09 - Peduli Tapi Gengsi

1282 Words
Pemuda bernama Nino itu terpingkal-pingkal mendengar cerita sahabatnya. Sekitar satu jam yang lalu, ia kedatangan tamu tak diundang, yaitu Galen. Sebelumnya Galen tidak mengabarinya kalau dia akan datang. Belum lagi, Galen menyelonong begitu saja masuk ke apartemen Nino, dan memerintahkan Rahman untuk memesan makanan untuk mereka berdua. Dan kini, Galen sedang selonjoran di lantai sambil memainkan ponselnya dengan raut wajah yang ditekuk. “Pantes sampai keluar goa. Ngambek sama istri ceritanya?” Galen melotot garang. “Bukan ngambek juga. Gue nggak peduli juga dia mau gimana. Cuma emang nggak bisa gitu inisiatif siapin makanan? Gue sampai nolak ajakan client buat makan bareng biar bisa makan di rumah. Eh nggak tahunya di rumah nggak ada apa-apa.” “Lah kata lo tadi dia habis keluar dari rumah sakit?” “Memang pesen makan nggak bisa? Seenggaknya kalau nggak bisa, kan bisa kabarin biar gue yang beli tadi,” balas Galen. “Ngomong aja lo pengen makan bareng dia,” tebak Nino. Galen menatap sahabatnya itu tidak terima. “Lo sendiri kenapa nggak ada inisiatif pesen dan malah ke sini? Toh di sini juga gue nggak ada makanan dan kita pesen juga.” “Udah terlanjur males,” balas Galen sengak. Nino hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah cukup lama berteman dengan Galen. Sejak Galen masih mahasiswa baru di kampusnya lebih tepatnya. Mereka cukup dekat. Bisa dibilang, Nino adalah salah satu teman dekat Galen, meski hubungan mereka tidak bisa dikatakan benar-benar dekat, karena sikap dingin dan tertutup Galen -- bak makhluk soliter yang tidak butuh terlalu banyak berinteraksi sosial. “Terus istri lo gimana? Udah makan sekarang?” tanya Nino. Galen terdiam sejenak. Aktivitasnya yang sedang bermain game terhenti, sampai-sampai secara tidak sadar ia sudah kalah. “Lo nggak mikir, kalau ternyata dia nggak masak karena masih sakit, cuma nggak bilang ke lo? Gimana kalau emang dia belum sanggup masak? Terus, mau lo diemin aja gitu meski sampai sekarang dia belum makan?” berondong Nino. Galen masih terdiam. Ia tampak hanya membeku, kecuali kepalanya yang kini mendadak sibuk. “Yah… ngelihat hubungan kalian sih gue rasa itu cewek bakalan milih mati kelaperan sih daripada ngadu ke lo. Jadi tinggal gimana inisiatif lo-nya aja. Tapi kalau emang lo nggak peduli sih, ya terserah,” pancing Nino makin dalam. Galen memencet keluar laman game yang sedang ia mainkan. Kemudian ia mencari aplikasi berwarna hijau untuk memesan makanan secara online. Melihat hal itu, Nino tersenyum tipis. Setidaknya ia sudah berhasil sedikit menyadarkan Galen kalau istri yang ia tinggalkan di rumah itu masih manusia. “Gue tahu lo care sama dia. Cuma ketutup gengsi aja. Mau sampai kapan sih lo gini ke dia? Yang gue tahu, dia bukan orang jahat, Len. Takutnya lo bakalan nyesel suatu hari nanti,” ujar Nino. Galen menoleh dengan malas ke arah sahabatnya. Ia menyimpan ponselnya, seolah ia tak habis melakukan apa-apa. “Lo tahu dengan jelas alasan gue, Nin. Dan nggak akan mudah bagi gue buat baik ke dia setelah apa yang dia lakuin ke hidup gue,” balas Galen. “Tapi lo mikir nggak, kalau dia pasti juga menderita sama semua ini? Apa yang udah terjadi itu bukan kemauan dia. Andai dia tahu, gue yakin dia juga bakal menderita banget.” Galen tersenyum sinis. “Kenyataannya, dia bahkan nggak bisa ingat apapun, kan? Setelah apa yang terjadi, dia bahkan nggak bisa ingat kesalahan besar apa yang udah dia lakuin ke kehidupan gue.” “Len-” “Udahlah, Nin. Lo tahu itu semua nggak akan berhasil. Soal masalah ini, lo nggak perlu bujuk gue buat bisa maafin dia. Karena percuma, lo nggak akan bisa,” potong Galen, sebelum kemudian ia beralih ke toilet. “Kalau Kak Gladys tahu, gue jamin lo bakalan dimakan hidup-hidup sama dia,” teriak Nino agar Galen yang sedang berada di toilet dapat mendengarnya. “Untungnya orang tua gue masih cukup waras buat nggak melakukan sesuatu yang bisa mengadu domba anak-anaknya,” balas Galen enteng. Ya. Mungkin, satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Galen saat ini adalah kakak perempuannya -- Larissa Gladys Mahesa. Namun, kedua orang tua Galen memilih untuk tidak memberi tahu Gladys bagaimana kehidupan pernikahan Galen dengan Sienna. Selain khawatir hal itu akan menjadi beban pikiran untuk putri sulung mereka yang juga memiliki banyak ujian, mereka juga tidak ingin reaksi Gladys nantinya justru akan membuat hubungan persaudaraan itu menjadi rusak. *** “Benar dengan rumah Bapak Galen Mahesa?” Sienna mengernyitkan keningnya saat melihat driver ojek online berdiri di depannya menenteng sesuatu. “Iya, benar.” “Ini pesanannya, Bu.” Driver itu menyerahkan beberapa kantong plastik makanan pada Sienna. “Ini yang pesan siapa ya, Pak? Bener Pak Galen-nya langsung?” tanya Sienna untuk memastikan. “Soalnya dia aja lagi nggak ada di rumah.” Driver itu mengecek ponselnya. “Bener kok, Bu. Ini, atas nama Pak Galen Mahesa langsung.” Driver itu menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan riwayat pesanan Galen. “Oh, oke, makasih, Pak,” ungkap Sienna, akhirnya menerima pesanan itu. Setelah driver itu pergi, Sienna kembali ke dapur. Padahal, ia sedang memanaskan air untuk memasak mie instan. Ia terlalu malas untuk masak menu makan malam, mengingat dirinya hanya sendirian di rumah. Sienna mengambil gambar pesanan yang Galen pesan itu kemudian mengirimkannya pada suaminya. Tak lama, Galen membalas pesannya. Galen [Telat datengnnya. Aku udah makan sama Joana. Kalau kamu nggak mau, buang aja!] Meski balasan pesan Galen sedikit menjengkelkan, tetapi nyatanya Sienna tetap tersenyum saat membacanya. Sienna [Kalau kamu udah nggak mau, boleh aku makan aja? Sayang kalau dibuang. Kebetulan aku belum jadi makan malam juga kok.] Galen [Ok] Sienna melonjak senang. Ia langsung beralih ke kompor dan mematikannya, tak peduli dengan air di atasnya yang sudah mendidih. Kemudian, Sienna segera mengambil peralatan makan, dan mengeluarkan makanan yang telah Galen itu beli dengan penuh semangat. “Wahhh… cha seafood. Baunya harum banget lagi,” girang Sienna. Ia pun segera melahap makanan itu dengan khidmat. Meski menurut sepengetahuannya Galen tidak secara sengaja membeli makanan itu untuknya, Sienna tetap merasa senang, karena makanan itu berasal dari suaminya. Beberapa hari berikutnya, Sienna sedang membersihkan kamar Galen. Sebentar lagi Galen akan pulang, jadi Sienna ingin menyiapkan air dan handuk untuk suaminya itu mandi. Namun, ternyata beberapa bagian kamar suaminya itu tampak berantakan, sehingga Sienna tertahan lebih lama di sana. Sienna meraih beberapa berkas yang tampak berantakan untuk ia tumpuk lebih rapi. Kemudian, ia merapikan nakas yang juga terdapat beberapa lembar kertas acak. Ketika salah satu tangannya mengangkat berkas-berkas milik Galen, matanya menangkap sesuatu yang aneh di bawah bantal Galen. Seperti selembar kertas foto berwarna yang menarik perhatiannya. Sienna hendak meraih kertas itu dan melihatnya. Namun, seketika perhatiannya teralihkan ketika mendengar suara pintu terbuka. “Apa yang kamu lakukan?!” Galen melaju cepat ke arahnya dan mendorong tangan Sienna menjauh. Kaget, Sienna sampai menjatuhkan berkas-berkas yang ada di tangan yang satunya, membuat semua berkas itu berceceran di lantai. Sienna menatap panik berkas-berkas yang berserakan itu. “Maaf. Aku benar-benar nggak sengaja. Biar aku beresin lagi semuanya.” Sienna memunguti berkas itu satu per satu. Ia berusaha memasukkan kembali beberapa kertas yang tercecer. Namun, tangan Galen menempisnya. “Kamu keluar aja!” usir Galen. “Tapi ini masih berantakan. Biar aku-” “KELUAR!” sentak Galen tegas. Sienna terperanjat. Tangan dan kakinya sedikit bergetar kala ia mendapati mata memerah Galen menyorotnya tajam. Dengan gerakan pelan, Sienna bangkit berdiri. “S- sekali lagi maafin aku. Aku cuma niat bantu beresih, nggak tahu kalau jadinya bakal kayak gini,” ucapnya dengan terbata-bata. Lalu, kakinya yang bergetar membawa Sienna ke arah pintu. Ia keluar, dan menutup pintunya secara perlahan. Ia mengembuskan napas lega begitu pintu itu tertutup sempurna. Dan di waktu bersamaan, masing-masing dari kedua matanya meneteskan setetes air, seolah sebelumnya mereka sudah menunggu waktu untuk dapat keluar dari persembunyiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD