Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Catyzokan tetap ramai seperti biasa. Mereka mendekati musim dingin, jadi ada festival kecil yang akan diadakan. Anak-anak di Catyzokan sibuk membuat kreasi.
Reine membantu anak-anak agar tidak merusak lentera. Mereka akan mengadakan festival lentera sebelum masuk musim dingin. Tujuan festival ini sebagai upacara dan doa agar Dewi Kucing memberikan mereka kekuatan untuk melewati musim dingin yang panjang. Reine mungkin bukan pengikut dewi. Tapi tetap dia akan membantu anak-anak.
"Kak Reine! Kak Reine!"
Winwin berlari untuk menunjukan lukisan pada lenteranya. Reine langsung menangkapnya sebelum dia jatuh ke tanah.
"Hati-hati sayang. Nanti kalau rusak tidak bisa diterbangkan." tegurnya.
"Lihat! Lihat gambarku kak!"
Ada gambar kucing yang berdiri dengan dua kaki dan memakai tiara di kepalanya.
"Siapa ini?"
"Dewi Kucing!"
"Wah, bagus sekali. Winwin memang hebat!" Reine bertepuk tangan.
Yoyo yang tidak jauh dari posisinya cemberut. Dia juga ingin memperlihatkan hasil gambarnya. Tapi tentu saja Yoyo bukan tipe penggambar yang baik. Dia ingin merobek kertasnya. Tapi nanti dia tidak ikut festival.
"Ayo anak-anak cepat selesaikan. Sebentar lagi kita akan pergi ke lapangan. Owi, jangan diterbangkan dulu. Nanti bareng-bareng dengan yang lain." tegus nenek.
"Oki doki."
Mereka berangkat ke lapangan setengah jam kemudian. Langit sudah gelap dengan rasi bintang ikan menghiasi atasnya. Reine membuat anak-anak berbaris supaya tidak hilang. Para warga desa lain sudah berkumpul di lapangan dengan lentera mereka masing-masing. Mereka membentuk lingkaran berlapis-lapis di lapangan. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan telinga kucing hitam naik ke podium. Dia kelihatannya kepala desa.
"Hari ini kita diberi kesempatan berkumpul di sini. Mari kita berdoa tahun ini penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Semoga Sang Dewi merestui apa saja tujuan yang ingin kita capai. Semoga kedamaian tetap terjaga dan musim dingin yang akan kita lalui nanti menjadi musim dingin penuh kehangatan bersama."
Kepala desa membunyikan gong sebanyak tiga kali. Setelah itu alunan musik penuh keceriaan dibunyikan. Orang-orang mulai menyalakan lentara. Mereka melepaskannya sambil berdoa.
Reine dan nenek sibuk membawa alat tembak api untuk menyalakan lentera anak-anak. Semua wajah ceria itu bercahaya saat mereka menerbangkannya. Lentera satu persatu menerangi malam dengan cahaya kecilnya. Anak-anak bertepuk tangan melihat keindahannya.
"Indah sekali. Di tempatku tidak ada yang seperti ini nek."
"Senang kau menyukainya anak muda. Sudah berdoa pada dewi?"
Reine menggeleng. Bagaimana dia bisa berdoa pada entitas yang tidak dia kenal. Dia tetap berasal dari dunia lain dengan kepercayaan sendiri.
Suara ledakan besar terdengar dari arah podium. Kepala desa yang masih ada di sana terlempar. Beberapa ledakan lain terjadi membuat warga panik berhamburan. Kembang api besar meletus di udara. Percikannya mengenai lentera-lentera terbang dan membakarnya. Suara ledakan lain dan kembang api yang saling bersahutan menambah kepanikan.
"Anak-anak! Anak-anak!"
Orang-orang yang berlarian sudah tidak ingat lagi kawan dan saudara. Semua sibuk menyelamatkan diri. Suara tangis anak-anak menambah kegaduhan. Mereka terpisah dan terjatuh, beberapa tertendang atau terinjak yang lain. Reine sibuk menggiring anak-anak bawaannya ke tempat aman. Anak yang lebih besar juga membantu untuk membawa adik-adik mereka. Reine berhasil menemukan gedung aman dan menyuruh mereka menunggu di sana. Dia akan mencari anak-anak lain yang terpencar.
"Huwaaa!" suara tangis keras di mana-mana.
Nenek Leala terdorong ke sana sini mencari anak-anak asuhnya. Dia melihat arah datangnya suara tangis Owi. Anak itu duduk di lantai dan menangis. Kakinya sepertinya terkilir hingga tidak bisa berdiri.
"Owi!" nenek memanggil.
Saat sudah berada di dekatnya, nenek berjongkok bersiap menggendong. Tidak di duga sebuah menara kayu yang dipasang bendera rubuh ke arahnya. Nenek langsung tiarap dengan tubuh Owi di bawahnya.
"NENEK!"
Tubuh Reine bergerak dengan panik ke arah nenek yang tertimbun kayu. Gerakannya terhambat oleh orang-orang yang berlarian ke arah berlawanan. Fokusnya hanya satu untuk segera ke tempat nenek.
Yoyo berjuang keras untuk tidak terinjak orang-orang besar ini. Dia sempat terjatuh dan bangkit lagi menahan tangis. Yoyo melihat Reine yang berlari ke arah tumpukan kayu. Matanya membola saat melihat menara bendera lain yang rubuh ke arah Reine. Jaraknya terlalu jauh untuk mendorongnya. Dia membuka mulutnya dan...
"REINE AWAS!"
Suara teriakan anak kecil dari posisi lain membuat Reine berbalik. Refleksnya memaksa dia melemparkan diri ke samping. Tumpukan menara itu tidak jadi mengenainya. Tubuh Reine gemetar tidak bisa langsung bangun. Yoyo berlari ke arahnya.
"Reine? Kak Reine!"
Yoyo mencengkram tangannya untuk membantunya berdiri.
"Yoyo, kau... kau... bisa bicara?" tanyanya tak percaya.
Yoyo mengatupkan bibirnya menahan tangis. Tangan Reine gemetar di pegangannya.
"Gerak! Ayo!"
Reine akhirnya cukup sadar setelah diteriaki Yoyo. Dia kembali ke arah nenek tertimbun. Tangannya dengan sekuat tenaga mengangkat potongan-potongan kayu besar yang menimbun nenek. Yoyo membantu di sebelahnya dengan tangan kecilnya.
"Nenek! Nenek!"
Suara teriakannya membuat dua warga di dekatnya kembali ke arahnya. Mereka turut membantu mengangkat potongan-potongan kayu itu. Hingga akhirnya mereka tiba di dasar. Tubuh nenek masih dalam keadaan tertelungkup. Reine memutar tubuh nenek perlahan. Matanya terpejam erat. Ada darah yang basah di bagian kepalanya.
"Nenek!"
...............................................................................
Kekacauan akhirnya berakhir. Korban-korban luka ditangani oleh tim medis. Mobil ambulan sibuk membawa para korban. Nenek Leala termasuk di dalamnya.
Reine dengan cemas ikut ke rumah sakit. Dia sudah memastikan Owi baik-baik saja. Kakinya terkilir dan dia pingsan karena kaget. Sudah ada yang lain menanganinya.
Reine terus berdoa dalam hati untuk keselamatan nenek. Tumpukan batang pohon tadi sangat tebal dan berat. Kepala nenek bocor karenanya. Dia menyalahkan diri karena tidak bisa lebih cepat menggapainya.
Rumah sakit begitu penuh. UGD antri membuat Reine semakin waswas. Nenek beruntung karena dia bisa segera ditangani. Tapi Reine tidak bisa masuk jadi harus menunggu di luar.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Sebuah televisi yang ditaruh di ruang tunggu menampilkan berita. Breaking News mengenai kekacauan festival lentera. Liputan berita itu tidak hanya menampilkan satu tempat. Namun banyak desa lain yang juga mengalami hal yang sama. Tipe serangan sama dengan ledakan dan kembang api yang membakar lentera. Banyak yang terkena luka bakar dan mati karenanya.
"Apa maksudnya ini? Teror?"
Tubuh Reine langsung merinding mengatakannya. Dulu di tempat asalnya mungkin pernah dia dengar ada kata orang-orang penebar teror. Tapi menyaksikannya langsung seperti tadi berkali lipat sangat mengerikan.
"Tenang Reine, anak-anak selamat. Nenek juga pasti akan selamat."
Dia sedang berdiri di ruang tunggu dengan cemas saat tangan seseorang menariknya. Reine dibekap mulutnya sampai mereka tiba di suatu ruangan.
"Dokter Frans?"
"Kenapa kamu di sini? Kamu tahu betapa berbahayanya ini!"
"Tapi.. tapi Nenek. Nenek terluka dan perlu di bawa ke UGD."
Dokter Frans mengerutkan wajahnya.
"Ikut aku. Tidak aman kamu berada di sini."
"Tapi..."
"Leala orang yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja. Lebih baik kau kembali ke Gerdinlix sekarang dan menutup pintu. Jaga anak-anak di sana."
"Dokter..."
"Reine, kau harus mengerti. Keadaan sedang tidak aman. Kau tidak bisa berada di tempat umum sembarangan."
"Apa karena rumor itu?" suara Reine agak naik. "Dokter tahu aku tidak mungkin."
"Aku percaya kau bukan pembawa sial. Namun yang lain tidak. Reine ku mohon turuti kata-kataku. Demi Leala."
Reine memejamkan mata dan bernapas berat. Dia mengangguk menyerah. Dia mengikuti Dokter Frans membawanya diam-diam ke parkiran untuk kembali ke Catyzokan.