Part 6 Penculikan

2081 Words
Aku berjalan di sebuah lorong gelap. beberapa orang mengejarku lalu menyeretku dengan kasar. Indra berusaha menolongku, tapi dia tidak bisa meraihku. Kami pun berpisah "Astagfirullohhaladzim,"ucapku saat membuka mata. Ternyata ini mimpi. "Hei, Kenapa, Sayang?"tanya Indra yang masih berbaring di sampingku. "Aku... aku mimpi buruk,"kataku lalu memeluknya. Dia mengeratkan tangannya memelukku lebih kencang dan mengecup keningku. "Ya udah, bobok lagi, ya. Masij jam 2 malam,"katanya sambil melihat jam di dinding kamar. "Aku mau tahajud aja dulu, baru tidur lagi,"kataku lalu melonggarkan pelukanku. "Ya udah, aku juga kalau gitu," kata Indra lalu mengikutiku ke kamar mandi mengambil air wudhu. Perasaanku tidak enak. Aku merasa akan ada kejadian buruk yg akan kami alami. Mimpi tadi seperti sebuah pertanda. Saat sarapan, semua orang pun melihatku bingung. Mungkin karena aku banyak diam. Kak Adam menyenggol Indra sambil berbisik. "Kalian berantem?"tanyanya sambil melihatku. "Kedengeran kali, nggak usah bisik-bisik," timpalku. "Hehehe.. Habisnya kamu diem aja,"ucap kak Adam. "Nisa, ada apa?" tanya mamah lembut. "Indra, kalian ada masalah?"tanya papah menyelidik ke Indra. Indra bengong karena merasa tidak ada masalah apa pun denganku. Kami memang baik- baik saja. "Aku gak papa. Nggak berantem sama Indra kok." "Terus tuh muka kenapa ditekuk, kayak baju yg belom disetrika seminggu?"tanya kak Adam lagi. "Gak papa. PMS mungkin." Indra melihatku cemas. "Sayang, kamu kepikiran mimpi kamu tadi?" Semua menatapku bersamaan. "Mimpi?" "Mimpi apa?" Mereka seperti paham. Jika aku mimpi buruk sampai sikapku berubah. Bisa jadi itu pertanda seperti beberapa kejadian seperti yang sudah pernah terjadi dulu. "Nggak tau. Jujur aja, aku takut kejadian beneran." Makanan hanya kumainkan tak kunjung kusantap. Indra makin cemas. Dia duduk menghadapku lalu menggenggam tanganku. "Emang mimpi apa?"tanyanya lagi. "Aku gak mau bahas dulu ya, please," kataku memohon. Indra senyum lalu mengecup punggung tanganku lembut. Dia khawatir tapi dia berusaha menutupinya. "Ya udah, yuk kita berangkat sekarang. Aku ada meeting pagi," kataku lalu beranjak mengambil tas di kamar. Semua diam seribu bahasa, tidak berani berkomentar. Hanya terdengar bisik-bisik saat aku meninggalkan ruang makan. Sepanjang jalan pun aku banyak diam. indra tidak berani membahasnya lagi denganku, karena dia sudah paham jawabanku. Jika aku belum mau membahasnya, mau ditanya berkali-kali pun aku akan tetap bungkam. Sampai di depan lobi kantor, Indra menahan tanganku yg hendak turun dari mobil. "Kalo udah siap cerita, kamu bilang, yax sama aku,"katanya lembut. Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya, mengecup pipinya, kemudian turun. Ada rasa getir di hati, mengingat mimpi itu. Aku khawatir. Terlalu khawatir, takut Indra pergi lagi seperti dulu. "Hei! Bengong aja." Mia menepuk bahuku, hingga aku tersentak kaget. Dia cekikikan dengan yg lain melihat reaksiku. Ada Dani, Fitra, Dimas, Yuli juga. Hanya Dani yang diam melihatku, seolah paham dengan kegelisahanku. Aku mengajak Mia dan Yuli masuk menuju lift, diikuti yg lain. Saat di dalam lift, sosok yg biasa nya ada di sana pun, tidak mampu membuatku gusar, aku cuek saja saat dia ada di sebelahku. Dani makin heran melihatku. Karena biasanya aku panik hingga pucat jika melihatnya. Hingga sampai depan ruangan kami, ada sosok berdiri di depan pintu seperti menghalangi kami masuk. Yang lain cuek saja masuk ke dalam. Menembus sosok hitam dengan mata merah menyala. Saat aku di depannya, kubentak dia. "Minggir nggak!!ngapain sih ngalangin jalan!! Kalau mau berdiri tuh di sana!! Agak jauhan jangan di depan pintu!!"kataku ketus. Teman-temanku yg tidak bisa melihat nya hanya bengong melihat sikapku. Yuli bahkan bergidik ngeri sambil menjauhi pintu. Sosok itu hilang. Dani menarik tanganku. "Kamu kenapa?" tanyanya dengan ekspresi bingung. "Kenapa apanya?"jawabku santai. Lalu langsung masuk ke dalam, dan duduk di kursiku. "Nis, kamu ada masalah?"tanya Dani lagi. Kali ini aku tau kalau dia serius. "Hm... Enggak tau, aku cuma khawatir. Mengkhawatirkan hal yg belum terjadi sebenarnya,"jawabku. "Maksudnya??" Teman-temanku pun ikut mengerubungi ku. Mereka penasaran dengan perubahan sikapku. "Aku mimpi." "Mimpi?mimpi apa?"tanya Mia kepo. "Mimpi kalau aku sama Indra bakal pisah lagi," jawabku lemas. "Ah, cuma bunga tidur kali," sahut Fitra santai. "Tapi feeling ku gak enak, Fit. Ini sama kayak kejadian sebelumnya. Dulu aku sering dapet firasat lewat mimpi, tentang hal buruk yg akan aku alami, dan aku yakin banget,ini juga firasat. Bukan bunga tidur aja,"jawabku serius. "Indra dah tau?"tanya Dani yg berdiri agak jauh dariku sambil bersedekap. Aku menggeleng. "Kok kamu gak bilang?" Yuli ikut cemas. "Aku ... aku gak sanggup cerita. Aku takut dia pergi lagi kayak dulu,"jawabku melas. Yuli dan Mia memelukku. "Semoga gak ada kejadian apa-apa, ya,"kata Mia. "Tapi kamu juga harus kasih tau Indra. Aku yakin dia kepikiran sama kamu,"saran Dani. "Iya, nanti aku cerita ke dia deh." Obrolan kami berakhir lalu kami melanjutkan pekerjaan kami. ====== Saat istirahat siang, kami bersama-sama ke kantin. "Eh, Nis. Thanks ya, udah bantuin Anjar kemaren. Dani juga, makasih banget, ya," kata Mia. "Santai aja kali, Mi, kita kan teman,"kataku sambil minum jus buah kesukaanku. "Btw, kok bisa kalian berhasil ngalahin si siapa tuh? Lao ... Siapa? Susah bener namanya,"gerutu Dimas. Kami hanya cekikikan, karena namanya yang sulit diingat jika hanya mendengarnya sekali. "Indra yang ngalahin kok,"kata Dani . "Hah?serius? Diapain?"tanya Fitra antusias. "Si dukun Lao itu kan kemaren mau jampi-jampi Indra pakai kertas jimat. Percaya gak kalian? Sama Indra tuh, kertas jimatnya malah ditempelin balik ke jidatnya si Lao. Terus Indra bilang gini, 'Loe pikir gue vampir!' hahhaha," jelas Dani menirukan gaya Indra saat kemarin kami mengambil ruh Anjar. Kami semua tertawa. "Kok gak mempan? Padahal itu dukun sakti lho. Terkenal!" tanya Fitra. "Indra emang lain, gaes. Aura nya dia kuat banget, jadi hal-hal gaib kayak gitu, biasanya mental gitu aja," tutur Dani. "Masa?" tanyaku penasaran. "Kok kamu malah nggak tau?" Yuli menanggapi reaksiku. "Ya aku emang gak tau, Yul. Pantesan ya. Kalau aku deket Indra dan nyentuh dia, makhluk halus seakan pergi gitu aja. Nggak mau deketin aku,"jawabku. "Serius? Wah keren. Jadi seolah kalian punya keterikatan ya. Saling membutuhkan," sahut Dimas. "Tapi waktu di Bali kemaren gak ngaruh deh ke Leak. Kok bisa ya?"kataku lalu menatap Dani. Karena aku yakin cuma dia yg bisa jawab. "Mungkin kekuatan Leak itu gede kali, jadi gak mempan," jawab Dani masuk akal. "Eum, bisa jadi, ya." "Makhluk halus kan beda-beda jenis dan tingkatan, Nis,"sahut Dimas. "Bener juga sih," kataku sependapat. Kami melanjutkan makan. Dari kejauhan, aku melihat kedatangan beberapa orang memakai baju serba hitam, bahkan kebanyakan memakai cadar. Perasaanku tidak enak. Ponselku berbunyi, Indra menelfonku. "Halo, sayang." "Nis? Kamu lagi di mana??" tanyanya gugup. "Di kantin," kataku masih menatap gerombolan yg datang dan masuk ke kantin. Mereka terlihat bertanya pada salah 1 karyawan, lalu menatapku bersamaan. Dari gerak mulutnya, mereka menyebutkan namaku. Aku yakin, mereka mencari ku. Siapa mereka? aku merasa tidak mengenal mereka. "Ndra... ada orang dateng ke kantorku. Mereka aneh, kayaknya mereka nyariin aku deh," tuturku. "Pergi dari sana! Cepet! Aku susul kamu sekarang!" kata Indra dengan nada panik Aku segera beranjak berlari ke pintu belakang. Teman-teman berteriak memanggilku namun tak kuhiraukan. Gerombolan orang itu malah mengejarku. Aku yg terlanjur panik, tidak tau harus berbuat apa. Panggilan dengan Indra di telepon belum kumatikan. "Aku harus gimana, Ndra? Siapa mereka?" tanyaku panik. "Mereka jahat. Kamu cari taksi atau apa aja. Kamu langsung ke polres,aku akan nyusul kamu juga sekarang oke?"katanya tergesa-gesa. "Iya. Oke." Aku berlari memutari kantor, kulihat Anjar ada di ujung sana hendak naik ke mobilnya. Aku berlari ke arahnya. Lalu masuk ke mobil Anjar segera. "Lho? Kamu kenapa?" tanyanya heran. "Cepet! Anter aku ke polres!!sekarang!!"kataku sambil melihat gerombolan yg mengejarku mendekat. "Iii... iya, Nis." Anjar gugup namun segera melajukan mobilnya. Aku terus melihat ke belakang. Berharap mereka tidak mengejar kami. "Mereka siapa, Nis?"tanya Anjar. "Aku gak tau.. Kata Indra mereka orang jahat. Aku juga gak tau kenapa mereka ngejar aku."kataku gugup. Keringat sudah membasahi kening. "Kamu jangan khawatir ya. aku bakal tolongin kamu. Aku gak akan biarin mereka nyentuh kamu,"kata Anjar serius. Anjar mengendarai mobil dengan kencang. Kami berharap dapat sampai polres dengan segera. Tapi di spion mobil kulihat mobil jeep hitam mengejar kami, ada 3 mobil di sana. Lakunya kencang dan rasanya mereka akan berhasil mengejar kami. Aku ketakutan. Apa ini firasat mimpiku semalam? "Njar, gimana? mereka makin deket!"kataku. "Tenang aja, aku bakal usahain kita lolos,"kata Anjar masih fokus mengendarai mobilnya. Dia berusaha mempercepat laju mobilnya sambil terus menyalip kendaraan di depannya. Lalu... BRUGH! Mobil Anjar ditabrak dari samping, hingga olen, lalu menabrak pembatas jalan. Aku bahkan terbentur cukup keras. Kepalaku berdarah. Anjar pun demikian, ada asap keluar dari kap depan mobilnya. Pintu mobil dibuka paksa dari luar. Mereka menyeret ku keluar dengan kasar. Bahkan jilbabku terlepas dari kepala, dan dibuang begitu saja di jalan. "Mau apa kalian?"tanyaku. Tanganku diikat di belakang. Beberapa orang itu mengerubungi ku dan tersenyum sinis. "Nyonya Indra Saputra, betul?"tanya salah satu dari mereka. "Iya, kenapa?"jawabku jutek. "Anda tau siapa saya?" "Mana kutau!! Gak penting juga!!"aku masih berusaha keliatan tegar, walau dalam hati aku sudah ketakutan setengah mati. Wajah mereka sangar dengan jambang dan kumis yg lebat. "Hahahaha.. Garang juga istri Indra!! Sama seperti suaminya rupanya!!hahaha!" "Mau apa kalian?"tanyaku. "Kami ingin menghabisi suamimu!!dia yg membuat rencana kami berantakan! Dia harus membayar mahal atas apa yg dia lakukan!!"jawabnya sinis. "Cih... Kalian sampah masyarakat!!! Bikin teror di sana sini!! Mau nyari sensasi?? Udah jaman modern mikirnya masih jahiliyah!!"kataku tak kalah sinisnya. "Heh! Tau apa kamu soal kami!!kami berjihad di jalan Allah!!" kata-kata nya malah membuatku tertawa. "Hahahahaha... Jihad? Di jalan Allah??sadar kalian?? ngomong itu pakai otak apa pakai dengkul? Kalian mirip anak kecil yang gampang dibodohi hanya dengan kata jihad!" Mereka diam menahan marah atas kata-kataku. "Jihad di jalan Allah nggak gitu kali, pak! Kalau mau jihad, pergi sana ke Suriah. Ikut perang! Membela kaum yang tidak berdaya. Bukan malah nge-bom sana sini dengan dalih jihad di jalan Allah! Kalian itu pembunuh!" Plaaaakkk!! Tamparan mendarat keras ke pipiku, nyeri, bahkan bibirku mengeluarkan sedikit darah segar. "Kamu banyak omong!! Kamu gak takut mati? hah!!!"gertaknya. "Takut!? Sama kalian? Mohon maaf, saya cuma takut sama Allah.. Bukan sama anak buah dajal kayak kalian!"kataku tak gentar dengan gertakan mereka. "Kurang ajar!" Aku dijambak dengan kasar. Pedih sekali rasanya. Indraa, kamu di mana. Tolong aku.. Duuugghh!! Salah satu orang mereka jatuh karena dipukul oleh Anjar. Aku bahkan sampai lupa memikirkan kondisinya "Jangan kalian sakiti, Nisa!! Dasar penjahat!!"katanya lalu menyerang mereka satu persatu. "Anjar! Jangan! Pergi, Njar! Pergi!" cegahku, takut terjadi sesuatu dengannya. Aku yakin Anjar tidak akan bisa mengalahkan mereka. Aku takut dia celaka karena menolongku. Dalam sekejap Anjar terkapar tak berdaya. Saat salah satu dari mereka akan menembakan pistol ke arah Anjar, aku berteriak. "Jangan! Lepaskan dia! Kalian hanya berurusan denganku! Bukan dia!!tolong lepaskan dia!"kataku memohon. "Hahahaha... wanita singa beberapa menit lalu berubah jadi anak kucing dalam sekejap!!"katanya mengejek. Aku memang tidak takut aku terluka, aku hanya khawatir jika orang lain yg terluka karena ku. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai Anjar celaka karena ku. "Bosss!! Cepet kita bawa pergi. Pasti Indra sudah menyusul mencarinya,"kata salah satu anak buahnya. Aku lalu diseret paksa, dan didorong masuk ke mobil. Sementara Anjar dibiarkan tergeletak di jalan dengan kondisi yg cukup memprihatinkan. Aku berharap dia cepat mendapat pertolongan. Krriiinnng Ponselku berdering. Mereka merampasnya. "Laki nya boss!"katanya. Lalu diserahkan ke pimpinan mereka. "Nis? Kamu di mana?"suara Indra terdengar, karena dia sengaja menghidupkan loudspeaker, agar aku mendengar obrolan nya dengan Indra. "Indra!!!"teriakku keras. Plaaakk!! Kembali aku mendapat tamparan salah satu dari mereka. "Nisa? Nisaa!!! Kamu gak papa? Tunggu aku, sayang, aku pasti datang jemput kamu!" kata Indra, mencoba menenangkan ku. "Hai, Indra... Lama kita tida bertemu?gimana kabar kamu??" "Heh!! Jangan sentuh istriku!sampai dia terluka sedikit aja!! Aku habisi kalian!!"kata Indra geram. "Oh..oh..oh... Galak banget ya, kalian berdua emang cocok jadi suami istri, yang satu galak ,satunya juga.. Hahahaha..tenang Indra... Belum aku apa-apain kok. Baru aku main-main aja sama istri kamu!! "Katanya sambil memandangku. Aku jijik sekali dipandangi olehnya seperti itu. "Brengsekk! Awas kalau kalian macam-macam! Aku hancurkan kalian sampai ke akar-akar nya!!"ancam Indra. "Kita lihat, siapa yg akan hancur nantinya!!" Tuut..tuuttt.tuuut. Penjahat mematikan telefonnya. Lalu membuang ponselku ke jalan. "Suami kamu itu nyebelin ya. Galak. Iya, kan?"katanya dengan tatapan menggoda. Aku meludahi wajahnya dan hampir saja mendapatkan tamparan lagi. Tapi mobil berhenti di sebuah gudang tua yg lama tidak terpakai. Duh, di mana ini ya. Aku tidak tau aku di mana. Aku diseret turun dari mobil dan masuk ke gedung itu. Di sana sudah banyak orang, jumlahnya sekitar puluhan orang. Aku di masukan ke dalam sebuah ruangan yg tidak memiliki ventilasi. Hanya dikelilingi tembok saja. Agak susah untuk melarikan diri pikirku. Tanganku masih diikat, di sana hanya ada ranjang ukuran kecil. "Ya Allah. Tolong hamba." Mau salat, tidak bisa. Jilbabku sudah lepas dari tadi. Tanganku terikat dan kali ini kaki ku juga. Aku hanya bisa pasrah duduk di ranjang. Semoga Indra bisa datang menemukanku dan menyelamatkanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD