"Sayang ... Bangun." Kurasakan sebuah usapan lembut seseorang di kening.
Aku hanya menggumam sambil perlahan membuka mata. kini tidak lagi terkejut akan kehadirannya yang sudah menjadi suamiku, namun aku justru kaget karena melihatnya sudah rapi sepagi ini.
"Kamu mau berangkat pagi?"tanyaku sambil duduk bersandar di ujung ranjang.
"Iya, ada tugas mendadak. Kamu gak apa-apa, ya, berangkat sama kak Adam?" tanyanya sambil memegang tanganku lalu mengecupnya.
"Iya, nggak apa apa. Hati-hati, ya."
Dia mengecup keningku lalu meraih jaket kulit yang tergantung di gantungan baju. Setelah dia pergi, aku pun bersiap untuk berangkat ke kantor juga.
"Pagi semua," sapa ku saat di meja makan.
"Pagi. Kerja? Sama Kakak nanti," sahut Kak Adam sambil menyuap nasi goreng buatan Mama.
"Iya, Kak. Eh, Indra udah sarapan belum tadi ya?" tanyaku ke mereka.
"Udah, mamah tadi bikinin roti bakar sama s**u coklat," sahut mamah.
"Nisa gak tau Indra mau berangkat pagi buta kayak tadi,"kataku merasa tidak enak.
Seharusnya sebagai istri aku yg menyiapkan segala keperluan Indra, bukan mamah.
"Iya Nis, nggak apa-apa. lain kali kamu harus lebih perhatikan suamimu, ya," nasehat mamah. Indra tipe laki-laki yang mandiri, bahkan sebelum nya pun dia terbiasa menyiapkan segala keperluannya sendiri. Hanya saja kini aku sudah menjadi istrinya, jadi sudah seharusnya aku yang menyiapkan segala sesuatu untuknya. Aku harus lebih banyak belajar dan membiasakan diri mulai sekarang.
_____
Sampai di kantor, aku melihat Dani yang juga baru berangkat. "Dan!" panggilku setengah menjerit.
Dia menghentikan langkah lalu melambaikan tangan padaku. "Eh, pengantin baru. Gimana bulan madunya, Nyonya Indra?"
"Kamu ngledekin mulu deh." kucubit perutnya. Dia malah tertawa sambil merintis kesakitan.
"Oh iya, Nis, Mia udah kasih kabar soal keadaan Anjar?" tanya Dani tiba tiba, saat kami berjalan menuju ruangan.
"Ohh iya.Udah. Indra sih ngajakin nengok nanti malam," jawabku sekenanya.
"Bareng ya, kita ketemu di RS aja,"sahut Dani.
"Dia kenapa sih?"
"Aku juga belum tau. makanya pengen aku lihat dulu."
Di ruangan sudah ada Yuli dan Dimas.
Kami ngobrol sebentar lalu melanjutkan pekerjaan.
Sudah beberapa jam Indra tidak mengabari ku. Padahal sudah kukirimi pesan beberapa kali tapi dia tak kunjung membalasnya. Hatiku was was. Tiba tiba aku sangat merindukan dia.
Pukul 16.00
Saat pulang, aku dan beberapa teman ke keluar kantor bersama-sama. Sampai lobi, aku melihat Indra sedang duduk di atas kap mobilnya.
"Cieee ... Aa udah jemput," ledek Mia.
Aku tersenyum, segera berlari kecil menuju Indra.
Indra yang melihatku dari kejauhan kemudian berdiri dan tersenyum.
Segera aku berhamburan ke pelukannya.
"Lho. lho. lho. kenapa ini? Tiba tiba main peluk aja," kata Indra heran.
"Kangen!"
Dia membelai kepalaku lembut.
"Gimana di kantor? Ada gosip apa?"
"Biasa. Soal Anjar. Dani ngajakin bareng katanya, kalau kita jadi nengok Anjar," kataku lalu melepaskan pelukanku dari Indra.
"Oke. Nanti malem, kan?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
"Kamu baru pulang juga?" tanyaku sambil memperhatikannya, dia masih memakai baju yg tadi pagi soalnya.
"Iya, langsung ke sini. ya udah, yuk, pulang. aku capek banget," sahutnya.
