04 - Pria yang Dingin

939 Words
“Bukannya sudah aku katakan untuk langsung pulang setelah belanja? Kamu bahkan nggak izin aku terlebih dahulu kalau mau pergi,” hardik Galen terhadap wanita yang kini duduk di sampingnya. “Maaf,” Sienna hanya bisa tertunduk dalam. Selama ini, ia nyaris tak pernah bepergian tanpa sepengetahuan Galen. Sesekali pergi, itu pun hanya untuk kepentingan bersama, seperti berbelanja atau mengantar barang Galen yang tertinggal. Ini kali pertama Sienna pergi bertemu dengan teman - meski tidak sengaja. Dan saat itu pula, ia langsung ketahuan oleh Galen. “Aku benar-benar nggak sengaja ketemu dia tadi. Dia bantu aku bawain belanjaanku sama nawarin nganter pulang. Terus kami mampir sebentar-” “Mampirnya itu yang bikin aku nggak suka!” tegas Galen dengan suara tinggi. Sienna menghela napas panjang. Rasanya percuma ia menjelaskan. Bagi Galen, Sienna akan selalu tampak salah. Sienna diam saja salah, apalagi jelas-jelas mengabaikan pesan Galen seperti ini? “Aku benar-benar minta maaf. Lain kali, kalau aku mau keluar atau telat pulang, aku pasti akan minta izin ke Kakak lagi,” ungkap Sienna dengan tulus. Terdengar helaan napas kasar dari arah kanannya, tetapi, Sienna tidak berani menoleh. “Justru sebaliknya nggak ada lagi kejadian kayak gini.” “Maksud Kakak?” Sienna mengernyitkan keningnya. Ia hanya ingin tahu, apa lagi yang tidak diizinkan oleh suaminya itu. “Kamu itu tidak perlu banyak bergaul. Cukup diam di rumah dan lakukan tugasmu sebagai istri dengan baik!” tegas Galen. Sienna tak berani membantah, meski lidahnya terasa gatal. Dibanding tugas sebagai istri, Sienna justru merasa jika dirinya hanyalah pesuruh pria itu. Atau bahkan, lebih rendah dari itu? Seperti yang dikatakan wanita yang Galen bawa ke rumah waktu itu, Sienna memang berstatus sebagai nyonya rumah, tetapi, dilihat dari bagaimana Galen memperlakukannya, Sienna bak tak lebih dari sekadar binatang peliharaan pria itu. *** Stella. Nama itu seolah terus berputar di kepala Sienna. Anehnya, Sienna masih tak juga dapat mengingat siapa sosok pemilik nama itu. Sibuk dengan pikirannya, Sienna sampai tidak sadar jika dirinya telah melukai jarinya sendiri. Jarinya tergores mata pisau, dan mengakibatkan darah keluar cukup deras di sana. “Shhh …” Ia meringis perih. Ia meletakkan pisau di tangannya yang lain, dan segera ke wastafel untuk mencuci lukanya. “Umur kamu berapa sih? Kenapa masih aja cerobph? Pegang pisau aja nggak bisa,” ucap seseorang yang membuat Sienna sontak menoleh kaget. “K- Kak Galen?” kagetnya. “Bukannya Kakak bilang akan pulang telat malam ini?” Mendengar dengusan Galen, Sienna menjadi merasa serba salah. Apakah ucapannya tadi telah menyinggung pria tersebut? “Maaf. Maksud aku bukan begitu. Aku-” “Urusi saja lukamu di dalam! Lagian aku juga tidak mau makan makanan yang tercampur sama darah manusia,” potong Galen, ketika Sienna akan menjelaskan maksud ucapannya. “Ini cuma luka kecil kok. Aku janji nggak akan-” “Cepat obati dan rawat lukamu!” tegas Galen. Sienna menatap pria itu dengan bingung. Kalau ia tidak masak, lalu bagaimana mereka akan makan malam ini? Andai Sienna hanya seorang diri di rumah, mungkin ia tidak akan khawatir. Ia akan memilih membuat mie atau menggoreng telur yang lebih praktis. Hanya saja, sekarang ada Galen di sini. Dan sejauh yang Sienna lihat setelah ia menjadi istri pria itu, Galen adalah tipikal orang yang cukup selektif soal makanan. “Kamu tidak sedang berusaha mencari perhatianku dan berharap aku akan mengurusi luka kecilmu itu, kan?” Ah… lagi. Ternyata segala tentang Sienna memang terlalu mudah disalah pahami oleh Galen. Tak ingin berbedat, Sienna pun memilih untuk segera beranjak dari dapur. Ia ingat ada kotak P3K di laci kamarnya, dan ia pun mengobati lukanya di sana. Karena tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya Sienna memutuskan untuk sekalian mandi sebelum akhirnya ia kembali ke luar. Langkahnya terhenti saat melihat Galen sudah berada di meja makan dengan hidangan cha seafood di atas meja makan. “Ini Kakak yang buat?” Galen menoleh ke arah Sienna. “Pesen. Barusan datang.” Sienna merasa ragu. Tatapannya menajam, melihat makanan yang tampak masih sangat panas itu. Kalau itu dipesan dari luar, bukankah seharusnya itu sudah tidak sepanas ini ketika sudah sampai di sini? “Tapi itu kayak baru aja dituang dari teflon.” “Ya karena aku memang sengaja memanasinya dulu untuk memastikan seafoodnya benar-benar matang. Sudah, tidak usah banyak bicara dan makan saja!” ketus Galen, membuat Sienna akhirnya memilih untuk diam dan segera melakukan apa yang pria itu katakan. Kali ini bukan karena ia merasa takut, tetapi karena dia memang lapar. Dan jujur saja, ia sangat tergoda dengan aroma seafood dan fresh-nya sayuran yang saling beradu di sepiring cha itu. Sienna memakan cha itu dengan lahap. Begitu merasakan kenikmatan hidangan tersebut, Sienna akhirnya percaya kalau Galen benar-benar membelinya. Rasanya enak, seperti masakan restoran. “Kakak beli di mana? Ini enak. Lain kali aku juga akan beli di sini kalau sedang tidak ingin masak,” kata Sienna. Galen mengangkat kepalanya untuk membalas tatapan gadis di hadapannya. Namun, ia tidak langsung menjawab. Tatapannya malah jatuh ke telunjuk Sienna yang masih menampakkan luka menganga. “Luka itu-” “Aku sudah obati tadi. Darahnya juga sudah tidak keluar, kan?” Meski demikian, Sienna langsung memutar tangannya agar lukanya tak lagi dapat dilihat oleh Galen. “T- tapi maaf kalau lukanya bikin Kakak ngerasa jijik.” Galen mendengus sebal. “Memang kamu nggak ada perban atau plester?” Sienna menggeleng. “Kebetulan, ternyata habis. Habis ini biar aku beli dulu di minimarket depan.” Tak ingin membuat Galen merasa risih dan kehilangan selera makannya, Sienna menyimpan tangan kirinya di atas pangkuannya. Ia hanya makan dengan satu tangan. Kepalanya juga tertunduk lesu, merasa tidak enak karena telah membuat Galen merasa jijik di tengah kegiatan makan malam mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD