Hutan barat termasuk tempat yang tenang dan tidak banyak makhluk buas. Tempat itu terkenal tenang dan sunyi. Sangat cocok untuk digunakan oleh para pertapa melakukan kegiatan pertapaan. Dengan bentuk hutan yang tebal, air terjun yang dingin dan deras, gua-gua batu yang penuh dengan energi spiritual menjadikan daya tarik tersendiri untuk para pencari kekuatan.
Umumnya para pertapa akan datang saat musim gugur dan keluar pada musim semi. Sebagai tempat favorit bermeditasi, banyak sekali mage dan calon mage yang bertapa di sini. Karena takut kapasitas hutan tidak mencukupi, istana membuat peraturan untuk orang yang ingin datang ke hutan barat. Mereka harus mendaftar satu tahun sebelumnya agar mendapat izin masuk ke hutan ini.
Seharusnya semua berjalan seperti biasa. Para penjaga hutan akan memantau para pertapa yang masih di dalam. Mereka akan mengecek dari jarak jauh agar tidak mengganggu para pertapa. Sayangnya hari ini bukan hari keberuntungan sang penjaga hutan. Saat dia masuk ke jalur menuju gua pertapa dari klan Gi, penjaga itu langsung berhenti dengan terkejut. Di tengah jalur licin menuju gua, ada jejak darah yang memanjang hingga bibir gua.
Sang penjaga memeriksanya. Jejak darah itu masih baru, mungkin belum sampai dua belas jam. Langit cerah membuat jejak itu jelas. Dengan rasa takut dan khawatir yang membuncah, penjaga itu berjalan cepat menuju gua. Sampai di sana dia mendapati pemandangan yang lebih mengerikan. Dia menemukan satu orang temannya sesama penjaga hutan yang bertugas malam hari tergeletak di lantai gua.
Dia berjongkok untuk memeriksa nadi. Tangan temannya sudah dingin dan kaku tanpa ada denyut kecil lagi. Dia ingin memeriksa orang-orang di dalam gua. Terutama para pertapa yang ada di sana. Baru selangkah dia melangkah, rasa panas dari pusat dadanya menghentikannya. Panas itu berasal dari tato jimat yang dimiliki para penjaga hutan. Jika tato itu berpendar panas, berarti sesuatu yang buruk ada di dekatnya.
Penjaga hutan akhirnya memilih keluar. Dia mengeluarkan sebuah tabung berukuran tiga puluh senti dari jubahnya. Satu gerakan tangan menciptakan api di ujung jarinya. Dia menyulut tabung atasnya, lalu segera mengacungkannya ke udara.
Cahaya merah ditembakkan di udara. Dari cahaya itu sebuah kembang api berbentuk bunga lili mekar menandakan hutan barat. Kembang api untuk meminta bantuan. Siapapun yang akan melihat kembang api itu akan bergegas mendatanginya. Warna merahnya akan terlihat di langit sampai jarak bermil-mil walau dalam keadaan langit cerah sekalipun. Penjaga hutan itu sekarang hanya bisa menunggu sampai bantuan datang.
Penjaga hutan dengan cemas menunggu bantuan datang. Matanya memandang ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang jahat yang datang. Tato jimat di dadanya masih terasa panas membuat hatinya semakin gelisah. Dia menggenggam tongkat sihirnya dengan erat. Setiap detiknya terasa menyiksa padahal hanya menunggu bantuan datang.
Angin dingin mengelus tengkuknya. Dia memutar tubuh dengan tongkat teracung. Bunyi gemerisik semak-semak dibelakangnya membuat dia menengok. Lalu suara dukdukduk benda menggelinding membuatnya menoleh perlahan menemukan batu sekepalan tangan yang bergulir. Penjaga itu langsung menembakkan mantra ke arah datangnya batu. Tidak ada apapun di sana selain daun-daun kering yang belum dibersihkan.
Pelipisnya basah oleh keringat. Dia tahu penjahatnya masih di sini mempermainkannya. Penjaga itu kembali mengedarkan pandangan. Tongkat sihirnya tidak jauh dari wajahnya. Dia berdiri di bawah kumpulan pohon besar yang dahannya saling bertemu. Saat telinga kucingnya mendengar suara seperti bunyi menyeret benda berat. Dia kembali melihat kanan kiri mencari sumber suara. Tapi kemudian bulu kuduknya berdiri. Suara itu berasal dari atas kepalanya.
Penjaga itu melihat ke atas. Matanya terbelalak saat melihat pisau besar ada di atasnya. Tubuhnya kaku karena ketakutan. Pisau besar itu turun dengan cepat ke arahnya yang tak bergerak. Penjaga itu berteriak keras.
Sebuah angin besar menyelimuti si penjaga hutan. Bunyi siulannya seperti tornado kecil yang rapat. Angin itu membentuk bulatan pelindung di sekeliling penjaga hutan. Pisau besar tadi oleng ke arah kiri karena tenaga angin yang membenturnya. Lalu jatu menancap tanah tepat di samping pelindung angin. Pelindung itu langsung hilang setelah selesaikan tugasnya. Si penjaga langsung menatap sebuah anak panah hitam dengan kertas mantra tertancap di sebelah kakinya.
'Panah hunter!'
Seorang manusia kucing dengan tubuh tinggi berdiri di dahan besar salah satu pohon. Sebuah busur besar masih digenggam. Dia mengenakan jaket coklat gelap dan celana tactical coklat yang dimasukkan ke dalam boots. Mata hijau terangnya semakin bercahaya di bayangan hutan.
Penjaga hutan itu langsung menangis senang melihatnya.
"Tuan!"
Laki-laki itu melompat turun ke depan si penjaga hutan. Lompatannya begitu ringan menandakan dia terbiasa melompat dari tempat tinggi. Saat dari dekat, si penjaga bisa merasakan energi yang tidak biasa menguar dari tubuhnya. Kekuatannya yang mengerikan namun anehnya memberi rasa aman pada hati gelisahnya.
Orang itu bergerak ke samping si penjaga hutan. Dia mengetuk pisau besar itu dengan kukunya seakan memastikan keasliannya. Matanya menyipit saat merasakan energi hitam menyelimuti pisau itu. Dia mengambil sebuah kantong kulit dari celananya.
"Masuk!"
Hanya perintah kecil seperti itu, pisau besar berbahaya tadi menyusut menjadi kecil dan tertarik masuk ke dalam kantong kulit. Dia mengikatnya beberapa kali sebelum dimasukkan ke kantong celananya lagi.
"Kau yang menembakkan kembang api?" suara basnya membuat tubuh merinding.
"Iya tuan." katanya cepat.
Si penjaga hutan membungkuk.
"Terima kasih telah menolong saya tuan."
"Katakan bantuan apa yang kau butuhkan."
Penjaga hutan mengangguk. Dia menarik napas dalam sebelum bercerita.
"Saya sedang dalam patroli untuk mengecek kondisi hutan dan para pertapa. Saat saya mencapai daerah ini, saya menemukan jejak darah. Saya mengikutinya dan sampai di salah satu gua terdekat. Saat tiba di mulut gua, saya menemukan rekan saya sudah..." suaranya bergetar saat mengucapkannya. "... sudah tidak bernyawa. Saya ingin memeriksa lebih dalam ke gua pertapa. Tapi jimat saya terbakar memperingati saya bahwa masih ada bahaya di dekat saya. Jadi saya keluar dan menembakkan kembang api."
Laki-laki itu mengangguk.
"Tunjukan!"
.....................................................................................
Penjaga hutan itu membawa tuan hunter ke gua tempat dia menemukan rekannya yang meninggal. Dia sedikit lebih punya keberanian sekarang. Tapi matanya tidak bisa berhenti melirik sosok rupawan di sebelahnya. Entah kenapa gaya hunter ini berpakaian sangat familiar.
Hunter ini menggunakan tas punggung kecil yang diselepangkan di punggung. Busur besarnya sudah menghilang dan tersimpan di harnes gear yang biasa digunakan para hunter. Harnes gear wujudnya sabuk kulit dengan rajah mantra untuk menyimpan senjata. Tuan hunter ini memakai dua. Satu menjadi sabuk pinggangnya dan satu lagi terpasang di tangan kirinya. Dia menggantungkan pedang di pinggang. Hal yang tidak biasa dilakukan seorang hunter. Biasanya hunter suka memakai senjata yang praktis seperti dagger untuk mudah bergerak. Tidak pedang panjang yang kelihatan berat seperti itu.
Tiba di bibir gua, mayat yang dimaksud masih ada di sana. Jejak darah masih membekas panjang seperti terakhir ditinggalkan. Hunter itu mengangkat tangan menyuruh si penjaga berhenti. Dia kemudian menaruh telunjuknya ke bibir dengan gestur jangan bersuara. Si penjaga mengangguk mengerti.
Hunter itu mengambil sesuatu dari tas selempangnya. Dia mengeluarkan kotak kecil seukuran kotak jam tangan berwarna hitam. Hunter membisikan sesuatu ke kotak itu. Benda itu menyala merah. Dengan tangan dijulurkan ke depan d**a, kotak itu terbuka sendiri. Belasan tawon hitam keluar dari sana. Penjaga hutan berjengit hingga membungkam bibirnya sendiri hampir kelepasan berteriak. Tawon adalah musuh kucing, tentu dia takut.
Belasan tawon hitam dengan mata merah terbang mengambang di depan hunter. Sebelum mereka menyebar ke segala arah. Masuk lebih dalam ke gua. Hunter itu langsung melipat tangan di dad* menunggu. Telinga kucingnya dia tajamkan untuk menerima suara mencurigakan.
Penjaga hutan ikut diam. Agaknya dia sadar bahwa belum saatnya berbicara. Tangannya meremas bagian pakaian yang menutupi tato jimatnya. Rasa panas dari sana belum juga hilang. Artinya bahaya masih di dekat mereka.
Sekitar dua menit kemudian, sesuatu terjadi. Lorong gua menyala merah. Bunyi nguuung nguuung tawon semakin intens. Dahi hunter berkerut tidak senang. Satu tangannya memegang gagang pedang dipinggangnya.
Bunyi dengungan lebah semakin kencang. Ada juga suara seperti besi beradu. Si penjaga hutan bingung mendengarnya.
'Kenapa suaranya seperti suara pedang beradu? Sebenarnya tawon apa yang dia lepaskan tadi?'
Suaranya semakin dekat. Penjaga hutan kembali menggenggam tongkat sihirnya dengan erat. Tangannya mulai dingin lagi. Jika saja dia memaksa masuk sendiri tadi, mungkin dia akan bernasib sama dengan temannya. Dia tidak akan siap jika tiba-tiba di serang.
Hunter disebelahnya berdecak.
"Tuan penjaga hutan."
"Y..ya?"
"Tahan napas." perintahnya dengan suara dingin.
Penjaga hutan ingin bertanya kenapa. Tapi tiba-tiba kumpulan asap hitam muncul dari dalam jalur gua yang tadi menyala merah. Mengikuti perintah, penjaga hutan langsung menahan napas. Asap hitam tebal dengan cepat menyerbu mereka. Kondisi gua yang gelap jadi semakin gelap. Rasa dingin dan licin seperti tentakel menjerat kakinya. Penjaga hutan ingin berteriak karena benda licin itu mencengkram kakinya kuat seperti ingin diremukkan.
Cahaya kuning cerah berpendar dari dadanya. Hawa panasnya menyingkirkan tentakel dingin dan licin itu. Para penjerat mundur. Tapi sayangnya cahaya itu tidak menghilangkan kabut asap hitam yang ada. Sementara paru-parunya sudah terbakar karena menahan napas lama.
Warna ungu terang menyala dari sampingnya. Nyalanya lebih terang dan kuat dari cahaya jimat milik penjaga hutan. Cahaya itu ternyata berasal dari pedang hunter. Pedang menyala ungu dengan berbagai ukiran mantra di sepanjang bilahnya. Panjangnya hampir dua meter dengan lebar bilahnya sebanyak satu panjang tangan orang dewasa. Pedang itu di angkat ke atas, lalu ditancapkan ke tanah.
"Eliminated!"
Simbol huruf dan mantra bergerak dengan teratur ke tengah pedang. Tulisan-tulisan itu membentuk lingkaran. Nyala ungunya berubah agak kemerahan. Angin besar keluar dari pusat pedang. Dengan kekuatan seperti itu hampir menerbangkan si penjaga hutan ke belakang. Buru-buru dia tiarap untuk menjaga diri.
Suara sriek kesakitan menggema di dalam gua. Suaranya sangat keras dan parau. Asap hitam tadi seperti meronta dan berteriak marah. Hal yang tidak mungkin dilakukan asap kecuali kalau benda itu adalah makhluk sihir. Teriakan sakitnya semakin keras membuat penjaga hutan khawatir gendang telinganya pecah. Suara itu menjauh dengan cepat. Angin berhenti berhembus kencang. Area gua kembali normal tidak ditelan kegelapan pekat.
"Tsk, dia kabur." gerutunya kesal.
Penjaga hutan bangun dari posisinya tadi. Rambut dan pakaiannya berantakan tidak karuan. Dia sedikit iri melihat tuan hunter tidak terpengaruh sama sekali. Malah semakin tampan dengan rambut silvernya yang acak-acakan.
"Tadi itu apa?"
Hunter kembali menyarungkan pedangnya. Dia menepuk sedikit debu di pakaiannya. Lalu merapikan rambutnya.
"Smoke veins. Makhluk gelap dari pedalaman Gunung Garz. Tidak seharusnya berada di sini."
Bibirnya membuat garis tipis. Dia berjongkok di samping tubuh dingin penjaga hutan yang tiada. Tangannya memeriksa wajah, luka dan kondisi tangan mayat itu. Alisnya semakin berkerut tidak senang.
"Senior! Senior Reaf!" suara panggilan dari luar.
"Junior, aku di sini!" jawab si penjaga hutan.
Rombongan penjaga hutan dan tentara militer Nekono Palais datang. Mereka berhenti di depan gua melihat Reaf yang acak-acakan dengan seorang hunter yang masih membelakangi mereka.
"Senior tidak apa-apa?" wajah khawatir junior penjaga hutan. Kuping caliconya turun sedih.
"Aku tidak apa-apa. Tuan hunter ini sangat baik telah menolongku."
Hunter tersebut berdiri dan membalik badannya. Suara kaget terdengar dari orang-orang berpakaian militer.
"Lord Iris Sabre." hormat seorang laki-laki bertubuh besar. Dari pangkat di bajunya, orang-orang tahu tingkatannya tinggi.
Hunter itu merasakan pelipisnya berkedut kesal dengan panggilan itu. Kali ini yang membuat suara terkejut berasal dari sisi kanan hunter. Tempat tiga orang penjaga hutan yang salah satunya sempat bersamanya tadi. Mata Reaf langsung menatap sang hunter dari wajah ke pedang di pinggangnya. Hunter itu ingin memutar bola matanya, tapi dia tahan.
"Jendral Kan." balasnya dingin.
"Suatu kehormatan bertemu anda, Lord Iris Sabre."
Dia berdehem.
"Kita kesampingan basa-basinya sekarang. Ada mayat di sini dan mungkin beberapa di dalam. Aku belum sempat mengeceknya karena kami mengalami sedikit hambatan. Jika Jendral berkenan..."
"Tentu saja, tentu saja, panggilan tugas adalah prioritas utama!" balasnya bersemangat. "Kalian periksa ke dalam!" perintahnya.
"Yes, Sir!"