10 - Bekal Makan Siang

1426 Words
Suasana makan malam terasa hening. Sienna sejak tadi menyembunyikan rasa gugupnya. Ia masih merasa serba salah, karena telah membuat suasana hati Galen buruk sore tadi. Dan sejak berada di meja makan pun, mereka belum sempat mengobrol hingga akhirnya Galen menelan suapan terakhirnya. Galen meminum segelas air hingga tandas. Kemudian, tatapan dinginnya menyorot ke arah Sienna. “Mulai besok kamu nggak perlu lagi beresin kamarku atau pun siapin perlengkapan mandiku!” ujar Galen. Sienna menahan napas sejenak. “Terus siapa yang bakal bersihin?” Mengingat mereka hanya tinggal berdua, tampaknya hal itu cukup wajar untuk Sienna tanyakan. “Aku bisa panggil jasa bersih-bersih online satu atau dua kali seminggu. Pakaian kotor akan aku bawa keluar kamar. Soal lantai, aku akan beli robot vacum,” jawab Galen enteng. Harusnya Sienna senang, tugas bersih-bersihnya berkurang. Tugas untuk menyiapkan perlengkapan mandi dan baju ganti suaminya juga hilang. Ia bisa memiliki lebih banyak waktu untuk bersantai. Namun, kenapa Sienna justru merasa sedih? Gadis itu meremat sendok yang masih ada dalam gengGalennnya. Matanya memanas, tetapi ia masih bisa menahan diri untuk tidak menangis. “Buat kejadian tadi sore, aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali nggak bermaksud lancang ngacak-acak kamar Kakak. Aku cuma mau beresin aja karena aku lihat bagian situ cukup berantakan,” ungkap Sienna dengan tulus. Galen tampak menghela napas. Pria itu seperti tidak berminat untuk menanggapi ucapan Sienna. Dia berdiri begitu saja, kemudian berlalu pergi dari ruang makan. *** Yang Sienna tahu, Galen sering membawa wanita-wanita liarnya ke kantor. Biasanya mereka akan menemani Galen bekerja. Mungkin secara bergantian, atau bahkan memiliki jadwal khusus. Itulah yang Sienna simpulkan dari percakapan-percakapan Galen dengan beberapa wanita yang ia bawah ke rumah selama ini. Nama Joana, adalah yang paling familiar di antara para wanita Galen. Sering sekali Galen menyebut nama wanita itu di hadapan Sienna. Dan Sienna pun sudah pernah beberapa kali berhadapan dengan wanita tersebut. “Mbak Sienna?” Sekretaris Galen tampak terkejut mendapati Sienna yang sudah berada di hadapannya. Sienna memasang senyum ramah malu-malu khasnya. “Kak Galen ada di dalam kan, Alena?” Alena tampak kebingungan menjawab. Namun, kemudian perempuan itu tersenyum. “Ada kok, Mbak. Silakan masuk.” Alena tampak senang membawa bekal di tangan Sienna. Ia mengerti, Sienna datang untuk mengantarkan makan siang pada suaminya. Sienna mengetuk pintu sebagai formalitas. Begitu suara Galen terdengar menyahut di dalam sana, Sienna pun segera membuka pintu. Ia sudah meneguhkan hatinya, tak akan merasa cemburu saat melihat interaksi intim Galen dengan wanita lain di sana. Yang penting, tujuannya ke sini adalah untuk mengantarkan makan siang suaminya, sebagai permintaan maaf atas apa yang terjadi kemarin. Namun, Sienna justru dibuat melongo ketika mendapati ruangan itu tampak kosong. Hanya ada sesosok pria dengan lengan kemeja terlipat dan sebelah tangan menopang kepalanya di ujung ruangan. Lelaki itu tampak lelah dengan pekerjaannya. Sienna berjalan mendakat dengan langkah pelan, agar tak mengganggu Galen. Lalu, secara hati-hati ia meletakkan lunch bag-nya di atas meja kerja suaminya itu. Ketika Galen mendongak dan menyadari kehadirannya, barulah Sienna melebarkan senyumnya. “Kakak pasti belum makan, kan? Aku bawain bekal makan siang buat Kakak,” ujar Sienna. Ia ragu Galen akan menerima pemberiannya. Namun, ia memaksakan dirinya untuk yakin, karena memang hanya inilah yang bisa ia lakukan. Galen mengernyitkan keningnya, seolah merasa janggal dengan kedatangan Sienna. Sementara Sienna justru semakin bahagia, karena kekhawatirannya akan bertemu dengan wanita-wanita Galen di sini akhirnya musnah. “O- oh… ini. Aku bawain bekal makan siang buat Kakak,” ucap Sienna memulai pembicaraaa. Ia langsung mengutarakan niat kedatangannya. Galen menatap ragu bekal yang Sienna bawa. Namun, hal itu tak membuat Sienna gentar. Ia justru dengan senang hati membukakan bekal makan siang itu. “aku bikin sop buntut. Nggak tahu kenapa, di ingatanku Kakak suka makan sop buntut sama kerupuk. Ini! Aku juga goreng kerupuk cukup banyak.” Galen mengepalkan tangannya tanpa sadar. Ia hampir saja tersentuh dengan perbuatan Sienna. Ia hampir saja menerima pemberian Sienna itu, meski ia akui masih ada rasa kesal ketika melihat atensi gadis itu secara mendadak seperti ini. Hanya saja… “Bawa pulang aja!” Sienna tentu keberatan. Ia sudah susah payah membuat makanan ini untuk Galen. Namun, setibanya di sini, Galen justru memintanya untuk membawa pulang masakannya “Taapi kenapa? Bukankah ini-” “AKU TIDAK SUKA SOP BUNTUT, DAN TIDAK AKAN PERNAH MENYUKAINYA. Jadi, sebiaknya kamu bawa pulang saja masakan kamu itu!” tegas Galen tak ingin dibantah. Sienna tampak terkejut. Ia masih tidak yakin dengan penolakan Galen. Jauh di bawah alam sadarnya, ia seperti memiliki memori di mana Galen sangat menyukai sop buntut. Namun, kenapa sekarang justru seperti ini? “Masih nggak mau kamu bawa pulang? Kalau kamu juga nggak mau, lebih baik buang saja!” ketus Galen yang membuat Sienna tercekat. Sienna segera memasukkan lagi kotak makan siang itu ke tas khusus. Tangannya sedikit bergetar. Namun, ia tidak ingin memperbesar masalah dengan mendebat suaminya itu. “Maaf kalau kamu nggak suka. Mungkin memang aku yang salah ingat atau…” Sienna sampai tidak tahu apa yang ingin ia katakan. “Aku janji nggak akan bawain Kakak sop buntut lagi.” “Niat aku datang ke sini cuma mau minta maaf atas apa yang terjadi kemarin. Aku rasa, Kakak masih marah, jadi aku nekat ke sini dan nganterin makanan buat Kakak,” ujar Sienna. Galen tampak tidak peduli. “Lupain!” “Apa?” “Ya lupain aja yang terjadi kemarin kalau itu ganggu pikiran kamu!” ulang Galen. Sienna mengangguk patuh. Ia masih ingin tinggal. Namun, kenapa Galen justru sebaliknya? “Kamu masih mau apa lagi di sini?” Tepat seperti yang Sienna duga, Galen pasti akan mengusir Sienna dengan halus. Pria itu tidak menyukai kehadiran Sienna di sini. Namun, ketika Sienna akan beranjak pergi, pintu ruang kerja Galen terbuka. Tampak seorang pria muncul di sana, dan langsung tersenyum saat melihat bukan hanya sahabatnya yang ada di ruangan tersebut. “Wih… kedatangan Nyonya Mahesa, nih,” godanya. Galen hanya memijat pangkal hidungnya, seolah kedatangan sahabatnya itu berada di waktu yang kurang tepat. “Bawain bekal buat Galen? Oh… padahal niatnya tadi gue mau ajak dia makan,” lanjut pria tersebut, yang tak lain adalah Nino. “Eng- enggak kok. Ini bekalnya juga mau saya bawa pulang. Jadi, silakan kalau-” “Bawa pulang? Bukannya itu buat Galen?” Nino mengernyitkan keningnya, merasa janggal. “Saya salah ingat masakan yang Kak Galen suka. Jadi… Kalau begitu, saya permisi,” Sienna merasa jika Nino tak harus tahu apa yang baru saja terjadi padanya dan Galen. Lagi pula, itu tidak terlalu penting juga. Justru, mungkin Galen akan tidak menyukainya. “Lah, memang lo masak apa sampai Galen kayak antipati gitu sama masakan lo?” Nino seperti menahan Sienna karena rasa penasarannya. “Udahlah, lo nggak perlu tahu juga. Mau lunch, kan? Ayo!” Galen berdiri, merapikan lengan yang ia lipat agar tampak lebih nyaman dipandang. Nino beralih menatap Sienna. “Ayo! Lo sekalian ikut aja!” “Eh?” Sienna menunjuk dirinya sendiri, memastikan jika Nino benar-benar mengajaknya. “Ngapain sih ngajak dia segala?” kesal Galen. “Ya kenapa?” balas Nino sengak pada Galen. “Udah, ayo ikut aja! Gue yang traktir nanti kalau Galen nggak mau bayar,” imbuh Nino pada Sienna. Sienna tampak bingung. Ia tidak bisa membuat keputusan. Ia sangat jarang makan-makan di luar. Apalagi, bersama dengan Galen juga seperti ini. Tentu, dalam hatinya yang terdalam, ia ingin menerima tawaran tersebut. Namun, melihat reaksi Galen yang secara tegas menunjukkan ketidak sukaannya, Sienna pun menjadi ragu. “Lagian lo udah sampai sini juga. By the way, gue Nino, sohibnya Galen dari lama. Dan kita juga udah beberapa kali bertemu kok waktu kalian belum nikah dulu,” bujuk Nino. Sienna masih tampak ragu. Ia menatap Galen, seolah meminta pendapat lelaki itu. Namun, Galen hanya mendecak, sebelum akhirnya berlalu begitu saja. Sienna seperti ingin menahan Galen karena merasa belum mendapat jawaban dari pria itu. Namun, suara Nino sudah lebih dulu mengintrupsi. “Dia nggak menolak, artinya dia ngizinin lo buat ikut. Udah, ayo!” Sienna akhirnya tak punya alasan untuk menolak. Ia mengangguk kecil, sebelum akhirnya mengekori dua pria berbadan tegap di depannya. Merasa Sienna tertinggal di belakang, Nino memperlambat langkahnya. Ia mengajak Sienna mengobrol ringan, karena menyadari kegugupan gadis itu. “Lo memang bawa apa sampai Galen nggak mau makan gitu? Sini! Kalau Galen nggak mau, biar buat gue aja! Nggak gratis kok. Biar nanti gue ganti bayarin makanan lo,” ucap Nino. Sienna memberikan lunch bag-nya pada Nino. Lagi pula, ia tidak tahu lagi harus melakukan apa pada makanan itu. “Nggak diganti juga nggak papa kok, Kak. Lagian memang makanannya nggak kemakan juga, sayang mau dibuang,” balas Sienna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD