Tak Sienna sangka, ternyata Nino mengajak makan siang di sebuah restoran indoor yang cukup mewah. Sienna hanya bisa menatap sekeliling dengan kagum. Di memorinya tak tersimpan jika ia pernah datang ke tempat semewah ini. Dan setelah ia menikah dengan Galen pun, lelaki itu juga tak pernah membawanya ke tempat semacam ini.
Sienna bingung saat Galen dan Nino duduk saling berhadapan. Di mana meja yang mereka tempati hanya memiliki dua sisi untuk duduk. Sienna diharuskan membuat keputusan, duduk di samping Galen, atau di samping Nino.
“Kenapa nggak langsung duduk?” tegur Nino bingung.
“Hm? Eh?” Sienna juga tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa serba salah.
Jika ia duduk di samping Galen, apakah pria itu tidak akan kesal? Ia pasti akan merasa sangat malu kalau Galen tiba-tiba mengusirnya di hadapan Nino.
Sedangkan jika ingin duduk di samping Nino, Sienna juga merasa hal itu sedikit tidak wajar, mengingat ada suaminya di sisi yang lain.
“Ada apa? Kamu nggak suka sama tempatnya? Apa kita mau pindah aja, Len?” Nino menatap pasangan suami istri itu satu per satu.
“Eh, nggak usah, Kak.” Sienna akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Galen. Dan ia pun sadar ketika Galen menghela napas panjang begitu Sienna duduk di sampingnya. Mungkin, pria itu merasa tidak nyaman. Namun, Sienna berpura-pura tak menyadarinya dan tetap duduk di sana dengan tenang.
Tak lama, seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Nino juga meminta izin untuk memakan bekal yang ia bawa pada pelayan tersebut, yang kemudian diizinkan selama Nino juga memesan menu yang lain. Setelah pelayan itu pergi, keheningan pun sempat mewarnai meja mereka, sebelum akhirnya Nino lebih dulu buka suara.
“Ini beneran boleh aku makan kan, Sienna?” Nino menunjuk kotak bekal yang sudah ia keluarkan dari tasnya itu.
Sienna mengangguk sambil tersenyum. “Sekali lagi makasih ya, Kak. Seenggaknya makanannya nggak jadi kebuang.”
Galen menatap tidak suka Nino beserta kotak makan yang ada di hadapannya. “Lo malu-maluin banget, makan di tempat kayak gini tapi bawa bekal kayak gitu.”
Sienna refleks menoleh, mengingat makanan yang Galen maksud adalah hasil masakannya. “Memang kenapa, Kak? Toh tadi Mbaknya juga udah kasih izin, kan?”
“Ya lihat aja menu di sini! Apa makanan kamu itu sebanding sama menu di sini? Udah bener dibuang aja tadi,” balas Galen, kembali menggores hati Sienna.
“Lah? Sop buntut?” kaget Nino. Ternyata, dia tidak menyahuti ucapan pasangan suami-istri di depannya itu karena sedang membuka kotak bekalnya. “Ini serius nggak mau lo makan aja, Len?” tanya Nino ragu.
Sienna menoleh ke arah Nino. “Kak Nino nggak tahu? Kak Galen nggak suka sop buntut. Jadi-”
“Lah? Sejak kapan?” potong Nino cepat. Dia tampak seperti ragu untuk melanjutkan menikmati hidangan di depannya. Sedangkan Sienna, menatap Nino dengan alis mengernyit seperti menunggu penjelasan.
“Kalau lo nggak mau, buang aja!” tegas Galen.
“Bukan nggak mau, ogeb. Tapi ini sop buntut. Serius lo nggak mau?” ulang Nino.
“Kak Galen nggak suka, Kak. Jadi, benar kata Kak Galen, kalau Kak Nino nggak suka, balikin aja kotak bekalnya ke aku biar aku buang atau aku aja yang makan,” sela Sienna, tak ingin Galen kembali melontarkan kalimat tak pantas untuk hasil masakannya.
“Eh, gue mau kok. Mau banget,” sahut Nino. Nino menatap Galen dengan bingung. Namun, melihat raut wajah tak peduli dari sahabatnya itu, Nino pun memilih untuk tidak ambil pusing dan segera menyantap menu lezat di hadapannya.
“Hmmm…. gue jamin sih lo nyesel nggak makan bekal ini, Len. Untung di gue sih, jadi nggak papa lah,” ujar Nino dengan nada menyombongkan diri.
Sienna tersenyum tipis mendengar ucapan Nino yang secara tidak langsung menegaskan bahwa makanan yang ia buat layak untuk dimakan. “Kak Nino suka?”
“Banget. Kalau lo mau, lo bisa kerja di resto punya keluarga gue. Nanti lo khusus nanganin sop buntut, gimana? Ntar gue jadiin menu utama di sana. Kebetulan emang resto masakan nusantara gitu,” tawar Nino.
Sienna menatap Nino dengan mata berbinar. Sebenarnya, ia merasa tidak memiliki kemampuan khusus dalam hal memasak. Masakannya selama ini pun sekadar hanya bisa dimakan, bukan sesuatu yang memiliki nilai tinggi. Namun, ucapan Nino membuat Sienna merasa jika ada salah satu kemampuan dalam dirinya yang patut diapresiasi.
“Memang boleh, Kak?”
Nino mendongak menatap Sienna. Ia lebih dulu menelan makanannya, sebelum menjawab, “ya kalau lo memang mau, boleh-boleh aja. Lojadi chef khusus yang pegang bagian sop buntut, gimana?”
“Wah… aku mau!” seru Sienna penuh semangat. Mungkin, jika dirinya memiliki lebih banyak aktivitas di luar rumah, ia bisa lebih relaks dan tidak selalu stres menghadapi Galen dan para gundiknya itu.
“Nggak boleh,” sambar Galen, membuat senyum Sienna luntur seketika.
“T- tapi kenapa? Aku janji, kerjaan aku nantinya nggak akan ganggu kewajiban aku di rumah kok, Kak. Aku cuma pengen punya kesibukan lain, nggak di rumah terus,” ucap Sienna dengan nada memohon.
“Lagian dia kerja sama gue, Len, bukan orang lain. Nggak ada yang perlu lo khawatirin lah. Seenggaknya gue tahu gimana kondisi kalian, termasuk gimana Sienna. Gue bisa pastiin dia bakalan aman,” sambung Nino.
Galen menatap Nino dengan sengit. “Gue suaminya. Gue yang menentukan dia bakalan kerja atau enggak. Dan gue memutuskan buat dia nggak akan kerja di mana pun, cukup di rumah aja.”
Sienna tentu keberatan mendengar keputusan suaminya tersebut. “Tapi, Kak, aku juga pengen punya kegiatan. Selama ini aku nggak pernah kemana-mana. Sekarang, aku mau kerja pun nggak boleh.”
“Kerja buat apa? Nafkah dariku kurang? Nggak usah malu-maluin! Di rumah aja dan kerjakan tugas kamu sebagai istri. Cari duit itu bukan tugas kamu.”
“Kak-”
“Kamu tahu kan, aku sangat nggak suka sama orang yang ngeyel?” potong Galen sambil menatap Sienna dengan tegas.
Sienna tak mampu berkutik lagi. Ia hanya bisa menghela napas pasrah, menerima keputusan yang telah Galen buat untuknya.
Melihat itu, Nino jadi merasa tidak enak hati. Ia tahu, suasana Sienna kini menjadi kacau. Namun, ia juga tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak bisa terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga Galen dan Sienna.
Untung saja, tak lama setelah itu pesanan mereka datang, sehingga mereka memiliki alasan untuk mengalihkan perhatian pada hal lain.
Selepas makan siang, Nino mengusulkan agar mereka mengantar Sienna pulang terlebih dahulu. Barulah kemudian mereka kembali ke kantor Galen, dan Nino mengambil mobilnya yang ada di sana.
Usai mengantar Sienna, tepatnya saat Nino baru saja turun dari mobil, Nino nyaris tersungkur saat merasakan dorongan dari arah belakang. Galen berjalan melewatinya, sambil sedikit membenturkan tubuhnya dengan bahu Nino yang saat itu dalam keadaan tidak siaga.
“Lo?!” Nino kesal, tapi tidak tahu harus mengatakan apa. Ia pun menyusul Galen masuk ke gedung kantor. Namun, ketika akan melewati pintu yang baru saja dilalui Galen, pintu itu sudah lebih dulu tertutup tepat di depan mukanya.
“Sialan!” umpat Nino.
Tak sampai di situ saja. Pasca melewati pintu kaca dan tiba di depan lift, Galen juga langsung menutup pintu liftnya, membuat Nino tak sempat menyusul dan akhirnya tertinggal.
“Itu manusia satu habis kesurupan Nyi Blorong atau kenapa sih?!” umpat Nino emosi. Ia pun terpaksa harus menunggu lift berikutnya.
Meski sedang kesal dengan Galen, tetapi, mau tidak mau Nino harus ke ruangan sahabatnya itu, karena kunci mobilnya masih tertinggal di ruangan Galen. Ia masuk tanpa permisi, menatap Galen dengan sengak, sedangkan pria itu tampak acuh.
Melihat sikap Galen, Nino merasa, jika ada yang salah dengan sahabatnya itu. Namun, bukankah tadi semua masih baik-baik aja?
“Lo ngambek sama gue? Masalah apa kali ini?” tanya Nino.
Galen melirik sinis ke arah Nino, tetapi enggan menjawab.
Ide jail muncul di kepala Nino, membuat kekesalannya perlahan menguap. Memang, mendapati Galen dalam keadaan kesal seperti ini bisa menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi Nino.
“Soal Sienna?”
“Buk-”
“Alah… nggak usah ngelak! Orang tadi lo nggak papa. Lo kayak gini setelah kita lunch tadi, kan? Kenapa? Cemburu lo karena Sienna lebih akrab sama gue?” ledek Nino. Sungguh, pria itu senang sekali melihat raut wajah sahabatnya saat ini.
“Makanya, punya istri tuh disayang-sayang, dimanja-manja, biar dia nyaman ngobrol sama lo. Lo aja kalau ngobrol sama dia tatapannya udah kayak guru natap muridnya yang habis dapat nilai matematika tiga puluh gitu,” lanjut Nino.
Galen menghela napas panjang.
“Iya, kan? Cemburu kan lo? Lo sih, gengsi-gengsi segala ke istri sendiri. Kalau peduli mah peduli aja! Dari pada iri ke cowok lain yang bisa lebih bebas perhatiin istri lo daripada lo yang suaminya sendiri?” pancing Nino lagi.
Raut wajahnya memang tengil. Ia memang sengaja menyulut emosi sahabatnya itu. Lagian Galen tidak akan benar-benar marah padanya. Meski marah pun, esok pasti mereka akan langsung berbaikan lagi.
“Sialan!” Galen melempar kunci mobilnya ke arah Nino, membuat tawa Nino pecah sambil berlari kencang keluar dari ruang kerja Galen.
Ia sudah puas. Sudah sangat puas karena ia yakin setelah ini Galen akan uring-uringan sendiri hingga matahari terbenam nanti.