Sienna hanya bisa menghela napas panjang ketika mendapati suaminya pulang bersama wanita lain. Ia memang sudah terbiasa, tetapi, tentu saja hatinya tetap merasa sakit, meski ia tak akan berani untuk mengungkapkan rasa sakit itu.
Galen masuk ke kamarnya tanpa menyapa Sienna, meninggalkan Sienna bersama wanita yang baru pertama kali Galen ajak pulang ini.
“Biar aku tebak. Kamu pasti istrinya Galen? Kenalin, aku Nada, calon istri kedua Galen,” ucap wanita dengan dress super pendek itu pada Sienna.
Sienna menatap wanita itu dengan risih. Lalu, ia memilih mengabaikannya. Sienna ke dapur, melanjutkan kegiatan memasaknya. Tanpa ia duga, ternyata Nada mengikutinya. Ia mengekori Sienna, seperti memang sengaja ingin membuat Sienna risih.
“Bisa minggir, nggak? Panci ini panas loh. Aku yakin kalau kamu sampai kena ujung panci ini pasti bakalan ribut dan nyalah-nyalahin aku,” kesal Sienna.
Nada tertawa kencang mendengar ucapan Sienna. “Itu sih kalau kamu berani cari gara-gara ya sama aku. Tapi aku yakin nggak akan berani sih. Karena Galen pasti bakal ngamuk kalau kamu berani cari masalah.”
Sienna tersenyum miring, menghadap ke arah wanita centil itu penuh. “Oh ya? Aku jadi penasaran akan seperti apa reaksi Kak Galen kalau sampai ujung panci ini kena kamu.”
Nada menatap Sienna dengan tatapan ragu, mulai khawatir jika Sienna akan benar-benar berani menyakitinya.
“Kalau ujung panci aja, mungkin nggak akan ngamuk. Mau coba kalau aku tumpahin kuah mendidih ini aja ke kaki kamu, nggak? Aku penasaran banget sama reaksi Kak Galen soalnya,” Sienna menantang.
Nada menatap Sienna dengan tatapan tak percaya. Ia ingin mengumpat, tetapi semua kata-kata u*****n itu seperti tertahan di ujung lidahnya.
“Kenapa? Beneran mau coba, nih? Coba aja, ya! Aku pengen lihat Kak Galen bakalan semarah apa kalau-”
“Kamu-” Nada benar-benar kehabisan kata-kata. Ia menghentakkan kakinya kesal menatap ke arah Sienna yang tampak tak gentar menghadapinya.
Apa ia salah mengira? Ia pikir, dengan Galen yang terbiasa berganti-ganti wanita itu menandakan istrinya di rumah adalah wanita lemah yang mudah ditindas. Ia memang belum terlalu lama mengenal Galen, dan ini pun merupakan kali pertama ia bertemu dengan Sienna. Namun, sepertinya Sienna berbeda jauh dari apa yang ia bayangkan.
“Aku bakal laporin kamu ke Galen!” seru Nada, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya cepat keluar dari area dapur.
Sienna menghela napas panjang. Mungkin, Galen benar-benar akan memarahinya karena insiden tadi. Apalagi, Galen akan mendengar ceritanya dari pihak yang berlawanan dengan Sienna. Namun, di sisi lain ia juga merasa lega karena setidaknya ia berhasil mengusir Nada dari dapur yang merupakan wilayah kekuasaannya.
Sienna mematikan kompor setelah masakan yang ia buat matang. Ia memindahkan sayur asam berkuah banyak itu ke wadah khusus, lalu membawanya ke ruang makan. Kemudian, ia kembali ke dapur untuk mengambil ikan goreng serta kerupuk, dan membawanya ke ruang makan juga.
Saat Sienna menata meja makan, ia mendengar langkah orang menuruni tangga, cukup kencang dibanding biasanya. Saat ia menoleh, ia mendapati Nada menuruni tangga dengan wajah tertekuk, kaki menghentak kasar ke lantai, dan langsung menatap Sienna sengit ketika menyadari keberadaan Sienna di ruang makan.
Sienna mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang terjaid dengan wanita itu. Namun, ia memilih untuk tidak buka suara, hanya menyaksikan wanita genit itu sampai berlalu menuju ruang tamu, kemudian pergi.
“Dia kenapa? Bukannya tadi bilang mau ngadu?” gumam Sienna. “Atau jangan-jangan terjadi sesuatu sama Kak Galen?”
“Aku nggak papa.”
Sienna tersentak mendengar suara itu. Sontak ia pun menatap ke atas tangga, tepat di mana Galen juga sedang menatapnya sambil berjalan santai menuju ruang makan.
“K- Kak?” kaget Sienna.
Galen diam tanpa kata. Ia duduk di salah satu kursi lalu membalik piring di hadapannya. Sementara Sienna masih membeku di tempatnya ketika melihat Galen yang tampak santai-santai saja setelah wanitanya pergi dengan suasana hati tak baik seperti tadi.
“Kenapa? Kamu kenal sama dia? Mau ngejar?” tanya Galen.
“Eh? Enggak. Tapi… itu teman Kakak nggak diajak makan malam sekalian?” Sienna tidak mengerti dengan apa yang ia katakan. Ia seperti kebingungan menyusun kata sehingga justru itulah yang keluar.
Galen yang sedang mengambil satu centong nasi pun sontak meletakkannya kembali. Ia menatap Sienna dengan sengit. “Oh… jadi kamu suka kalau aku bawa wanita lain main dan makan malam di sini?”
Sienna membulatkan matanya, lalu menggeleng tegas. “B- bukan gitu maksudnya. Tapi dia tadi kayaknya marah. Serius Kakak nggak mau kejar dia dulu?”
Galen mendengus sebal. Menyadari ada yang salah dengan ucapannya, Sienna pun segera meminta maaf. “Maksud aku bukan begitu. Aku nggak bermaksud ikut campur. Aku cuma-”
“Lebih baik kamu diam daripada mengatakan sesuatu yang bikin selera makanku hilang!”
Sienna langsung menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak bicara lagi. “Maaf,” cicitnya lirih, sebelum akhirnya juga fokus mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Makan malam pun diwarnai dengan kecanggungan. Sienna lebih banyak menunduk, berpura-pura tidak menyadari keberadaan seseorang di hadapannya. Namun, bukankah keadaan ini memang sudah biasa terjadi?
Meski demikian, entah mengapa Galen merasa jiwanya terusik. Ia merasa tidak nyaman. Lidahnya terasa gatal seperti ingin mengatakan sesuatu yang entah apa. Hal itu membuat ia tampak gelisah. Ia ingin Sienna menyadari gerak-gerik tidak nyamannya, lalu menegurnya, bertanya ada apa dengan dirinya. Namun, tentu saja Sienna yang sedari menunduk tidak menyadari hal tersebut.
Galen berdehem, membuat Sienna akhirnya mendongak menatapnya secara refleks. Namun, gadis itu masih tak melakukan apapun, hanya menatap Galen dengan bingung. Mendapati reaksi Sienna itu, Galen pun sudah tidak tahan lagi.
“Kamu masih kesal gara-gara nggak aku izinin kerja bareng Nino?” tuding Galen tanpa dasar.
Sienna mengernyitkan keningnya bingung. Ia merasa, dirinya tak habis melakukan apapun yang bisa membuat Galen berpikir jika dirinya marah. Lagi pula, bukankah Galen sendiri yang menyuruh Sienna untuk diam?
“Maksud Kakak?”
Galen menghela napas panjang. “Udah lah, bilang aja kamu mau sok-sokan ngambek karena pengen kerja di tempat Nino, tapi aku nggak kasih izin, kan?”
“Aku nggak-”
“Tahu aku tersedak pun kamu nggak ada inisiatif nuangin minum atau apa,” potong Galen makin mengada-ngada.
Sienna refleks berdiri dan menuangkan air di gelas kosong yang ada di dekatnya, kemudian menyodorkannya pada Galen. “Maaf. Aku nggak sadar kalau tekonya ada di dekat aku.”
“Telat!” Meski demikian, Galen tetap menerima air dari Sienna dan meneguknya setengah.
“Aku nggak marah sama Kakak kok. Apalagi soal kerjaan yang Kak Nino tawarkan. Meski kalau boleh jujur, aku masih berharap kalau Kakak bakalan berubah pikiran sih,” jelas Sienna, dan volume yang dikecilkan di kalimat terakhir.
Galen menahan napas selama beberapa detik. Ia mulai menyadari jika sejak tadi ia mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Ia seperti menyalahkan Sienna atas sesuatu padahal gadis itu tak melakukan apapun padanya. Bahkan, gadis itu begitu patuh ketika ia menyuruhnya diam.
Galen tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia hanya… kesal. Kesal dengan Sienna yang menanyakan Nada yang pergi begitu saja, dan kesal dengan Sienna yang terlalu patuh saat ia menyuruh gadis itu diam. Namun, semua itu menjadi sangat rumit, layaknya benang kusut yang menggumpal di kepala Galen. Sehingga tanpa sengaja ia malah menyalahkan Sienna atas sesuatu yang bukan kesalahan gadis itu.
“M…” Galen hampir saja melafalkan satu kata ajaib, maaf. Namun, lidahnya terasa kelu. Gengsinya yang masih setinggi bintang-bintang di angkasa itu berhasil mengalahkan nuraninya.
“Ya?” Sienna yang menyadari jika suaminya seperti akan mengatakan sesuatu pun lantas bertanya, sebelum ia kembali terkena omelan Galen.
Galen berdehem tidak nyaman. Namun, ia menolak saat Sienna akan meminta gelasnya untuk ia isi air kembali.
“Soal masalah kamu pengen kerja, aku akan coba pertimbangkan lagi,” tutur Galen tiba-tiba.
Sienna melebarkan pupil matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Y- ya?”
Saat Galen menatapnya dengan kesal, Sienna pun melanjutkan ucapannya. “M- maaf. Tapi kayaknya tadi aku salah paham. Kakak bakal pertimbangin lagi soal ap-”
“Aku bakal pertimbangin lagi keinginan kamu buat kerja. Tentunya dengan berbagai aturan yang juga harus kamu patuhi saat berada di luar rumah,” ulang Galen.
Sienna menatap Galen dengan tatapan berbinar. Tatapan cerah yang sudah begitu lama tak Galen lihat. Ia baru sadar, sebelum kecelakaan maut beberapa bulan lalu, Sienna sering kali tertangkap basah menatapnya demikian. Dan ia juga baru sadar, jika tatapan berbinar gadis itu begitu indah, hingga ia merasa sayang untuk mengedipkan matanya kini.
“Kakak serius bakal pertimbangin lagi? Itu artinya, ada kemungkinan Kakak bakal kasih izin aku buat kerja, kan?” tanya Sienna dengan antusias.
“Ternyata dia memang pengen banget bekerja dan punya kesibukan di luar rumah, ya?” pikir Galen.
“Seperti yang aku bilang sebelumnya. Tetap akan ada beberapa aturan yang harus kamu patuhi. Dan kalau kamu ketahuan melanggar sekali saja, kamu tahu, kan apa akibatnya?”
Sienna mengangguk cepat. “Kakak mau pertimbangin lagi aja aku udah seneng. Setidaknya, aku tahu kalau Kakak juga masih memiliki rasa kemanusiaan ke aku,” ucap Sienna dengan sangat dramatis.
Galen membulatkan matanya. Ia kembali tersedak. Dan kali ini benar-benar tersedak. Ia pun meneguk sisa air minumnya hingga tandas lalu menatap Sienna dengan tatapan yang rumit, sebelum akhirnya ia bangkit dan menyelesaikan makan malamnya.
“Jadi, selama ini dia pikir aku tidak punya rasa kemanusiaan?” pikir Galen dongkol.
“Kak Galen!” Mendengar panggilan istrinya, Galen menghentikan langkahnya sejenak.
“Sekali lagi, terima kasih.”
Entah apa yang terjadi pada dirinya, sehingga tiba-tiba ia tersenyum mendengar ucapan terima kasih dengan nada yang begitu riang itu. Untung saja, saat itu ia belum sempat berbalik menatap Sienna, sehingga gadis itu tak menyadari jika dirinya tengah tersenyum.