Anak-anak kucing Catyzokan bergantian menjenguk Reine di kamar. Mereka terlihat antusias dengan membawa berbagai macam mainan atau gambar untuk menyemangati Reine. Tidak mungkin Reine tidak merasa tersentuh. Anak-anak ini begitu manis padanya.
Owi memberinya origami kupu-kupu yang dia sihir untuk terbang. Reine sangat menyukai warna-warna pastelnya. Winwin menunjukkan gambar Reine dengan pedang kecil dan monster raksasa. Katanya untuk merekam kehebatannya melawan monster. Ada juga yang memberi bunga kecil yang dipetik di taman.
Nenek memantau mereka. Sedikit tegas dengan melarang anak-anak naik ke tempat tidur. Takut mereka menginjak kakinya. Anak-anak itu tidak diizinkan lama menjenguk. Hanya lima menit dan diantar keluar.
Pengunjung terakhirnya adalah Yoyo. Si anak kucing yang mengalami kejadian buruk bersamanya. Anak itu sendirian, kelihatannya menunggu sampai semua orang selesai. Dia tidak membawa apa-apa di tangan. Biar begitu Reine yang paling senang melihatnya. Tidak terlihat ada luka di tubuhnya.
Reine menghiraukan wejangan nenek untuk tidak mengizinkan anak-anak naik ke kasurnya. Dia menepuk sebelah kasurnya agar Yoyo duduk di sana. Anak itu naik dengan ragu. Reine langsung mengelus kepalanya saat dia sudah di jangkauan tangannya.
"Yoyo, terima kasih ya sudah menolong Kakak. Kamu sangat hebat. Kamu sangat berani."
Reine ingin sekali memeluk anak ini. Tapi cederanya membuat dia tak bisa bergerak banyak. Reine terus tersenyum tanpa berhenti mengelus kepala Yoyo. Anak itu seperti biasa tidak bicara. Hanya tangannya yang meremas selimut Reine memperlihatkan rasa gelisah.
"Yoyo, kamu tidak apa-apa?"
Yoyo menunduk melihat tangannya. Lalu dia mengangkat wajah menatap Reine. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Alisnya bertaut dengan gelisah. Suatu ekspresi yang tidak cocok berada di wajah anak kecil.
Yoyo mencoba mendekat. Dia mengulurkan tangan kecilnya untuk menggapai pipi Reine. Kepalanya miring sedikit. Matanya bergerak-gerak kesana kemari seperti mencari sesuatu di majah Reine. Dia mengeong dengan suara kecil. Kemudian membuat wajah frustasi. Lalu mencoba membuka mulut lagi untuk mengeluarkan suara. Hanya suara mengeong lagi yang keluar. Anak itu semakin frustasi dan mulai memukul-mukul kepalanya.
"Eh, eh. Jangan! Jangan begitu sayang. Jangan lukai dirimu sendiri."
Reine berusaha menangkap tangan kecil Yoyo terus memukuli kepalanya sendiri. Gerakannya itu membuat bahunya sakit. Tapi untung dia bisa menahan suara sakitnya. Yoyo akan semakin stres kalau mendengarnya. Anak itu masih mencoba bicara. Tapi tidak ada perubahan pada kata-katanya membuat dia menangis.
"Ssshhh, jangan menangis... jangan menangis. Tidak apa, suatu saat nanti Yoyo pasti bisa."
Nenek datang mendapati Yoyo diatas tempat tidur dan masih menangis. Dia langsung menggendongnya. Yoyo menyusupkan kepalanya ke leher nenek sehingga nenek bisa menepuk-nepuk punggungnya.
"Kenapa menangis? Sedih ya lihat Kak Reine sakit? Kak Reine pasti sembuh lagi kok. Sudah sudah ya." sambil mengusap punggung Yoyo.
Hati Reine berdenyut melihatnya. Dia juga ingin menghibur Yoyo agar berhenti menangis. Mungkin benar kata nenek, Yoyo sedih melihatnya seperti ini. Dia harus berjuang untuk sembuh.
"Reine, Dokter Je sudah datang untuk membawamu ke rumah sakit. Sudah ada ambulan di depan. Nanti nenek bawakan barangmu. Nenek bawa Yoyo ke ruang bermain dulu ya."
"Meow!"
Yoyo meronta saat mendengar bahwa Reine akan dibawa pergi. Dia langsung melompat dan bersiaga dengan memasang badan di depan tempat tidur. Seakan tidak mengizinkan Reine di bawa.
"Yoyo..."
Suara geraman ala kucing marah keluar dari Yoyo. Bulu ekornya megar dan tubuhnya berdiri setinggi mungkin. Dia mengeluarkan taringnya.
"Yoyo, jangan seperti itu pada nenek." tegur Reine. "Yoyo..."
Nenek menghela napas melihat sikap protektif Yoyo. Dia pasti tidak suka Reine dibawa orang. Apalagi setelah kejadian mengerikan beberapa hari lalu. Rasa takut Yoyo akan bertambah.
"Yoyo jadilah anak baik. Nenek akan bicara dengan Dokter Je. Kalau dia mengizinkan, Yoyo bisa ikut mengantar Kak Reine ke rumah sakit."
Yoyo masih tidak mau mundur. Tubuhnya masih dia buat tinggi.
"Yoyo sayang. Sini sini sama kakak, sini." ajaknya.
Yoyo menoleh sedikit ke arah Reine. Dia pelan-pelan bergerak mendekat tanpa melepaskan pandangan permusuhan pada nenek. Anak ini membuat Reine gemas tapi juga lelah. Nenek tersenyum tipis. Dia kemudian keluar untuk bertemu dokter Je.
Sesuai kesepakatan, Yoyo hanya bisa mengantar Reine sampai rumah sakit. Setelah itu dia pulang. Reine akan dirawat di sana selama beberapa hari untuk perawatan lebih baik.
Perjalanan menuju rumah sakit membutuhkan waktu hampir tiga jam. Gerdinlix ternyata memang desa yang cukup jauh dengan kota terdekat. Yoyo terus duduk disampingnya tanpa mau dilepaskan. Dokter Je tertawa kecil saat Yoyo menggeram marah padanya.
Reine langsung dibawa untuk rontgen dan pengecekan seluruh tubuh. Banyak sekali prosesnya hingga Reine sempat tertidur. Dia dipindahkan ke ruang inap setelah selesai. Sekilas dia melihat berbagai macam manusia kucing berpapasan dengannya di jalan. Mereka banyak juga di sini. Tidak berbeda jauh dengan manusia.
"Ada saraf kejepit di bahu anda Nona. Pembengkakkan dari otot di bagian ini. Tidak terlalu parah jadi tidak perlu operasi. Terapi akan bisa mengatasinya. Lalu tempurung lutut anda bergeser beberapa mili ke sini. Aku menyarankan operasi untuk membetulkannya."
Reine menelan ludah sulit.
"Operasi?"
Dokter Je menjelaskan secara rinci apa saja yang akan dia lakukan untuk operasi ini. Semakin dijelaskan, tangan Reine gemetar ngilu. Rasanya sangat tidak nyaman mendengar prosesnya.
"Berapa lama saya bisa berjalan setelahnya?"
"Jika operasi berhasil, kemungkinan enam sampai tujuh minggu Nona sudah bisa berjalan. Nona Dengan perhitungan tidak melakukan pekerjaan berat setelahnya dan berhati-hati merawat kaki nona."
"Aku mengerti." dia akan berada sangat lama di sini.
Reine tinggal di rumah sakit selama dua minggu. Salah satu orang yang sering mengunjunginya adalah Dokter Frans. Dia menggantikan nenek yang tidak bisa meninggalkan Catyzokan dalam waktu lama. Berhubung Dokter Frans berprofesi sebagai dokter hewan di dunia manusia, Reine memanfaatkan kesempatan itu untuk banyak bertanya. Terutama soal penyakit-penyakit yang dialami kucing.
"Di sini tetap sama kok. Panleukopenia, Calicy Virus, Feline Immunodeficiency, semua penyakit yang ada di dunia manusia, ada juga di sini. Tapi bedanya di sini teknologi penyembuhan penyakit lebih advance dari di dunia manusia. Di tambah ada penyembuhan dengan ramuan sihir. Jadi ya kemungkinan sembuhnya lebih besar."
Reine masih ingin bertanya banyak hal. Namun Dokter Frans sudah dipanggil tugas. Dia memberikan sebuah buku padanya. Buku itu untungnya bisa Reine baca. Isinya lebih seperti jurnal kedokteran untuk penyakit hewan. Reine membacanya dengan sungguh-sungguh. Siapa tahu segala ilmu dari buku ini akan dia butuhkan suatu saat nanti.
Pulang ke Catyzokan, Reine disambut hangat seperti hari pertama dia di sana. Anak-anak berebut ingin mencoba mendorong kursi rodanya. Mereka pasti baru pertama kali melihat benda seperti itu.
Yoyo mengintipnya dari jauh. Tidak pernah terlalu dekat tapi tidak mau melepaskan pandangan. Reine memintanya mendekat. Namun Yoyo selalu menggeleng dan tetap diam di tempatnya. Reine tidak mengerti apa yang sebenarnya kucing itu inginkan.
"Nek, aku melihat banyak sekali manusia kucing di kota. Ternyata pekerjaannya bermacam-macam ya."
Reine membuka pembicaraan saat mereka sudah tidak dikelilingi anak-anak. Nenek Leala tersenyum tipis mendengarnya.
"Iya. Jadi kan setelah selesai dari sekolah khusus, kira-kira umur dua puluh tahunan, mereka bisa pergi mencari pekerjaan atau memulai usaha. Pekerjaannya bisa bermacam-macam. Mulai dari menjadi dokter, guru, nelayan ikan, pengolah catnip, pekerja salon grooming, atau bahkan CEO perusahaan. Rata-rata kucing yang menjadi CEO adalah kucing ras yang pernah memiliki majikan manusia orang penting. Mereka seperti mengerti bagaimana bisnis bekerja."
"Wah keren."
"Di samping itu kerajaan kucing juga punya andil membantu kucing-kucing muda ini untuk mencari pekerjaan. Mereka diberi akses dan modal untuk ke sana."
"Kedengarannya hebat sekali kalau kerajaan sampai turun tangan untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Ngomong-ngomong nek, kerajaan kucing itu seperti apa?"