Bab 16 - Asking

1101 Words
"Kerajaan kucing itu seperti apa nek?" Sejak pembicaraannya dengan Leonio si hunter, Reine jadi merasa penasaran. Sebagai orang Depok, dia tidak bisa membayangkan kerajaan itu seperti apa. Seperti di film-filmkah dengan istana megah dan luas ala abad pertengahan. Seperti keraton jogja mungkin dengan bangunan-bangunan tradisional. Mungkin bisa juga seperti kastil dracula. "Kerajaan kucing? Apa yang kau ingin tahu tentangnya nak?" "Hmm, seperti apa bangunannya? Siapa yang memerintah? Apa saja yang ada di sana? Pokoknya semuanya." Nenek bergumam sebentar, berpikir untuk memulai dari mana. "Nenek akan berusaha menjelaskan yang nenek tahu. Kerajaan kucing di Nekoroyaume dipimpin oleh seorang Cyrille, sebutan untuk Raja. Nama Raja yang sekarang memerintah adalah Osmond. Dia sudah memerintah selama hampir seratus tahun setelah keluar menjadi dominan terkuat dalam sayembara kerajaan yang diselenggarakan raja sebelumnya." "Oh, jadi sistemnya sayembara, bukan turun temurun?" "Iya, yang dicari adalah yang terkuat dari yang terkuat. Jadi kalau raja sebelumnya memiliki keturunan pun tidak menjamin keturunannya akan jadi raja. Keturunan itu harus ikut sayembara dulu. Kalau menang ya berarti memang sudah takdirnya." Reine mengangguk mengerti mendengarnya. "Tempat tinggal Raja bernama Nekono Palais. Tempat itu terletak di pusat kota Seiko, kota administrasi di Prefektur Alpazo. Nenek pernah melihat istananya dari luar saat ada festival. Tempat itu sangat besar dan luas. Nenek rasa seribu orang pun akan muat di sana. Bangunannya seperti bangunan istana Versailles. Bangunan besar panjang dengan taman luas di sekelilingnya." "Aku tidak tahu istana versailles seperti apa." "Bayangkan saja bangunan besar panjang tanpa menara pengintai beratap runcing." Reine mengangguk-angguk. Tidak kebayang sih sebenarnya. Tapi bukan masalah. "Lalu apa peran raja di sini sangat besar?" "Mengenai itu, nenek rasa peran raja di sini besar. Baik dari segi diplomatik dan pemerintahan. Seperti contohnya Catyzokan. Di dunia ini tersebar banyak sekali Catyzokan. Semua Catyzokan didanai langsung oleh istana. Baik secara materi maupun kebutuhan lain seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan. Reine sudah lihat beberapa guru yang datang ke sini. Mereka semua digaji oleh pemerintah. s**u dan makanan juga selalu di restock dari departemen pangan. Makanya di sini ada laporan rutin tiap bulan. Termasuk untuk menghitung populasi kucing yang ada. Jika di tempat ini terlalu berlebihan massanya, akan ditransfer ke tempat lain." "Wah luar biasa sekali. Berarti kesejahteraan rakyatnya sangat terjamin dong." "Bisa kamu katakan seperti itu. Dari sisi pemerintah sih mereka sudah berusaha menyejahterakan rakyat. Tapi mungkin di lapangan tetap ada yang beda, kita tidak pernah tahu." Nenek meminum air tehnya. "Satu lagi tugas raja yang nenek tahu. Kucing yang dinobatkan sebagai raja mempunyai tugas besar untuk menjaga keberadaan Nekoroyaume. Bisa dibilang sebagai pondasi dan pelindung dunia ini. Makanya dibutuhkan yang terkuat dari yang terkuat. Mereka harus punya sihir yang kuat. Kekuatan sihir mereka dibutuhkan untuk menjaga pelindung dunia ini." "Pelindung?" "Bayangkan saja seperti atmosfer bumi. Tugas raja salah satunya adalah menjaga atmosfer itu tidak rusak dan bolong." "Kalau nenek bilang atmosfer, berarti pelindungnya besar sekali kan?" nenek mengangguk. "Pelindung sebesar itu hanya raja saja yang menopangnya?" tanyanya terkejut. "Oh tidak, tentu tidak. Kalau raja sendirian pasti akan melelahkan. Raja punya penyihir istana untuk membantunya. Setahu nenek ada satu departemen khusus yang dijalankan oleh mage. Mereka membantu raja untuk melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan sihir. Ada empat penyihir utama yang bertugas menjaga Nekoroyaume di keempat arah mata angin. Mereka disebut Empat Penjaga Pilar. Mereka tinggal di kuil di empat arah mata angin." "Empat penjaga, kedengarannya mereka punya tugas yang sangat berat." Nenek menyetujuinya. "Nenek pernah bertemu salah satunya. Dia... sangat berbeda dari manusia kucing biasa." "Benarkah? Apa yang beda?" "Dia tidak bicara. Tapi nenek bisa mengerti apa yang ingin dia sampaikan." Reine langsung bersemangat mendengarnya. 