Bab 20 - Rumor

1608 Words
Dua bulan kemudian. Catyzokan selalu ramai dengan suara anak-anak. Keceriaan tanpa batas yang membuat siapa saja ikut menikmatinya. Kadang anak-anak berbuat nakal pun akan dimaafkan juga. Reine juga salah satu korban kenakalan mereka. Tetap saja hatinya lemah jika diberi tatapan sedih dengan mata besar yang berkilau itu. "Baiklah-baiklah, Kakak tidak marah. Tapi tolong jangan diulangi lagi ya. Kita tidak mau ada yang terluka kalau ada barang pecah lagi. Owi, Dodo, bantu kakak ambil sapu dan pengki. Hati-hati melangkah ya jangan sampai terinjak." Kali ini si kecil Owi seperti biasa bermain menerbangkan bola. Anak-anak lain mengejarnya. Sayang karena kurang hati-hati, ada yang menyenggol meja dengan piring beling di atasnya. Pecah dan berantakan di lantai. Kedua anak yang dipanggil Reine adalah pelakunya. Jadi mereka harus bantu Reine membersihkan kekacauan ini. Tidak perlu waktu lama hingga semua pecahan piring dibersihkan. Reine bahkan mengelapnya lagi dengan kain basah agar benar-benar hilang sisa serpihannya. Dia pergi ke tempat cuci untuk menyelesaikan cucian. "Reine, nenek sudah bilang untuk tidak mengangkat barang berat. Kenapa kau bandel sekali? Bahu dan lututmu mungkin sudah tidak sakit lagi. Tapi butuh beberapa bulan sampai benar-benar sembuh. Apa kau mau dimarahi dokter?" katanya cemas saat melihat Reine mengangkat satu keranjang besar cucian. "Nenek, ini semua isinya hanya baju anak-anak. Tidak berat sama sekali nek." "Tetap saja nak, itu semua kalau ditaruh di timbangan beratnya bisa mencapai tiga kilo. Sudah-sudah tinggalkan saja di sana." "Nenek.. terus aku ngapain dong kalau tidak mencuci?" rengeknya. Tiba-tiba ada yang merebut satu keranjang besar itu dari tangannya. Seorang anak kecil dengan rambut coklat. Tubuhnya masih terlalu kecil untuk mengangkat itu semua. Jadi dia mendorong keranjang cucian sampai ke dekat mesin cuci. Lalu mulai memasukan isinya ke sana. "Ah, Yoyo anak pintar. Kau mau bantu Kak Reine mencuci?" Yoyo mengangguk dengan cepat. "Yoyo..." "Tidak apa-apa Reine. Tidak ada salahnya Yoyo membantu. Sekaligus belajar melakukan pekerjaan rumah. Tidak masalah sama sekali." Reine sedikit cemberut. Tentu tidak salah mengajarkan anak-anak melakukan pekerjaan rumah. Tapi Reine tetap merasa kalau anak-anak akan lebih baik jika diberi kebebasan bermain. Yoyo ini sudah pendiam dan susah bersosialisasi. Semakin dia jauh dari teman-teman seumurnya, semakin tertutup nanti. Nenek Leala menariknya agak jauh dari sana. Kemudian dia berbicara dengan suara berbisik. "Reine, Yoyo terus mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Biarkan dia. Mungkin dia masih memiliki perasaan bersalah dalam hatinya atas kejadian lalu. Izinkan dia menemanimu sampai rasa bersalah itu hilang. Tolong jangan terus melarangnya. Dia tidak bermaksud mengganggumu. Dia lebih terlihat khawatir padamu." Gadis itu langsung terdiam mendengarnya. Memang setelah dia pulang dari rumah sakit, Yoyo terlihat selalu berada di dekatnya. Dia tidak mencoba bicara dan hanya mengawasinya dari jauh. Selalu mencoba membantu dirinya yang kesulitan melakukan pekerjaan kecil. Reine sempat berpikir bahwa anak ini merasa dirinya bersalah. Tapi kejadian waktu itu sama sekali bukan kesalahannya. "Yoyo baiklah kau boleh membantuku." Wajah anak itu langsung bersemu. Telinga kucingnya bergerak-gerak lucu. Anak itu dengan semangat mengambil keranjang cucian lain untuk ditumpahkan isinya. "Hei, hei, tapi jangan dimasukan semuanya. Nanti mesinnya berat." ......................................................................... Reine merasa bersemangat lagi saat diperbolehkan berjalan. Awalnya harus menggunakan tongkat. Lalu pelan-pelan mulai bisa berdiri tegak lagi. Dokter Je memberinya pelindung lutut yang disulam dengan mantra sihir untuk mempercepat penyembuhan. Kata beliau, karena Reine seorang manusia biasa, jadi sihirnya tidak seefektif biasanya. Namun Reine tidak memusingkannya. Asal dia bisa berjalan itu sudah cukup. Akhir-akhir ini Reine bisa merasakan kecemasan nenek. Para ibu-ibu yang membantu di gedung bayi juga terkesan lebih diam. Reine bisa melihat perubahan dengan jam kunjungan mereka menjadi lebih cepat. Mereka sebisa mungkin tidak pulang saat gelap. Jika harus sampai malam, mereka akan dijemput para kucing jantan dewasa. Nenek juga membatasi waktu bermain di luar. Anak-anak hampir sepanjang minggu tidak boleh keluar rumah. Kecuali jika ada guru dan senior Catyzokan, baru mereka boleh keluar. Reine khawatir sesuatu yang buruk terjadi hingga Nenek Leala menjadi waswas seperti ini. "Nenek boleh Reine bertanya?" Nenek Leala sedang merajut syal kecil. Nenek bilang Gerdinlix kemungkinan tahun ini akan mengalami musim dingin. Sebagian wilayah di Nekoroyaume memiliki empat musim dan wilayah lain dua musim. Desa mereka biasanya akan mengalami musim dingin walau saljunya tidak tebal. Reine senang mendengarnya. Tapi katanya kucing-kucing di sini tidak suka musim dingin. Karena musim itu sangat berat. Jika tidak hati-hati akan banyak anak yang sakit. "Kau sedang bertanya nak. Tanyakan saja?" "Nek, apa sedang terjadi sesuatu di luar sana? Aku... merasa nenek memperketat jam pengawasan." Nenek menghela napas. Dia meletakkan rajutannya di paha. Dia kembali mengambil napas dengan berat. "Nenek tahu tidak seharusnya nenek menutup-nutupinya. Kau orang yang jeli dan pengamat yang baik. Kau pasti cepat menyadarinya. Nenek hanya berharap kita bisa mengalami hari-hari yang normal selama beberapa waktu. Nenek ingin kau benar-benar istirahat hingga sembuh tanpa kekhawatiran." dia mengelus benang rajutannya. "Saat ini nenek hanya tahu Nekoroyaume sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Desa-desa dipinggiran sudah mengalami dampaknya. Monster-monster yang tidak dikenal mulai bermunculan." "Monster seperti yang ku temui waktu itu?" "Ya, beberapa yang nenek dengar lebih kejam dari itu. Para tentara militer, hunter dan mage berhamburan untuk mengatasinya. Tapi karena mereka muncul tanpa pola, sangat sulit menanganinya. Jadi kepala desa meminta kita lebih hati-hati saat berada di luar." Reine mencoba membayangkannya dengan serial tv ultramen yang mencoba membasmi monster aneh yang muncul di bumi. Mungkin itu gambaran terdekat yang dia bisa. Gadis itu bahkan masih takut untuk mengingat kecoak besar bau busuk menjijikan yang menghadangnya beberapa bulan yang lalu. Sampai sekarang dia merasa bulu kuduknya merinding dan perutnya mual. "Tapi bukan itu yang nenek khawatirkan." "Apa nek? Ada hal yang lebih buruk dari itu?" Sesuatu yang lebih buruk dari monster. Apa? Kiamat? "Nenek mendengar rumor buruk menyangkut dirimu." "Rumor?" "Entah siapa yang memulai rumor ini. Tapi bagi nenek ini sangat buruk. Ada rumor yang menyambungkan kemunculan monster-monster itu dengan dirimu. Dalam rumor ini kehadiranmu di dunia ini dianggap sebagai orang pembawa petaka. Rumor ini berhembus cepat dari desa ke desa. Hingga awal tempat rumor ini berasal tidak lagi diketahui." "Ke... kenapa orang-orang bisa membuat rumor seperti itu?! Aku juga korban nek. Bahkan aku harus operasi lutut gara-gara kejadian itu." kesalnya. "Nenek agak lupa sudah pernah menyampaikan ini atau belum. Tapi selama ratusan tahun setiap manusia yang ditransfer ke sini berumur di atas empat puluh tahunan. Kau satu-satunya manusia yang muncul setelah seratus tahun lamanya. Umurmu juga sangat muda, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang mulai beranggapan buruk karena hal ini." Reine mengatupkan mulutnya. Dia menunduk menggenggam jari-jarinya. Nenek pernah menjelaskan sekilas saat awal bertemu. Tapi tidak pernah terlintas dibenaknya bahwa anomali kehadiran dirinya sebagai hal signifikan untuk ditakutkan orang-orang. Dia hanya gadis biasa yang mati muda tapi masih ingin hidup tenang. "Reine, jangan terlalu dipikirkan apalagi sampai dimasukan ke dalam hati. Rumor ini mungkin saja dibuat oleh orang-orang yang ingin membuat kekacauan. Mereka tidak pernah bertemu apalagi mengenal Reine. Keberadaan Reine di sini bukan suatu kesalahan. Nenek yakin ini malah suatu keberuntungan." "Itu tidak mungkin nek. Tidak mungkin." "Tuh kan. Ini yang membuat nenek tidak ingin mengatakannya padamu. Kau malah kepikiran. Dengar ya nak. Kau adalah anak terbaik yang pernah nenek temui. Kau selalu berusaha membantu. Kau sabar dan ulet. Gesit dan lemah lembut. Kau bahkan bisa membuat anak yang sulit nenek tangani menjadi anak baik sekarang. Bahkan anak pendiam seperti Yoyo juga menjadi lebih aktif. Bagi nenek kau adalah keberuntungan." Senyuman nenek membuat hati Reine hangat. Dia tidak tahan untuk diam. Dia berdiri dan memeluk nenek. Kehangatan pelukan nenek membuat hatinya tenang dan kesedihannya hilang. Reine bersyukur dia diberi kesempatan bertemu Nenek Leala di sini. Sangat bersyukur bisa merasakan rasa aman dan terlindungi dalam pelukan nenek. Nenek Leala menepuk-nepuk punggungnya. Dia mengusap punggung Reine beberapa kali sebelum menjauhkan tubuhnya. Tangan keriputnya menangkup wajah Reine hingga pipinya menggembung seperti tomat. "Reine anak baik." Mereka menikmati keheningan beberapa saat. Reine menaruh kepalanya di paha nenek setelah perangkat rajutannya diamankan. Nenek dengan senang hati mengelus rambut gadis itu seperti mengelus kucing yang tidur di pangkuan. "Ada sesuatu yang harus kau ketahui Reine." "Apa itu nek?" "Beberapa minggu setelah kau pulang dari rumah sakit, ada kejadian besar yang menggemparkan. Ada pembunuhan di hutan barat." "Pembunuhan?!" Reine selama ini penasaran apa kucing yang ada di dunia ini bisa mati. Tapi kalau dari perkataan ini saja, berarti mereka bisa mati. "Pembunuhan yang dilakukan di hutan suci. Kau pasti tidak tahu mengenai hutan barat. Tempat itu dianggap suci oleh sebagian penduduk. Dianggap berkah oleh sebagian lain. Para Mage dan pertapa berlomba-lomba untuk bisa masuk ke sana demi meningkatkan ilmu mereka dengan bertapa di hutan barat. Dikatakan setiap pohon, air dan batu di sana memiliki kekuatan spiritual murni. Jadi banyak orang ingin ke sana." Reine bisa bayangkan hutan itu semacam hutan suci yang terisolasi. Bisa meningkatkan ilmu di sana terdengar sangat menggiurkan. Jika para penjahat menggunakan kesempatan meningkatkan kekuatan di sana, ugh sangat menakutkan. "Nenek bilang ada pembunuhan? Apa mereka diserang monster?" "Tidak ada yang tahu." ujarnya sambil menggeleng. "Dari yang nenek dengar hanya satu makhluk gelap yang terdeteksi di sana. Tapi makhluk itu bukan makhluk yang membunuh para pertapa. Hal ini sangat menggemparkan karena hutan barat selalu damai selama bertahun-tahun. Setelah kejadian di hutan barat, rumor tentangmu terdengar." Reine mengerjap. "Mereka menyalahkanku atas kemalangan para pertapa?" "Bisa dikatakan seperti itu. Korbannya adalah satu orang penjaga hutan dan dua master Mage dari Klan Gi, klan kucing siam. Mereka masih terpukul dengan kejadian itu. Jika suatu saat kau bertemu mereka, tolong berhati-hatilah.  Dengan rumor yang terbakar seperti api dikipasi angin ini, kemarahan mereka masih panas." Reine menelan ludah. "Tapi tempat tinggal mereka jauh kan dari sini?" "Jauh memang. Nenek hanya ingin kau berhati-hati saja." "Iya nek. Terima kasih sudah memberitahuku." Reine menggerutu dalam hati. Dia hanya exist di sini sudah dapat musuh. Rasanya sesuatu sekali. Rumor menyebalkan. Tidak bisakah dia hidup tenang di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD