambil oleh ayahnya.  "Ibu, sekarang ibu makan dulu ya," pinta Ambar sambil mengusap kedua tangan ibunya. "Ambar." Hanya itu yang dikatakan ibunya. Ambar cukup senang walau tidak ada respon lebih. Ibu memang kehilangan akal, begitu apa yang dikatakan oleh perawat. Karena sering memanggil nama Ambar dan selalu menangis. Ambar mengerti saat melihat tatapan kosong ibunya. "Ibu harus cepat sembuh, Ambar sudah di sini, Bu," ucap Ambar lagi dengan senyuman tipis. Rumah yang tidak terlalu mewah, dengan halaman rumah yang terkesan sederhana. Namun, Ambar cukup senang melihatnya. Kini, dia memutuskan hidup berdua dengan sang ibu. Restoranya sementara waktu dikelola oleh orang yang sangat dia percaya. Dia masih ingin menjauh dari Galih. Entah mereka mencarinya atau tidak. Kini, fokus kebahagiaannya adalah ibunya. Setelah bagaimana perjuangan ibunya, dia hanya ingin membahagiakannya.  "Sekarang ibu makan dulu, terus nanti Ambar ajak jalan-jalan ke belakang." Seakan berbicara sendiri. Itulah yang kerap kali Ambar lakukan. Dia menyuapi sang ibu dengan telaten, Ambar juga mengelap bibir ibu dengan tisu. Sungguh dia sangat menyayangi ibunya walau baru bertemu.  Suapan kelima, ibu menggelengkan kepala. Dia hendak marah, tetapi Ambar memeluknya lebih dulu. "Ibu, ini Ambar. Ambar mau ibu sehat dan nanti kita liburan bersama," kata Ambar dengan suara lembut. Ibu hanya menggelengkan kepala menolak pelukan Ambar. Dengan terpaksa Ambar melepaskan pelukan sang ibu. Dia sungguh sedih melihat keadaan ibu kandungnya yang sangat mengkhawatirkan. Sebagai seorang anak tentu dia merasa begitu tak berguna.  "Bu, ini Ambar. Anak kandung Ibu. Ibu dulu selalu nyariin Ambar di tempat kerja Ambar. Ambar seneng banget." Ambar menggigit bibirnya. Dia mengingat hal itu. Dimana dia selalu meminta karyawannya untuk mengusir ibu. Dia tak tahu saat itu. Kini dia sungguh menyesal. Semoga ibunya kembali sehat seperti semula. "Maafin Ambar, belum bisa jadi anak yang baik buat ibu. Baru bertemu dengan ibu. Ambar janji, Ambar akan selalu ada untuk ibu. Dimanapun ibu berada, Ambar akan selalu di samping ibu. Ambar sayang sekali dengan Ibu. Oleh karena itu, Ibu harus cepat sehat ya. Ambar mau ibu sehat. Nanti kita masak bersama, jalan-jalan bersama. Ambar tak sabar menunggu hari itu." Ambar berbicara panjang, walau tak ada tanggapan sedikitpun. Dia menghepa nafas panjang. Dia yakin ibu kandungnya akan sembuh. Dia tak boleh menyerah. Dipeluknya sang ibu, walau ada pemberontakan. Semua akan kembali baik-baik saja. Bahagianya kini adalah sang ibu.  "Ambar, sayang sekali sama ibu," ucapnya dengan pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD