Latihan Keras

1077 Words
Anna dan Andreas pergi ke pegunungan untuk mencari jejak Winaga. Sedari pagi mereka menelusuri jalan berbukit tapi tidak menemukan petunjuk. Tengah hari, mereka beristirahat di bawah pohon lalu mengisi perut dengan memakan bekal yang dibawa Andreas. "Kita istirahat dulu sebentar disini. Kita sudah berjalan cukup lama, Anna, maksudku Aletta." "Iya, aku juga agak lelah." "Ini minumlah dan makan bekal yang aku bawa." "Terimakasih Kak Andre. Bolehkan aku memanggilmu seperti itu?" "Tentu aku senang, aku merasa menjadi kakak laki-laki lagi setelah begitu lama rasa itu hilang." Anna tersenyum bahagia. Dia juga bahagia bisa mempunyai seorang kakak laki-laki karena Anna menganggap Winaga bukan sebagai kakak tapi suatu perasaan yang lebih spesial. "Aku harus membiasakan memanggilmu dengan nama Aletta, atau Letta, bagaimana kamu suka?" "Letta, bagus Kak, mulai sekarang panggilanku Letta", sambil tersenyum. Setelah selesai makan dan lelah mereka hilang, mereka melanjutkan perjalanan. Tapi mereka tidak menemukan apapun sampai hari petang dan Anna menjadi sedih. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu baik-baik saja? Aku takut kalau terjadi hal buruk padamu?", Anna menangis. Andreas mencoba menenangkan Anna. "Aku yakin dia baik-baik saja, kamu juga harus yakin itu." Anna terduduk dan berusaha menenangkan dirinya sendiri dan Andreas menemaninya dengan sabar. Setelah tenang, Anna menyeka airmatanya. "Terimakasih Kak sudah menyemangatiku." "Nama orang itu Winaga? Aku merasa dia sangat penting bagimu. Apa dia masih kerabatmu?" "Iya namanya Winaga Gultom, dia selalu menemaniku sedari aku kecil. Kami selalu bermain bersama dan bagiku dia sudah lebih dari kerabat. Aku tidak tahu perasaan itu tapi aku selalu nyaman saat berada bersamanya." "Kamu dewasa sekali Letta, tidak seperti anak berumur 10 tahun." "Papa mendidikku untuk menjadi gadis yang kuat begitupun Mama tidak memanjakanku. Juga kejadian yang menimpaku membuatku lebih mandiri. Aku harus hidup dan berjuang agar aku bisa membalas kematian orangtuaku." "Letta, kamu sungguh gadis yang tegar. Aku bahkan terlalu pengecut apalagi sejak kejadian yang merenggut nyawa adikku. Ayah dan aku lebih memilih menepi dari dunia luar tidak seperti ibuku. Entah dimana beliau sekarang?" "Ibumu, apa yang terjadi dengan ibumu?" "Beliau bertekad membalas pembunuh adikku. Setelah melihat dirimu, akupun sekarang bertekad untuk membalas pembunuh adikku. Aku tidak akan lari lagi." Mereka bercerita sepanjang malam dan terjaga sampai pagi hari tiba. "Letta, kita pulang ya. Suatu saat nanti, bila memang kamu dan Winaga berjodoh pasti kalian bisa bertemu kembali." Dengan perasaan berat, Anna kembali ke pondok bersama Andreas. Sebelum pulang, Anna mengunjungi makam Mamanya dan menabur bunga. "Mama, ini Anna. Anna baik-baik saja sekarang. Mama yang tenang di surga. Papa juga. Aku akan selalu mendoakan kalian." "Winaga, aku yakin kamu akan menjaga guci abu Papa, aku pasti akan bertemu denganmu kembali." Lalu mereka kembali ke pondok dan tiba saat petang. Anna membersihkan diri dan Andreas memasak makanan untuk mereka. Saat di meja makan, Anna meminta Alberto untuk mengajarinya teknik menembak juga beladiri. "Paman Alberto, mulai besok aku ingin belajar menembak dan beladiri. Aku akan berusaha keras agar bisa menjadi penembak jitu dan ahli dalam bela diri." "Yah, Andreas juga ingin dilatih. Aku harus bisa menjadi pelindung Aletta." "Baiklah, besok pagi kita akan memulai latihan. Ini tidak akan mudah akan banyak proses. Kalian harus sabar dan tekun." "Terimakasih Paman." "Terimakasih Yah." Dan mereka melanjutkan makan malam mereka. Sementara itu, di markas tempat Winaga berbaring, Winaga belum sadarkan diri. Tapi Bee tetap menyuruh Bryan untuk memeriksa kondisi Winaga secara berkala. "Bagaimana keadaannya, apakah lukanya akan pulih total?" "Lukanya cukup serius. Tapi aku melihat semangat luar biasa dari pemuda ini dan aku rasa dia bisa pulih." "Benarkah? Penilaianmu sama denganku. Pemuda ini memiliki tekad dan semangat juang. Aku tidak salah menilai." "Baiklah, aku sudah memberinya obat sekarang aku keluar dulu." Bryan keluar meninggalkan Bee dan Winaga di ruangan itu. Tak lama, Winaga menunjukkan kesadaran diri. Dia mulai membuka matanya. Bee yang melihatnya, menghampirinya. "Bagaimana perasaanmu? Apa kamu merasa baikan?" "Aku merasa baikan. Terimakasih sudah menolongku." "Aku akan membawakanmu air dan makanan untukmu." Bee memanggil anak buahnya untuk membuatkan bubur dan membawakannya segelas air. "Apa kamu bisa menceritakan apa yang terjadi padamu di hutan? Dan guci itu, aku rasa itu barang yang berharga bagimu. Guci abu siapakah itu?" Lalu Winaga menceritakan awal kejadian malam dimana Roman terbunuh lalu dirinya yang dikejar para penjahat bersama Paula dan Anna. Paula yang juga terbunuh saat pelarian dan dirinya yang terpisah dengan Anna dengan mengalihkan perhatian para penjahat itu hingga dia akhirnya terjun ke jurang. "Begitulah kejadiannya dan guci abu ini adalah abu Roman. Aku harus menjaganya dengan baik karena ini milik Anna." "Penjahat yang mengejarmu, siapakah mereka?" "Mereka suruhan Carlos Santos, bos gembong narkoba terbesar di kota Marlin." Saat Bee mendengar nama Carlos, dia mengepalkan tangannya. "Carlos, penjahat itu. Aku pasti menghancurkanmu." "Apa Anda kenal dengan Carlos?" "Tentu, aku punya dendam pribadi dengannya. Maukah kamu bergabung denganku untuk menghancurkan Carlos Santos?" "Aku mau, aku akan bekerjasama dengan Anda, aku harus membalas kematian Roman dan Paula juga Anna, aku tidak tahu bagaimana dia sekarang. Aku berharap dia selamat." "Winaga, kamu harus memulihkan kondisimu. Pikirkanlah untuk membalas Carlos. Aku yakin Anna selamat dan kelak kalian bertemu kembali bila memang sekarang dia di kota Firland." Lalu, terdengar ketukan pintu, muncullah seorang gadis membawa semangkuk bubur dan segelas air. "Bee, ini air dan buburnya", lalu gadis itu meletakkannya di meja. "Kamu sudah sadar. Dua hari ini aku yang merawatmu. Namaku Eira Phoenix, aku anak angkat Bee." "Winaga Gultom." "Namamu bagus, bagaimana kalau kita buat nama panggilan untukmu, Naga?" "Panggilan yang bagus, Naga. Sekarang makanlah dulu supaya kondisimu cepat pulih dan kita bisa merencanakan misi pembalasan kita." Keesokan paginya, Anna dan Andreas sudah bangun. Alberto sudah bersiap di halaman. Alberto meminta mereka untuk memikul ember dan mengambil air di sungai melewati jalan berbukit. "Lakukanlah perintahku. Ini untuk melatih fisik kalian. Fisik adalah tahap dasar dalam seni beladiri. Dengan fisik yang kuat, kalian bisa melewati berbagai latihan berikutnya." Mereka menuruti perintah Alberto. Mereka melakukan latihan fisik tersebut selama sebulan penuh sementara Alberto mempersiapkan tempat untuk latihan mereka. Tempat itu dirancang dengan berbagai rintangan. Setelah latihan fisik selama sebulan tersebut, Alberto yakin mereka bisa melewati rintangan yang telah dia buat. "Sekarang kita lanjut ke tahap berikutnya, jika kalian bisa melewati rintangan yang aku buat ini, barulah kita latihan bela diri." Mereka pun mencoba melewati rintangan tersebut tapi tak semudah kelihatannya. Mereka butuh waktu 2 minggu untuk bisa berhasil menaklukan rintangan tersebut. "Kalian telah berhasil. Aku bangga dengan hasil kerja keras kalian. Mulai besok aku akan mengajari kalian bela diri yang sesungguhnya." Sementara itu, Winaga pun berangsur-angsur pulih. Luka luarnya sudah mengering begitupun luka tembak dan tulang rusuknya. Dia sudah bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD