Malam berikutnya, seperti biasa, Hermes memandang kebawah. Di hari yang sama dan jam yang sama. Ini memang kebiasaannya berdiri di atas balkon gedung terbengkalai itu, namun kebiasaan baru buatnya, yaitu menunggu gadis yang ia temui kemarin malam. Tetapi ada yang berbeda dengan Hermes malam ini. Tak seperti malam-malam sebelumnya, Ia tampak tak sabar menunggu. Menunggu gadis itu menjadi kebiasaan barunya, ia terlihat gelisah. Tak bisa diam, berdiri, berjalan mondar-mandir dengan mata melihat kebawah. Tak ada aroma wangi yang ia cium malam ini. "Kemana gadis itu?" Kata Hermes. Ia mengendus sekali lagi aroma tubuh gadis itu, sudah berulang-ulang kali itu mengendus. Tetap saja hasilnya nihil. Aroma wangi tubuh gadis tidak bisa ia lupakan. Selalu terniang-niang di benak dan pikirannya. Mathe