'Telepati?! Itu pasti telepati! Nenek bertemu orang yang bisa telepati.' "Lalu nek, apa yang dia katakan?" Nenek beranjak dari tempat duduknya. "Itu untuk diceritakan lain waktu. Sekarang saatnya Reine istirahat." "Ah nenek..." "Sshh, jadilah anak baik." Nenek membawa gelas yang sudah kosong dari meja. Dia mengelus kepala Reine sebentar. Lalu keluar dan menutup pintu. Di dalam kamar Reine cemberut. Cerita nenek sedang seru. Kalau menggantung nanti yang ada dia lupa sudah sampai mana. Pada akhirnya Reine hanya bisa tiduran lagi dan menerima waktu istirahatnya. ....................................................................................................... Jam makan malam sudah datang. Reine tahu anak-anak sebentar lagi akan kembali ke kamar masing-masing. Nenek sempat datang dan membantunya makan sebelum keluar lagi. Nenek sama sekali tidak membahas tentang pembicaraan siang tadi. Reine mau bertanya sebenarnya. Tapi melihat wajah lelah nenek, dia jadi menahannya. Sekarang Reine kembali melihat langit-langit kayu. Rasa kantuk belum muncul. Dia seharian ini tidak punya aktivitas lain selain berbaring dan tidur. Jadi malam hari dia malah tidak mengantuk. Bunyi kriet dari pintu kamarnya yang dibuka membuat Reine kaget. Dia menolehkan kepalanya untuk mendapati telinga kucing lucu yang menyembul dari sana. Reine tentu saja hapal dengan warna telinga kucing itu. Siapa lagi kalo bukan Yoyo. 'Rasanya deja vu.' batinyya lucu. "Yoyo, apa kamu itu dek?" Dipanggil seperti itu, Yoyo memperlihatkan dirinya dengan bergeser dari posisinya. Piyama coklatnya sangat lucu dengan gambar awan-awan hijau. Kali ini anak kucing itu tidak ragu untuk langsung masuk ke dalam dan menutup pintu. Tapi saat sampai di depan tempat tidur Reine, dia berhenti. Tempat tidur Reine terbilang kecil dan hanya cukup untuk satu orang. Dengan bahu dan lututnya yang masih digips, Reine tidak bisa menggeser tubuhnya. Bisa sebenarnya kalau mau berusaha. "Kenapa hm, tidak bisa tidur?" Reine tidak mengajaknya untuk naik. Dia penasaran apa yang diinginkan bocah pendiam ini. Apa dia akan menyerah dan kembali ke kamarnya? Yoyo terlihat mengerutkan kening. Dia mengangguk pada dirinya sendiri seakan menyemangati diri. Kemudian membuka mulutnya. Suara 'A' kecil keluar. Sebelum pintu terbuka dengan cepat. "Yoyo... nenek mencari-cari kamu dari tadi." suara lelah dan khawatir nenek membuat mereka menengok. Yoyo yang tadi seperti ingin bicara jadi kembali menelan suaranya. "Sudah malam nak. Kak Reine mau istirahat. Yoyo kembali ke kamar ya. Besok saja main ke sini." "Tidak apa-apa kok nek. Mungkin Yoyo cuma tidak bisa tidur karena mimpi buruk. Jadi dia ke sini." "Benar begitu Yoyo?" tanya nenek. Yoyo menggeleng pelan. Dia menatap Reine lalu ke nenek secara bergantian. Bibirnya cemberut dengan pipi menggembung. Yoyo berjalan keluar tanpa mengucapkan apapun. Nenek menghela napas melihatnya. "Anak itu..." sambil menggelengkan kepala. " Sejak kau masuk rumah sakit dia jadi uring-uringan." dia menoleh ke Reine. "Nenek akan pastikan dia kembali ke kamar dan tidak berkeliaran ke tempat lain." "Jangan marahi dia nek." Nenek tertawa kecil. "Apa kau pernah melihat nenek memarahi anak-anak di sini?" Reine tersenyum saja sebagai balasan. Dia akhirnya ditinggalkan lagi di kamarnya. Kembali melihat langit-langit kamar, Reine berpikir. "Apa yang ingin Yoyo katakan ya?" gumamnya. "Sepertinya dia tidak ingin mengucapkannya di depan nenek. Tapi kan Yoyo tidak bisa bicara." Reine mencoba tidak terlalu memikirkannya. Dia akan mengetahuinya nanti saat bertemu Yoyo lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD