Malam Pertama
"Maaf kita harus tidur terpisah, kamu sendiri tau karena apa saya menikahimu, kan?"
Ucapan jahat itu keluar dari seorang pria yang baru saja melaksanakan akad pernikahan. Setelah itu ia mengambil guling dari samping wanita cantik yang duduk di atas ranjang yang masih menggunakan pakaian pengantin lengkap dengan riasan wajah beserta aksesorisnya. Kemudian pria tampan itu membaringkan tubuhnya di atas sofa yang masih berada di area kamar. Tidak peduli dengan wanita yang ada di dekatnya, Ia pun mencoba untuk menutup mata karena kelelahan.
Malam pertama setelah akad pernikahan adalah salah satu momen yang paling di dambakan bagi setiap insan, tetapi tidak bagi seorang pria berusia 28 tahun yang bernama Alyas. Malam pertamanya itu bagaikan kutukan, yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lupakan. Bagaimana tidak kesal dan kecewa, Alyas sudah menikahi seorang wanita yang bahkan dirinya sendiri tidak mengenalnya.
Hiks ...
Melihat Alyas yang sudah bisa tidur dengan pulas, membuat gadis cantik bernama Anisa Rahma itu bereaksi dengan menitikkan air mata kemudian mengusapnya. Gadis itu seolah merasa bersalah karena telah menikah dengan pria yang menjadi idaman para wanita di pondok pesantren tempat ia menimba ilmu agama.
'Aku pun sebenarnya tidak ingin seperti ini, Ustadz Alyas. Walaupun selama ini kamu adalah pria idamanku, tapi aku tidak pernah sekalipun mengharapkan kejadian buruk itu menimpamu.' Batin gadis cantik yang bernama Anisa.
Tidak mau berlarut-larut dengan kesedihan, hingga tidak tidur semalaman. Anisa berusaha untuk mengganti pakaian yang membuatnya kegerahan. Ia pun memulai dengan perlahan turun dari ranjang, tidak mau membuat tidur Alyas terganggu Anisa sampai berjalan dengan berjinjit sambil menahan napas. Entah itu berpengaruh tau tidak Anisa hanya refleks melakukannya. Setelah itu ia duduk di depan meja rias dan memulai membuka satu persatu aksesoris yang menempel dari mulai mahkota yang ada di kepala, kalung, gelang dan cincin.
Sesekali Anisa menoleh ke arah sofa, untuk memastikan keadaan Ustadz Alyas. Bibirnya tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. 'Pantas aja, dia jadi idaman para wanita di pesantren ini. Orangnya ganteng banget, mana pintar, rajin beribadah, calon pemimpin pondok ini pula. Apalagi dilihat dari jarak dekat seperti ini, waw banget gitu, loh.'
Anisa kembali fokus pada tujuannya agar bisa cepat tidur, yaitu membuka pakaian pengantin yang membuatnya tidak nyaman juga kegerahan. Keuda jari jemarinya mulai memainkan resleting dengan susah payah.
Namun, ia kesulitan untuk membuka resleting bagian belakang yang sulit sekali ia jangkau. 'Hidup lagi capek-capeknya, ditambah ini resleting ngajak gelud. Tolong jangan uji kesabaranku lagi ya Allah, aku capek seharian ini mengeluarkan air mata, tenaga juga mental.'
Menit kemudian, Anisa masih berkutat dalam keadaan yang sama. Tangan masih memegang resleting, di sertai keluarnya banyak sekali keringat di tubuhnya. Kesabaran Anisa yang hanya setipis tisu di bagi lima, membuatnya spontan berteriak.
"Ais ...," ucapnya emosi.
Seketika Alyas terhenyak kaget dan terbangun, kedua bola matanya mengedar lalu membulat sempurna melihat Anisa yang sedang kesulitan untuk membuka pakaiannya. Walau lampu kamar sudah dimatikan, ia masih tetap bisa melihat Anisa karena masih ada lampu tidur yang masih menyala. Niat ingin menjadi si raja tega, tapi melihat Anisa yang terus menggerutu dan berisik, akhirnya Alyas memberanikan diri untuk membantunya.
"Jadi orang itu jangan emosian bisa nggak, sih?" Alyas mulai mendekat ke arah punggung Anisa. Lalu ia mulai memegang resleting yang masih ada di atas punggung, setelah ia coba turunkan, memang macet.
"Sebelum emosi aku naik, aku sudah berusaha untuk bersabar menurunkan resleting itu. Kamu enak-enak tidur, aku mau tidur aja susah karena gerah. Lagi pula dari sekian banyak santri yang mondok di sini, kenapa aku yang dipilih jadi istri kamu? Saya ini santri baru di pesantren ini, saya belum bisa apa-apa, saya juga merasa tidak pantas bersanding dengan ustadz seperti kamu." Anisa nampak kesal.
"Kalau masalah itu kamu bisa menanyakan kepada ibu saya, beliau yang telah memilih kamu untuk menjadi istri saya. Kalau emang kamu merasa terpaksa menikah dengan saya, harusnya kamu tolak dong lamaran saya." Jawab Alyas sambil menurunkan resleting itu dengan sekuat tenaga.
'Ya iya aku memang merasa terpaksa menerima pernikahan ini, alasan kenapa aku nggak nolak, ya ... Ayah mana sih yang mampu menolak pesona calon menantu macam kamu? udah ganteng, pinter, rajin beribadah pula. Apalagi wanita yang baru hijrah macam aku ini, pasti akan kesulitan untuk mencari jodoh seperti kamu. Mungkin Ayahku merasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk menikahkan aku yang sudah berumur 25 tahun." Anisa membatin.
Sret ...
Resletingnya seketika terbuka, seketika itu juga punggung Anisa yang putih dan mulus itu terpampang nyata di depan mata Ustadz Alyas yang selama ini belum pernah menyentuh ataupun melihat tubuh wanita. Alyas selaku laki-laki normal kemudian meneguk saliva beberapa kali seolah terkesima dengan ciptaan Tuhan tersebut.
"Sudah selesai belum?" tanya Anisa.
'Astagfirullah, mata hamba telah ternodai malam ini,' gumam Alyas sambil menutup mata.
Tidak mau lagi berurusan dengan resleting, Alyas memilih kembali ke sofa walau kaki dan tangan nya bergetar hebat, seperti baru saja melihat hantu.
'Astagfirullah ..., kuatkan hambamu ini ya Allah.' Alyas mengelus d**a.
Matanya menatap langit-langit kamar, seketika ia mengingat kembali di mana ia batal menikah dengan wanita pujaan hatinya.
'Jika kamu tidak meninggalkan saya, mungkin malam ini kita sudah bersama. Kita akan bersama mengarungi bahtera rumah tangga, sebenarnya apa salah dan kurangnya saya? sehingga kamu meninggalkan saya di pelaminan.' Batin Alyas dengan mata yang berkaca-kaca. Pikirannya pun larut di mana pada saat ia di tinggalkan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hana, binti Idris dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar ..." Alyas menjeda ucapannya karena ia melihat wanita yang berada di sampingnya beranjak dari tempat duduk.
"Maaf, saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, sekali lagi aku minta maaf." Ucap Hana.
"Kamu jangan bercanda, Hana!" Seru Alyas keheranan.
Hana menggelengkan kepalanya di hadapan Ayas dengan deraian air mata, kemudian gadis itu pun berlari meninggalkan pelaminan di hadapan puluhan tamu yang datang. Sakit hati, malu bercampur menjadi satu kala itu, Alyas berusaha mengejar dan mencoba meraihnya, tapi Hana terus saja menolak dan menghempaskan.
'Jika patah hati oleh manusia sesakit ini, apa jadinya hamba jika dipatahkan hati oleh mu ya Rob? lembutkanlah hati ini untuk selalu memaafkan dan buatlah hati ini menjadi tenang dengan adanya gadis lain yang mau menggantikannya.'
To be continued