Kulihat memang wajahnya keliatan kusut. Kami lalu masuk ke mobil dan pulang ke rumah.
Sampai rumah, aku menyuruh Indra mandi dulu. Agar badannya segar lagi. kusiapkan air hangat untuknya. Cuaca sedang dingin karena baru saja hujan lebat mengguyur kota kami.
Saat Indra mandi aku membuatkan nya coklat hangat dan beberapa cemilan yg kubawa ke kamar.
Dia baru saja selesai mandi.
"Wah... Makasih sayang. Kamu pakai repot gini," katanya melihatku membawa secangkir coklat hangat untuknya.
"Repot apanya? udah kewajiban istri melayani suaminya."
Mulai sekarang aku janji akan lebih memperhatikan kamu, Ndra.
"Hei. Kok ngelamun?"tanyanya lalu memelukku.
"Enggak kok. Aku mandi dulu ya," sahutku lalu segera ke kamar mandi.
=======
Setelah janjian dengan Dani, aku dan Indra segera ke Rs tempat Anjar dirawat.
Kami bertemu di sana.
Setelah mencari ke penjuru Rs, kami melihat Dani yg sedang berdiri di depan pintu kamar rawat pasien.
"Dan!" teriakku.
Dia melambaikan tangan pada kami.
"Udah lama?" tanyaku.
"Baru aja. Haii, Ndra."
"Gimana keadaan nya?"tanya Indra ke Dani menanyakan kondisi Anjar.
"Eum... Masuk yuk.. kalian harus lihat sendiri."
Kami masuk ruangan, di sana hanya ada mamanya Anjar.
Kami ngobrol sebentar, lalu mendekat untuk melihat kondisinya.
Entah kenapa aku merasa tubuhnya kosong. Seperti tidak ada ruh di dalamnya.
Aku melirik Dani, aku yakin dia paham maksudku.
"Maaf, ibu tinggal sebentar ya. Mau ke kantin dulu,"pamit mamahnya Anjar ke kami.
"Oh iya bu, gak papa,"jawab Indra sopan.
Setelah mamahnya Anjar pergi, baru aku berani bicara dengan dani dan indra tentang keadaan Anjar.
"Dan, kok aku ngerasa tubuh Anjar gak ada ruh nya, ya?" kataku spontan.
"Aku juga ngerasain itu. Kayaknya ruhnya lepas dari jasadnya, mirip orang mati,"jawab Dani.
"Hah? maksudnya dia mati suri? Kok bisa? Katanya dia tiba tiba aja kaya gini kan?" tanya Indra heran.
"Eum, apa ada yg maksa ruh nya pergi, Dan? Aku pernah denger gitu. Ada kasus yg mirip kaya Anjar gini."
"Bisa jadi, Nis.. Ada org yg sengaja menarik ruh Anjar." Dani berjalan mendekat lalu dia terperangah.
"Kenapa?"tanyaku sambil ikut mendekat.
"Kamu lihat ini?"tanya Dani sambil menunjuk pergelangan tangan Anjar.
Kuamatai lekat lekat .
"Eh iya. kok ada talinya ya?''
Di pergelangan tangannya ada tali berwarna merah yg melingkar dan seperti terikat ke suatu tempat.
"Ujungnya di mana ini?"aku bergumam sendiri.
"Tali?" Indra yg tidak bisa melihat ikut heran dengan pernyataan kami.
"Kita ikutin aja gimana? Kali aja ini bawa kita ke ruh nya Anjar?"tanya Dani.
Aku menatap Dani, lalu melihat Indra. dia mengangguk pelan. Akhirnya kami mengikuti arah benang merah itu. kami mengikuti sampai naik mobil, karena ternyata sangat panjang.
Sampai akhirnya benang itu berakhir di sebuah rumah.
"Ini kan rumah Lao tse?"kata Indra.
"Siapa tuh?"
"Dukun, sayang," katanya.
"Kok bisa tau, Ndra?" tanya Dani heran.
"Iya, aku pernah nggrebek ni rumah gara gara dia melakukan santet ke orang. awalnya sih kita ragu, karena masalah kaya gini gak bisa dibuktikan secara nyata. Tapi setelah masuk ke dalam, malah kita nemuin mayat orang yg diawetkan di sana,"terang Indra.
"Ya udah, kita masuk, lalu ambil ruhnya Anjar," ajakku.
Mereka menyetujui lalu ikut turun bersamaku.
Sampai di depan pintu rumahnya, pintu terbuka, lalu keluarlah seorang pria yg berumur sekitar 60 tahunan.
"Mau apa kalian ke sini?"tanyanya dengan logat china.
"Mau ambil ruh temen kami yg kamu sekap!"jawabku dingin.
"Ruh? Jangan ngaco kamu!!" Dia mengelak.
"Saya dari kepolisian, mau masuk untuk menggeledah rumah anda!!"kata Indra sambil menunjukan kartu indentitasnya sebagai polisi.
Dia tidak bisa berkutik.
"Silahkan, kalian tidak akan menemukan apa apa di dalam,"katanya yakin.
Kami lalu masuk, aku dan Dani masih mengikuti benang merah itu dan menuju sebuah ruangan. Saat akan masuk, pria berambut putih itu menghalangi.
"Kalian tidak boleh masuk ke sana!!" larangnya.
Indra maju, lalu memutar tangan orang itu hingga dia mengerang kesakitan.
"Kalian masuk, lalu ambil. Buar dia jadi urusanku," kata Indra.
Aku mengangguk lalu masuk dengan Dani. Di dalam seperti banyak bejana dan banyak ruh di dalam nya.
Gila nih orang.
Dani mengambil bejana ruh milik Anjar.
"Lepas!"teriak Lao Tse.
"Ndra, Udah dapet,"kata Dani.
Indra melepaskan Lao Tse..
Tiba tiba Lao Tse menempelkan kertas mantra yg bertuliskan huruf china ke Indra.
Anehnya Indra tidak bereaksi apa apa dan membuat Lao Tse bingung.
"Kenapa kamu gak bereaksi?" tanyanya heran.
Indra melepas kertas itu lalu menempelkan ke jidat Lao Tse.
"Loe pikir gue vampir!!"katanya kesal.
Aku terkikik geli. Dani senyam senyum.
Entah kertas itu gunanya untuk apa, tapi yg jelas aindra sama sekali tidak beraksi apa apa.
"Aura mu kuat sekali!!" kata Lao tse.
"Masa??" Indra menanggapi dengan santai.
Lalu kami pergi meninggalkan rumah Lao Tse dan kembali ke RS
Sampai di sana, mamah Anjar kaget melihat kami membawa bejana aneh. Dani lantas membukanya dan mencoba menuntun ruh Anjar kembali ke tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Anjar bergerak dan mulai membuka matanya.
'Alhamdulillah' kata kami berbarengan.
Mamah nya Anjar sangat bahagia melihat Anjar kembali. Kami pun lega.
"Makasih ya, kalian udah nolong aku,"kata Anjar kepada kami.
"Santai aja.kita kan teman, harus saling tolong menolong,' kata Indra.
Waw.. Salut buat Indra. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian tempo hari. dan sudah tidak menaruh dendam lagi ke Anjar.
"Thanks, Ndra,"kata Anjar berkaca kaca.
Mereka berpelukan. Anjar pun kembali di periksa oleh dokter untuk memastikan kondisinya. Semua telah berakhir dan kami pun pulang.
Aku tidak menyangka ada orang yg bisa berniat jahat seperti itu.
Kami sengaja tidak bertanya pada Lao Tse, siapa yg melakukan hal itu ke Anjar. Karena takutnya Anjar dendam.
Sampai rumah, kami langsung ke kamar, karena suasana memang sepi. Mungkin keluargaku sudah tidur. Indra melepas jam tangan di depan meja rias. kupeluk dia dari belakang.
"Hmm.. Kenapa sayang? kamu kayanya lagi manja banget hari ini?" tanya Indra lalu berbalik badan, dia memeluk pinggangku dan tersenyum.
"Masa sih? biasa aja ah. Cuma kangen aja." lalu kupeluk dia lagi.
Dia mengeratkan pelukannya juga.
"Yuk, kita tidur."ajakku.
Malam ini terasa sangat melelahkan sekali. Aku tidur dengan memeluk Indra. nyaman sekali.