Part 7 Penyelamatan

831 Words
Aku diseret oleh salah satu dari mereka. Ia menjambak rambutku dan membuatku terpaksa menuruti ke mana dia membawaku. Rasanya pedih sekali kepalaku. Sekujur tubuhku juga sakit karena berkali-kali mendapatkan pukulan. Bahkan wajahku memar karena dipukul saat di dalam mobil tadi. Aku diikat di sebuah kursi kayu. Kuat, hingga untuk bergerak pun tangan serta kakiku terasa sulit. Saat ini aku hanya berharap Indra bisa menemukanku, dan datang ke tempat ini. "Kenapa suamimu tidak kunjung datang? Apa dia takut? Dan tidak ingin menyelamatkan istrinya?" tanya salah satu dari mereka padaku. Mulutku yang ditutup kain, hanya bisa menggeram menanggapi perkataannya. Di gudang ini, ada sekitar 20 orang. Semua memakai penutup wajah dan tersebar di seluruh tempat. Bahkan aku tidak tau, ada berapa orang di luar. Terdengar keributan di pintu belakang. Mereka lantas memeriksa ke luar, dan tiba-tiba saat dia sampai di pintu, dia kembali terlempar ke dalam. Muncul beberapa orang dengan pakaian serba hitam dilengkapi baju khusus, rompi anti peluru, dan pistol di tangan. "Tangkap mereka!" jerit pemimpinnya yang aku yakin adalah suamiku, Indra. Terjadi baku tembak di gedung ini. Suara letusan pistol menggema ke penjuru gedung kosong. Namun tiba-tiba, pelipisku di todong sebuah pistol. Aku melirik ke samping dan rupanya salah satu penjahat itu, menjadikan ku umpan agar Indra berhenti menyerang. "Indra! Kamu mau istrimu mati? Hah?!" jeritnya sambil menembakkan satu peluru ke atas. Indra berhenti. Dia lantas menyuruh anak buahnya juga menghentikan aksi mereka. "Lepaskan dia, Fikri! Jangan kau sakiti istriku!" kata Indra dengan penuh emosi. Dia terus menatapku nanar, aku yakin Indra dia bisa melakukan apa pun untuk keselamatanku, walau itu akan membahayakan dirinya sendiri. "Tidak semudah itu, Indra. Kau harus merasakan penderitaanku selama ini. Satu persatu milikmu akan kubunuh. Seperti yang kau lakukan dulu!" "b******n kau, Fikri! Kau lukai Nisa sedikit saja, akan kukuliti kau sampai mati!" Fikri menatapku. "Lihat! Perkataan suamimu sungguh mengerikan, ya. Dia tidak sadar, siapa yang memegang kartu AS sekarang." Dia lantas melepaskan kain yang menutup mulutku. Dan saat itu juga aku meludahi wajahnya. "b******n!" PLAK! Dia kembali menamparku hingga membuat mulutku terasa asin. Aku yakin sudut bibirku berdarah. Dia kembali menjambak rambutku. Satu persatu ikatan tangan dan kakiku dilepaskan nya. Saat dia lengah, aku memukul s**********n nya. Dia menjerit kesakitan, aku lantas berlari ke arah Indra. Anak buah Indra yang awalnya diam, kini mulai melawan begitu aku terlepas dari Fikri. Indra menangkap tubuhku. "Kamu baik-baik saja, sayang? Maafkan aku. Aku yang membuat kamu begini," katanya sambil menangkupkan kedua tangan di wajahku. "Aku ... Baik-baik aja kok." Tapi entah mengapa tubuhku terasa lemas. Indra meneriakkan namaku, lalu membawa tubuhku ke sisi luar gedung. "Rud! Jaga istriku!" perintah Indra. Dalam pandangan mataku yang samar, Rudi mengangguk dan mengikuti ke mana Indra membawaku. "Kalian! Masuk!" kata Indra memerintahkan satu kompi anak buahnya yang rupanya berjaga di luar. "Kamu tunggu di sini, ya. Aku harus menangkap Fikri!" kata Indra padaku. Indra meletakkan ku di bangku belakang mobil, Rudi mendekat tapi hanya berjaga di luar. "Siapa pun yang mendekat, tembak aja!" kata Indra ke Rudi. "Baik, ndan!" Aku merasa sangat lelah. Seluruh tubuhku sakit sekali rasanya. Entah ada berapa luka yang di buat oleh Fikri padaku. Sepertinya dia memang sangat dendam pada Indra, hingga memperlakukan ku dengan tidak manusiawi. "Akh!" aku merasakan pedih di sisi kanan perutku. Saat aku merabanya, ternyata ada cairan kental berwarna merah yang sudah pasti adalah darahku sendiri. Namun aku belum mengerti kenapa perutku robek seperti itu. Mungkin saat Fikri melepaskan ikatanku, dan saat itu juga aku melawan. Pasti pisau miliknya menggoresku, namun aku tidak sadar. "Ruud ... Rudi!" panggilku dengan suara lemah. "Iya, Bu? Ada apa?" tanya Rudi segera mendekat ke pintu mobil. Aku mengulurkan tangan, dan menunjukkan darah di telapak tangan. "Astaga! Bu Nisa! Ibu terluka? Tunggu sebentar!" Rudi mencari sesuatu di dashboard mobil. Ia lantas mengambil kotak P3K dari sana. Dia mengambil sapu tangan dari sakunya dan menekan lukaku agar darah berhenti mengalir. "Waduh, lukanya agak dalam. Saya nggak bisa mengobatinya. Tidak cukup peralatan di sini," kata Rudi panik. "Saya telepon ambulans dulu, Bu!" Aku melihat Rudi mondar mandir di samping mobil sambil menghubungi seseorang. Tenagaku seolah terkuras dengan cepat. Tubuhku lemas, bahkan untuk bernafas saja, aku membutuhkan banyak energi. Rasa lelah ini membuatku mengantuk. Aku kembali memanggil Rudi. Rudi menoleh saat aku memanggilnya. Lalu mendekat dengan panik." Bu! Jangan tertidur! Ibu harus tetap terjaga! Bu Nisa! Bertahan sebentar lagi. Saya mohon." "Saya ... Ngantuk, Rud." _____ Tubuhku masih terasa sakit. Perlahan aku membuka mata saat mendengar ada orang berbincang di dekatku. "Indra ...," panggilku saat melihatnya berdiri tak jauh dariku, bersama Papa. "Nisa? Kamu sadar? Dokter! Dokter!" Aku berada di rumah sakit, dengan selang infus, serta ventilator di hidungku. Suara monitoring juga terdengar di sisi kiri ku. "Sayang? Kamu baik-baik saja?" tanya Papa padaku. Aku hanya diam. Tak banyak menanggapi segala pertanyaan Papa atau Indra. Tubuhku masih terlalu lemas. Indra duduk di samping ranjang. Memegang tanganku dan mengecupnya pelan. "Fikri ... Gimana?" tanyaku. "Mereka sudah ditangkap. Kamu nggak usah memikirkan itu, ya. Fokus dengan kesehatan kamu aja." Dokter pun datang, memeriksa kondisiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD