05 - Tak Sepenuhnya Benci

916 Words
Sienna meringis merasakan perih di jari telunjuknya yang terluka. Ia sedang mengganti spreinya. Namun, akan memasang sprei yang baru, tanpa sengaja ujung lukanya justru menyentuh kain sehingga kembali terasa perih. “Duduk!” Sienna terlonjak kaget. Bukannya melakukan perintah pemilik suara itu, Sienna malah menoleh dan menatap pria itu dengan bingung. “Kakak ngapain ke sini?” “Aku bilang duduk!” tegas Galen. Namun, Sienna masih tak kunjung melakukan apa yang dia perintahkan. Pria itu melangkah mendekat, lalu mendorong bahu Sienna agar gadis itu duduk di tepi kasurnya yang masih berantakan. “Kamarku sedang berantakan. Kalau Kakak mau ngomong sesuatu, kita bisa bicara di- apa yang Kakak lakukan?” Sienna merasa kebingungan saat tiba-tiba Galen menarik tangan kirinya. Lelaki itu memeriksa luka di tangan Gladys, kemudian memasangkan sebuah plester di sana. “Itu lukanya luka terbuka. Sangat mudah kemasukan kuman dan bikin infeksi. Kamu tahu, kan, aku tidak punya banyak waktu buat ngurusin kamu kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi ke kamu?” Sienna mengejap. Hampir saja ia terbawa suasana dengan perlakuan manis Galen. Untungnya, pria itu segera menyadarkannya tentang alasan sebenarnya di balik perlakuan yang terkesan seperti peduli itu. Sienna menarik tangannya menjauh. “M- makasih,” ungkap Sienna sambil memalingkan wajahnya. Galen pun segera berdiri. Ia menatap Sienna, memberi kode pada gadis itu untuk menyusulnya berdiri. Setelah itu, Galen mendorong bahu Sienna sedikit menjauh darinya. Ia menyalipkan ujung sprei terakhir yang membuat sprei Sienna kini terbentang sempurna. “Besok pagi kamu tidak perlu masak terlalu pagi. Aku ada rapat dan tidak akan sempat makan di rumah,” kata Galen, sebelum pria itu meninggalkan Sienna sendirian di dalam kamarnya. Glep Suara pintu tertutup sempurna, membuat Sienna refleks langsung membanting tubuhnya di ke atas kasur. Kedua tangannya memegangi dadanya, merasakan debaran yang terasa begitu jelas dan kencang. Reaksi ini selalu terjadi setiap kali dirinya bersentuhan atau sekadar bicara dengan Galen dalam suasana yang cukup santai seperti tadi. “Selalu saja seperti ini,” lirih Sienna. Ia masih tidak mengerti. Kenapa dirinya begitu menyukai Galen meski ia sadar Galen sering bersikap kasar padanya. Pria itu seperti sengaja ingin selalu menyakiti Sienna. Dan bukankah seharusnya ia cepat-cepat pergi dari jeratan pria itu? Namun, anehnya Sienna malah memilih untuk tinggal. Mau sejahat dan sekasar apapun Galen terhadap dirinya, Sienna tak bisa memungkiri bahwa ia ingin selalu dekat dengan Galen -- bagi Sienna, Galen adalah satu-satunya hal yang ia miliki di dunia ini. *** “Bukan hak kamu untuk memberi tahu dia tentang apa yang sudah ia lupakan.” Seorang gadis cantik yang sejak beberapa menit yang lalu menjadi lawan bicara pria tersebut sontak menajamkan tatapannya. “Jadi, benar, kan, Kakak sengaja nyembunyiin kenyataan soal Stella dari Sienna? Tapi, kenapa Kakak melakukan itu? Sienna berhak tahu.” “Nama kamu Ervina Indira, kan? Putri sulung Ardi Santosa. Ayahmu bekerja di perusahaanku. Jadi, sebaiknya mulai sekarang kamu belajar untuk menjaga sikapmu kalau tidak mau ayah kamu terkena dampak dari tindakan kamu,” ucap lelaki itu. Vina membulatkan matanya. Ia ingin mengumpat, mengatakan banyak hal buruk sebagai protes atas ancaman pria itu, tetapi ia tidak bisa. Ia tidak berani melawannya. “Tapi kenapa?” lirihnya. “Kakak tahu bagaimana hubungan mereka, kan? Mungkin, jika Sienna tahu soal Stella, keadaannya bisa jadi lebih baik. Aku yakin, ingatan soal Stella bisa memberikan pengaruh baik untuk Sienna.” “Kamu tidak tahu apa-apa. Justru kalau kamu memaksa dia untuk ingat semua itu dengan cepat, bukan tak mungkin dia akan kembali jatuh koma. Atau, meski fisiknya kuat pun, kamu pikir mentalnya kuat menanggung rasa bersalah itu?” “Sienna nggak salah-” “Dia ada di lokasi kejadian. Hanya ada dia. Bahkan tidak ada yang tahu kronologi pastinya. Dengan apa kamu bisa menjamin kalau dia tidak bersalah?” Lidah Vina terasa kelu. Lagi, ia tidak mampu untuk menjawabnya. Ia menghela napas panjang, merasa putus asa sekaligus kasihan pada sahabatnya yang malang. “Aku cuma nggak tega melihat Sienna yang selalu tampak kebingungan seperti orang bodoh. Apalagi, yang dia lupakan itu-” “Dia layak mendapatkan semua itu. Bahkan, ini semua tidak ada apa-apanya dibanding yang sudah ia lakukan pada Stella,” potong pria itu cepat. Vina menatap lelaki di depannya dengan nanar. “Jangan pikir aku nggak tahu soal dia yang sudah menyukaiku sejak lama,” lanjut lelaki itu, membuat Vina membulatkan matanya. Gadis itu menggigit bibirnya dengan gugup. Ia tak pernah menyangka jika rahasia besar itu telah sampai ke telinga Galen. “Sekarang, silakan pikir sendiri! Dengan semua rasa iri dengki dan cemburunya itu, apa kamu masih bisa berpikir kalau Sienna benar-benar tidak bersalah dalam tragedi itu?” “Kamu memang sahabatnya. Aku yakin, dia pasti sudah bercerita banyak padamu tentang kami bertiga. Tapi, kamu hanya mendengarnya lewat cerita. Sedangkan aku yang selalu melihat langsung bagaimana sikap Sienna pada Stella. Terutama menjelang hari-hari terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi,” tegas Galen. Galen bangkit dari kursinya. Dengan raut wajah datar, ia meninggalkan area cafe. Ia tahu, gadis yang sempat ia temui itu kini sedang menjerit frustrasi karenanya. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan. “Ingin dia sembuh begitu saja setelah apa yang dia lakukan? Sebelum itu terjadi, aku akan membuat ia lebih dulu merasakan apa itu neraka. Aku akan membuat ia menebus semua rasa sakit yang telah ia torehkan pada Stella dulu,” batin Galen dengan tatapan menyorot ke depan dengan tajam. “Aku tidak akan membiarkan seorang pun menolongnya. Dia harus selalu bergantung padaku, sehingga dia bisa benar-benar merasakan rasanya disakiti oleh satu-satunya orang yang ia miliki.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD