"Tidak, dia mencoba melindungi gua ini."
Leonio mengatakannya dengan jelas dan tegas. Reaf sebagai penjaga hutan langsung bingung. Tato merah digunakan untuk menyerang bukan melindungi. Jika tato merah diaktifkan, itu biasanya untuk menyerang lawan dengan kejutan.
"Eh?"
"Saat sampai di mulut gua, teman anda membuat segel kecil di lantai. Segel itu menyerang segel lain yang ada di dalam gua sehingga menimbulkan pelindung baru yang cepat. Gua tertutup sementara." Leonio menunjuk ke arah dinding dengan rajah mantra. "Walau sudah hilang, aku bisa bayangkan tulisan apa yang ada di sana. Simbol matahari untuk panas bukan? Dia pasti mencoba menutup gua dengan segel es dengan serangan air sebagai permulaan. Bagian depan pakaian rekan Anda basah oleh air, bukan dar#h. Jadi segel es yang menutup jalan ini. Tapi itu bukan pilihan tepat. Penyerang mengambil simbol matahari di sana dan simbol gunung api sebelah sana. Es mencair dengan cepat. Masalah lain, simbol matahari itu juga sebagai simbol pengawasan. Mengambil simbol itu dari dinding sekaligus menghapus pengintai dan alarm dalam gua. Jadi seperti membunuh monster dalam satu kali lemparan batu."
Para penjaga hutan segera mendekat melihat rajah mantra yang hilang. Benar perkataan hunter. Kedua simbol itu hilang dari dinding.
"Setelah itu pelakunya membunuh para pertapa di dalam. Karena ada pelindung lain di sana, dia tidak bisa menggunakan smoke veins. Jadi smoke veins ditinggal di sekitar dinding ini. Apa yang tuan penjaga rasakan hingga tato anda bereaksi adalah smoke veins yang tertinggal di sini.""Jika bukan dengan smoke veins, lalu dengan apa?" tanya Jendral.
"Smoke veins adalah makhluk gelap dari pedalaman Gunung Garz. Dia tidak kuat cahaya dan energi spiritual besar. Tapi masih bisa melawan energi spiritual tingkat rendah. Kamar gua dipenuhi energi spiritual tinggi, jadi makhluk itu tidak bisa mendekat. Bentuk makhluk itu terlalu abstrak dan licin untuk membuat luka yang rapi. Kemungkinan pelaku menggunakan teknik tinggi untuk membunuh pertapa."
"Apa Anda tahu teknik itu?"
Leonio menatap Jendral Kan. Raut wajahnya semakin gelap.
"Ini hanya dugaan. Aku bisa salah. Tapi ini ada hubungannya dengan buku kuno yang hilang. Katakan Jendral apa kau tahu tentang Keluarga Kucing Iblis?"
Orang yang ditanya langsung berjengit. Bulunya berdiri dan gelisah. Dia menelan ludah.
"Itu sebuah legenda. Ada satu keluarga kucing yang semua anggota keluarganya menjadi Mage. Mereka terus merasa haus kekuatan hingga mencoba jalan gelap. Hasil dari jalan yang mereka ambil membuat beberapa teknik hitam yang dikatakan terlarang untuk diucapkan. Mereka kemudian mendapat karma dari Dewi setelah menghancurkan beberapa klan Mage. Mereka disegel di sebuah gunung terpencil. Tidak dikatakan di mana karena khawatir ada yang mencoba mencari mereka."
Leonio menaikkan alisnya. Dia mengangguk sedikit.
"Salah satu dari legenda mengatakan ada tiga harta yang ditinggalkan oleh Keluarga Kucing Iblis. Salah satunya buku kuno penuh dengan teknik gelap yang mereka buat. Buku itu dikatakan hilang selama ratusan tahun."
"Lord Iris Sabre, apa anda berpikir ada orang yang menemukan buku itu dan mempelajari teknik terlarang di dalamnya?"
"Aku tidak tahu." katanya sambil menggeleng. "Tapi teknik gila macam apa yang dapat membunuh dengan cara mengambil magic core langsung dari pusat tubuh korbannya tanpa membuat korban mereka sadar?"
Rasa dingin langsung merayap di setiap kulit orang-orang yang mendengar penjelasan Leonio. Kedengarannya sangat kejam membunuh orang lain tanpa orang itu sadar. Apalagi yang diambil dari korban bukan benda biasa. Tapi kekuatan sihir orang itu.
"Masalah utama adalah mencari tahu siapa pelakunya. Aku tidak bisa menerka orang yang mungkin melakukannya." Dia bergumam sejenak. "Jendral Kan, apa gua pertapa lainnya sudah di cek?"
Merasa malu, Jendral Kan langsung meneriaki perintah pada bawahannya. Dua orang penjaga hutan ikut mereka untuk menuntun jalan. Leonio memejamkan matanya sambil mengutuk Jendral di depannya ini. Sudah tahu kondisi genting, bukannya langsung menyebar seluruh anggota untuk mengecek dan mengamankan. Apa para Jendral sekarang terlalu lambat otaknya?
Sekarang mereka hanya bertiga di dalam gua. Jendral Kan memasang mantra untuk menjaga tkp tidak berubah sampai dia bisa mendapat orang untuk memindahkan korban. Leonio memilih menunggu di luar gua sambil bersidekap. Dia ingin kembali ke desa Dauni untuk mengambil bayaran. Tapi menghilang begitu saja tidak baik dalam kondisi ini.
"Lord Iris Sabre, terima kasih telah menolong kami yang lemah ini. Terima kasih juga telah menjelaskan apa yang mungkin terjadi. Mengetahui bahwa rekan kami berusaha melindungi para pertapa merupakan ketenangan untuk hati kami. Dia berjuang untuk menjaga kedamaian hutan ini. Kematian teman kami..."
"Tuan Reaf, jangan ucapkan bahwa kematian temanmu adalah suatu kehormatan. Aku tidak mau mendengarnya." katanya pahit. " Mati adalah mati. Jangan meromantisasikannya."
Reaf menelan ludah kasar. Dia langsung menundukan kepala. Dalam pikirannya dia membenarkan perkataan Lord Iris Sabre. Pada akhirnya temannya mati. Tidak ada hal menyenangkan dari sana.
Jendral Kan keluar dari gua.
"Lord Iris Sabre, kami sangat beruntung bertemu dengan Anda!" suara Jendral menggelegar.
Leonio menatap kesal Jendral itu. Jendral Kan langsung memperbaiki posturnya mendapat tatapan tajam dari Leonio.
"Tugasku selesai. Aku akan pergi sekarang."
"Eh.. eh tunggu dulu Lord Iris Sabre! Kamu harus laporan dulu ke Istana."
"Kau sudah di sini. Kau bisa membuat laporan."
"Tunggu tuanku. Tapi Anda yang lebih dulu sampai. Anda juga bertarung dengan smoke veins jika dari cerita Anda tadi. Anda bahkan bisa menebak apa yang terjadi di sini. Aku tidak mungkin mengambil kredit dari nama Anda."
"Aku mengizinkannya. Kau bisa mengambil kredit dari kasus ini."
"Tuanku... tuanku tunggu dulu. Jangan pergi!"
Jendral Kan mungkin lambat dalam bertindak. Tapi dia ternyata cepat dalam bergerak. Dia memblokir jalan Leonio dengan tubuh besarnya.
"Berbincang sebentar oke."
Jendral Kan melirik ke samping di mana Reaf si penjaga hutan masih bersama mereka. Si penjaga hutan sepertinya mengerti bahwa pembicaraan ini bukan untuknya.
"Saya... saya akan menunggu di gua. Saya juga harus menyiapkan laporan untuk atasan saya dan mengabarkan kabar duka ini pada Klan Gi. Saya permisi." pamitnya lembut.
Setelah jauh, Jendral Kan kembali bersuara.
"Lord Iris Sabre, kau sudah pergi ke sana dan kemari untuk melawan kejahatan. Aku selalu mengagumi kisahmu dan keberanianmu. Aku sedikit penasaran bagaimana bisa kau masuk lebih dulu ke sini di saat kami membutuhkan waktu sampai pelindung agak lunak mempersilakan kami masuk."
"Aku tidak tahu. Aku hanya berjalan masuk." singkat, padat dan jelas.
Jawaban itu semakin membuat Jendral menempel.
"Oh tuanku. Anda pasti memiliki hati yang bersih hingga hutan mengizinkan Anda masuk dengan mudah. Mengagumkan, mengagumkan dari tuan muda. Kalau begitu posisi Anda pasti juga sangat dekat."
"Kau sedang menginterogasiku?" mata Leonio menyipit. "Kau pikir aku pelakunya." nadanya sangat tidak bersahabat.
"Tidak seperti itu tuanku, tidak. Aku tidak berani berpikir seperti itu, sangat tidak berani."
Leonio berdecak. "Aku habis memburu monster di perbatasan desa Dauni. Kau bisa mengecek alibiku pada kepala desa."
Leonio berjalan lagi. Dia hanya ingin semua ini selesai. Tidak diikuti oleh Jendral istana macam Kan. Nama Jendral itu tidak signifikan di dunia kemiliteran. Dia baru diangkat beberapa tahun. Leonio tidak mendengar hal bagus dan kompeten darinya selain hobi buruknya.
"Kejadian di sini sangat mengerikan bukan. Sangat mengerikan. Sudah ratusan tahun hutan ini damai dan suci. Tiba-tiba ada kekacauan seperti ini. Benar-benar mengerikan. Aku dengar tahun ini muncul manusia baru setelah seratus tahun. Ku dengar dia perempuan muda. Sangat aneh, benar-benar aneh."
Leonio masih berjalan cepat. Jendral Kan mengimbangi dengan kaki besarnya. Leonio masih meneriakan kata sabar dalam hatinya. Jika dia marah sekarang, entah apa yang akan dilakukan hutan barat kepadanya. Apalagi marah hanya untuk memotong kepala Jendral ini.
"Orang-orang mengatakan dia pembawa bencana. Bukankah aneh tiba-tiba ada manusia muda yang muncul di dunia kita. Bagaimana menurutmu tuanku? Ku dengar Anda sudah bertemu dengannya?"
Jendral Kan benar-benar tidak menutupi rasa penasarannya. Dengan gamblang dia mengganti topik ke arah manusia muda. Terdengar mencurigakan untuknya. Tapi tentu saja dengan laporan ke istana beberapa minggu lalu, siapa saja orang dengan pangkat Jendral bisa mengaksesnya. Tidak sedikit Jendral penasaran yang ingin ikut campur dalam urusan yang bukan pekerjaan mereka.
"Bagaimana pendapatmu tuan? Apa dia baik? Apa dia benar semuda itu? Semua orang membicarakannya. Aku ingin bertemu langsung dengannya tapi pekerjaan tidak memungkinkan."
"Kau hanya ingin menggosip."
"Tuan, aku tidak seburuk itu. Hanya penasaran saja tidak ada salahnya."
Leonio berhenti melangkah. Dia berbalik badan membuat Jendral hampir menabraknya.
"Kau benar Jendral Kan. Aku harus melapor sendiri ke istana."
Wajah Jendral itu langsung melongo tidak mengerti arah pembicaraan ini. Bukankah mereka sedang membicarakan manusia. Kenapa tiba-tiba Lord Iris Sabre ingin ke istana.
"Tuanku, Lord Iris Sabre! Apa anda tidak lelah? Kita bisa minum dulu di stasiun tentara. Tuanku tunggu!"
"Jendral, selesaikan dulu tugasmu di sini. Aku duluan ke istana."
Dalam satu lompatan keras Leonio menghilang. Jendral Kan hanya bisa berteriak dengan kecewa. Dia akhirnya memilih kembali ke gua tadi.
"Pelit sekali. Aku kan hanya ingin tahu seperti apa manusia baru itu. ckckck."